Menulis Seronok

16 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

AGITASI, boleh pula dikatakan provokasi, melalui media cetak, arena seminar, pelatihan, dan terutama (belakangan) melalui www.webersis.com nampaknya sudah saatnya bergeser bingkai. Kalau sebelumnya lebih kepada motivasi, yang penting menulis dulu, kini beralih setapak demi setapak, bagaimana menulis yang nyaman; nyaman dibaca oleh pembaca tentunya, he he.
 
Hal ini berkaitan dengan langkah kedua Ersis Writing Theory, yang diapungkan sebagai bukan teori, padahal kalau dikenakan pisau analisis, bisa jadi teori juga ai. Kalaupun ‘terpeleset’ menjadi teori, dasar pikirnya jelas, memudahlan menulis, bukan membelenggu. Harus begini, begana, begene, begitu, sampai menunggi mood atau kondisi tertentu dianggap kuno. Itu belenggu.
 
Bebas dari belenggu menulis, berarti menulis merdeka, bebas dari ‘aturan’ yang membelenggu. Kalau demikian, bukan berkutat menganalisis tulisannya, atau siapa yang menulis, tetapi pada ‘makna’ tulisan dan hal-hal terkaitnya. Lebih lanjut, menulis yang enak dibaca, nyaman dinikmati, menulis seronok.
 
Mungkin, menulis seronok tidak semudah level menulis sebelumnya. Kajiannya lebih filsafati, apa dan mengapa menulis sesuatu. Artinya, sumber penuangannya yang disgi. Pikiran yang dituangkan berasal dari ‘diri’. Diskusi lebih kepada apa-apa yang akan diproduk diri, diproduk pikiran.
 
Contoh sederhanya pada teori menulis ‘kuno’, menulis akan bagus manakala ada mood. Kalau sudah in the mood baru lancar menulis. Kuno dan menyesatkan. Bagaimana kalau Si Mood ngak mampir-mampir? Tidak menulis dong. Sungguh menyesatkan.
 
Menurut EWT mood diciptakan. Mood itu kan suasana hati nyaman. Tugas penulis menjadikan suasana hatinya nyaman selalu agar selalu maknyus menulis. Bahasa lainnya, menyenangkan.
 
Kalau hati senang, semua hal bisa dilakukan dengan bersenang-senang, lempang. Tidak ada beban, tidak membeban. Keluarannya (tulisan) akan seronok. Kalau susana hati dan pikiran lagi gundah dan kacau, bagaimana akan seronok, dan mustahil tercipta tulisan seronok.
 
Sedikit bergaya, menurut Murakami, di diri kita bersarang miliaran DNA. Katanya, katakanlah DNA ‘susana hati nyaman’ di-on oleh Pak Sawali. Suasana hati yang bagus itu akan menjalari dirinya sebab di bagian mana ada DNA berkode ‘susana hati nyaman’ akan on menyinari Pak sawali.
 
Dilain pihak, Mas Kombor membaca tulisan Pak sawali. Suasana hati nyaman Pak Sawali memicu on suasana hati dari kode DNA Mas Kombor, maka frekuensinya nayambung. Sahut bersahutananlah susana hati nyaman yang ‘dipindahkan’ ke dalam tulisan oleh Pak Sawali.
 
Kalau demikian ceritanya, tulisan tersebut, tulisan seronok tersebut, menghidupakan DNA-DNA di diri siapa yang membaca. Bagaimana kalau ada pembaca yang menghidupkan kode DNA ‘marah’. Itu urusannya. Tidak akan pernah sama frekuensi, tidak akan nyambung. Banyak tipe manusia seperti itu. Kita terlahir memang dengan keberbedaan, biar saja.
 
Pada contoh lain, kalau kita melihat pengemis tua renta dengan pakaian compang-camping begitu memelas, siapa pun kita, akan merasa iba. Rasa kasih sayang, otomatis muncul. Itu berlaku pada siapa saja, kecuali yang sudah dirayu iblis. Kenapa? Sifat Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim memang sudah dititipkan sejak roh ditiupkan. Begitu ada obyek, otomatis muncul dari siapa saja yang masih memeliharanya.
 
Dengan kata lain, menulis seronok berarti menulis dari pikiran, dari hati, dari diri yang seronok. Dan, itu diciptakan oleh yang empunya diri. Kalau begitu, teori menunggu mood, jadi kuno bukan? Emangnya menunggu Godot?
 
