Ambisi Menulis
14 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SAYA bukan ambisius, kata seorang teman ketika mengutarakan keinginan menjadi Kepala Daerah. Mau ambisius atau tidak terserah. Banyak orang memahami kosakata ambisius berkonotasi negatif. Kalau berambisi, berkeinginan keras mencapai sesuatu, nyaman secara sosial. Berambisi bagus, ambisius tunggu dulu.
Bila seseorang berambisi menulis tentu bagus. Sebab, keinginan yang kuat adalah bahan bakar untuk ‘sukses’. Konon, kalau ambisius bisa menghalalkan segala cara. Kalau demikian, janganlah. Sebab, menulis adalah urusan kita dengan diri kita. Menulis kalau tidak didorong keinginan yang kuat, yah susah. Sudah jamak sesuatu yang tidak berasal dari diri, dari keinginan yang kuat, akan menguap begitu saja.
Ketika seseorang menamatkan pendidikan tinggi diwajibkan menulis skripsi. Tesis dan disertasi untuk S2 dan S3. Semasa mahasiswa linyak menulis makalah. Menulis ‘makanan’ sehari-hari. Tetapi, Saudara-saudara. Begitu selesai banyak yang ‘lupa’ kehebatannya. Kemana perginya kemampuan tersebut? Bahasan ini bukan untuk orang yang mengupahkan karya ilmiahnya.
Itulah yang kita maksud dengan dorongan eksternal. Menulis karena ‘dipaksa’, bukan datang dari dalam diri. Begitu unsur pemaksa tidak menekan, kemauan sirna. Bebas. Bebas untuk tidak menulis. Tidak apa-apa, tidak ada yang salah. Hidup ini adalah pilihan.
Tidak semua orang harus menulis atau jadi penulis. Kewajiban agama kita membaca, membaca dalam pengertian luas. Dalam kaitan membaca harpiah, kalau tidak ada yang menulis, tentu ranah bacaan akan tidak memuaskan. Wajar ‘lowongan’ tersebut ada yang mengisi. Artinya, kalau tidak mau menulis, itu hak individual.
Tulisan ini sebagai sharing bagi yang berkeinginan menulis. Inga’ inga’ tulisan melankolis di surat-surat cinta masa remaja. Kita akan terkagum-kagum. Kata-kata indah bermakna, dan … merayu mendayu-dayu. Pokoknya sip. Kalau sudah jadian, kemana hilangnya kemampuan menulis. Atau, begitu putus, nagapain surat-suratan segala. Bukakah begitu? Potensi menulis sudah melekad, tinggal mengasah saja, memasihkan.
Dalam kerangka itu mari membangun ambisi menulis. Rajin membaca yang terurat dan tersirat. Tanda-tanda kebesaran Allah pada ciptaanNya. Membaca membangun kemampuan kosakata, konsep, makna, dan internalisasi apa saja. Membaca adalah kunci pembuka.
Dari membaca aneka warna pengetahuan membangun ambisi menulis. Dilengkapi dengan melakukan, menulis itu sendiri, kemampuan akan terbangun besertanya. Apalagi kalau disandarkan pada tujuan mulia menulis. Silahkan saja membangun ambisi menulis untuk dakwah, berbagi, atau sekadar menyalurkan kehendak. Mau pamer juga tidak dilarang, tetapi sebaiknya dihindari seperti juga untuk gagah-gahan.
Gabungan semua itu akan membangun dan memperkuat ambisi menulis, ambisi positif. Kalau tidak berhasrat kuat dalam mencapai sesuatu, capaiannya bisa jadi kurang memuaskan. Atau, setidaknya akan berlaku apa adanya. Tidak berambisi pang.
Sampaikanlah walau satu ayat. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Sampeyan tentu tahu kata-kata bermakna dalam tersebut dari siapa. Kalau kita tidak berambisi bersua kelak kemudian di Rumah Allah, tentu ibadah akan dijalankan seadanya. Tidak berambisi, tidak dengan hasrat yang kuat. Dus, menulis juga harus jelas tujuannya. Tujuan adalah arah petunjuk.
Sampailah kita pada simpulan, ambisi menulis perlu dibangun. Ambisi dalam pengertian keinginan atau hasrat adalah amunisi bagi pelajuan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 14 Mei 2008.









15 Responses to “Ambisi Menulis”
By toni f on May 14, 2008 | Reply
Dari ambisi menulis supaya menjadi naluri menulis gimana caranya pak…heeeee
***Menulis aja ntra ketemu …
By aRuL on May 14, 2008 | Reply
mencerahkan banget pak untuk selalu berambisi menulis.
tapi kadang tergantung mood lagi sih
***Campakkan pikiran menunggu mood … ciptakan mood
By gama on May 14, 2008 | Reply
assalamu’alaikum
Ya, menulis menurutku suatu kegilaan tersendiri. Ketika jari terasa berat untuk memegang bolpoint dan menghentakan tuts keyboard, aku beralih memegang sebuah kuas dan tetikusku. Mencoba corat sana coret sini untuk mengekspresikan diri. Beban pikiran terasa lebih fresh. Dan, ijinkan aku belajar ESQ dari bapak. Dengan ESQ, insya Allah akan mendapat God-Spot.
