Menulis Sakinah
17 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
DAMAI di hati damai di tulisan. Hebat benar rangkaian kata-kata tersebut. Ya, kalau menulis menjadikan hati bermuatan kedamaian, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan, kenapa tidak. Kalau damai di hati menjadikan damai di pikiran bermuara damai di tulisan, tentu lebih baik. Tidak ada salahnya to.
Minimal jalan katarsis. Minimal pula tulisan menjadi kapal keruk agar kerak-kerak pikiran terkikis. Katarsis sudah jelas dengan sendirinya menyehatkan jiwa, membantu menjernihkan pikiran. Kalau tidak sampai menjadikan tulisan sebagai juru kedamainan, minimal ‘satu orang’ terselamatkan. Sebab, fakta di lapangan ‘berbicara’, apa yang baik bagi dan untuk penulis belum tentu positif bagi pembaca. Baik bagi semua, minimal menjadi harapan tujuan menulis. Kali aja.
Tidak mudah memang mencapai tingkat menulis sakinah. Jujur saja, bagi saya, adakalanya menulis berterminal katarsis. Masih jauh dari menulis sakinah. Sekalipun demikian, sebagai pembelajar baru mampu pada taraf berniat dan berusaha. Artinya, hasilnya (tulisan sakinah) masih jauh. Justru disitu tantangannya.
Tetapi, begitu setidaknya, mampu mengeser pikiran-pikiran negatif. Walau, baru pada tingkat dasar. Suatu kali, seorang teman berusah payah membuat blog komunitas. Dapat dapat dipastikan, tujuannya baik. Apa lacur, ada yang memandang sebagai ajang bagi landasan popularitas. Masya Allah.
Saya tertarik membahas menulis sakinah, karena kalau dipikir-pikir memang susah. Bukan saja karena manusia (pembaca) itu dari sononya berbeza-beza, tetapi terlebih, persepsi sangat susah disamakan. Baik bagi ana belum tentu bagi loe, buat beta nayaman buat ente barangkali menyiksa. Tidak salah ahli ilmu-ilmu sosial mengedepankan individual differences. Jadi, mustahil sama dan sebangun.
Sekalipun demikian saya yakin, apabila di hati ada sarang kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan luncuran pikiran dalam bentuk tulisan akan bergaris lurus. Setidaknya, tidak bengkok-bengkok amat. Syukur, menjadi tulisan yang mencerahkan karena memang dari diri yang damai, dari hati yang sejuk.
Kalau hati ‘bergemuruh’ jangankan melihat hal jelek, menatap hal baik saja bisa ditanggapi buruk. Adakalanya, tulisan tidak menyangkut dia (seseorang), apalagi kelompok atau nilai-nilai tertentu, bila hati ‘berkecamuk’ akan ‘rusuh’ sendiri. Segala perbuatan dan hasil perbuatan bermula dari dalam diri.
Sejam lalu, bersama dua orang manusia, kami tengah asyik-asyiknya menjilit media. Disela-selanya diskusi tentang bahasa sebagi ‘tools’ yang sering divonis sebagai ‘tujuan’. Dengan kemampuan bahasa, kebetulan mereka sarjana bahasa Inggris, saya katakan, kalian mendapatkan alat bagus. Gunakan.
Bayangkan betapa susahnya saya yang bukan pelajar akademik bahasa, tertatih-tatih untuk sekadar menulis. Susah payah menulis artikel, cerpen, novel, atau buku. Kalian punya alatnya enak-enak saja tidak menulis, lalu … memaki tulisan orang-orang berkeinginan menulis. Kalian bisanya menyalahkan. Kalau jadi guru, berapa korban kalian, dan berantai pula.
Mereka tercengang, dan kemudian terbahak-bahak. Lalu, tercenung. Saya menulis seronok dengan pemaknaan menyenangkan hati, disalahkan. Padahal, begitu ditulis di kamus. Dengan gaya yang tidak sakinah, saya katakan: Kalian yang bergelar sarjana bahasa tidak mencek di kamus. Apa-apaan. Mereka karyawan di media saya yang sedang mematangkan diri dalam menulis, he he.
Ya, saya sedang belajar, menjadi pembelajar dalam bersakinah. Seperti pernah saya tulis, tulisan adalah kaca diri. Saya menyadari, ‘gaya’ tulisan saya jauh dari penampakkan sakinah. Ya, ngapain dipusingkan. Belajar. Habis perkara. Soal berhasil atau tidak, itu urusan nanti. Wong lagi belajar kog.
Biarlah. Jalannya berawal dari dalam diri. Pembenahan itu yang sedang mengharu-biru. Jangan-jangan bak belajar mengurangi rokok. Target saya dari Ramadhan dulu, dari lima bungkus menjadi satu bungkus menjelang Ramadhan tahun ini, kini baru ‘kuat’ dua bungkus sehari-hari. Mana tahu, ada perubahan signifinace pada Ramadhan menjelang.
