Ahimsa Menulis
15 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MAHATMA Gandhi pejuang cerdas dan tangguh Tanah Hindi nampaknya melihat, perjuangan kehidupan adalah perjuangan ‘penyelamatan’ kemanusian, dan bahkan perkebinatangan. Sesama makhluk Sang Mahapencipta jangan menyakiti, apalagi membunuh. Menggunakan kekerasan tabu. Bapak kemanusian berkesederhanaan tersebut sungguh merasuk jiwa.
Tentu Gandhi anti penjajahan. Namun, dalam melawan penjajah bukan harus dengan kekerasan. Non-violence adalah pilihan. Tidak bekerjasama dengan penjajah. Lebih efektif. Inggris merancah ekonomi anak Benua India dengan landas pikir kolonialisme. Kata Gandhi, jangan beli produk Inggris, tenun sendiri baju yang hendak dipakai, … jangan lakukan kekerasan. Inggris ‘mati’ pelan-pelan di India.
Menulis menuangkan pikiran, menumpahkan perasaan, meyampaikan pesan, kejengkelan maupun kegembiraan. Apa saja. Teksualnya, minimal bermuatan dua hal. Pertama, penulis adalah orang-orang egois dalam arti menyambungsampaikan apa yang dipikirkannya. Bahkan, ketika mempertimbangkan apa-apa yang di luar diri (pikirannya), tulisan terdistrosi.
Kedua, ketika mengeluarkan ‘isi perut’, penulis cenderung ‘menggurui’; benar menurut pikirannya. Itulah sebabnya, sebelum menulis seyogiyanya penulis mencapai tingkat kematangan tertentu hingga tulisannya arif. Pada kasus tertentu, menulis bisa jadi, kekerasan itu sendiri.
Perhatikan, tulisan-tulisan atau karya tulis yang menghukum selain dia punya pendapat (tulisan). Pendapat selain dia punya, tidak diberi tempat. Seronok (menyenangkan hati) adakalanya hanya untuk memuaskan diri, bukan kebutuhan pembaca. Pada tingkat jahilyah, tulisan dimaksudkan untuk menyakiti orang lain.
Saya tidak terlepas dari hal-hal sedemikian. Itulah yang dimaksud berguru pada diri sendiri, introspeksi. Siapa yang bisa ‘masuk’ ke diri, ke pikiran, ke perasaan kita, kalau bukan kita? Membaca tulisan sendiri akan melihat diri sendiri, tulisan adalah kaca diri. Belajar dari itu, menjadi pembelajar adalah jalan terbaik. Tulisan yang menyerang, terutama menusuk pribadi, dihindarkan. Tidak mudah memang, namun berusaha.
Yap, menulis sekadar mengeluarkan pikiran adalah kemampuan menulis dasar. Perhatikan, tulisan saya belakangan mulai bergeser merujuk pada kosakata, dimana ada penyebarluasan perbendaharaan kata yang mengandung konsep. Menulis bukan sekadar menulis kata, tetapi menulis lebih bermakna.
Teman-teman sekalian. Ada pergeseran dalam sharing kita. Sepuluh (10) buku saya tentang menulis (dasar) dalam artian sangat keras memotivasi kini dilapisi dengan menulis bermakna. Pesan ini disampaikan kepada yang meluangkan waktu bagi sharing.
Ambilan landasan adalah Risalah Rasulullah, yang pada contoh menghentak kadang didapat dari ‘luar’. Contohnya apa yang didengungkan Gandhi. Menulis kita jadikan —maunya begitu, mogaan tercapai— bukan ajang menyakiti sesama. Sekali lagi, untuk membangun jiwa-jiwa yang sebenarnya jiwa, manusia yang manusiawi. Menulis bukan kekerasaan.
Napoleon pernah mengatakan: “Aku lebih takut kepada sebatang pulpen (tulisan) dari 1000 tentara”. Benar atau tidak, sekadar perumpaan atau bukan, kita tangguk esensinya. Tulisan memang bisa begitu ganas. Konon, lebih tajam dari pisau. Karena itu, terkadang saya suka nakal menulis, tolonglah dengan masukan agar terhindar dari hal-hal tidak positif. Begitu juga bagi Sampeyan sekalian. Menulis bukan untuk kekerasan.
