Tiga Otak
26 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MEMBACA ‘diri’ dan ‘kehidupan’ kalau dipikir-pikir bisa lucu. Seorang wanita, tidak usah disebut namanya, sangat serius memelihara tubuhnya. Bagus. Merawat badan secara teratur ke salon. Untuk merawat kuku saja bisa lebih besar dari dana BLT bagi kaum miskin. Dia hapal lekuk-lekuk, dimana ‘kekuatan’ dan ‘kelemahan’ tubuhnya.
Ada pula pejabat yang hapal, bukan saja dana pembangunan daerah, tetapi sampai siapa saja bawahannya yang berselingkuh. Saking telatennya, sampai-sampai presensi karyawan hapal. Kalau apel pagi atau siang, jangan coba-coba terlambat. Hebat. Wilayah kerjanya dikuasai. Cermin birokrat yang sangat bertanggung jawab.
Tapi, coba tanya: apa itu otak? Berapa sih kapasitas otak? Bagaimana mendayagunakan dan memeliharanya? Dan seterusnya. Bisa jadi, tidak paham (sekadar illustrasi, jadi jangan marah ya). Bayangkan kalau guru atau dosen yang pekerjaan profesionalnya memintarkan, mengembangkan kapasitas ‘otak’ (pikiran) peserta didik, tetapi tidak paham seputar otak. Kira-kira bagaimana hasilnya?
Otak adalah alat berpikir. Kalau tidak ada otak —dalam artian bendawai— atau lumpuh, tidak berfungsi, kita tidak bisa berpikir, apalagi menggunakan pikiran. Tidak berlebihan Rene Descarter berkata: cogito ergo sum. Kalau Sampeyan Muslim, dapat memikir, kira-kira maksud Allah SWT di ujung-ujung firmanNya, afala taqqilun, afala tatafarrakun.
Ya, kumpulan neuron seberat 1,5 kg tersebut adalah penguasa tubuh kita. Kalau batok kepala dibelah —kalau dilakukan pasti tidak bisa membaca tulisan berikut— menurut Paul Maclean (1978), manusia memiliki tiga (bagian) otak, bukan satu.
Pertama, otak reptilia atau otak primitif. Jangan tersinggung, otak ini dimiliki semua makhluk sederhana reptilia yang mengelola instink. Misalnya ketika lapar menyerang perut, tanpa ‘berpikir’ asal ada makanan langsung embat saja. Perhatikan perilaku anjing, kalau lapar asal ada makanan, main sikat saja. Tidak penting milik siapa.
Kedua, otak ‘mamalia’ atau sistem limbik. Bagian ini berhubungan dengan fungsi-fungsi (proses) emosi yang juga ‘menangani’ input indera dan ingatan jangka panjang. Bagian otak ini menyelimuti otak reptilia.
Yang perlu diingat, kalau otak reptilia lebih berkuasa dari (bagian) otak ‘manusia’, perilaku bisa jadi seperti sepupu yang bernama binatang. Wah saya tak hendak menyerempet-nyerempet Teori Evolusi. Ini persoalan referensi, yang diapungkan Blill Lucas dalam bukunya Power Up Your Mind (2001).
Ketiga, otak ‘belajar’ yang meliputi bagian keduanya. Berhubungan dengan sebagian besar pemikiran dan fungsi lebih tinggi. Jujur saja, saya belum membaca buku Maclean, di kota saya tidak didapat. Begitu menurut Lucas mengutip dan memaparkan.
Yang dapat dimengerti, ‘sejarah otak’ berawal dari otak reptilia, mamalia, dan otak manusia. Ketiga-tiganya terangkum dalam otak kita. Bisa jadi, kalau percaya Teori Evolusi, begitu adanya. Begitu pula pemungsiannya.
Bukankah dalam berpikir dan bertindak pada saat-saat tertentu kita menjadi reptil, mamalia, dan sekaligus manusia. Karena ‘otak manusia’ lebih canggih, lebih sering mengalahkan otak reptil dan mamalia. Lapar mencari makan, ada gangguan mempertahankan diri, dan merencanakan semua hal dengan pikiran yang direncanakan. Itulah otak manusia.
