Kemang Jajan Corner
20 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis warmansyah Abbas
“OH daerah Kemang, memang cocoknya nongkrong malam-malam he he …”. Begitu seorang teman merespon ketiga bertanya, sebagai jawab tanya, dimana menginap. Saya mana tahu. Seumur-umur, baru sekali ini bakalan menginap di kawasan Kemang. Tinggal tempati. Punya teman akrab begitulah risikonya, bebas bayar. Serba disediakan.
Nah itu dia. “Saya segera meluncur”. SMS seorang sahabat masuk. Meghentikan mengetik dan dan menyiapkan aneka peralatan. Ada beberapa agenda yang disiapkan untuk dipelajari, mulai dari tokken keperluan transfer bank sampai kamera digital mungil berfixel 12 yang setingg dan cara pemakaiannya kurang dipahami. Saya kan gaptek.
Seperti biasa, tanpa banyak cincong, kami berjalan ke Kemang Jajan Corner. Nama sesungguhnya apa, tak perlu dipedulikan. Sekitar 200 meter dari hotel. Waduh … gila amat. Tempat jajan segitu gede, penuh sesak. Mulailah menimbun informasi. Setelah berkelana memeloti orang dan menu, kami mengambil posisi di pojok. Biasanya, paling mengeluh gaya makan kawan yang satu ini, dia pemakan segala. Apa saja masuk.
Suatu kali, saya berlagak sok, memesan ikan salmon, entah diapakan memasaknya, memakan secuil hampir muntah. Eh … katanya enak. Belum lagi makanan Pakiskan yang, duh bumbunya. Akhirnya memilih Pizza dan seterusnya.
Menikmati suasana malam tempat orang-orang Jakarta nongkrong malam, asyik punya. Semasa di Banjarbaru, kami sering kemana-mana. Lebih sering mengikuti acara yang banyak tidak enjois bagi saya. Lebih sering sampai pagi di ruangan kerja saya. Kali ini menikmati, berikutnya tidak dijamin tidak bosan.
Kami ngobrol ngalor-ngidul seperti juga yang lain. Tidak berkomunikasi dengan teman-teman? Tidak. Agenda saya, bertemu Sampeyan, ikut acara ESQ, dan … mewawancara beberapa orang. Tidak bermaksud ke selain itu. Sejak dia pindah ke Jakarta, dia lebih dulu ke Banjarbaru. Setelah sekian bulan baru mendatanginya. Kangen terobati. Yang paling saya senangi, kami ngomong bebas. Termasuk menghajar diri kami.
Jam 01.00 kembali ke hotel. Membeli akses internet, Rp.55 ribu di front office lalu nongkrong di bar hotel. “Tidak merayakan HUT Azta dong”, tanyanya. Anak kami lahir pada RS Banjarbaru pada hari yang sama, berbeda beberapa waktu. Ini termasuk meangakrabkan. Kami bercerita segala hal.
Saya bangga kawan ini sedang mengembangkan portal berita raksasa. Kami diskusi dari paperless dimana dunia buku akan kiamat 10-20 tahun ke depan. Dahaga bacaan terpenuhi. Kami paling doyang membahas buku, dari Kiyosaki, Google, sampai Andre Harita. Asyik. Oh ya, dia kini kepala jaringan kantor berita raksasa perusahaan besar nasional.
Satu hal lagi malam ini saya mantapkan. Tidak usahlah orang-orang tua —seperti saya— terlalu mengurus Indonesia. Anak-anak muda penuh vitaliatas begini yang seharusnya mengambil peran. Orang-orang tua, minggirlah. Sudah tua, gagal pula, masih saja mau menggurui anak-anak muda. Generasi saya yang malang.
Dini hari, tamu bar kosong. Saya melihat jam di HP. 04.54. Lumayan lama kami diskusi dan lepas kangen. Topik paling hangat malam ini perduniaan maya. Sesuatu menyeruak memantapkan, manusia memerlukan teman berbagi, dari ide sampai prestasi, dari ‘pengakuan dosa’ sampai angan-angan. Lebih di atas itu, kepercayaan. Atas nama teman, semua hal mudah.
Sekitar lima belas menit tidur di kasur empuk kamar seharga Rp.800 ribu semalam ini —kata Hakim segitu bayarnya, kami sih tinggal nempati— telepon seorang teman berkhabar: Siap-siap ke Menara 165. Waduh.
Melihat kaos dan topi peserta jalan santai sudah disiapkan panitia pikiran saya melayang ke Banjarbaru. Saya Ketua Percasi dan Panitia Turnamen Akbar catur yang kemarin sore ditutup. Tidak sempat hadir. Nah, lho. Jakarta. Memakan banyak hal.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Hotel Kemang, 19 Mei 2008.









2 Responses to “Kemang Jajan Corner”
By meiy on May 21, 2008 | Reply
nongkrong enaknya emang diskusi dg teman akrab ya pak, jadi inget di aceh saya suka nongkrong di warkop hehe
By Alex on May 31, 2008 | Reply
“Biasanya, paling mengeluh gaya makan kawan yang satu ini, dia pemakan segala. Apa saja masuk.”
gawat juga tuh pak…????