Tantangan Buat Mahasiswa

12 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Hallo teman-teman. Jarang lho yang nulis tentang kampus sendiri, ya kampusnya, dosennya, maahasiswanya, karyawannya, sistemnya, atau apa saja, fisik dan non-fisik. Bagaimana kalau menulis ‘diri sendiri’, melihat diri. Mana tahu dapat masukan dari teman-teman. Salam.

  1. 74 Responses to “Tantangan Buat Mahasiswa”

  2. By M. Rizky Adha on May 13, 2008 | Reply

    Wah, kalo nulis tentang diri sendiri apa gak terlalu subjektif pak???
    Kalo gitu bisa narsis2an donk….!!! Hee…he…hee.. Kalo memaknai diri sendiri kayaknya bisa menjadi ungkapan yg tepat, mengapa kita lahir, hidup, dan kelak kembali kepada-Nya itu merupakan takdir yang telah digariskan, namun orang bijak mengatakan bahwa diri kita merupakan musuh terbesar dalam hidup, maka refleksinya adalah hendaknya kita tetap sadar bahwa masih ada yg lebih kuasa dan Maha segala-galanya… Lebih dari ambang batas kemampuan kita.

    ***Khusus untuk yang mau tidak beralasan dan mendebat he he … Berlatih menulis.

  3. By toni f on May 13, 2008 | Reply

    siaap…mohon bimbingannya pak heeee….

    ***Ha ha aneh-aneh aja

  4. By Ikkyu_san on May 13, 2008 | Reply

    bisa juga untuk dosennya menceritakan mahasiswa jaman sekarang hehehe

    ***He he tau azzza

  5. By ompiq on May 13, 2008 | Reply

    lagi konsen mo demo pak….protes kenaikan BBM

    ***Siiip, hati-hatilah lho. Ada dua pilahan protes …

  6. By hanggadamai on May 14, 2008 | Reply

    wah ide bagus pak..
    mesti ngumpulin bahan dulu nih.. :)

    ***Lakukan … tulis. Salam.

  7. By diah eka rini on May 14, 2008 | Reply

    PEDAGANG KAKI LIMA DI FKIP

    Fakultas keguruan ilmu pendidikan Universitas lambung mangkurat adalah termasuk fakultas favorit bagi seluruh masyarakat kampus dari berbagai fakultas dalam kunjungan makan siang atau sekedar membeli jajanan. Kenapa? Karena FKIP UNLAM menyediakan berbagai macam menu makanan dan minuman serta jajanan yang enak dan murah tentunya .semua itu dapat kita lihat di halaman kampus FKIP yang mana para PKL (pedagang kaki lima ) berjejer dengan aneka macam dagangannya. Adapun jenis makanan yang di jual di FKIP adalah sebagai berikut:
    - Bakso dan mie ayam
    - Gado-gado
    - Sate ayam
    - Lalapan ayam dan rawon
    - Bubur ayam
    - Aneka minuman jus, es campur, dan es kelapa
    - Dan voucher pulsa

    Maka dari itu saat kita melihat FKIP dari luar maka kita akan melihat pemandangan mini pasar kaki lima di lingkungan kampus. Keberadaan PKL memang disukai oleh para mahasiswa bahkan para dosen karena mempermudah dalam membeli makan siang yang enak dan murah. Padahal pihak kampus sendiri sudah membangun beberapa buah kantin dalam wilayah kampus. Namun, karena warga kampus yang sangat banyak maka kantin yang sudah disediakan melibihi kapasitas pengunjung. Oleh karena itu PKL menjadi serbuan warga kampus yang ingin makan.tidak hanya warga kampus yang senang tapi para PKL pun tidak kalah senangnya karena setiap hari mendapat keuntungan besar dari hasil berdagang di lingkungan kampus. FKIP menjadi lahan basah dalam berdagang. Tapi apakah keberadaan mereka layak di dalam lingkungan kampus FKIP? Apakah tidak menggangu pemandangan lingkungan akademik? Masalah etis tidak etis memang persepsi masing-masing individu, akan tetapi kita harus tetap mengutamakan kenyamanan bagi masyarakat umum dan mengutamakan kebersihan lingkungan dan penataan ruangnya. Apakah FKIP sudah indah dengan di hiasi gerobak-gerobak PKL, apabila kita mau sedikit membuka mata sebnarnya keberadaan PKL telah merusak lingkungan kampus. Lihat saja keadaan selokan halaman kampus penuh dengan sampah - sampah sisa makanan. Para PKL memang mengelak jika dikatakan membuang sampah di selokan mereka selalu bilang mengumpulkan sampah-sampahnya apa benar? Tapi bagaimana dengan para pembeli makanan. Jangan-jangan mereka adalah pelaku utama dalam pengerusakan lingkungan kampus. Setiap masalah memang ada sebab dan akibat namun kita hendaknya bersikap bijaksana. Yang menjadi keanehan adalah PKL seringkali keberadaanya menjadi buruan para Satpol PP Pemerintah kota karena di anggap merusak pemandangan dan tatanan kota. Tapi di lingkungan Akademik PKL menjadi pedagang unggulan dan tidak pernah dipersalahkan keberadaannya. PKL pun kelihatannya tenang dan aman-aman saja dalam menjalani hari-harinya. Sepertinya ada kong kali kong dengan beberapa pihak sehingga mendapat ijin berdagang di lingkungan kampus.tapi dengan cara apa sehingga mereka mendapat ijin, apa ada imbalan untuk pihak-pihak terkait. Pernah saat kepada saya saya beli jajanan pada seorang PKL tanpa saya bertanya si pedagang mengeluh karena telah di pungut biaya per bulan oleh beberapa pihak yang tidak bisa saya sebut namanya yang mana pungutan itu menjadi surat ijin berdagang di lingkungan kampus.Hendaknya ini menjadi kesadaran kita bahwa kampus sebagai tempat melatih dan mendidik pola pikir dan perilaku secara intelektual agar tidak mengerbonkan lingkungan hanya demi beberapa lembar rupiah. Masalah PKL ini hendaknya bisa diatasi secara bijaksana. Akan tetapi bagaimana bisa diatasi bahkan dianggap jadi masalah saja tidak. Kebersihan, kerapian,dan keindahan kampus bukan lagi menjadi prioritas utama. Budaya kotor dan tidak peduli lingkungan sepertinya sudah mendarah daging pada setiap orang sehingga dengan cara apapun demi mendapat keuntungan akan ditempuh. Sehingga kampus yang berfungsi sebagai wadah akademik ternyata bisa juga menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Luar biasa………………..