Menulis sakinah, seperti hidup sakinah, adalah perjuangan itu sendiri, kehidupan itu sendiri. Begitulah secuil testimoni seorang pelajar, terutama pada dirinya. Kalau para sahabat bisa membantu, kenapa tidak?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 Mei 2008.









9 Responses to “Menulis Sakinah”
By M. Rizky Adha on May 17, 2008 | Reply
Kayaknya ada yg kurang lagi??? Mawaddah & Warrahmah kemana…??? Kan jadi lengkap toh!
Sangat sulit sekarang ini menemukan orang yg mempunyai kedamaian pd setiap tulisannya,,, terlebih2 mungkin, mungkin dilebih2kan, atawa melebih2kan mungkin…
By SQ on May 17, 2008 | Reply
kalau soal pembaca (manusianya) memang kembali ke hati dan pikiran, ya nggak bisa dong maksa2 orang buat nyamakan pikiran dengan orang lain. Intiya ya tulis buat menyamankan diri sajalak..
kayak iklan, BE YOURSELF.
saya sepakat soal “belajar” juga, inti belajar itu salah kan pak? nggak salah nggak rame
By Yari NK on May 17, 2008 | Reply
Memang semuanya berjalan secara bertahap…. tidak bisa serba drastis….. seperti orang berjalan mula2nya juga tertatih2, ada kalanya kita juga dilimitasi oleh kapasitas maksimum yang ada pada diri kita, itu alamiah, dan tidak akan ada seseorang mempunyai kapasitas yang tidak terbatas karena memang manusia adalah makhluk yang tidak sempurna.
Menjadi sempurna adalah tidak penting… yang penting adalah bagaimana kita menjadi lebih baik setiap hari bahkan setiap detik…. begitu juga dengan menulis, yang penting (seperti acapkali dikatakan oleh Pak Ersis) adalah menulis dulu, lama2 sedikit demi sedikit kita tingkatkan kualitasnya dari berbagai sudut.
Selamat mencoba menulis sakinah….. (yang tengah saya usahakan juga untuk mencapainya).
By Santri gundhul on May 17, 2008 | Reply
Jangan-jangan bak belajar mengurangi rokok. Target saya dari Ramadhan dulu, dari lima bungkus menjadi satu bungkus menjelang Ramadhan tahun ini, kini baru ‘kuat’ dua bungkus sehari-hari. Mana tahu, ada perubahan signifinace pada Ramadhan menjelang.
Weeee…lah…ceritane pak Guruku ini MENGURANGI Rokok to..?? Yah baguslah pak, asal jangan NGURANGIN Rokok temen sebelah saja. kiks..kiks..
Refotnya neh, gara-gara ngurangin rokok…gak dafet INSPIRASI bisa guuuuaaawwaaat tenan. Ngajar murid cuman NDLOMONG doang, habis dah gak ada yang dipake mancing untuk mendafatkan Inspirasi je…he..he…
Salam KANGEN pak Guru
dari si murid BUNGUL di Kaltim.
***NGak, saya bukan menangguk inspirasi dari merokok … biar bisa bayar pajak saha he he. Wah di Kaltim, kalau kesan bisa sliturrahmi dong. Salam dari Kalsel.
By natazya on May 17, 2008 | Reply
sejauh ini saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis. belum sampai pada pertimbangan apakah ini masuk sakinah atau syuhat atau seronok sebagaimana yang ditulis sebelum ini..paling tidak insya Allah yang ditulis tidak akan merugikan buat orang lain, kalau memang belum bisa buat menguntungkan…insya Allah ^_^
***Gitu saja sudah sangat bagus … sama dong … ntar lama-lama baru kita menulis sakinah
By hanggadamai on May 17, 2008 | Reply
wah pak, diriku juga lagi belajar jadi penulis yg sakinah.
***Sama, mari kita bergandeng karya, belajar.
By Haris zaky mubarak on May 17, 2008 | Reply
moga kagak kena talak menulis aja coy ae aja.
By Suci on May 19, 2008 | Reply
Menulis sesuatu yang sangat baik bukan berarti kita harus menjadi yang paling teladan dalam soal kebaikan kan? Dengan menulis kita membelajarkan diri untuk melakukan hal baik yang telah kita tuliskan…
Menulis adalah belajar. Menulis adalah satu cara menuju kebaikan.
By Alex on May 31, 2008 | Reply
Tulisan yang men-Sakinah-kan
adem…
***Wah, ngak berani nambah ayem, apalagu ayam, he he