The Sleeping Giant

24 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MEMBACA buku Membangunkan Raksasa Tidur (2004) karya Taufik Pasiak, membuat lebih doyan membaca buku-buku tentang otak dan pikiran. Bahasan serius dengan bahasa mudah dimengerti serta ‘menantang’ untuk memikirkan, dan terutama, mengaplikasikannya, menjadi ‘roh’ tersendiri.

Sebelumnya, kurang terpikirkan, bahwa otak yang selalu dibawa kemana-mana begitu dahsyat. Lebih mengagumkam, betapa Allah SWT sangat adil kepada manusia. Tidak peduli siapa bapaknya, apa ras atau bangsanya, warna kulit sampai anutkan keyakinan, semua diberi otak seberat 0,5 kg. Benda segenggam tersebut ternyata bisa menampung (informasi) apa saja; abstrak atau konkret.

Celakanya, di tubuh kita, terutama saya, tergelincir menjadi the sleeping giant. Setelah dikaji-kaji, yang membuat Si Raksasa tertidur nyenyak justru si empunya. Padahal, kalau dimanfaat ‘komputer’ dengan harddish, CPU, memory serta perangkat lainnya yang unlimeted tersebut, pastilah menguntungnya.

Seseorang yang tidak suka mencatat, pernah ditanya: “Kog tidak mencatat?”. Hal sederhana sebenarnya. Seseorang itu, sejak sekolah —karena itu sering bermasalah ketika catatan dikumpul— memang tidak suka mencatat. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tidak pernah membawa buku catatan dan pulpen. Padahal, pekerjaannya mewawancarai orang. hasilnya bagus. Lalu apa?

Setelah membaca buku tentang otak, lalu disambungkan, rupanya sejak kecil melatih ‘daya rekam’. “Bapaknya mengatakan: indak paralu mancatat, waang kan ado utak”. Menganjurkan membaca, membaca, dan membaca. Harap maklum punya segudang bacaan; dari koran rutin tiap hari, majalah, apalagi buku.

Ya, tanpa sadar, tanpa sengaja, melatih otak. Mungkin saraf daya baca dan daya rekam berkembang. Konon, kalau melatih sesuatu, saraf otak (neuron) akan berkembang, bahkan bisa-bisa berbongkah-bongkah. Lawannya hanya satu, umur. Sabda Rasulullah: Satu-satunya penyakit yang tidak bisa diobati, penyakit tua. Kemampuan akan menurun.

Dalam contoh lain, seseorang punya kebiasaan ‘jelek’. Kalau mengetik tidak melihat tuts komputer. Berpikir, menulis, melihat layar, tanpa ‘melihat’. Rupanya, jari-jarinya mampu ‘melihat’ keyboard yang semakin hari semakin lancar. Pasti sudah perintah otaknya. Menjadi otomatis.

Kalau saya, sejak dulu terkagum-kagum membaca tulisan Hamka, Abu Hanifah, Rosihan Anwar, Goenawan Mohammad, dan seterusnya. Kini masih kagum bo, cuman lebih memahami. Saya bisa juga menulis dengan apa adanya. Saya tidak perlu berpikir lagi untuk menulis. Tulis saja, jadi tulisan.

Maksud saya, semua itu ‘pekerjaan’ otak; otak yang memerintahkan. Meminjam istilah Taufik Pasiak, bisa jadi, Raksasa Tidur terbangun atau bangun sendiri. Kalau ‘dilatih’ tidur, memang susah membangunkannya. Rupanya lagi, semakin dimanfaatkan semakin dibangunkan semakin lincah kerjanya.

Inti tulisan ini adalah, tidak usah lagi ragu atau memandang diri dengan hal-hal yang sebenarnya jauh dari hakikat diri. Ada orang yang mengatakan dirinya bodoh, otaknya tumpul, malas berpikir, tidak mau berikir. Itu katanya, menurut ‘dirinya’. Diri (self) yang mengatur ketja otak. Diri mencap (self-image) yang pada akhirnya menjadikan otak memetakan diri sebagaimana dipikirkan. Artinya, Si Raksasa (otak) dijinakkan menjadi ’the man map’ oleh diri.

