Susah Memulai Menulis
18 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PERTANYAAN paling sering dikemukakan pada berbagai kesempatan, apalagi setelah buku Menulis Sangat Mudah beredar secara nasional: “Apa yang Bapak tulis sudah dibaca. Saya paham, termotivasi. Tapi, adakalanya susah memulai tulisan. Bagaimana ini Pak?”
Kalau tidak tertawa, sekalipun sendirian, nanti dikira tidak waras. Saking banyaknya, susah menjawabnya he he. Bukan karena tidak punya landasan teoritis atau empiris, tetapi karena pertanyaan-pertanyaan sejenis.
Susah dalam arti sukar, tidak mudah tentu bukan pada tataran memahami, tetapi melakukan. Dalam melakukan sesuatu, kita tidak berurusan dengan lainnya, kecuali diri sendiri. Susah memulai menulis, ya urusan sendiri. Siapa pun tidak akan bisa menolong.
Sudah sering ditulis, pengetahuan, teori, diskusi atau apalah namanya, baru pada tahap ‘angan-angan’. Sesuatu yang berbeda dengan kenyataan, dalam hal ini menulis dan tulisan.
Percayalah, secara teori, dalam analisis, apa saja persoalan ekonomi bangsa ini bisa diatasi oleh pendekar-pendekar ekonomi. Mereka belajar pada perguruan tinggi terbaik, di dalam dan luar negeri. ‘Mengendalikan’ ekonomi bangsa telah dilakukan. Hasilnya? Semutpun tahu. Begitu pula menulis.
Belajar menulis sampai ke akhirat sekalipun, kalau tidak menulis, ya tidak akan ada tulisan. Tepatnya, praktik penting dan mendasar. Kenapa Andrea Harita mampu menulis tetralogi novel yang begitu menghentak? Karena melakukan, menulis novel. Kalau tidak bohong, menurutnya dia bukan pelajar sastra, atau megaku-ngaku sastrawan. Tapi, sekali lagi, menulis sastra.
Karena itu saya anjurkan, kalau sudah sadar memulai menulis itu susah, tinggal lakukan. Jangan disusah-susahkan. Susah kog dipelihara dan dibanggakan. Lalu, bagaimana caranya? Mudah.
Tulis tentang kesusahkan tersebut, susahnya memulia menulis. Misal, ketika memulai kepala gatal-gatal, digaruk, dan entah kenapa, bawaannya kencing melulu. Buku rujukan dicari-cari tidak bertemu. lupa. Menulis jadi susah, susah dan menyusahkan.
Pertama, dengan menuliskan kesusahan menulis, tertulislah satu tulisan tentah susahnya menulis. Jangan pernah disiskusikan atau dikeluhkan. Obatnya satu, tulis, tulis, dan tulis tentang susahnya menulis. Tulisan menjadi, pelajarannya direngkuh.
Kedua, Pelajaran? Ya iyalah. Bukankah bagaimana susahnya mengawali tulisan terindentifikasi. Tinggal bagaimana menjadikan situasi dan kondisi kondusif. Supaya kepala jangan gatal-gatal, mandi dululah. Sampo sampai bersih. Sebelum menulis baca buku rujukan. Dapat pelajaran praktis mengidentifikasi masalah dan melawannya dengan melakukan, menulis. Mudah dan dapat melawan kebiasaan yang memapan.
Ketiga, kebiasaan memapan? Yes. Biasanya kan mengeluh dan berteori segala rupa. Dengan menulis —tentang susahnya menulis tadi— kebiasaan yang berkarat dikikis dengan melakukan. Kalau menulis, dan ada hasilnya berupa tulisan, buat apa alasan. Alasan khas mereka yang berkehendak tetapi tidak terwujud. Untuk pembenaran dicari-cari alasan. Alasan harus dicampakkan.
Keempat, mencampakkan alasan? Yoi. Ngapaian membela, mengembangbiakkan syaraf alasan. Teori, motivasi, diskusi, atau apalah ‘di luar’ tulisan. Ketika menulis, ya menulis saja. Ini menulisnya yang tidak mampu, kalau mampu tentu ada buktinya, kenapa mencari kambing yang hitam. Aya aya wae.