Matur Suwun Pak, telah mampir di blog kanvas hitam.
***Sami-sami, do it.
By Badiyo on May 14, 2008 | Reply
Pagi-pagi sudah dipompa dengan ambisi menulis, wow luar biasa!
By fxekobudi on May 14, 2008 | Reply
Mantap Pak..
Dengan menulis dan berbagi hal yang baik saya merasakan mendapat banyak teman baru dan persaudaraan Pak. Meski belum pernah bertemu langsung dan menjabat tangan Bapak, saya merasa Bapak sudah menjadi teman saya. Salam..
***Sama-sama, mari kita berteman. Lupakan perbedaan … Kita bersatu dalam persaudaraan.
By erander on May 14, 2008 | Reply
Mungkin kalo boleh saya urun saran .. menulis itu sudah kebutuhan wak, bukan ambisi lagi. Seperti halnya tidur, makan, beraktivitas dll. Karena kalo tidak menulis, rasanya ada yang kurang. Ada yang tersumbat sehingga perlu dikeluarkan.
Kalo ambisi untuk menulis cenderung pada ‘pemaksaan’ diri, baik dengan melecut diri untuk tetap menulis maupun memaksakan waktu yang seharusnya untuk yang lebih urgent, tapi kita gunakan untuk menulis.
Jadi .. kalo menulis sudah menjelma menjadi sebuah kebutuhan .. maka dia akan mengalir seperti air yang selalu mencari tempat yang paling rendah, atau matahari yang selalu terbit di timur atau perut yang kosong minta diisi heheheh
Sorry wak .. saya malah ngasih ‘kuliah’ disini
***Ya, ketika menjadi kebutuhan sudah tingkat sekiaan … itu saya tulis: Menulis bak Sholat pada buku Menulis Mari Menulis. Salam. Lama nich ngak berkunjung.
By Zul ... on May 14, 2008 | Reply
Ambisi itu positif. Ambisi bagian dari fitrah. Tak ada ambisi bukanlah makhluk. Yang jadi catatan asal jangan ambisi merugikan orang lain. Jadi, siapa larang ambisi?
Ambisi menulis? Apalagi.
Tabik!
***Yap, ambisi positif.
By olangbiaca=Alex Abdillah on May 14, 2008 | Reply
ass.
benar sekali pak, tapi kalau menurut saya ada tambahan yakni menulis juga hobi..hobi berarti obat..jadi sy ketika lagi fikiran dan hati agak kurang tenang…sy bawa sholat kemudian menulis..menulis apa saja. hingga datanglah ketenangan itu.
kemudian sy sedikit terpacu juga neh…banyak nulis di blog rajin banget yah…setiap hari..bahkan dalam satu hari ada 2 atau 3 postingan.
Salut..salut…
***Bagus. Menulis itu ya ‘dibuat’ seperti sholat, saya tulis di buku Menulis Mari Menulis.
By alief on May 14, 2008 | Reply
saya belajar menulis komentar dulu ya…
***Siiiiiiiiip.
By DINA YULINDA on May 15, 2008 | Reply
Ambisi menulis harus di bangun, tapi tak henti sampe situ kan pa.Ambisi itu juga harus di aplikasikan donk..jangan cuma ambisi..Gitu kan Pa???
By Hery Azwan on May 15, 2008 | Reply
Semua tujuan memang harus diraih dengan ambisi ya Pak. Tanpa ambisi, pasti dorongannya tidak ada. Dorongan atau leverage ini bisa internal bisa juga eksternal. Tapi, yang internal pasti lebih baik. Tul nggak Pak?
By german on May 15, 2008 | Reply
waktu membaca judulnya –ambisi menulis–, seketika saya bersemangat! namun kembali saya loyo, mengapa? karena ternyata tulisannya jauh dari kesan ‘ambisi’, saya pikir dgn judul ambisi, penulis udah ber’ambisi’ menghabiskan postingannya dng mengeluarkan kata-kata narsis, berotak karat, kasar, norak dan lain sebagainya –jgn dimasukkan ke hati! hehehe…
***Bisa jadi. Menulis kan mengeluarkan, ngapain dimasukkan he he
By hafidzi on May 15, 2008 | Reply
Setujuuuuuuuu dengan AMBISI nya
***Yoha.
By Suci on May 15, 2008 | Reply
Kayaknya sekarang lebih pendek ertikelnya?
Well, lebih segar bacanya…
***He cocok bagi yang suka instans atau malas baca he he
By ndeso on May 16, 2008 | Reply
kalo ambisi adalah amunisi, terus magazin-nya apa??