Sekadar menggoda, kalau otak reptil yang berkuasa, tentu main seruduk saja. Tidak ada batas-batas ‘kemanusiaan’. Misal, manusia mengenal apa yang dinamakan pekawinan, tetapi begitu otak reptil berkuasa, suami atau isteri orang, bisa jadi ‘halal’. Selingkuh bahasa gaulnya. Selingkuh dunia reptil, dunia mamalia; manusia reptil, manusia mamalia.
Kenapa ada sekelompok orang mau bercurang-curang dalam melaksanakan UN? Bisa jadi demi mempertahankan ‘kehidupan’; takut sekolah tidak ada muridnya, kehidupan terancam. Memakai otak reptil, otak mamalia. Otak manusianya disimpan.
Benar atau tidak, pada bahasan kali ini, ‘sejarah otak’ versi Paul Maclean kita cukupkan sebagai bahan pengertian awal. Pada bahasan selanjutnya didiskusikan otak kanan dan otak kiri.
Bagaimana Menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 26 Mei 2008.













14 Responses to “Tiga Otak”
By Zul ... on May 26, 2008 | Reply
Manusia dengan segala keahlian dan ketinggian ilmunya mampu membuat teori tentang otak. Uniknya, dia menulis tentang otak dengan menggunakan otak itun sendiri. Untuk yang satu ini, termasuk otak yang mana, Bang?
Tabik!
***Kura-kura dala perahu nich ye
By syaharuddin on May 26, 2008 | Reply
tulisan di atas, khususnya contoh yang diberikan sangat berkaitan dengan nafsu dan akal. Ketika seseorang ingin melampiaskan hasrat birahinya, maka akan dipengaruhi oleh akalnya. Jika akal saat itu tidak berfungsi maka nafsulah yg lebih menonjol sehingga kadang istri orang, anak tiri, anak kandung juga “dilahap” habis. Hal ini sangat sesuai dengan hadist bahwa manakala nafsu lebih dominan daripada akal maka sebenarnya ia tidak lebih baik dari binatang.Dan, jika akal lebih dominan maka ia bisa lebih tinggi derajatnya dibanding malaikat.
***Yap. Setjuuuuuuuuuuuuuuuuuu.
By isnuansa on May 26, 2008 | Reply
Apa memang berselingkuh-selingkuh dan bercurang-curang, identik dengan mamalia?
***Ngak tau juga, tapi bisa begitu, dan … ada juga yang setia, misal … merpati. Pada tingkah laku mamalia, baik dan buruk, pelajaran buat manusia. Prumpamaan kan tidak mesti kenyataan kan?
By karlan08 on May 26, 2008 | Reply
ya mang, zaman sekarang orang/manusia lebih banyak menggunakan otak reptilia dan mamalia ketimbang otak belajar. Mudah-mudahan kita tidak termasuk di antaranya. Semoga …
***Amin. Amin.
By puang on May 26, 2008 | Reply
salam kenal dari bandung
aku, puang cahaya dewa bakka mattaliu yang berhati singa bermata elang, tidak takut mengatakan kebenaran walau seribu santet minakam jantungku.
aku suka membaca artikel anda, tapi jangan samakan otak perempuan dengan mamalia, saya tersinggung !!!!!!
***Sama2. Hebat. Salut. … tapi jangan samakan otak perempuan dengan mamalia, saya tersinggung … nah kalau itu kesimpulan dari mana? Ibu saya perempuan, isteri saya perempuan, anak saya perempuan kog; ah ngaklah. Saya pencinta perempuan euy … tapi bukan sembarangan perempuan tentu. Salam dari Banjarbaru.
By noorlatifah on May 26, 2008 | Reply
Wah jika otak reftil dan otak mamalia yang menguasai banyak manusia, ga bisa dibayangan gimana jadinya dunia ini?
