Pendidikan ‘Tanpa Otak’
23 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MEMBACA buku-buku tentang otak, merasa rugi, kenapa baru saja ‘belajar’. Bukankah sejak SD sampai PT pembelajaran lebih menggunakan otak dari bagian tubuh lainnya? Otak dipakai tanpa diketaui A-Znya. Sebagai ‘benda’ otak adalah: benda putih yang lunak terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf (KBBI, 1988: 631).
Lanjutannya, bisa pula, otak berarti alat berpikir, atau pikiran itu sendiri. Orang gila, berpikirnya rada-rada gimana gitu, dikatakan tidak berotak. Dalam makian, kalau rada-rada bego, dikatakan berotak udang. Udang binatang yang otaknya tahi. Kalau pemangsa, eh … maaf, pemakan terasi (acan), kalau dibuat dari kepala udang, hati-hatilah.
Ya, saya pengagum otak dalam artian ‘alat’ berpikr berian Allah SWT berkapasitas tidak terbatas. Siapa pun dibekali segenggam otak berisikan 1 triliun sel saraf terbagi atas 100 miliar sel aktif dan 900 miliar sel pendukung. Setiap sel mampu berkoneksi 20.000 ribu. Luar biasa. Saya suka mengutip hal tersebut.
Dulu, tidak mampu memahami, kenapa Albert Einstein, si jenius itu, ditulis baru memakai 3% kapasitas otaknya. Hasilnya dahsyat. Bagaiman dengan saya yang tidak menghasilkan apa-apa? Jangan-jangan termasuk kelompok yang otaknya perlu diawetkan demi pegembangkan peradaban kelak. Kog begitu?
Semula marah dengan jokes orang Indonesia dan otak. Kalau orang Indonesia jatuh dari sepeda motor, kepalanya terhempas di aspal, bakalan tidak apa-apa. Kalau dengkulnya kejetok kaki meja, baru perkara seirus. Masih ingat makian, otak di dengkul?
Pernah tersinggung berat ketika seorang bikin joke tentang orang Amerika, Jerman, Israil, dan Indonesia. Di suatu ruas jalan bebas hambatan terjadi kecelakaan beruntun. Kebetulan sebuah rumah sakit membutuhkan otak untuk ditransplantasi. Begitu diperiksa, otak orang Amerika, Jerman, dan Israil, ditolak. Barulah pada orang keempat, orang Indonesia, dokter OK punya. Alasannya, otak ketiga orang tersebut sudah aus, kalau yang terakhir masih gress, belum dipakai. Gila. Brengsek.
Ya, saya memanjakan otak, tidak maksimal memanfaatkannya. Bagi yang merasa memanfaatkan maksimal, tidak usah membaca buku ini. Bagi saya, menulis buku ini, peringatan untuk diri sendiri, anak-anak, dan atau siapa yang mau memanfaatkan pemberian Allah tersebut agar lebih berarti.
Lagi pula, menulis buku ini dipicu oleh kenyataan, sebagai orang yang belajar sampai ke PT, dalam ingatan, sedikit guru yang menyenggol-nyenggol soal otak. Tidak ada guru yang memberi informasi tentang otak itu adalah itu, bagaimana sistem kerjanya, bagaimana memaksimalkannya, bagaimana merawat, menjaga, merangsang atau memberi nutrisi. Pendidikan berjalan dengan iramanya, sedang ‘alat’ yang dipakai untuk belajar, tidak diketahui sama sekali.
Pokoknya, pakai, belajarkan, paksa, isi penuh. Apalagi, menjelang ujian, jejar sebanyak-banyak dengan materi tanpa mempedulikan otak itu perlu asupan gizi, perangsang, atau apa. Pendidikan yang bagus adalah menjejar sebanyak mungkin informasi.
Ada orang tua yang tega memaksa anaknya belajar siang-malam, kursus ini-itu. Tidak paham bahwa otak itu juga manusia, eh … maksudnya … otak yang perlu istirahat, santai, rehat, dan bersenang-senang. Pendidikan, baik di sekolah, apalagi di rumah, menjadi pembunuhan berantai kemampuan otak. Pendidikan tanpa memperdulikan ‘HAM’ otak.