Pada bagian ini dalam upaya ‘membangunkan’ the sleeping giant, akan dibahas selintas ringan-ringan bermakna, apa itu otak. Pembahasan dalam artian ‘alat bepikir’ dalam artian bendawi dan fungsional sebagai alat memaksimalkan kemampuan diri (manusia). Otak adalah kehidupan, dan penentu kehidupan.

Tugas masing-masing kita membangunkan, memanfaatkan Si Raksasa agar selalu terjaga, bekerja demi kebaikan diri dan sesama.

Bagaimana Menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 24 Mei 2008.

  1. 9 Responses to “The Sleeping Giant”

  2. By Yari NK on May 24, 2008 | Reply

    Memang otak kita adalah kreasi yang paling mengagumkan yang ada di alam semesta ini. Bahkan cara kerjanya jauh lebih rumit dibandingkan dengan matahari kita. Tidak percaya?? Jikalau manusia nanti sudah dapat membuat reaktor nuklir fusi yang bersih dari sampah radioaktif (yang hanya tinggal tunggu waktu saja), bukan reaktor nuklir fisi seperti sekarang, maka manusia sudah bisa membuat matahari mini di planet ini!

    Namun otak?? Cara kerjanya masih banyak yang belum terungkapkan! Jikalau komputer membutuhkan CPU dan harddisk terpisah maka otak kita berfungsi sekaligus sebagai CPU dan harddisk yang kapasitasnya tak terbatas dan masih menjadi misteri! ‘Hebatnya’ lagi data2 yang sudah lama sekali tak terpakai bisa secara otomatis terhapus dari otak kita ini, namun mengisinya kembali mudah saja.

    Untuk itu memang otak kita harus terus dipakai, agar memperlambat (bukan mencegah) kepikunan yang ada pada otak kita. Jadi dengan memakai otak kita, kita dapat mengambil keuntungan ganda: memperlambat kepikunan dan juga menghasilkan yang berguna bagi orang lain dan diri kita sendiri.

    ***Yap sangat tepat Pak. Mari kita pakai dan sebarkan cara memakainya lebih maksimal, ulun lagi belajar untuk itu. Bantu dong dengan ide dan tulisannya.

  3. By sawali tuhusetya on May 24, 2008 | Reply

    melalui otak, kita bisa mengingat kejadian masa lalu, menganlisis peristiwa masa kini, dan membayangkan peristiwa masa depan. Otak juga yang membikin kehidupan umat manusia jadi beradab atau biadab. agaknya hal itu sangat ditentukan bagaimana kemampuan umat manusia membangunkan si raksasa itu, yak pak. Mencerahkan!

    ***Ya Pak, ulun akur banar. Bangunkan … untuk membuat cerpen yahud berdasarkan ‘kenakalan’ otak saja bisa kan? Mari, kita sebarkan fakta tersebut pada anak didik kita. Selamat ya launching bukunya.

  4. By mathematicse on May 24, 2008 | Reply

    Cara kerja otak sungguh luar biasa. Peristiwa-peristiwa masa lalu, seperti tersimpan rapi begitu saja di otak kita. Tinggal kita mau membukanya, dengan sedikit mengenangnya. Ah, dengan mata terpejam, kita seperti melihat kejadian yang telah lampau, seperti kita menonton tayangan di layar kaca. HEbat!

    Selain itu otak juga bisa diajak untuk mengkreasi hal-hal baru. Bisa dibangkitkan untuk memecahkan masalah. Tinggal kitanya saja mau apa tidak. Tahan atau tidak… :D

    ***Ya, begitulah. Tergantung ‘kitanya’; otak bersiap sedia digunakan untuk apa pun.

  5. By hadi rahman on May 24, 2008 | Reply

    Keinginan untuk memanfaatkan otak itu sangat besar, tapi kadang merasa tidak mampu, jadi biasanya dibantu dengan mencatat. Apa hal ini tidak menjadi masalah dalam usaha pemanfaatan otak?

