Akselerasi Menulis

13 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENULIS sangat mudah. Kalau ingin menulis, tulis saja. Kalau belum lancar, terus menulis, lama-lama terbiasa. Kalau sudah terbiasa, pasti lancar. Intinya lakukan. Jangan akan. Akan, menulis anu, dan anu. Tulis. Pasti jadi tulisan.
 
Masih ingat karya Bobbi DePorter, Quantum Learning, Quantum Teaching, Quantum Business atau karya Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Accelerated learning for The 21st Century. Atau buku Adi. W. Gunawan, Genius Learning Strategy. Buku-buku tersebut sangat bagus untuk memahami akselerasi pembelajaran.
 
Saya ‘memodifikasi’ dalam pemanfaatan menulis. Pikiran dan ide mereka lebih kepada metode bagaimana pembelajaran dengan mengembangkan potensi. Saya sampai pada ‘penemuan’ cara sederhana menulis, dengan banyak membaca. Apa hubungkaitnya?
 
Apabila kita membaca, konon begitu kata para neurolog, sambungan syaraf-syaraf otak bersangkutkait. Jalan berkoneksinya menjadi pendek, dan sel-sel baru muncul, mengembang, terbarui. Ingat kalau tidak dipakai sel-sel syaraf akan mati, alias tidak berfungsi.
 
Sederhananya, apabila kita membaca buku standar dasar tentang sex misalnya, begitu kita baca buku selanjutnya, akan lebih mudah karena tidak perlu lagi membaca yang telah dipahami. Semakin banyak membaca buku, semakin sedikit yang kita baca. Sebab, informasi terbaru saja yang pelu direkam.
 
Konon, jaringan syaraf bak jalan belantara hutan. Kalau berangkat dari satu titik ke titik lain, pada awalnya melalui jalan cukup panjang. Manakala sering jalan-jalan di hutan semua permukaan adalah jalan itu sendiri. Alias tidak usah lagi merintis jalan. Mungkin, kalau boleh beramsal, sampai pada tingkat reflektif. Saya teringat buku Jerome S. Brumer, Process of education. Disitu disulut reflective thinking.
 
Kalau penasaran silahkan di cek misalnya pada karya Isaac Asimov, Human Brain: Its Capacities and Funtion. Saya terperangah dengan ‘dunia otak’. Lebih seru serial karya pakar pikiran Tony dan Barry Buzan penulis buku terkenal, The Mind Map Book.  Kalau mau yang menggoda, baca karya Bertrand Russell, Mind Power. Ada puluhan buku perihal mind.
 
Ya, otak kita seberat 1,5 kg itu memiliki sel syaraf aktif 100 miliar, sel syaraf pendukung 900 miliar. Total 1 triliun. Tidak bisa dibayangkan setiap sel mampu berkoneksi 20.000. Susah mencari kalkulator termoderen untuk menghitungnya. Wajar dikatakan, jangan jadikan otak maha dahsyah pemberian Allah SWT itu sebagai The Sleeping Giant di tubuh kita.
 
Seperti juga membaca, menulis pun demikian. Pertama kali memula, menulis mungkin agak sulit. Apabila terus dilakukan, sel-sel syaraf seputarnya akan berkembang, atau setidaknya berkoneksi lebih lancar. Kalau sampai tingkat reflektif, bisa jadi tidak memerlukan ‘berpikir’ lagi. Otomatis begitu. Kenapa?
 
Ya, itu tadi. Syaraf-syaraf mengembang. Saya pernah dicengangi ibu-ibu ketika mencontohkan. Ibu-ibu yang suka marah pada anaknya, lama-lama semakin meningkat. Sampai, dia tidak tahu lagi bahwa dia marah-marah. Sudah menjadi kesatuan dengan dirinya. Kalu tidak marah, bisa sakit tu. Marah kog dikembangsuburkan.
 
Begitulah menulis. Kita menyimpan ribuan kosakata, dan jutaan konsep. Tiap hari membaca, melihat, mendengar, meraba, ‘memahami’ banyak hal. Dari yang tidak diinginkan sampai yang dimaui, terekam di memori. Mengeluarkan, menformula ‘punya’ kita dalam kesatuan tulisan, kenapa dipersulit? Yang diperlukan latihan dengan menulis, menulis, dan terus menulis.
 