Al-akhir, supaya jangan ada yang kepeleset, kosakata seronok menurut KBBI (1988: 828) berarti: menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dsb). Mari menyeronokkan, menimbulkan rasa seronok.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 16 Mei 2008.

  1. 13 Responses to “Menulis Seronok”

  2. By sluman slumun slamet on May 16, 2008 | Reply

    wah saya kirain seronok itu selalu negatip pak
    :d

    ***Ha ha … yang benar itu Malaysia, persis seperti kamus

  3. By gama on May 16, 2008 | Reply

    Ikut nibrung sekedar melemaskan jari.
    Terkadang untuk menulispun seseorang terlalu berhati-hati dan selalu ingin taat pada rambu2 dengan harapan terciptanya keteraturan. Padahal keteraturan itu relatif. Menulis tak akan lepas dari bahasa yg kita gunakan,secara tidak langsung tulisan akan dikendalikan oleh bahasa kita sendiri. Mengungkapkan arti CINTA, setiap orang punya kamus masing2, jadi sangat susah mengartikan kata CINTA. Ya, itulah kelamahan bahasa yang bersifat majemuk.
    Akhir kata, tulis aja rangkai kata yg ada di benak kita, biar orang lain yang nyalahin. hi.hi..hikk :-)

    ***Hi hi hikk

  4. By Arif on May 16, 2008 | Reply

    Terimakasih sudah memuat paraban saya. Wow, kalau dikasih link* akan semakin TOP, Pak Ersis.

    Saya setuju bahwa suasana hati bisa menular (contagious) seperti yang Pak Ersis tulis. Bahasa yang provokatif bisa memprovokasi pembacanya. Bahasa yang mengalun tenang akan menenggelamkan pembacanya (saking tenangnya nggak kerasa kalau tenggelam).

    *) moharifwidarto.com masih PR0 kalau dapat link dari webersis.com yang PR4 kan bisa kedongkrak PR-nya.

  5. By Agoy Yoga on May 16, 2008 | Reply

    Terkadang “DNA-DNA happy” itu terlanjur berserak kemana-mana susah banget dikumpulkan jadi suasana hati gak bisa kondusif. Kalau sudah begitu mungkin diam aja dulu kali ya Pak?
    :)

  6. By M. Rizky Adha on May 16, 2008 | Reply

    Wah, ada2 saja judul tulisan pian… he..hee..heee… Bisa kena UU neh… Klo bikin tulisan yg seronok2… he

  7. By indra1082 on May 16, 2008 | Reply

    YUUP….
    Tim Uber sudah memastikan masuk FINAL,
    Mari kita dukung sampai jadi juara
    TIM THOMAS…. Jangan Mau Ketinggalan!!!

  8. By iman brotoseno on May 16, 2008 | Reply

    jadi bingung menilai kadar keseronokan tulisan saya ??? he he

  9. By petak on May 16, 2008 | Reply

    Godot apaan tu pak?
    mirip namanya miss israel aja..

    ***Mirip cerita fiksi yang saling dikutip he he

  10. By Suci on May 17, 2008 | Reply

    Menulis menyeronokkan hati. Seronok dalam menulis. Menulis dengan seronok…Wah, kalau nggak banr-benar liat kamus, pasti sampai hari ini saya masih geli membaca kalimat-kalimat seperti itu.

    Jadi, Menulis ternyata juga lebih berhati-hati. Daripada salah penggunaan kata jadi salah maksud.

  11. By sawali tuhusetya on May 19, 2008 | Reply

    menulis seronok? wah, kupikir tadi istilah yang rada2 ngeres, eh, ternyata malah jadi kiat menulis yang bagus. wew.. agaknya kita perlu memulai utk menjadi penulis seronok, ya, pak? hehehehe :lol:

    ***Ya ya seperti Novel Pak Sawali Seronok tu

  12. By esa on May 19, 2008 | Reply

    hehe..baru aja saya mau nanya arti seronok, alhamdulillah keburu baca sampe akhir, jadi ga jadi deh. Ngomong-ngomong soal kamus, kayanya lebih sering pake kamus Bahasa Inggris daripada kamus besar bahasa Indonesia alias KBBI itu ya Pak? :mrgreen:

  13. By Alex on May 31, 2008 | Reply

    komentar yang seronok….

    ***Mari berseronok

  14. By utchanovsky on Jun 14, 2008 | Reply

    Jadi bingung sama sosialisasi orang2 pusat bahasa sana. Kenapa banyak orang jadi salah kaprah soal ini yah???

    ***Biar saja … kita usahakan mempraktikkan sebisa mungin, beres

Post a Comment