Menulis Syuhat
17 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SERING kali, apabila menulis, mulai dari mula sampai menjadi, kita dihinggapi keragu-raguan. Apakah tema tulisannya benar, isinya pas, sajiannya bagus, atau diterima apa tidak oleh pembaca. Syubhat alias keragu-raguan tentang tulisan, wajar saja. Bahkan, syubhat pada takaran tertentu bisa jadi kekuatan.
Saya ingat kuliah-kuliah awal dimana Pak Dosen mengatakan, ragukan apa saja, meragukan sesuatu sangat positif; membangkitkan keinginan mengetahui. Ilmu, konon dibangun atas keraguan atau meragukan sesuatu (fenomena). Setelah diselidiki, kalau terbukti OK, percayai. Berbeda dengan iman, sebab iman keyakinan. Yakini Allah SWT benar adanya, lalu telitian memperkuat keyakinan. Keyakinan menjadi dengan sendirinya, ilmu bersandar pada penelitian.
Keragu-raguan akan kemampuan (menulis) ada baiknya. Meragukan kemampuan berarti mawas diri, beda jauh dengan sombong yang bisa menjerumuskan. Kalau ragu, ‘selidiki’. Pada proses menyelidiki mengasah kehati-hatian, kemampuan, dan keyakinan. Yang celaka, ragu atau meragukan segala hal bekepanjangan. Kalau begitu, dijamin tidak ada hasilnya.
Ada bloger pelibat sharing di blog ini meragukan kemampuannya. Bagus. Tetapi, setelah disuntik serum keberanian, terus saja ragu dan meragukan kemampuan. Hal itu berulang. Kalau demikian ceritanya akan sulit jauh dari syubhat. Ragu melulu sih.
Anjuran saya, dari pada ragu … tabrak saja. Misalnya mengartikan kosakata seronok dengan hal tidak baik; menjadikan yang memandang tidak enak. Padahal, menurut KBBI, seronok berarti menyenangkan hati. Pertama-tama, cek di kamus, pasti ketahuan salahnya. Kalau pemalas, tulis saja. Nanti, teman-teman bloger akan bereaksi. Setelah itu perbaiki.
Paling-paling memerahkan telinga. Kalau bloger yang menanggapi baik hati dan membangun semangat, dia akan menulis: mBak, atau mBok, salah pengertian deh, arti sebenarnya justru sebaliknya. Kalau bloger pemangsa: Dasar goblog loe, berani-beraninya menulis. Kosakata saja tidak paham. Sudahlah, belajar dulu sebelum menulis. Pintar dulu baru menulis.
Menulis syubhat atau syubhat menulis sebenarnya berasal dari meragukan kemampuan diri. Kalau dari dalam diri sudah yakin, keluarannya (tulisan) pasti meyakinkan. Menurut John Naisbitt itu namanya mindset. Lagi pula, peduli amat dengan keragu-raguan.
Siapa sih yang tidak anggau dengan tulisannya. Itu pertanda bagus. Ada pepatah Minang: Kalau takut pada peluru datangi bedilnya. Artinya, peluru akan mengenai kalau berjarak, kalau memegang senjata, kan kita yang mengarahkannya. Kenapa harus takut?
Fundamentalnya dapat disibak pada pangkal mengapa menulis. Dapat dipastikan, kalau menulis dimaksudkan mencelakakan, mencemeeh, maulu-ulu atau menfitnah, ya wajar syubhat bergabung; kurang jelas status hukumnya, halal-haramnya. Kalau sudah demikian wajar ragu, tidak jelas arahnya, dan … takut.
Kalau menulis diniatkan demi kebaikan, dari pangkal jiwa, dari pikiran jernih, maksud perbaikan, berguna bagi sesama, mustahil ketidakjelasan maksud hampir. Kalau bermaksud baik apa yang diragukan? Mereka yang terlalu percaya diri —apalagi orang percaya diri setaraf bandit— justru yakin dengan keraguannya, he he.
Artinya, jangankan dipertimbangkan, dipikirkan saja tidak baik-buruknya, etis-tidak etis, akan menyinggung atau menyenggol. Pokoknya: Go. Habis perkara. Orang-orang nekat demikian lebih sukses.
Tulisan ini dipatri dengan semanagat: Keraguan-raguan, apalagi dalam menulis, lawanlah dengan mengabaikannya. Ragu dalam menulis, meragukan tulisan (sendiri), lawan dengan menuliskannya. Misalnya pada tulisan ini, saya ragu pemakaian kata ‘syubhat’, ya tulis saja. Jadi tulisan kan? Bagaimana kalau salah?
Alhamdulilah, kalau sudah ketahuan salah, tinggal perbaiki. Kalau ada teman yang mengingatkan dan memperbaiki, teman dapat pahala membetulkan, saya dapat ilmu dan membetulkan. Emang yang rugi siapa?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 Mei 2008.









5 Responses to “Menulis Syuhat”
By M. Rizky Adha on May 17, 2008 | Reply
Perasaan gak ada istilah “Syuhat” (Pada Judul) toh??? Yg ada ya “Subhat”… Wduh2,,,???
Gitu aja kok repot, kalo ragu2 lebih baik kembali… Gampang kan!
By Fien Prasetyo on May 17, 2008 | Reply
tergntung kt mo nulis unt sp ? kl unt dri sndri ya bolehlah main tabrak aj…tp kalo kt nulis unt org lain atau skripsi misalnya, ya ga bs donk kt menulis tnp kerangka, konsep,metode dan analisa yg valid ato jelas.secara, menulis itu kn ga cm aktifitas posting di blog ajah toh…
**Bagus. Tabrak dalam artian melawan takut, ragu-ragu, biar dapat yang benar. Jadi, tidak ada gantung-gantungan, tulisa ntar baiki. Ya, kiat saya belajar begitu, bisa hasilkan puluhan buku. Namun, sangat setuju tulisan itu sesui peruntukkannya. salam.
By SQ on May 17, 2008 | Reply
yah…menurut saya pak, orang yang ingin berbuat jahat saja bisa punya keyakinan.
apalagi menulis yang cenderung mengjak kita untuk berbagi
dalam kebaikan
By Suci on May 17, 2008 | Reply
Ragu memang termasuk hal yang cukup mengganggu ketika menulis. misalnya begini, ketika mennulis yang melibatkan tanggal peristiwa, tiba2 ragu apakah sudah menuliskan tanggal yang tepat. karena ragu-ragu akhirnya berhenti menulis untuk berpikir atau mencari-cari sumbernya. akhirnya, ya itu, lupa sebenarnya mau nulis apa tadi..
Tapi, daripada keburu hilang ide di kepala, tabrak aja terus. setelah selesai baru dicek dan ricek. Kalau salah terus jadi benar, wah berarti sudah berhasil belajar donk!
By Alex on May 31, 2008 | Reply
Menulis Syuhat ato Syubhat pak ???????
pertama2 dulu sy ragu2 utk nulis pak..tapi setelah sy fikir2 InsyaAllah. Allah pasti membimbing..maka jadilah……aku penulis..walau penulis blog..hehe
saya nggak ragu bikin komentar…..