  8. By ihsan on May 14, 2008 | Reply

    kalau mahasiswa menulis tentang kapus sendiri apakah bapak tidak khawatir hanya akan mendapat kenyataan pahit bahwa kampus banyak kekurangannya

    ***Itu dia, yang dipikirkan yang jelek melulu, yang pahit-pahit, kenapa tidak berpikir manis?

  9. By toni februari on May 15, 2008 | Reply

    Kontribusi parkir FKIP..wuush!!!

    Jika kita sebagai mahasiswa Unlam bertanya, fakultas mana sih yang paling banyak mahasiswanya?? Tentu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( FKIP ) lah jawabannya, banyaknya dalam segi kuantitas lho, kalau kualitasnya? Ehmmm au ah gelap….

    FKIP memang memiliki ribuan mahasiswa, dalam satu angkatan bisa mencapai 150 mahasiswa, dikalikan dengan jumlah program studi, dikalikan lagi dengan jumlah angkatan yang ada, aduuuh malas menghitung ah, pokoknya paling banyak deh se Unlaman. FKIP dikhususkan untuk mencetak para guru-guru masa depan, makanya kalau masuk dan milih kuliah di fakultas ini, berarti pengen jadi guru, betul gak? Masa pengen jadi dokter.

    Selain banyaknya mahasiswa sebagai cirri dari FKIP ini, ada lagi cirri pendukung yang lain, jika pengen melihat, datang aja ke FKIP pada jam 10 siang sampe jam dimana anda bisa merasakan keindahan fakultas ini.
    Di halaman kampus, banyak sekali kendaraan mahasiswa yang parkir, berdesak-desakkan, lalu lalang keluar masuk kendaraan, tempat parkirnya aja sampai gak muat, yang jaga parkir sibuk mengatur tata letak kendaraan, supaya kelihatan rapi dan muat di halaman kampus yang jalannya rusak.

    Saking banyaknya kendaraan mahasiswa yang parkir tiap harinya, paman parkir sampai kewalahan mengurusnya, beliau menambah karyawan lagi, agar kinerja keparkirannya meningkat dan seimbang dengan kenyataan, dari 3 orang menjadi 5 orang, keren gak? Penjaga parkir, yang paling banyak di banjarmasin, ya di FKIP ini.

    Harga parkir sangat sesuai dengan Perda yang dikeluarkan Yudi Wahyuni, yaitu Rp 500, /kendaraan/sekali masuk, kalau keluar masuk? Ya bayar lagi dong, kasian paman parkir menjaga kendaraan kita. Mahasiswa FKIP adalah mahasiswa yang aktif, terbukti dalam satu hari kuliah itu bisa 3 kali bolak-balik masuk kampus, berapa ya dia bayar parkir? Minimal Rp 1000 yang harus keluar dari saku.

    Kontribusi parkir biasanya digunakan untuk membangun fasilitas umum oleh pemerintah, dari masyarakat untuk masyarakat demi kepentingan masyarakat, FKIP sudah bertahun-tahun menyandang predikat mahasiswa terbanyak dan parkir terbanyak pastinya kontribusi dari biaya parkir di kelola dan digunakan untuk sarana dan prasarana mahasiswa.

    Kira-kira di pakai untuk apa ya kontribusinya di FKIP, kok mahasiswa FKIP belum ada yang tahu, dalam sebuah media cetak daerah, Dekan FKIP diwawancarai mengenai parkir, dan penggunaan kontribusinya, Pak Dekan menyebutkan bahwa Kontribusi parkir digunakan untuk kegiatan mahasiswa.

