Melawan Kanker Menulis

27 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PASTI sudah, banyak orang berkeinginan menulis. Bisa diandasi keinginan menjadi pengarang (fiksi), penulis (ilmu), atau apalah. Kalau dikaitkan dengan tujuan dakwah sampai pembelajaran, bahkan agar ‘menyakiti’ musuh hatinya, bisa berpanjang-panjang. Beragam maksud dan motif. Pada tingkat lebih teoritik, ada yang mengakatan, menulis sebagai self actualization. Bergaya ala hirarki Abraham Maslow.
 
Berkeinginan boleh saja. Tetapi, begitu dilakukan, burungnya loyo. Ejakulasi dini bahasa nakalnya. Ragam teori atau tulisan yang mencerahkan, bagaimana mengatasi involusi menulis, dilalap sudah. Kiat-kiat digaet. Menulis tetap saja mandeg. Ada apa denganmu, dendang Peterpan. Ya, ada apa?
 
Pada ranah kesehatan ada penyakit sangat menakutkan, kanker. Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakteraturan perjalanan hormon sehingga mengakibatkan tumbuhnya daging pada jaringan tubuh yang normal. Selanjutnya, kita mengenal istilah tumor ganas. Kalau sudah terserang, susah mengobatinya. Bisa-bisa berakibat kematian.
 
Meminjam istilah kesehatan tersebut, kanker menulis dimulai dari pikiran. Bahkan, bisa ditelusuri dari input yang masuk pikiran. Misalnya, menganggap diri bodoh, tidak bakat menulis. Kalau diidap seseorang, dipatenkan pada mindset, akan berkembang cepat. Semakin dilawan semakin menyebar.
 
Apabila input bersifat kanker memasuki dan kemudian membentuk mindset, obatnya hanya satu, merubah mindset. Pekerjaan yang cukup menantang, dan pasti mudah bagi yang mau. Lebih maju, bahkan Renald Kasali menulis buku Re-Code Your DNA.
 
Bagi Muslim, sebenarnya mudah saja. Kita menegnal terminologi, taubat. Taubat Nasuha. Memang tidak khas dalam menulis, tetapi bisa dikaitkan dengan perubahan untuk meletakkan kembali dasar menulis, merubah cara berpikir tentang menulis. 
 
Artinya, kalau berkehendak menulis, banyak membaca; membaca yang baik-baik. Lalu, latihlah menulis dengan menulis. Jangan dengan teori. Belajar teori bagus, lebih bagus menulis.
 
Jangan sampai, kanker teori menghabiskan potensi menulis. Sampeyan berkeinginan menulis, menurut guru, harus membaca tentang yang akan ditulis sampai dipahami, harus paham tata bahasa, harus piawai memilih diksi, harus ada pengantar, bahasan, dan kesimpulan. Segudang harus. Tidak salah memang.
 
Kalau hal itu dilakukan, laku kapan menulisnya? Bahnyak ahli, teoritikus. Tapi, apa mereka produktif menulis? Buang kanker tersebut. Lakukan menulis, dan setelah selesai, kalau dianggap kurang baik, perbaiki. Kalau perlu dengan teori, dengan petunjuk, dengan hal-hala yang katanya baik.
 
Ya, menulisnya dulu. Setelah menulis baru perbaiki. Ini tidak, kanker yang dipelihara, harus begini, harus begitu, dan harus-harus. Lalu, kapan menulisnya? Kalau ‘perdebatan’ di otak yang menjadi-jadi, menulis yang ideal, sementara kemampuan tahap belajar, ya mandeg deh. Kanker kog dipelihara.
 
Pada contoh lain, apabila membaca, melihat, atau meraba sesuatu, akan ada pantikan ide, oh … begitu. Lalu, muncul ide menuliskannya. Ide tersebut, celakanya, dijadikan makanan kanker ‘tidak menulis’. Idenya hilang. Begitu selanjutnya. Tiap ada ide, muncul ide untuk menuliskan ide, dimakan ‘ide tidak menulis’. Manakala kanker sedemikian berkembang, ya tidak akan ada tulisan. Ide menulis, sekali lagi dimakan ‘kanker’ untuk tidak menulis. Lalu, bagaimana dong?
 
