Susah Melanjutkan Tulisan

19 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

IDE menulis tentang apa begitu, bisa menggeliat sendiri manakala otak aktif, bisa pula terpantik karena bacaan, melihat sesuatu, atau setelah mencium ‘anu’ begitu. Intinya, apabila otak aktif, ide tidak akan pernah kering, habis, atau buntu. Selama otak aktif pasti ada ide.
 
Ide yang menggeliat di otak, pematanganan atau konstruksinya tidak menjadi begitu saja. Ada prasyarat dalam formulasi ide. Seseorang berbasis ilmu pertanian, bisa jadi kurang bagus menulis, kenapa sih bandara Sukarno Hatta susah ditertibkan dari pembalak TKI? Aparat ada, petugas berlebihan, pengawasan ‘ketat’. Ada ide, berhentikan pelibat, didik orang muda yang belum terkomtaminasi; potong generasi. Setelah itu, tempatkan menjadi petugas.  Agar, tidak usah presiden, Kapolri, atau Dirut Angkasa Pura pusing lagi.
 
Idenya OK punya. Analisisnya? Jangan coba-coba dianalisis dengan ilmu tanah, ngak nyambung euy.  Tepatnya akan lebih mudah bagi yang paham manajemen atau psikologi, untuk membahasnya, kenapa sih mengurus kemanan TKI di bandara saja bangsa ini tidak becus?
 
Kalau tetap ngotot mengembangkan ide, perdalam ilmu pendukung. Sebab, kalau kacamata kuno ilmu tanah dipakai, bahasan bisa lucu. Atau, analisis dan paparkan berdasar logika umum. Nah, yang terakhir konon, bahasan remeh-temeh, tidak mendalam. Saya, barangkali tergolong yang beginian. Sadar saja, kan bukan ahli apa-apa. Menjadi petambak ikan pun karena otodidak, begitu juga menulis; belajar sendiri.
 
Sebaliknya, kalaupun ilmu akademis tidak punya, kalau ide-ide yang dicuatkan berdasarkan pengalaman pribadi akan lebih bagus. Apalagi yang diamati langsung. Misalnya, amati komentator blog. Misal, ada yang kalau mengritik tulisan orang, luar biasa hebatnya. Padahal, kalau tulisannya dibaca serasa mau muntah.
 
Banyak pula yang menulisnya runtut, nyaman, dengan sajian santun. Kalau ngomen juga mengasyikkan gitu. Kita kecanduan membacanya. Saya membaca blog-blog sedemikian. Hebatnya, peblog tidak ahli semua bidang, apalagi merasa ahli segala ilmu. Saya ingin seperti mereka, misal Sawali, Arif, Unai, Jupri, Mei, Windede, dan banyak lagi yang tidak mungkin ditulis satu persatu.
 
Hambatan kedua adalah ide bagus, bahan cukup, kemampuan berbahasa di atas rata-rata, masih mengalami involusi menulis. Kalau yang beginian pemunahnya satu saja, latihan menulis dengan menulis. Kita banyak punya orang pintar, menguasai banyak hal, namun kurang terlatih menulis. Tinggal memasuki area latihan saja lagi.
 
Intinya adalah, jangan menulis apa yang tidak diketahui, atau kurang dipahami. Misalnya mau membuat rendang. Dagingnya ada, tapi kelapa tidak punya, lengkuas belum ditanam. Kalaupun jadi rendang, rasanya aneh. Pasti saya tidak suka memakannya he he.
 
Dengan demikian, susah melanjutkan menulis tersebab karena bahan tidak cukup sehingga ketika ide diformulasikan, jadinya sebatas yang dipahami. Mandeg. Atau, segalanya memenuhi syarat, tidak menjadi karena tidak dilatih. Kalau sudah paham dua garis besar tersebut, tinggal melakukan (perbaikan) saja lagi.
 
Celakanya, terutama bagi penulis (pemula) merasa bisa semua hal, menganggap diri hebat untuk apa saja. Kalau sudah demikian akan terpola, mampu melakukan apa saja, menulis apa saja. Begitu dilakukan, ‘burungnya loyo’. Angan-angan terbang ke angkasa sementara tangan  bersandar pada kenyataan. Pikiran itu abstrak, menulis konkret, apalagi hasilnya. Kalau yang diperkuat hal-hal abstrak, sementara menulis adalah kenyataan, apalagi tulisan, jaraknya semakin menganga.
 
Karena itu, anjuran saya, turunkan tensi. Mulailah menulis dari hal-hal sederhana, yang dekat dengan diri, dengan pengalaman, dengan ide-ide yang tidak melanggit. Sesuai jangkauanlah.
 
Boleh saja tidak setuju dengan Harry Porter, Dan Brown, atau Ayat-Ayat Cinta. Puluhan analisis, ratusan tulisan dilansir membedahnya. Tidak salah memang, tapi kalau dipikir-pikir, kenapa menghabiskan potensi mengeluhkan dampak kurang elok Dora Emon, Tintin, Spongebox buat anak bangsa. Tulis yang lebih bagus, yang lebih sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa habis perkara.
 