    BEM sebagai wadah aspirasi mahasiswa jadi pemegang sekaligus yang di beri amanah untuk menggunakan uang kontribusi parkir. Jadi, Kontribusi parkir tersebut digunakan untuk kegiatan mahasiswa, diturunkan melalui BEM. Itu kata Pak Dekan waktu itu. Lalu dana kegiatan mahasiswa yang dikumpulkan melalui SPP kemana larinya? Iya am..

    Belajar dari fakultas Hukum, fakultas ini jauh dari predikat parkir dan mahasiswa terbanyak, menurut paman penjaga parkir, kontribusi parkir, diserahkan kepada pihak fakultas setelah dikurangi upah bagi penjaga parkir, sisanya dikumpulkan untuk memperbaiki jalan halaman kampus oleh pihak fakultas agar lalulalang kendaraan bisa lancar dan mahasiswa merasakan sarana fakultas yang memuaskan. Dan itu memang terbukti, halaman fakultas Hukum yang luas itu di aspal dan kelihatan nyaman untuk didatangi.

    Di FKIP kontribusi parkirnya kok hanya untuk kegiatan mahasiswa aja, padahal sarana dan prasarananya masih dalam tahap khayalan, jika memang digunakan untuk kegiatan mahasiswa, kenapa BEM juga tidak terlalu aktif menyuarakan, malah gak ada kabarnya lagi. Dulu pernah ditanya, mengenai dana kegiatan yang masuk dari fakultas, bendahara BEM malah geleng-geleng kepala, persenannnya aja gak ada yang tahu. Asal terima aja. Beresss.

    Masalah duit memang sangat sensitive, namun apa lagi yang harus disembunyikan, kenyataan berbicara, sarana dan prasarana FKIP jauh tertinggal di banding Fakultas yang lain, jalan yang becek jika tergenang, WC yang cuma sepasang bagi ribuan mahasiswa, dan lain sebagainya.

    Semoga dengan segala kekurangan ini, kita bisa lebih bijak dalam menghadapi keadaannya, dan semoga kita semua sadar dan paham akan arti hak dan kewajiban kita sebagai manusia di dunia ini. HIDUP MAHASISWA YANG HIDUP!!!

  10. By Septha Yudha H on May 15, 2008 | Reply

    Ruangan Kelas Kampus 1 FKIP UNLAM Banjarmasin yang Terasa Seperti Gudang

    “FKIP Unlam” mungkin kata-kata itu tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Kampus kebanggan sebagian besar orang-orang Kalimantan Selatan yang tiap tahunnya selalu menerima jumlah Mahasiswa sampai ratusan orang di setiap prodi yang dimilikinya. FKIP Unlam ini sendiri sekarang mempunyai program studi terbanyak dari kampus yang lainnya di lingkungan UNLAM. Kampus yang memiliki hampir 6000 orang Mahasiswa ini mempunyai 10 jurusan program studi Reguler, diantaranya:
    1. Pendidikan Sejarah
    2. Pendidikan Ekonomi
    3. Pendidikan PPkn
    4. Pendidikan Matematika
    5. Pendidikan Kimia
    6. Pendidikan Fisika
    7. Pendidikan Biologi
    8. Pendidikan Bahasa Indonesia
    9. Pendidikan Bahasa Inggris
    10. Penjaskesrek
    Hampir semua jurusan itu berdomisili di kampus 1 FKIP Unlam kecuali penjaskesrek. Jumlah ruangan kelas yang menjadi sarana dan prasarana yang dimiliki kurang lebih sekitar 30 ruangan.

    Jika kita masuk ke salah satu ruangan kelasnya kita akan menyaksikan suatu pemandangan yang langka, yang sangat jarang kita lihat dan hal ini sudah menjadi ciri khas dari setiap ruangan kelas yang dimiliki oleh FKIP Unlam. Seperti di dalam ruang 1 yang biasa di gunakan oleh sebagian besar mahasiswa PSP Sejarah dalam melakukan aktifitas perkuliahannya, sangat ironis sekali ruangan ini selalu kotor oleh debu dan sampah-sampah yang hasilkan dalam suatu kegiatan perkuliahan (kertas dan sebagainya). Lemari/cabinet yang notabene di gunakan sebagai tempat meletakkan alat-alat penunjang perkuliahan berubah fungsi menjadi tempat tumpukan sampah yang tidak pernah dan bahkan tak akan pernah terbuang dari ruang ini. Jika kita mau untuk membuka laci yang terdapat dimeja Dosen kita akan menemukan tumpukan sampah-sampah kertas dan abu-abu rokok beserta sisa-sisa puntung rokok yang sudah barang tentu berasal dari Dosen-dosen yang mempunyai kebiasaan merokok. Belum lagi ventilasi-ventilasi ruangan yang biasanya berfungsi untuk saluran udara sudah tidak befungsi sebagai mana mestinya, karena hampir seluruh ventilasi tersebut ditutupi oleh sarang-sarang “spidey” dan nyamuk di tambah debu yang mungkin sudah menjadi penghuni tetap dari ruang 1 tersebut. Pra Sarana pendukung penunjang kegiatan perkuliahan yang dimiliki oleh ruang 1 ini hanya 2 buah papan tulis, sebuah kipas angin yang juga tak pernah di bersihkan,dan sebuah OHP. Kesannya jika kita melakukan kegiatan perkuliahan di dalam setiap ruangan yang tersedia di kampus1 FKIP Unlam sangat tidak nyaman dan tidak menyenangkan.
    Padahal sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah ruangan kelas turut menciptakan suasana yang dan ikut menentukan suatau keberhasilan yang ingin di capai dalam proses belajar dan pembelajaran yang di lakuakan. Hal ini entah sampai kapan akan terus berlangsung dan tetap menjadi pemandangan yang mau tak mau akan dilihat oleh setiap warga FKIP Unlam dan para pengunjungnya.