Bercermin dari apa yang dilakukan, kita landas tuntaskan kepada risalah Rasulullah, firman Allah SWT dalam balutan nilai-nilai luhur kemanusian. Terlalu muluk memang, tetapi setidaknya, ada niat disitu. Soal impelemtasinya satu atau 10%, itu soal lain. Soal bagaimana membangun kepribadian, membangun diri.
Ahimsa menulis, tidak salah bukan?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 15 Mei 2008.










17 Responses to “Ahimsa Menulis”
By peyek on May 15, 2008 | Reply
wah..tulisan saya memang jauh dari arif, entahlah darimana kearifan dalam menulis itu akan datang, apa mesti menulis terus, seperti halnya gandhi yang dikenal setelah senja?
By ogi fajar nuzuli on May 15, 2008 | Reply
Allo bozz, lama nggak nengok blog sampean….. mantap pemahaman atau esensi tentang menulis ternyata demikian luasnya….dan baru terpikir oleh daku…he..he…
By Latip on May 15, 2008 | Reply
Dalam banget maknanya Pak buat saya…terimaksih atas pemahamanya ini.
By toni februari on May 15, 2008 | Reply
mantappppppp…..esensi tulisan yang tak menyakiti. niat yang baik sekali, yaap ajari saya menulis yang bijak, pak…jauh dari rasa subyektifitas pikiran.
By pras on May 15, 2008 | Reply
Wah buku disamping tu karya bapak smua ya?
Salam kenal yach.
Wah hebat, ternyata ada juga blogger yang seorang penulis buku.
By prayogo on May 15, 2008 | Reply
Oleh sebab itu, bukankah ada perkataan yang mengatakan penamu lebih tajam daripada sebuah belati (salah nggak ya). Intiya, tulisan memang sangat berpengaruh. Karena kadang ada orang yang kalau di nasehati dengan kata2 dia tidak mengerti, tetapi begitu dengan tulisan dia jadi mengerti.
Sejauh ini saya juga terus berusaha untuk memperbaiki kualitas dari tulisan saya. Saya harapkan dari waktu ke waktu tulisan saya akan semakin berubah (ke arah yang lebih baik tentunya).
Sukses buat Pak Guru/Ersis.
By Suhadinet on May 15, 2008 | Reply
Setiap saya masuk ke blog Bapak, selalu mendapat pencerahan baru. Terimakasih Pak Ewa
By Guh on May 15, 2008 | Reply
Menarik sekali, ahimsa, tanpa kekerasan.
Yang dilakukan Gandhi dengan ahimsa mungkin tidak menyakiti secara langsung, tapi lewat swadesi (atau apalah itu namanya), pihak yang terbunuh pelan2 itu apakah tidak tersinggung dan merasa diserang, ditusuk2?
Kalau dalam tulisan, saat kita mengkritisi seseorang, atau pihak tertentu yang tindakannya sangat busuk, (misalnya orang yang tindakannya memecah belah negara demi tuhan/surga dalam angan2nya sendiri) bahkan sebuah pertanyaan pun bisa dirasa sangat menusuk. Sebenarapapun tulisan itu, ada saja yang merasa tersakiti. Lalu apakah kita harus menulis yang aman2 saja pak? Seperti pengalaman install ubuntu barangkali?
Ah, bahkan tulisan bapak ini, bagi blogger yang tulisannya agak barbar seperti saya jelas terasa terlalu menggurui dan menyerang!! Ego saya yg besar ini merasa ditusukkk!! *hiperbolis tp bener*
Btw, terimakasih banyak atas pencerahan hari ini Pak, saya akan berusaha memahami apa itu ahimsa dan menerapkannya dalam menulis
By Amin maizun on May 15, 2008 | Reply
YG PALING HEBAT ADLH PEPATAH JAWA:Ngatur tanpo ngreko ngandani tanpo kondo.(merubh orng tanpa meyuruh. mengatur menasihati tanpa bicara)mksdya adlh memberi suri tauladan kpd smua manusia sehingga orng melakukan kbaikan tanpa diatur dan disuruh.