Pendidikan ‘tanpa otak’ adalah pendidikan menghapal, bukan memahami. Semakin banyak menghapal semakin hebat lupanya. Pendidikan ‘tanpa otak’. Realita pendidikan Indonesia? Entahlah.
Bagaimana Menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 23 Mei 2008.










7 Responses to “Pendidikan ‘Tanpa Otak’”
By Kang Aom on May 24, 2008 | Reply
Otak memang mempunyai konstribusi besar pada makna hidup dan kehidupan. Kita hidup dan punya kehidupan karena otak kita berfikir kita hidup dan punya kehidupan. Bahkan, kita sakit teriris pisau karena kita berfikir sakit. Namun bagaimanapun otak dan daya pikirnya hanya sebuah alat (instrument). jika kita tidak mengganggap pikiran hanya sebagai alat, saya khawatir Tuhan ada karena kita berfikir Tuhan itu ada..begitu pula sebaliknya, seperti anggapan KARL MAX tentang Tuhan. Jadi otak dan pikiran itu memang penting tapi hati (qolbu) yang mengendalikan bagaimana otak berfikir jauh lebih penting….! weiss jadi filosofis nich !
***Setuju. Kita bahas tentang otak saja dulu ya …
By Siti Fatimah Ahmad on May 24, 2008 | Reply
Bicara tentang otak saja ya. Baik. Di mana letak otak manusia ? Nampak macam soalan bodoh sahaja. Semua orang tahu. Otak tentunya atas kepala. sebesar-besar makhluk atas kepala adalah otak ? Adakah bila otak itu besar bermakna kita pintar ? Jadi orang yang otak kecil, maka dia dinamakan tidak pintar. Betul ke begitu? Istilah di Malaysia tentang otak pun menarik juga. Ia menggambarkan ciri manusia dan jenis otak yang sesuai dengan lakunya dalam peribahasa Melayu seperti otak udang dan otak telur yang membawa maksud bodoh. Mungkin di Indonesia juga sama kerana kita berada dalam rumpun bahasa Melayu serantau. Mungkin boleh dijelaskan.
***Ya Insyah Allah saya tulis pada artikel mendatang. Salam serumpun Malaysia.
By noorlatifah on May 24, 2008 | Reply
Memang fungsi otak sangat penting, otak dapat dioptimalkan dengan cara mengulang simulasi, karena makin sering kita melihat/mendengar/ melakukan maka daya ingat seseorang akan lebih kuat.Jar urang tuha otak tuh diasah biar pintar.Namun otak harus direhatkan juga dan diberi nutrisi agar tetap sehat.
***Setujuuuuuuuuu
By meiy on May 26, 2008 | Reply
keren, akan kuikuti terusannya pak. memang menarik membahasnya, sebab aku termasuk yg belum memaksimalkan otak kali, (kecian deh aku :()
***He he … bisa aja. Gimana tu kabarnya edgar?
By Suci on May 31, 2008 | Reply
Kalo bicara soal pendidikan, pernah terpikir, kenapa menteri pendidikan kita(yang kenyataannya bukan sarjana pendidikan itu)tidak memasukkan pelajaran otak dalam kurikulum? Tapi, kalau pun itu terjadi, Guru-gurunya pun ternyata harus dibekali tentang otak lebih dulu.Panjaaang ceritanya….
Atau sebelum terlambat, kurikulum perkuliahan FKIP(calon pencetak guru-guru bangsa itu) sudah saatnya mengajarkan satu hal penting yang terlewat selama ini; Pembelajaran tentang otak. Karena guru cerdas menghasilkan murid yang lebih cerdas lagi…
Semoga pendidikan kita segera berubah…
By Alex on May 31, 2008 | Reply
“Pendidikan ‘tanpa otak’. Realita pendidikan Indonesia? Entahlah.”
pantesan di negeri ini banyak yg pintar tapi nggak punya otak….hehe
By hadi rahman on Jun 3, 2008 | Reply
Ingin sih memaksimalkan penggunaan otak, tapi kadang ada persaan takut yang timbul, kalau-kalau tidak dapat maksimal. Jadi bagaimana solusi terbaiknya pa?