Born to be a Genius

25 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MEMBACA ‘diri’ dalam pengertian lebih umum mengenal diri merupakan kewajiban pribadi. Dari membaca mengenal diri. Keterbacaan melahirkan imej (self-image). Bisa pula digariskan dengan mindset. Banyak ahli mengatakan, bagaimana memformulasikan mindset itulah yang menjadikan diri.

Sederhananya, manakala seseorang mencap dirinya bodoh, maka bodohlah dia. Bisa pula, karena sejak kecil di keluarga ditancapkan ‘dasar anak bodoh’ dan dimatangkan oleh guru-guru di sekolah, maka bodohlah. Karena bukan psikolog, atau neurolog bahasan bukan pada tataran keilmuan. Bahasan diacuhkan pada hal populer mendasar dalam maksud merangsang pikiran.

Adalah Adi W. Gunawan menulis buku Born to be a Genius (2003), dilanjutkan Genius Learning Strategy (2003). Bukan yang pertama memang sebab banyak ahli telah membahas lebih dulu. Buku Adi nyaman dicerna dengan paparan menggugah. Kalau ditarik pada garis agamis, ketika Allah SWT meniupkan roh semasa kita hidup nyaman di kandungan, telah dititipkan sifat-sifat Allah yang kita kenal dengan Asmaul Husna.

Kita tidak membahas ‘letak’ Asmaul Husna, di otak atau di qolbu. Yang ingin dikedepankan, dari dunia ilmu dipancarkan otak manusia begitu raksasa walau dalam segenggam jaringan saraf lembek di batok kepala. Kapasitasnya unlimited. Dalam pengertian benda dapat dikatakan hardware, bisa jadi Asmaul Husna software. Pengoperasiannya menjadikan kita sebagaimana ditampilkan oleh kita.

Tidak diragukan lagi, apalagi kalau hanya mengacu intelegence quotiont (IQ), ukuran kecerdasan yang oleh sebagian orang diangap sudah kuno, kapasitas otak unlimited penanda, manusia terlahir (berpotensi) jenius. Itu dari segi IQ —yang kuno itu— yang kalau ditandemkan dengan emotional quotiont sampai spritual quotiont, dan seterusnya, ‘cerdas’ tidak tergantung ‘bawaan lahir’ tetapi dari bagaimana mengembangkan ‘bawaan lahir’. Masih ingat manusia brilian semacam Einstein yang ketika kecil dikatakan IQ jongkok? Setelah kecerdasannya terpantik, jadilah jenius.

Sebagai pengingat saya tulis kembali bagian pengantar buku ini: Siapa pun dibekali segenggam otak berisikan 1 triliun sel saraf terbagi atas 100 miliar sel aktif dan 900 miliar sel pendukung. Setiap sel mampu berkoneksi 20.000 ribu.

Memanfaatkan kapasitas otak yang tidak terbatas itulah amanah kehidupan sesungguhnya. Dalam anjuran Taufik Pasiak, mari kita bangunkan Si Raksana yang tertidur di tubuh kita.

Ya, mari bangunkan. Tinggalkan ‘gaya lama’ tidak memahami kapasitas otak, kapasitas diri, hanya sekadar memakainya. Persis sebagaimana banyak wanita memakai BH, dibawa kemana-mana, tetapi jangankan filosopis BH, arti dan kepanjangan kata BH saja tidak paham. Kacien dech lo.

Begitu juga otak. Dibawa kemana-mana, digunakan untuk belajar dan keperluan kehidupan, tetapi tidak memahaminya. Sebelum terlanjur, harap maklum, tulisan ini ditujukan kepada yang belum memahami hakekat otak. Misalnya seperti saya; membaca dan menulis tentang otak untuk dipahami. Bagi yang sudah belajar dan paham, mari sharing. Tolong benahi kalau keliru pemahaman dan pengungkapan.

Ya, tidak ragu lagi. Potensi jenius adalah bawaan lahir. Pengembangan kuncinya. Pendidikan sangat berarti bagi pengembangan. Sungguh tidak lucu, misalnya, kalau guru tidak memahaminya.

Jadi, apakah semua orang jenius? Yes. Setidaknya berpotensi jenius. Kecuali, sebelum lahir telah dirusak oleh berbagai sebab, oleh berbagai penyakit yang dititipkan pada janin. Lebih celaka, kapasitas jenius tidak berkembang karena lngkungan sosial. Lebih, lebih celaka lagi, kalau ‘pembunuhan’ dilakukan tanpa sadar, karena ketidaktahuan.

Tulisan ini ditutup dengan radar pemhaman, setiap manusia born to be a genius. Minimal punya kapasitas, bukan sekadar cerdas, tetapi jenius. Kenapa ada manusia bodoh? Baca terus tulisan pada buku ini, mana tahu dipagut minimal brifis jawaban.

Bagaimana Menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 25 Mei 2008.

  1. 4 Responses to “Born to be a Genius”

  2. By Rita on May 25, 2008 | Reply

    Tulisannya jadi pemicu semngat, yg baca bisa jadi timbul rasa percaya diri untuk berusaha menjadi, atau setidaknya nggak bodoh2amatlah, kata gaulnya PeDe hehehe….(termasuk saya pak, hehe).. Ternyata, Jadi jenius?, “Bisa!!!”
    oya mengenai “BH”, yg saya pakai adalah Bra pak, (gitu saya menamainya hehe)kalau BH, Body hidden, itu celana dalam dan bra …

    ***Ya kita pada dasarnya genius, kini mari jadi genius

  3. By noorlatifah on May 25, 2008 | Reply

    Seseorang merasa dirinya bodoh mungkin ada alasannya. Tadinya dia merasa dirinya pintar/cerdas karena dia sudah banyak meraih prestasi, namun ketika dia terus belajar ternyata selama ini banyak sekali hal-hal yang tidak diketahuinya. Semakin belajar semakin banyak pengetahuan yang dia dapat berarti sebelumnya dia belum tahu dan begitu seterusnya, makanya dia merasa dirinya bodoh karena ternyata banyak lagi ilmu yang dia belum tahu dan harus dipelajari. Kalau sudah pintar ya gak perlu belajar lagi kan?

    ***He he

  4. By assad on May 30, 2008 | Reply

    Subhanallah…..
    isi materinya berbobot banget!… top deh…
    terimakasih atas tulisannya, karena menjadikan saya termotivasi untuk lebih menghargai diri dan percaya kemampuan yang saya miliki..
    sekali lagi terima kasih,,,

  5. By Alex on May 31, 2008 | Reply

    manusia bodoh karena membodohkan diri sendiri….

    aku tak jua paham kepanjangan BH pak???
    karena sy tak pakai..hehe

Post a Comment