By Amin maizun on May 15, 2008 | Reply
Bnyak sekali hadis nabi tapi yg utama adlh uswatun hasanahnya. Walopun rosul blm berkata menyuruh tp sudh menjdi contoh yg baik. Orng bs berubh tanpa diatur dan dinasehati tapi krn kemulya’an ahlaq(suri tauladan)skrg para Dai hnya bs brkata tanpa USWAH.
By german on May 15, 2008 | Reply
lebih tepatnya, menulis adalah senjata, senjata bagi siapa? ya bagi siapa saja yg menganggap bahwa dgn menulis dia dapat menuangkan pikirannya di atas selembar kertas… walhasil, pikiranlah yg bekerja dan bukan tangan –dengan sendirinya– karena memang beda antara pikiran dan tangan, tangan hanya sekedar fasilitas sedang pikiranlah penggerak fasilitas tersebut (tangan), walaupun mengalami cacat fisik (tanpa tangan) pun tak mengapa, karena yg terpenting adalah pikiran yg bekerja. lantas bagaimana dengan orang yg di ‘anugerahi’ tuna grahita, wicara? pada dasarnya tak mengapa, sepanjang manusia dibekali pikiran/akal, hehehe… lagi-lagi akal, akal-akalan neh… hahaha…
**KIra-kira begitu … yang penting menulis he he
By meiy on May 15, 2008 | Reply
bersihin cermin dulu aku pak…menohok nih. mengajar
thx pak.
semestinya karya kita bermanfaat ya pak.
***Hehe … please
By firman on May 15, 2008 | Reply
kekerasan dan kekuatan beda tipis
pada situasi tertentu, kekuatan “show force” sangat perlu untuk mengubah keadaan. sejarah dunia banyak mencatat hal ini.
kapan indonesia merdeka kalau tidak dengan kekerasan perlawanan ?
maaf, beda dikit.
bukannya pro kekerasan, hanya terkadang kita perlu memperlihatkan wajah yang berbeda pada situasi tertentu tanpa bermaksud menyakiti orang lebih dulu.
Kedamaian harus dicapai dengan perang (pepatah jerman)
***Tergantung anutan filsafat … dan sikon. Tapi, jangan gunakan hal itu untuk pembenaran.
By Suci on May 15, 2008 | Reply
Menulis kadang sulit untuk tidak dilapisi dengan emosi. Nah, di bagian ini , penulis bisa jadi sangat eogis. Kembali lagi, yang bisa mengatasinya ya, diri sendiri.
Bagaimana caranya menyampaikan sesuatu tanpa ada niatan untuk menunjukkan diri, menyakiti atau bertentangan dengan orang lain. Itulah proses panjang yang dilewati hanya dengan diri sendiri.
***Ada di diri kontrol dan filternya
By SQ on May 15, 2008 | Reply
Hal itu pula telah menyadarkan saya kalau hidup memiliki tahapan2 tertentu.
…jadi ingat nasehat bapak dulu “kamu itu baru jadi penulis, sudah mau sepoerti J.K Rowling, yang hebat-hebat”…Padahal baru bisa…
Sekaj demikian itu pula saya sadar, musuh kita tak lain diri kita sendiri, dalam hal apapun tak terkecuali menul;is. Dan saya tak memungkiri, menulis bisa menenangkan jiwa, berbicara pada hati, mendewasakan diri, serta menganugerahi visi melihat masa depan.
***Tugas utama kita ‘membenahi’ diri sendiri
By Evi on May 15, 2008 | Reply
Menulis dengan ahimsa itu sepertinya kudu punya landasan moral dan nilai-nilai tertentu. Mana mungkin menulis sesuatu dengan rasa welas asih ketika emosi sedang berkibar-kibar membakar akal sehat. Di buku belum pernah, tapi di beberapa milis saya sering menemukan “perseteruan hati” ini melahirkan metafor-metafor kreatif, nembak kana-kiri dan sangat melukai sasaran metafornya.
***Disitu seninya … he he. Seperti bisnis juga, mungkin malah lebih lincah
By Alex on May 31, 2008 | Reply
setidaknya aku berusaha utk itu pak. memang tulisan itu lebih tajam dari pisau.
thanks ya pak atas pencerahannya.
***Alhamdulillah. Amin.