***Ngak usah dibayangi, he he ntar pusing sendiri. Gunakan saja otak manusia (belajar) pasti manfaatnya jelas.
By aminhers on May 26, 2008 | Reply
salam bang,
dalam tulisan tsb ,belum di kupas cara memaksimumkan otak belajar kalau di tinjau dari umur (anak, dewasa, ortu); mohon penjelasannya
salam
***Baru mulai. Saya merancang menjadi buku. Tolong ya dibenahi … diberi masukan.
By gama on May 27, 2008 | Reply
[...] Karena ‘otak manusia’ lebih canggih, lebih sering mengalahkan otak reptil dan mamalia. [...] SETUJU
Dan selanjutnya insya Allah aku akan ngikut pembahasan kuadran kanan-kiri. keknya lebih seru.
***Siap …
By Siti Fatimah Ahmad on May 27, 2008 | Reply
Kalau otak haiwan/reptilia yang digunakan, ternyata manusia sudah hilang rasa takut pada Tuhan dan tidak memahami bahawa dalam satu sudut otak itu terdapatnya “God Spot” yang tertanamnya di Lobus Temporal. Satu simpanan memori sejak azali lagi tentang adanya Tuhan dalam diri manusia.
PENGAKUAN Ahli Bedah Otak Amerika : Vilyanur Ramachandran menunjukkan bahawa Tuhan sebenarnya telah memperkenalkan dirinya pada manusia, tapi kadang manusia lalai dan tidak mahu mengakui kewujudan-Nya. Kebenaran itu dinukilkan dalam surah al-A’raf; ayat 172 dimana Tuhan mengambil persaksian dirinya dengan manusia. sila teliti intipati ayat tersebut agar kita tidak sia-sia jadi MANUSIA.
Jika tingkah laku haiwan seperti ini menjadi pilihan sesetengah manusia yang tidak menggunakan akal dengan warasnya,maka menurut saya, manusia itu disifatkan sebagai meletak otaknya di atas kepala lutut. Betul dan setuju ngak ?
***Setuju, otak dengkul he he. … 172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
By aLe on May 27, 2008 | Reply
Owh., ai si ai si.,
trjawab sdh prtnyaan ku slm ini, knp kok binatang bs pny insting kuat bngt. Haha, trnyt otak reptil toh ^^
*maklum, ga prnh memakan pljrn biologi*
@isnuansa : ya, ini hny perumpamaanlah.. bhs jepangnya ‘cik penak e ngomong ngonmo lho’
***He he … bisa aja
By akmalhasan on May 30, 2008 | Reply
Iya setuju om EWA, otak adalah “main processor” di tubuh kita, baik untuk aktivitas yang kita sadari (conscious) atau pun tidak (unconscious). Ketiga jenis otak itu memang punya porsi masing-masing. Bolehlah kalo kita hubung-hubungkan dengan nafsu dan akal. Cuman saya jadi bertanya, tempatnya nafsu dan akal itu sendiri dimana ya??
Trims. Salam.
***Nanti kita bahas, kita bicara soal CPU dulu ya. Sekadar referens, konon di otak terletak area God Spot.
By Alex on May 31, 2008 | Reply
Huaaaaaaaaaa….hahaha
semakin sy baca tulisan pak Ersis, semakin sy terpingkal2 karena ketawa…
ada-ada saja istilah pak Ersis ini…..
Selingkuh dunia reptil..lah..
besok selingkuh dunia unggas……hehe
By Suci on Jun 1, 2008 | Reply
Untuk otak saja, sistem kerjanya terbilang kompleks.sebut saja…otak kanan dan otak kiri, otak reptil, mamalia, dan neo cortex. ada lagi otak bawah sadar dan otak sadar….Dan masih banyak manusia yang belum menyadari betapa hebat dan kompleksnya proses yang terus berlangsung dalam 1,5 kg kumpulan neuron yang selalu kita bawa sehari-hari….
By edwin on Jul 4, 2008 | Reply
pengetahuan tentang cara kerja otak wajib bagi guru, karena guru harus berfungsi sebagai otak kedua bagi murid pada waktu belajar. Otak yang mendampingi otak murid untuk memahami sesuatu. Tanpa pengetahuan tentang otak, maka guru bisa berubah fungsi menjadi hanya sekedar penginput pengetahuan entah dari pengalaman atau dari buku. Dan bahayanya, penginput ini bisa sangat marah ketika murid tidak bisa memahami atau menerima apa yang diinputkan.
***Idealnya memang bgeitu, kenyaaan saja yang salah kali.