  11. By DINA YULINDA on May 15, 2008 | Reply

    ANTARA KEBERSIHAN, SAMPAH DAN CITRA FKIP

    Kebersihan sebagian dari pada iman, begitu ucapan Rasul kita Muhammad SAW yang selalu kita pegang. Tidak hanya islam, semua agama mengajarkan tentang perlunya kebersiahan dalam kehidupan. Berbicara tentang kebersihan kita pasti akan teringat dengan yang satu ini yaitu sampah, hal yang bisa jadi sumber permasalahan terutama saat kita hendak menegakkan kebersiahan di lingkungan kita.
    Kebersihan merupakan hal yang mutlak dalam kehidupan manusia, terlepas dari bagaimana seseorang memandang arti kebersihan itu sendiri. Di mana saja dan kapan saja layaknya kebersihan harus selalu di tegakkan, tak terkecuali di FKIP Unlam. Sebagai sebuah sarana pendidikan, FKIP di tuntut mampu membuat citra diri sebagai tempat yang bersih dan bebas sampah. Karena tak bisa di tolak kebersihan ataupun sampah yang berserakan di tempat “ menimba ” ilmu sangat mempengaruhi kenyamanan dalam proses belajar – mengajar. Bayangkan saja, apakah kita bisa konsentrasi penuh dalam belajar apabila ruangan tempat kita belajar penuh dengan kulit permen, wadah sisa makanan ataupun minuman, saya yakin pasti tidak akan betah. Orang Bijak mengatakan jika ingin menilai seseorang lihatlah dari kebersihan tempat – tempat dalam hidupnya. Lalu bagaimana pandangan orang seandainya melihat kita dari lingkungan kampus yang banyak melahirkan tenaga dalam bidang pendidikan tersebut ? , bagaimana dengan kebersihan dan sampah yang ada di FKIP ?, siapa yang patut di mintai pertanggung jawaban mengenai kebersihan di FKIP dan bagaimana dengan kesadaran orang – orang yang ada di FKIP ?
    Dalam kehidupan ketika kita membahas kebersihan sepertinya itu sesuatu yang mutlak, sama dengan kemutlakan kita dalam menghentikan sampah yang berada di tempat yang tidak seharusnya iya berada. FKIP merupakan salah satu fakultas yang luas dan memiliki jumlah mahasiswa terbanyak di bandingkan dengan fakultas – fakultas lain di Unlam. Sebagai tempat belajarnya para calon guru maka keharusan bagi pihak FKIP memberi citra yang baik pada masyarakat, termasuk mengenai kebersihan lingkungan. Kebersihan di fkip sepatutnya di jaga oleh seluruh pihak.
    Sejak berada di jenjang pendidikan paling dini di masa kita yaitu TK kita di ajarkan tentang bagaimana menjaga kebersihan, salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya. Lalu lihatlah FKIP kita sepertinya banyak orang di fkip lupa dengan ajaran tersebut. Hal ini dapat terlihat nyata oleh kita, banyaknya sampah yang berserakan dimana – mana. Tentunya hal ini sangat tak pantas terjadi di sebuah sarana pendidikan. Tapi, itulah kenyataan yang terjadi sekarang. Melihat fakta ini sangat tidah adil kalau kita hanya bisa “ memvonis ” petugas kebersihan yang lalai dalam menjalankan tugasnya, karena kita semua dapat menyaksikan sendiri tiap pagi dan sore setelah selesai perkuliahan petugas kebersihan menjalankan tugasnya dengan baik. Sekarang tergantung bagaimana kita ikut memelihara kebersihan tersebut. Tak jarang kita sendiri yang lengah dan tanpa sadar mmembuang sampah tidak pada tempatnya. Namun, bukan mahasiswa namanya kalau tidak pandai mencari alasan banyak alasan yang di lontarkannya. Misalnya, jauh dengan tempat sampah, atau menyalahkan kucing yang ikut serta mengobrak – abrik tempat sampah hingga sampah berhamburan dimana – mana. Masa selalu menyalahkan kucing, kucing tetaplah kucing dan kita manusia jangan hanya bisa menyalahkan kucing, tetapi berusahalah agar tidak seperti kucing yang membuang sampah tidak di tempatnya.
    Rasanya tidak bijak kalau kita terus – menerus mencari “ kambing hitam ” yang ingi disalahkan, karena kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama. Pihak fakultas mencoba menangani masalah ini dengan meletakkan bak sampah di tiap sudut kampus, tapi ternyata hal itu tak cukup, penempatan bak sampah di tiap ruang kelas juga dirasa sangat membantu melihat banyaknya sampah yang juga berserakan di dalam ruang kelas. Selain itu, fakultas juga seharusnya menambahkan jumlah tenaga kebersihan di fkip yang tidak hanya bekerja pagi sore tapi bisa bekerja kapan saja.
    Di atas semua hal yang saya sebutkan, ada baiknya kita semua pihak yang ada di fkip terlibat dan lebih peduli dengan kebersihan lingkungan di fkip. Dengan menjalankan gerakan membuang sampah pada tempatnya. Hal ini dilakukan dengan, tidak membuang wadah ataupun sisa makanan di sembarang tempat, berusahalah mencari tempat sampah kalau belum ketemu simpan saja dulu ke kantong atau tas. Dermawan lah sedikit dalam hal ini, apabila berjalan dan menemukan sampah yang berserakan tidak pada tempatnya jangan di cuekin pungut dan buang lah sampah itu ke tempatnya, walaupun sampah tersebut bukan bekas kita tapi kerelaan kita melakukannya anggap saja sebagai jihad dalam menegakkan kebersihan dan yang paling penting disiplin pada diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan. Semua ini penting kita lakukan tidak hanya bagi kesehatan ataupun keindahan lingkungan kita, tapi juga citra fakultas yang kita pertaruhkan, tentu sangatlah tak bangga kalau sampai fakultas kita di nobatkan sebagai fakultas terkotor dengan jumlah sampah yang berserakan terbanyak. Demi menjaga citra baik fakultas kita di harapkan tiap orang yang ada di fkip sadar akan pentingnya kebersihan dan ikut serta dalam menjaganya.