Seseorang pernah dimotivasi, latih menulis dengan menulis. Kalau waktu dihabiskan belajar teori, teori, dan teori, ntar jadi ahli teori doang. Lalu, kapan menulisnya? Teori bagus, namun yang kita perlukan tulisan, ya menulis. Teori untuk membantu menulis, bukan? Jadi, harus pandai membedakan mana hulu mana muara.
 
Mengakhir tulisan ini saya teringat buku The Divine of The DNA, karya Kazuo Murakami dan karya John C. Advise, The Genetic Gods. Saya suka mengutip karya dua pakar DNA itu pada banyak kesempatan. Intinya, tubuh kita dibangun atas triliuan DNA. Tinggal kita saja punya mau, mau me-on-kan (DNA) menulis atau me-off-kan.
 
Begitu juga untuk kasih, sayang, benci, dengki, atau bersemangat atau berloyo-loyo. Pilih tombol on atau off. Tepatnya, mari tekan tombol akselerasi menulis. A ha … jangan-jangan telaahan saya ngawur he he.  
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 13 Mei 2008.

  1. 18 Responses to “Akselerasi Menulis”

  2. By toni f on May 13, 2008 | Reply

    alah bisa karena biasa…yang membuat biasa itu yang susah,,,pikirannya kadang kurang fokus karena terlalu banyak yang dipikirkan heeeeeeee pas menulis, eh malah kesana kemari, tapi gak apa-apa kan ya pak?? yang penting membuat jejak tulisan dulu…heeee yaap.

    ***Ya sudah tahu penyakitnya tinggal diobati saja lagi

  3. By syaharudin on May 13, 2008 | Reply

    wah salut bacaan EWA –bahasa asing lagi– saya jadi terpantik. Saya sadari, selama ini kita berurusan dengan otak tapi gak pernah berminat mempelajarinya, padahal bisa jadi dengan mempelajarinya kita akan lebih mampu memenej otak, bagaimana ia harus dioptimalkan. Yang menarik cth EWA itu, jika kita memupuk sikap pemarah, maka akan terus berkembang dan terus berkembang. Lah kalo yang dipupuk sikap menulis, bisa-bisa jadi penulis beneran…..

  4. By Ahmad Nur Irsan Finazli on May 13, 2008 | Reply

    Apapun itu, semuanya diusahakan diakselerasi. Iya kan pak, tentusaja hal-hal positif lho.

    ***Persis.

  5. By cempluk on May 13, 2008 | Reply

    menulis emang harus dimulai..jika menulis hanya dipikirkan saja, malah gak menulis akhir nya..

    ***Dapet deh … Tulisan Sampeyan bagus-bagus, saya kan selalu mampir tu di blok Cempluk he he

  6. By Desmeli on May 13, 2008 | Reply

    Benar pak, menulis memang mengembangbiakkan sel saraf di otak..jadi sel syarafnya gak mati, begitu kan pak?

    ya meskipun baru cuma bisa nulis di blog (sarana latihan), tapi saya berharap suatu hari nanti bisa nulis buku seperti pak Ersis…do’akan ya pak :D

    ***Itu sesuatu yang pasti. Kenapa harus suatu hari, sekarng aja deh … tulis, tulis, dan tulis.

  7. By meiy on May 13, 2008 | Reply

    saya tertarik sekali dg sisitem kerja otak manusia, hubungannya dg berbagai aktivitas, perasaan, dsb….bapak kayanya sudah banyak sekali referensi ttg ini, tulislah pak :)

    ***Nanti kita bikin buku Mey … nich lagi banyak proyek menulis he he

  8. By Edi Psw on May 13, 2008 | Reply

    Pak Ersis, kalau hanya mengandalkan tulis dan terus tulis saja kadang nggak cukup untuk menjadi penulis yang baik. Setidaknya dalam hal ini dibutuhkan kemampuan lain seperti pengetahuan tentang perbendaharaan kata. Dalam hal ini perbendaharaan tentang kosakata dan kemampuan untuk merangkai kata sangat dibutuhkan untuk menghasilkan karya tulis yang bermutu.

    ***Yap, tulisan tearkhir kan ‘memayarakat’ kosakata kan? Sepakat.

  9. By Badiyo on May 13, 2008 | Reply

    Selalu ada ilmu baru yang bisa saya petik di sini. Tidak sia-sia saya selalu sempatkan mampir ke sini.

    ***he he … muji nich ye, jadi malu …

  10. By ILYAS AFSOH on May 13, 2008 | Reply

    i CANT DANCE BUT I`LL DANCE ANYWAY _ mt
    I CANT WRITE BUT I`LL WRITE ANYWAY

    TULIS SAJA
    SALAM HORMAT

    ILYAS AFSOH

  11. By mathematicse on May 13, 2008 | Reply

    Menulis sangat mudah ya Pak?