Serum pemunahnya hanya satu, tulis. Begitu ada ide, tulis. Sederhana dan murah meriah. Tidak membuthkan sekolah, penataran, apalagi belajar sampai S3. Tidak perlu biaya. Tuliskan saja ide, rubah menjadi tulisan. Mudahkan? Bagaimana kalau jelek?
 
Bagus. Pada awalnya mungkin saja jauh dari apa yang diharapkan. Selanjutnya, dan selanjutnya, bagus sendiri kog. Coba perhatikan tukang tambal ban, pengrajin gerabah, pembuat bakso, atau apa saja yang selevel itu. Mereka tidak kuliah di PT kan? Tapi, lama-lama jadi ahli tentang apa yang dikerjakan.
 
Begitu sederhana. Apalagi menulis. Penyakit (kanker) banyak orang tidak melakukan menulisnya. Ya, jadi susah belajarnya, membiasakan, memasihkan menulis. Jadi, tulis, tulis, dan tulis. Pasti jadi tulisan.
 
Fasih jalan karena ditempuh. Menulis adalah latihan itu sendiri, menulis adalah belajar itu sendiri.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 27 Mei 2008.

  1. 16 Responses to “Melawan Kanker Menulis”

  2. By syaharuddin on May 27, 2008 | Reply

    wah menarik juga ide EWA. Ternyata penyakit malas menulis bisa disembuhkan dengan TAUBAT NASUHA.

    ***He he benar ngak ya?

  3. By ILYAS AFSOH on May 27, 2008 | Reply

    Pak Ersis yang hobi menulis,
    Saya tanya kalau ingin membangun komunitas penulis langkah pertamanya Apa?

    ***Kumpulkan dua atau lebih teman-teman, bicarakan, dan lebih penting … menulis. Bisa maya bisa darat. Apa yang bisa saya bantu?

  4. By kangbarok on May 27, 2008 | Reply

    iya, jadi tulisan bener bong! tapi lihat tulisan saya? hehe. tulisan jenis apakah itu?? hauahahahaha

    ***Benar-benar tulisan, he he …

  5. By aminhers on May 28, 2008 | Reply

    jangan2 saya lagi kanker nulis nih :)

    ***Menurut penerawangan saya belum tu … bunuh sebelum tumbuh he he dengan menulis, menulis, dan terus menulis.

  6. By masmoemet on May 28, 2008 | Reply

    jadi intinya, tulis sini tulis sana coret sini coret sana … gt ya pak ??? hehehe

    *ditimpuk pake sendal*

    ***he he sandalnya belum beli, pinjam dulu ah.

  7. By yella on May 28, 2008 | Reply

    buat yang bingung mau nulis apa,,tulislah apa saja yang membuat bingung,,tulislah alasan mengapa tidak bisa menulis,,sebanyak mungkin,,sampe habis,,setelah selesai beri judul susahnya menulis,jailah sebuah karya, nulis itu ndak sulit,,hanya utuh niat dan kemauan kuat saja,,

  8. By Suhadinet on May 28, 2008 | Reply

    Saya merasa punya gejala-gejala itu Pak Ersis. Saat membaca tulisan orang lain saya sering merasa bahwa saya bisa menulis lebih baik dari itu. Ee..pas saya balik membaca tulisan-tulisan lama saya, baru saya sadar. Banyak kekurangannya juga. Mulai dari struktur kalimat yang menyalahi tata bahasa, terlalu banyak mengulang kata ‘itu’ atau ‘ini’, penggunaan kosakata yang ‘asal’, sampai hubungan antar paragraf yang tidak nyambung.