  12. By Am. Hamsin Fitriyadi on May 15, 2008 | Reply

    PANAS

    Barangkali itu lah keadaan yang sesuai untuk menggambarkan suasana kampus FKIP UNLAM pada waktu tengah hari dalam kegiatan proses belajar dan mengajar. Kendati hanya sebuah tulisan sederhana ini tapi dapatlah kiranya kita menuangkan sesuatu hal yang perlu mendapat perhatian sedikit selama ini, mengingat di tengah kegiatan belajar dan mengajar ada terlintas di benak pikiran ini jikalau pada waktu siang hari di saat terik matahari menyengat kulit ini terkadang nampak sering kita jumpai salah satu diantara kita mengusap keringat dan kegerahan, entah itu dari Dosen maupun Mahasiswa khususnya. Maklum sebagian besar di kelas kampus tersebut hanya memiliki kipas angin semata, namun dapatlah kita katakan kipas angin tersebut sudah selayaknya perlu di benahi.

    Tanpa di sadari, kemajuan di bidang teknologi menghadirkan sebuah kenikmatan yang memiliki nilai lebih pada penggunannya Sejalan dengan itu sudah saatnya kita membuka mata untuk mengikuti perkembangan tersebut. Kalau lah kita menengok fasilitas di kampus lain yang memiliki kelebihan yang jauh lebih maju sudah sepatutnya kita perlu mengikuti jejak mereka.

    Dalam fenomena di kampus FKIP UNLAM saat ini nampak hanya beberapa ruang tertentu hanya memiliki AC (Air Conditioner) tapi di ruang lain hanya bermodalkan kipas angin semata. Ironisnya lagi warga kampus tersebut hanya bisa terlena menikmati apa adanya fasilitas di kampus tersebut padahal jauh tertinggal dari kampus lain.

    Dalam pendidikan, Fasilitas kegiatan belajar dan mengajar dapatlah dikatakan sangat menunjang tercapainya keberhasilan tujuan pembelajaran. Barangkali kalau kita sepaham mengenai hal tersebut, sudah saatnya kampus kita ini memiliki fasilitas AC di samping fasilitas penunjang lainnya. Oleh karena itu hendaknya suatu saat nanti penulis mengharapkan adanya perubahan tersebut, memang kita sadari dengan adanya fasilitas AC membuat kita dalam melakukan aktivitas belajar dan mengajar menjadi suasana sejuk khususnya waktu panas dan secara otomatis membuat kita santai.

    Mengakhiri sebuah tulisan sederhana ini dapat lah kiranya kita sebagai salah satu warga kampus ini mengharapkan adanya perubahan tersebut. Dengan perkataan sederhana cukuplah kita yang hanya bisa menikmati fasilitas tersebut apa adanya tapi anak dan cucu kita jangan…toh untuk kebaikan kita bersama agar nyaman dan damai dalam aktivitas kegiatan belajar dan mengajar.

