Susah Menghentikan Menulis
20 May 2008 | Ditulis oleh: windede |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SUDAH sangat sering kita dihadapakan masalah susah memulai, membangun, dan menyelesaikan menulis. Sesuatu yang lazim dan wajar. Memang tidak semua yang ada di kepala bisa ditulis. Macam-macam sebabnya. Tetapi, pernahkan merasakan susah menghentikan menulis? Kalau belum baca terus tulisan ini.
“Jam 14.30 kita kumpul di Blue Sky Restaurant’, begitu SMS seorang teman. Pas waktu, saya sendirian Saya sedang belajar on time. Allah melalui surat Al-Asyr mengirim peringatan. Kalaulah petunjuk Allah dipraktikkan tentang waktu Muslim pastilah menjadi lokomotif. Yang terasa agak janggal, 7 tahun berkawan baru sekali ini sang teman tidak menjemput. Biasanya kalau ke luar daerah agak dimanja.
Begitulah. Akhirnya kami masuk ke ruang VVIP. Seorang teman, pengusaha sukses, punya seabrek kartu kredit berlabel Gold dan Paltinum. Semua serba Gratis. Sayangnya sudah makan. Mengambil minuman ringan dan sedikit sop.
Kami bicara ngalor-ngidul berdelapan. Kebetulan mereka-mereka itu orang-orang hebat, pengurus Korwil ESQ Kalsel. Oh ya, dulunya ikut membangun ESQ Kalsel dengan segala kerumitan dan tantangannya. Ibarat kapal kini berlayar dengan aman sentosa. Dulu masih merintis. Saya gencar menulis, puluhan tulisan, dan menerbitkan buku Nyaman Memahami ESQ. ESQ Training ikut mengembalikan ke ‘rasa’ Islam lebih mendalam.
Sebenarnya, perjalanan ke Jakarta untuk wawancara dengan seorang sutradara film kondang dan seorang menteri. Terlebih dengan Erwin Dede Nugroho. Empat bulan dia pindah ke Jakarta, barulah kini memenuhi panggilannya.
Maaf, Jakarta terkadang membosankan. Memang, Jakarta tidak memerlukan, tapi saya perlu Jakarta. Jakarta tempat orang-orang pintar, orang-orang hebat, orang-orang berkuasa. Bisa jadi Jakarta juga ‘mengubur’ mereka, mengubur mimpi Indonesia. Jakarta menjadi beban bagi kami orang-orang daerah. Tapi, kami mencintai negeri ini sampai ke tulang sumsum. Juga (terpaksa) mencintai Jakarta.
Ya, 60% rupiah beredar di ibukota, di Jakarta. Orang dengan enak saja menghabiskan uang untuk sekali makan puluhan, bahkan ratusan ribu rupiah, meniknati hiburan malam seharga gaji saya sebagai PNS dengan masa kerja 20 tahun. Jakarta yang ribet dengan kemacetan, dan tiap tahun banjir. Kenapa ya dimana orang-orang terkumpul orang-orang hebat sekadar mengatasi Banjir saja tidak mampu? Banyak yang berteori ini-itu, saling menyalahkan. Padahal, yang penting mengatasi banjir, bukan alasan. Aneh.
Kemacetan, keruwetan di Bandara Soerkarno Hatta (Tangerang) sampai pelabuhan Tanjung Priok sebatas berita. Selalu begitu, berulang. Begitu tiap tahun. Masalahnya ya begitu-begitu saja. Membuat masalah baru susah nampaknya, mengulang masalah lama lebih asyik kali. Apalagi menyelesaikan masalah.
Oi … pesawat sekali-kali menggoda dengan guncangannya. Lion Air berkapasitas 213 membawa kami ke Jakarta. Ya itu tadi, bagi saya untuk wawancara sekaligus mengikuti peringatan Kebangkitan Nasional oleh ESQ Leader Center di Menara 165.
Eh … tau-tau setelah beberapa puisi, dan artikel ini, pramugari berkhabar, pesawat segera mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Moncong pesawat merendah dan saya menutup laptop. Kalaulah tidak diganggu pramugari, susah menghentikan tulisan ini.
Ya, dalam kasus ini saya punya masalah, susah menghentikan tulisan. Di pesawat banyak orang tidur, ngobrol, atau membaca aneka bacaan. Saya menulis. Ya, menulis, dan susah menghentikannya.
Langit Samudera Jawa, 19 Mei 2008.









2 Responses to “Susah Menghentikan Menulis”
By Mega on May 20, 2008 | Reply
menuliss teyusss..asal jari2 tgnnya ntar ..lagi kopdaran ma fans dibawa2 me nari2 juga seperti lagi menulis hehee..
By Alex on May 31, 2008 | Reply
Susah Menghentikan Berkomentar………
abis aku ketawa2 ……….