    ***Ya bagus saja, tergantung mana yang dikembangkan. Kalau kemampuan itu yg dikembangkan, saraf itulah yg berkembang. Sekadar catatan, coba ingat siapa yang pertam memberi uang, menampar, atau yang dicium? Tanpa dicatat, ingat. Artinya, latihlah apa yang akan diingat dengan ‘cara tertentu’.

  6. By Rita on May 24, 2008 | Reply

    Yang saya baca, bahwa pikiran dapat mengantar kita ke pencapaian yg kita inginkan( angan2) dengan cara merangsang serabut2syaraf otak untuk berpikir kasana dan merealisasikanya…
    Dan daya tampung otak itu tidak ada batasnya, makin di isi makin bangun serabut2 yg tadinya kurang berfungsih.. Jadi gak benar kalo ada orng bilang otaknya udah penuh,sudah diistiratkan dulu…..(sebelumnya sering dengar orang mengatakan demikian)Ternyata semakin diisi, diasah, semakin tajam dan semakin tumbuh serabut2baru dgn daya kemampuan yg luar biasa…..(baca diBerpikirsecara Dinamis by JV Cerney..)

    ***Yoi sepakat aja.

  7. By Kariyan ( Santri Gundhul ) on May 24, 2008 | Reply

    Maksud saya, semua itu ‘pekerjaan’ otak; otak yang memerintahkan.

    Huweeeh…
    Bukannya dari RASA dulu Pak, Rasa memrintahkan KEHENDAK, dan Kehendak melahirkan PERBUATAN yang yang dikomndoi oleh kerja Otak.

    Ada perbedaan inputnya tulisan atas hasil kerja RASA dan OTAK. Hasil dari RASA biasanya dirasakan oleh pembaca membuat DAMAI dan penuh MAKNA ( Hikmah )
    Lah jika murni bersandarkan OTAK, biasanya isi dari tulisan itu serasa KERING dan HAMPA alias TIDAK MEMBEKAS.
    Kira-kira begittcu kali Pak…he..he

    Jadi…?? mo nulis…nulis saja.

    ***Kita diskusi tentang otak doang aja dulu, ntar kita bahas soal rasa, qolbu, etc. Kalau dicampur aduk ngak ramai ah … bisa semakin kabur he he

  8. By noorlatifah on May 25, 2008 | Reply

    Maka patutlah kita bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Selain manusia, hewanpun telah diberi otak. Manusia diberi otak juga diberi kecerdasan beda dengan hewan. Manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang enak mana yang tidak, mana yang cantik mana yang tidak, dst.Coba lihat ayam, dari nenek moyangnya kalau makan pasti makanannya dihambur-hambur (diiker-iker), kalau kita kan makanannya dikumpulin ditaruh dalam piring terus makan pakai sendok walaupun dulu nenek moyang kita tidak begitu. Itu semua karena otak kita bisa dipakai untuk berfikir. Kata orang fikir paakai otak dong jangan pakai dengkol (emang dengkol ada otaknya hehehe ……….Konotasi)

    ***Bersyukur dengan memanfaatkannya.

  9. By Suci on May 31, 2008 | Reply

    Waktu selintas membaca Buku Taufik Pasiak, ada bagian menarik yang baru saya sadari sekarang…Sewaktu sekolah, guru selalu menganggap murid-murid dengan kebiasaan menulis kidal itu tidak baik. ternyata, justru dengan membiasakan melatih beraktifitas dengan tangan kiri, otak kanan menjadi terlatih. dan di situ hebatnya, kerja otak akan lebih dahsyat lagi ketika kedua belah otak terlatih secara optimal.
    Sayangnya, Sekolah seakan menjadi tempat pelatihan otak kiri semata. Itupun belum maksimal.

  10. By Alex on May 31, 2008 | Reply

    yup setuju pak……

    ngomong2 sy copy tulisan pak Ersis boleh nggak pak ???? (minta ijin). buat bacaan saya.

Post a Comment