Ya, kenapa susah melanjutkan menulis? Pertanyaan tersebut lebih baik disimpan. Kini, waktunya menulis, belajar menulis dengan menulis, memasihkan menulis dengan menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 19 Mei 2008.

  1. 8 Responses to “Susah Melanjutkan Tulisan”

  2. By SQ on May 19, 2008 | Reply

    yah, mengalir tidaknya tulisan (ide)berdasarkan apa yang diketahui otak.

    Warning..cukup menulis yang kita ketahui saja :-)

    nggak perlu yang berat-berat, apalagi sampai ber ton-ton :mrgreen:

  3. By Fien Prasetyo on May 19, 2008 | Reply

    betul tu pak, ini pernah sy alami pas ujian skripsi.Kebetulan(ga kebetulan sih, sedikit direncanakan hehehe)sy membahas ttg tayangan2 mistik indonesia yg lagi in..sy sempat diprotes salah satu tim penguji, katanya sih kenapa yg jadi lingkup bahasan sy cm tayangan mistik indonesia?knapa tayangan mistik Luar negeri nggak dibahas juga?walah…sy jwb aja, knapa musti jauh2 ke luar negeri pak?sementara topik tayangan mistik di indonesia aja blm pernah diangkat…malah nanti kalo sy mengangkat tayangan mistik luar negeri hasilnya skripsi “sok tahu”…ya kan pak ewa ????

  4. By budimeeong on May 19, 2008 | Reply

    ngga sadar p ewa menggambarkan ulun..
    kaya’apa kada. bagi ulun, menulis itu kada mamikir’akan tanggapan urang dulu, yang penting manulis, mun ada yang membenarkan, alhamdulillah..
    kan inspirasi ulun dari pa ewa,,,hehe

  5. By sluman slumun slamet on May 19, 2008 | Reply

    gimana dengan saya pak?
    :D

  6. By danalingga on May 19, 2008 | Reply

    Giji otak juga perlu selalu disuply kan pak, biar nggak macet.

  7. By german on May 19, 2008 | Reply

    hehe, seperti komen saya yg terdahulu, bahwa, kalo mau tulisan itu ngalir seperti air, ya banyak-banyak membaca –gitu aja kok repot, lantas bagaimana jika setelah banyak membaca toh tulisan tidak pernah jadi atau tidak pernah tertuang ke atas selembar kertas, saya sih menjawabnya simpel, “salah sendiri!!!” hahaha… sudah diberi perangsang kok malah gak keluar-keluar itu gimana? kan bisa repot! oke, dari sini bagaimana kalo tangan yg kita gunakan ini –mulai sekarang– bukan dipakai hanya untuk menggaruk-garuk, menunjuk-nunjuk atau hal lainnya yg rada nyeleneh, mari kita gunakan sebagai pemantik (trigger) yg memiliki makna dalam kehidupan, entah itu membuat kerajinan tangan, menyingkirkan duri dijalanan –dgn tangan–, atau hal lainnya yg termasuk pekerjaan tangan, salah satunya adalah ‘menulis’, seperti forrest gump (tom hanks) yg mengukir sejarah hidupnya dgn memilih fokus dgn pikirannya –berlari melintasi amerika selama 3 tahun, 4 bulan, 16 hari– yg walaupun dalam film fiksi –kalo menurut saya– inilah maha karya yg ditorehkan oleh manusia dalam satu-satu nyawa kehidupan yg dimilikinya… BERKARYA…

  8. By Siti Fatimah Ahmad on May 21, 2008 | Reply

    Assalaamu’alaikum…

    Saudara Ersis, saya dari Malaysia. Alhamdulillah, ketika sedang mencari bahan untuk tulisan jurnal ilmiah dan dalam usaha untuk memahami bagaimana menulis dengan baik serta boleh diterima umum; saya menemui ruangan blog saudara yang sudah pastinya banyak memberi input untuk memudahkan penulisan tersebut.

    Memang jelas dan tidak dinafikan, pencarian saya ini atas sebab sukarnya untuk memulakan penulisan ilmah. Setelah membaca serba sedikit bahan hasil tulisan saudara (sukar juga untuk memahami beberapa istilah dalam bahasa Melayu Indonesia, namun saya berusaha untuk mengintepretasikan makna yang mudah bagi saya) saya amat tertarik dan mengucapkan syukur kepada Allah swt serta berterima kasih kepada saudara kerana membuka ruang untuk berkongsi ilmu tentang tips penulisan dan info yang lain.

    Saya mengharapkan saudara dan rakan blog dari negara Indonesia dapat memahami bicara dan makna perkataan saya. InsyaAllah saya akan sentiasa melayari gerbang maya dalam blog saudara untuk mendapat banyak input. Salam perkenalan buat saudara (maaf, saya tidak tahu bagaimana mahu menulis atau memanggil saudara dalam bahasa ilmiah yang baik supaya saya selesa berinteraksi)dan salam perkenalan juga buat rakan blog yang lain.

  9. By Alex on May 31, 2008 | Reply

    Susah untuk tidak Melanjutkan komentar……..

    abis tulisannya renyah2..

Post a Comment