Kelima, kembali ke awal tulisan, susah menulis urusan pribadi, tersebab kemampuan, dikendalikan pikiran kurang cerdas. Lalu, bagaimana dong Pak?
Sudah sering ditulis, lawan dengan menulis. Tulis, tulis, dan tulis. Habis perkara. Pasti jadi tulisan. Bukankah fasih jalan karena ditempuh? Mana ada keterampilan datang begitu saja. Tidak ada kamusnya membaca. mempelajari, mengangankan sesuatu akan menjadi begitu saja tanpa melakukan. Lakukan.
Yang tearkhir adalah kunci Inggris menulis. Menulis, menulis, dan terus menulis. Susahnya menulis saja bisa ditulis, apalagi yang mudah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 18 Mei 2008.










21 Responses to “Susah Memulai Menulis”
By maskun on May 18, 2008 | Reply
menulis itu mudah. Asal ada kemauan. Ya nggak? Mengalir saja bagai air yang megalir.
***Menulis mudah bila dilakukan. Tidak ada tambahan lain he he
By sluman slumun slamet on May 18, 2008 | Reply
makanya sekarang guru goblog, dosen goblog, mahasiswa goblog, anggota dpr yang korup go cipinang
:d
By dadan on May 18, 2008 | Reply
***Mudah aja tu, sebelum menulis mantapkan raw materials, ngak mungkin ecek-ecek. Ini perasaan Sampeyan ja.
By Anang on May 18, 2008 | Reply
ngeblog juga membantu menulis ya pak…. he
***Bukan membantu Mas, ya menulis langsung he he. Saya nulis di blog kan untuk dijadikan buku. Tinggal nambah daftar isi aja lagi untuk jadi buku.
By Yoyo on May 18, 2008 | Reply
terima kasih spirit dan pencerahannya Pak Ersis, keep go-blog !
**He he sama-sama dong.
By Nada taufik on May 18, 2008 | Reply
Saya suka juga menulis, tapi kadang saya bingung memberikan judul akhirnya judul kadang menjadi tidak penting untuk satu karya tulisan saya.
Apalagi ritme yang harus dilanturkan kedalam tulisan, kadang kala harus ada naik turunnya dan itu yang kadang membuat saya jadi berhenti sesaat.
Apa bedanya menulis buku cerita dengan kisah nyata itu?
***Ngak ada beda, yang pertama menuliskan khayalan, yang kedua menuliskan apa yang dialami, sama-sama mudahnya. Yang namanya ritme ya naik-turun neng, kalau statis apa enaknya dibaca? Seharusnya sampeyan bersukut, itu kekuatan. Wah-wah itu pertanda diberlati talenta menulis. Jangan sampai dijadikan penghalan. Salam.
By SQ on May 18, 2008 | Reply
susahnya terkadang kalau kita sudah berpikir itu susah pak, jadinya ya susah, semuanya jadi susah
pak…
***Its nindset
By Fien Prasetyo on May 18, 2008 | Reply
menulis memang mudah, selama bisa baca-tulis pasti bisa menulis…cuma yg sulit itu bgmn kita mnjadi diri sendiri dlm menulis..gmn pak ewa ?
***Ngak. Kita menjadi diri sendiri dulu baru menulis
By petak on May 18, 2008 | Reply
Menulis tentang apa yang sulit dari menulis?
Betul juga ya,, ruwet tapi efektif,
***Untuk mengilangkan keruweana dan menghancurkan masalah
By HARIS MAP on May 18, 2008 | Reply
menulis dengan hati.itu yang penting.
***Wah yang terlalu tinggi begitu belum nyampai, cuma baru bisa dari pikiran, dari apa yang terpikirkan. Mudahan nanti bisa begitu. Hebat euy
By aminhers on May 18, 2008 | Reply
semua orang bisa menulis sesuatu. tetapi ketika tulisan itu mempunyai nyawa atau tidaknya di tuntut latihan dan waktu (proses),dan belajar dari orang yang telah cakap.