  13. By SQ on May 15, 2008 | Reply

    Pak? “tantangan” sampeyan juga saya jawab, :mrgreen: mohon kunjungan ke blog saya yahhh

    ***Yap

  14. By Akbar Alamsyah Hidayat on May 16, 2008 | Reply

    SALURAN AIR DI “SURGA” MAHASISWA

    FKIP adalah salah satu fakultas favorit di Universitas Lambung Mangkurat di propinsi Kalimantan Selatan. Fakultas yang medidik calon-calon guru masa depan yang akan menggantikan guru – guru yang ada sekarang sebagai pendidik dan pengajar. Oleh karena itu para calon guru disini di bentuk sedemikian rupa hingga benar-benar siap menjadi tenaga pendidik di masyarakat nantinya.

    Terlepas dari itu semua fasilitas yang ada di kampus FKIP 1 sangat lah kurang memadai dikarenakan kurang adanya perhatian dari pengurus kampus terhadap keadaan kampus. Bila dilihat lebih detail lagi sering kita lihat bila musim penghujan datang, kampus ini sering sekali tergenag air hujan hinnga hampir meluap masuk kedalam kelas atau ruangan yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya proses belajar dan mengajar. Keadaan ini diperparah dengan tersumbatnya atau mampetnya saluran air atau drainase yang ada di kampus ini karena permasalahan sampah. Padahal bila dilihat kembali dengan permasalahan itu saya lihat ada petugas kebersihan yang digaji untuk membersihkan sampah ada di sekitar areal kampus dan sekitarnya. Setiap hari dia selalu melakukan tugasnya, tetapi mengapa masih saja banjir melulu tiap turun hujan. Dan yang lebih gilanya lagi para pejabat dan pegawai atasan seperti dekan dan para pembantunya dan karyawan-karyawan yang lain seakan cuek bebek dan menutup mata akan hal ini, dan tidak melakukan apa-apa serta menganggap bahwa semua itu adalah hal yang lumrah, sungguh gila bukan ? padahal dengan saluran air yang tersumbat atau mampet tadi dapat mengganggu proses belajar dan mengajar di kampus, bila proses belajar dan mengajar tersebut terganggu, bukankah akan mempengaruhi bagaimana pemahaman dan penerimaan mahasiswa atas materi yang di berikan oleh pengajar atau yang biasa disebut dengan dosen, dan bila itu terganngu dan tidak efektif, bagaimana dapat menghasilkan guru yang profesional.

    Sungguh kenyataan yang miris bila melihat itu. Dengan masalah saluran air yang sampai sekarang hanya dianggap sebagai masalah sepele saja oleh orang-orang atasan yang mereka mengganggap diri mereka sebagai dewa penyelamat yang suci, padahal gaji mereka juga dan semua fasilitas kelas VIP yang mereka nikmati juga di peras dari kami – kami juga sebagai mahasiswa yang kuliah di kampus ini. Tetapi seakan- akan mereka tidak peduli pada nasib – nasib kami sebagai mahasiswa yang jauh-jauh datang merantau dari kampung ke kampus FKIP untuk mengejar cita-cita menjadi seorang guru. Tetapi yang didapat hanyalah sepatu basah, jalan lorong yang becek, halaman yang tergenang air dan lain sebagainya, padahal dalam kenyataannya dapat dilihat di dalam saluran air tersebut banyak terdapat sampah-sampah yang menumpuk dari bagian administrasi yang membuang sampah sembarangan di saluran air yang menyebabkan tersumbatnya saluran air yang ada dikampus.

    Jadi bagaimana solusinya yang harus dilakukan untuk menyelesaikan maslah saluran air ini, padahal masalahnya hanya soal sepele saja tapi bila dibiarkan berlarut-larut dapat membahayakan kampus FKIP juga. Bagaimana jika seandainya tidak ditindak lanjuitu hingga 10 tahun kedepan, Maka FKIP mungkin akan menjadi kenangan saja karena telah tergenang air hinnga tidak dapat digunkan lagi sebagai tempat pendidikan para calon guru masa depan. Padahal anggaran dana tiap tahun ajaran dan tiap semester selalu bertambah, tetapi mengapa hanya digukan untuk hal yang bisa dibilang sia-sia. Bukannya untuk memperbaiki keadaan saluran air yang ada di kampus FKIP. Dengan itu mungkin hanya dengan mengandalkan mahasiswanya yang harus menyelesaikannya, karena pihak atasan tidak ada yang dapat diandalkan. Padahal seharusnya mahasiswa hanya tahu belajar dan belajar saja. Sedangkan masalah saluran air tersebut adalah maslah atasan yang di gaji untuk mengayomi dan melayani mahasiswa.

  15. By Erina Marsiana on May 16, 2008 | Reply

    SAKADOMAS DI FKIP

    Sakadomas merupakan bangunan ataupun tempat yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif bagi para civitas akademik Fkip Unlam. Kegiatan-kegiatan disini tidak hanya bersifat akademik. Namun juga bersifat non akademik. Misalnya kegiatan akademik adanya kuliah umum bisa mengenai bedah buku, kalau yang non akademik adanya pentas seni seperti lomba menyanyi, membaca puisi dsb.