  9. By ven on May 28, 2008 | Reply

    wow om Er…karya bukunya buanyaaak bgt…bikin ngiri ajaaaa

    cm om klo aku bisanya nulis curhat-curhat gag penting…..gemana dwong om…klo nulis curhatan siy bisa lancaaaar kaya jalan tol heheh

  10. By sawali tuhusetya on May 28, 2008 | Reply

    konon kanker itu bisa tumbuh lantaran kebiasaan hidup yang tidak sehat, pak, hehehehe :lol: *sok tahu* kanker menulis pun bisa jadi tumbuh karena kebiasaan yang tidak sehat ketika hendak memulai menulis, seperti menunda-nunda atau menunggu wangsit.

  11. By Zee on May 28, 2008 | Reply

    lalu bagaimana caranya biar rasa malas menulis itu ga muncul sering2? kadang2 klo ga mood, ga ada niat nulis.

  12. By Dudi on May 29, 2008 | Reply

    Saya termasuk yang kena penyakit kanker menulis pak Ersis. Kalau mau nulis itu kayaknya berat banget deh.

    ***Ah ngaklah, baca postingan Menulis Melawan Diri; soal memanjakan diri aja euy.

  13. By tri aja dehhh on May 29, 2008 | Reply

    kanker sama menulis….ehm,,,,,boleh juga tuh.
    tapi kalau ngk nulis apa lantas mati karena kanker…ngk segitunya kaliiiiiiiiiii.
    yang jelas tulisan ewa ini memberikan penyadaran diri untuk lebih baik lagi….semoga.

    ***Ngaklah, menulisnya yang mati karena kanker menulis he he

  14. By akmalhasan on May 29, 2008 | Reply

    Bener-bener deh om EWA ini..

    Semangatnya untuk ngajak orang-orang nulis gak abis-abis. Setiap orang memang punya ide, cuman untuk menuliskannya kadang malas atau terganjal kegiatan rutin lainnya.

    Ayo kita canangkan tahun 2008 sebagai “TAHUN MENULIS”, sebagai dutanya adalah om EWA sendiri. Gimana sobat?!

    **Ha ha ada=ada sazza … ini demi menunaikan tugas lanjutan amanah firman Allah … iqra’ iqra’ iqra. Bukanlah Allah SWT mengajarkan kita dengan kalam? Ya, mari ditunaikan, he he. Saya kan baru belajar memotivasi, gitu.

    Salam

  15. By mahendra on May 30, 2008 | Reply

    Betul bang EWA. Saya sebenarnya ingin menjadi penulis terkenal. Pernah berkali-kali menulis cerpen. Tapi lag-lagi dihantui perasaan, “Bagus apa nggak ya tulisan saya nanti?, gimana kalo ndak ada yang suka??” Pertanyaan2 seperti itu sering muncul di benak saya.
    Kalo saya belajar dari menulis blog kira2 cukup efektif ndak ya bang EWA? Mohon komentarnya tentang blog saya di serba-serbi-web.
    Bang, ngomong-ngomong bagaimana supaya bisa di ad oleh TextLinkAds (TLA) ?? mohon kirimi saya informasinya Ijin untuk menempelkan web ini di link favorit saya ya bang. Terima kasih.. Salam kenal, mahendra…

    ***Yap sama-sama, torang bersaudara. Bagus saya dah lihat, cuman ngak bisa komen, saya ngak pernah pintar ngomen di blogspot, maaf agak ribet. Sini saja ya. Terus saja menulis, kita sama2 belajar. Salam.

  16. By Alex on May 31, 2008 | Reply

    ada-ada saja istilah pak Ersis ini……
    besok HEPATITIS MENULIS lagi ya pak ??? :D

  17. By teguh on Sep 21, 2008 | Reply

    salam kenal yach buat semuanya.
    jika ada yang butuh info seputar penyakit kanker, sobat semua bisa mampir di blog aku
    di : http://cikampekcancer.blogspot.com

    ditunggu yach online nya?

Post a Comment