***Betul, belajarnya sendiri
By fauzansigma on May 18, 2008 | Reply
iya pak.. pembalap pinter ngetrack di jalan jg krn sering latihan.. jd pinter nulis jg krn sering nulis yah pak..
***Persis
By areep on May 18, 2008 | Reply
sebenarnya nulis tuh gampang, cuma yang susah itu cari ide n bentuk tulisan seperti yang kita mau..
***Ide justru lebih gampang dari menuliskannya he he
By german on May 19, 2008 | Reply
kalo dilihat tulisannya sih runut –seperti berpola–, tapi sepertinya bapak termakan jebakan, ya jebakan! karena tulisan postingan ini rada basi –mengapa harus diangkat lagi! tapi kalo pun memang ada niat lain di balik itu ya gak apa-apa, atau lagi kehabisan ide??
***He he benar juga … dalam teori pendidikan, kan tidak semua orang seperti Sampeyan, sekali baca langsung maknyus. Ada juga teman yang perlu pengulangan, penekanan, pengayaan, etc.
By sawali tuhusetya on May 19, 2008 | Reply
pada awal2 menekuni dunia menulis, saya dulu suka menulis resensi, pak. ada tiga keuntungan, dapat duwit, tambah ilmu, dan yang pasti terinspirasi utk menulis. masih ada satu keuntungan lagi, jika resensi kita yang dimuat di koran atau majalah, kita kopi, lantas dikirimkan ke penerbit buku yang kita resensi, seringkali kita dapat buku2 baru gratis, sehingga kita bisa mengurangi anggaran utk beli buku2 baru.
***Sama dong pengalaman kita Pak Guru.
By Juliach on May 19, 2008 | Reply
Dulu aku susah untuk menulis. Karena tidak terbiasa sih. Tapi sekarang, agak mulai bisa. Pokok apa aja yang ada di otak atau kejadian sehari-hari aku tulis aja, walaupun isinya tidak berbobot sama sekali. Sebodoh banget, yang penting itu tulisanku.
***Bagus, siip itu. Soal bobot, dengan menulis, ibarat ngisi palka kapal, lama-lama akan memberat he he … lalu bobonya bertambah(kalau tetap menulis).
By Fien Prasetyo on May 19, 2008 | Reply
kalo gitu,spy bs menulis gmn caranya jd diri sndiri pak ? soalnya kerap sy terinspirasi dr penulis2 idola, alhasil tulisan jd gak “beda” gitu…atau kalo blm dipost tema itu, p.ewa post donk…berbagi ilmu tu pahala kan pak..hehehe..
***Sudah di post, ngak ingat lagi judulnya he he … berakil-kali. Berguru pada diri sendiri, misal hari ini menulis dengan beigini, bagus … teuskan, gebete, jelek … lupakan. Guru terbaik adalah belajar dari apa yang dilakukan, bukan membaca atau beminpi seperti orang.
By Fien Prasetyo on May 19, 2008 | Reply
bukan bermimpi seperti org lain pak ewa..ga pernah pun dlm diri sy ingin jadi org lain, tapi yg sy mksud mngkin lebih pd saat menulis tiba2 “keluar jalur” parahnya jalur itu jalur org lain…tp semua itu tnp niatan..sumpah!hihihi…
By Badiyo on May 20, 2008 | Reply
Betul juga Pak ersis. Saya kalau mengomentari kok lebih mudah dari pada menulis sendiri yah..
By Kang Aom on May 27, 2008 | Reply
Kemudahan menulis atau melisan bagi saya, sangat erat kaitannya dengan seberapa banyak perbendaharaan kata yang tertimbun di otak. Oleh sebab itu banyak membaca karya tulisan orang lain, bisa jadi merupakan salah satu cara memudahkan kita menulis atau melisan….
***Akur, dan praktikkan …
By Alex on May 31, 2008 | Reply
Susah untuk berhenti berkomentar………..
abis postingannya gurih2……….