    Bangunannya yang khas budaya banjar, unik dan menarik lokasinya pun sangat strategis yaitu terletak di tengah-tengah bangunan kampus FKIP. memang dulunya sebelum tempat itu dibangun, tempat itu hanyalah kolam ikan. Apa fungsinya, dan apa pula manfaatnya ? bagaimana efektifitas Sakadomas dalam menunjang ide-ide kreatif yang ada dilingkungan FKIP? mungkin banyak sekali pertanyaan yang akan terlontar mengenai sakadomas karena sakadomas dalam hal ini telah menjadi suatu perbincangan yang menarik pada kalangan mahasiswa yang terkait fungsi dan guna dari tempat tersebut. Sakadomas adalah singkatan dari sakahandak dosen dan mahasiswa, yang kalau boleh diartikan dalam bahasa Indonesia adalah terserah dosen dan mahasiswa. Artinya dosen dan mahasiswa sebagai keluarga besar FKIP mempunyai hak untuk memanfaatkan tempat tersebut yang tentunya dalam hal-hal positif.

    Munculnya ide pembuatan tempat tersebut merupakan hasil dari pemikiran dan mempunyai tujuan. Dalam konteks ini kita harus berfikir positif tentang tujuan dari pembuatan sakadomas,dan itulah tadi sepintas dari segi positifnya, ada segi positif tentulah ada segi negatifnya yang bisa dirasakan dampaknya. Sebagai contoh ketika lomba-lomba diselenggarakan di sakadomas, yaitu terganggunya proses kegiatan belajar-mengajar karena pengalaman lomba-lomba tersebut diselenggarakan bertepatan dengan waktu ujian middle test dan menurut saya itu sangatlah mengganggu konsentrasi mahasiswa yang sedang menempuh ujian. Dan yang lebih memprihatinkan lagi dosen yang memberi ujian di kelas, juga ikut menonton acara lomba nyanyi tersebut. Tetapi bagaimanapun juga itu akan menjadi sesuatu yang berharga apabila itu dimanfaatkan oleh mahasiswa.

    Sakadomas bisa digunakan untuk apa saja, bahkan setiap hari nampak sekali terlihat mahasiswa yang duduk-duduk santai, tapi terkadang tempat itu bisa jadi tempat kuliah dan arena diskusi. Dalam waktu-waktu tertentu banyak acara-acara yang diadakan di sakadomas, saperti bedah buku, lomba menyanyi, puisi dalam rangka Dies natalis. Walau begitu nampak sekali bahwa sakadomas belum dimanfaatkan secara maksimal. karena dalam penglihatan saya sakadomas menjadi tempat yang banyak nganggurnya daripada digunakan untuk kegiatan yang kreatif. tapi terlepas dari semua itu, sakadomas telah menjadi sarana penting dalam mengapresiasikan ide-ide kreatif yamg muncul dari civitas FKIP UNLAM.

  16. By KAMSINAH on May 17, 2008 | Reply

    PETUGAS KEBERSIHAN DI FKIP

    Unlam merupakan kampus yang paling tua di Banjarmasin jika dilihat dari segi usianya, dan kampus yang famornya lebih tinggi dibanding kampus lain. Yang mana angka peminat setiap tahunnya sangat banyak dan meningkat terus, khususnya FKIP dapat dilihat dari parkir kendaraan yang melampaui lokasi yang telah tersedia.

    FKIP merupakan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan yang namanya sudah tidak asing lagi ditelinga para calon peminatnya dan dikenal banyak orang, namun semuanya berbanding terbalik jika dilihat keadaan FKIP sekarang yang memprihatinkan. Tanpa melihat permasalahan FKIP lebih mendalam, masalah kebersihan FKIP dapat dilihat dengan jelas secara kasat mata baik oleh masyarakat FKIP nya sendiri maupun masyarakat luar atau umum, yang bila masuk kawasan FKIP maka ketidak bersihan di FKIP sudah dapat terlihat.

    Tidak jelas apa yang menyebabkan bisa seperti ini, masalah kebersihan FKIP tidak terorganisir dengan jelas. Padahal jika para penguasa FKIP sadar mengenai kebersihan FKIP itu penting dan harus!! maka tidak sulit untuk melakukan dan mengorganisirnya secara terarah. Apalagi keuangan FKIP tidak sedikit bila dilihat dari mahasiswa/mahasiswi yang mendaftara tiap tahunnya, dan ditambah lagi jalus mandiri yang sudah tentu dapat dipikir secara logika bisa menggaji karyawan/petugas-petugas yang dirasa perlu untuk kenyamanan FKIP sendiri, namun hal itu tidak sedikit pun terealisasikan.

    FKIP yang besar tidak ada petugas kebersihan secara terorganisir sangat memprihatinkan, bila dibanding sekolah-sekolah umum seperti tingkat SMP, SMA maka sudah jelas kebersihan di SMP, SMA lebih terjaga dibanding kampus yang kita cintai ini. Semoga FKIP kedepannya lebih berkembang, maju dan dapat mempertanggungjawabkan segala sesuatu dengan baik dan jujur, petugas kebersihan di FKIP dapat terpenuhi dan terjalin suatu keselarasan hingga tercipta suatu kenyamanan secara keseluruhan di kampus FKIP kita ini.