    ***Pasti.

  12. By SQ on May 13, 2008 | Reply

    so many miracles happen in our body, that’s why, human is born to be a winner, not ?!, to be a looser.

    semuanya yang dikupas baharu tentang otak dan DNA, belum lagi hal-hal lainnya.

    jadi? kenapa menulis mesti dibikin susah?
    (heleh..so so’an :mrgreen: )

    ***Easy Man

  13. By akmalhasan on May 15, 2008 | Reply

    terima kasih Pak..

    Pak EWA ini baterenya apa sih? bisa punya semangat menggebu2 gitu? api olimpiade aja kalah kali Pak :)

    Jadi terinspirasi untuk terus menulis nih..

    Salam

  14. By deRegen on May 15, 2008 | Reply

    wah, saya sendiri mulai menulis mulai dari hal yang sedikit ‘narsis’ walaupun sampai saat ini masih menulis ttg hal-hal yang lagi mood di benak. Tapi, mudah-mudahan kita mulai berani menuangkannya melalui rangkaian kata, dan benar ketika kita makin banyak membaca, mendengar, dan mulai menorehkannya dalam sebuah tulisan. Ya,, butuh proses juga ya.

    Btw, salam kenal & senang bisa terdampar di blog ini.

    ***Ya proses pembelajarn diri … saya belajar sembari menulis.

  15. By indra kh on May 15, 2008 | Reply

    Terkadang yang susah itu untuk memulainya. Padahal bila sudah mengetikkan beberapa kalimat biasanya akan terus mengalir. Meskipun setelah selesai dan dibaca ulang banyak yang harus diedit lagi :D

    ***Lawan susah itu dengan memulai, gampangkan?

  16. By Zulmasri on May 15, 2008 | Reply

    pembiasaan itu penting pak, untuk apa saja apalagi menulis. dengan terbiasa, segalanya insya Allah lebih mudah.

    ***Muaranya habit.

  17. By Suci on May 15, 2008 | Reply

    Sangat familiar saya dengar, mungkin juga banyak orang dengar, kalimat seperti ini keluar:
    “dia itu pintar, otaknya encer bangeet. bukan seperti saya, bodoh, otaknya tumpul”, atau “Kok pelajarannya sulit banget yah, kapasitas otakku kan terbatas”
    Dulu, terutama sewaktu sekolah, saya juga sering mengucapkan kalimat seperti itu. Sebabnya? warisan dari generasi pendahulu,bentukkan dari masyarakat.
    Sekarang, setelah sedikt tahu tentang hebatnya otak (soal ilmunya kalah nih sama Bapak), saya jadi ngerasa konyol sendiri. Tuhan sudah begitu baik memberi otak yang luar biasa, eh malah manusianya sendiri yang menganggapnya enteng. bahkan membuatnya mubajir.
    Pikir Dipikir (alah), pola pikir masyarakat kita yang seringkali percaya dengan istilah otak tumpul dan otak encer sederhananya berawal dari satu hal: mereka tidak mengerti apa dan bagaimana sebenarnya otak manusia itu sendiri? Parahnya, lingkungan kita mengkondisikan mereka untuk tidak mau tahu.
    Contoh nyatanya, seumur-umur sekolah, rasanya tidak pernah saya mendapat pelajaran bagaimana luar biasanya otak, atau setidaknya bagaimana keja otak.
    Sayang sekali, pendidikan sekolah yang menghabiskan waktu 12 tahun itu berlalu tanpa sehari pun kita menyadari betapa luar biasanya kita sebagai manusia…

    ***Itulah hebatnya Belanda … dia pahatkan Inlander itu goblog he he … kini kamu dapar guru yang melawan ‘penjajahan’ Belanda yang belum berakhir he he

  18. By ndeso on May 16, 2008 | Reply

    mungkin terlalu banyak ide atau gimana, sehinga setiap saya mencoba menulis tuh teralu banyak yg berjubel di pintu keluarnya. mau nulis tentang ini, yang disana juga teriak2.. konsentrasi jadi buyar dan hasilnya juga malah morat-marit ga karua-karuan. hehehehe….

  19. By oom on Nov 21, 2008 | Reply

    ya saya setuju. doain aja aku juga ingin bisa nulis di media

Post a Comment