  17. By Hamidah ulfah on May 17, 2008 | Reply

    SARANA OLAHRAGA Di kampus 1 FKIP BANJARMASIN

    Universitas Lambung Mangkurat merupakan salah satu dari sekian banyak universitas yang ada diBanjarmasin, sekaligus menjadi universitas yang tertua di Kalimantan selatan.Hampir diseluruh kabupaten yang ada diKalimantan selatan pasti tahu tentang UNLAM, paling tidak dari namanya sendiri yang sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat sekitarnya.

    UNLAM Banjarmasin memiliki 4 fakultas yaitu fakultas ilmu sosial dan ilmu pemerintahan(FISIP),fakultas ekonomi(FEKON), fakultas ilmu keguruan dan ilmu pendidikan(FKIP) dan fakultas hukum(FAKUM), dari ke 4 fakultas yang ada diBanjarmasin tersebut hanya kampus1 FKIP UNLAM saja yang sampai sekarang tidak mempunyai sarana olahraga,entah dikarenakan lahannya yang tidak tersedia ataukah dana yang tidak ada, semua itu hanya orang-orang tinggi di FKIP lah yang bisa menjawabnya.Maka dari itu yang hendak saya bahas disinilah adalah keberadaan dari sarana olahraga dikampus FKIP ini.

    Dari SD, SMP, SMA, saya selalu mendapatkan pelajaran tentang pendidikan jasmani dan kesehatan atau yang biasa disingkat dengan Penjaskes.Ketika mendapatkan teorinya seperti: tolak peluru, bolla volly,basket dan sebagainya itu, pasti tidak bisa dipisahkan dari prakteknya baik itu oleh siswanya, atau lebih baik lagi sebelum memulai praktek biasanya guru olahraga bersangkutan memberikan contoh itu terlebih dahulu bagaimana gerakan yang benar.

    Namun ketika memasuki perguruan tinggi, pelajaran itu sudah tidak diajarkan lagi dikampus FKIP ini, apalagi sekarang ini saya berstatus sebagai mahasiswi di FKIP UNLAM banjarmasin, dimana dikampus yang sudah saya jalani kurang lebih 3 tahun ini ternyata tidak memiliki sarana/fasilitas olahraganya, padahal walaupun dikampus ini kita tidak lagi memperoleh pelajarang penjaskes itu, tetapi dari sekian ribu mahasiswa yang ada pastilah sebagian diantara mereka memliki bakat dalam bidang olahraganya masing-masing, dengan didukung oleh fasilitas yang ada misalnya lapangan basket, para mahasiswa itu dapat menyalurkan bakatnya.

    Melihat kenyataan bahwa dikampus ini tidak memiliki sarana olahraganya, tentu yang menjadi pertanyaan kita kenapa tidak ada, padahal iuran yang dibayarkan tiap semesternya cukup banyak, mungkin pertanyaan ini sempat terlintas dipikiran kita yang kuliah dikampus tercinta ini.Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang mempunyai bakat dibidang basket misalnya, apakah kita harus selamanya sekedar numpang bermain atau berlatih dikampus orang, jika ini dipirkan bersama bakat yang dimiliki itu akan tersendat, sementara tidak hanya lapangan basket saja yang tidak ada,lapangan bulu tangkis pun juga tidak tersedia disini.Contoh kecil misalnya, kebetulan ada teman saya yang juga kuliah dikampus FKIP ini yang juga berpropesi sebagai pemain bulu tangkis,pernah ketika itu saya bertanya, kemana biasanya latihan, untuk mempersiapkan pertandingan, dan dia menjawabnya, kami biasanya satu tim berlatih di GOR Bunnyamin yang ada dipal6, emdengar jawabannya, saya berpikir untuk kesana saja tentu emnyita waktu dan biaya, ccoba saja seandainya dikampus kita memiliki fasilitas yang mendukung olahraha tersebut , pastinya dia tidak susah-susah lagi pergi kesana hanya untuk latihan.

    Jika kita lihat dari bangunan yang sekarang ini tegak berdiri ditengah-tengah kampus, yang dinamakan SAKADOMAS itu, dari kabar yang berhembus pembangunan nya sudah menghabiiskan beratus-ratus juta, yang sering digunakan sebagai tempat kegiatan akademik dan lomba-lomba pada acara dies natalis, itu sebaiknya dibangun fasilitas olahraga seperti lapangan bulu tangkis, atau apalah, yang pasti bukan lapangan sepakbola yang justru tidak memungkinkan.
    Namun tidak dipungkiri juga keberadaan dari balai sakadomas ini memberikan segi positif karena sering digunakan untuk kegiatan akademik atau non akademik seperti yang sudah dibahas diatas.Bgi mereka yang ingin menyalurkan bakatnya diberbagai macam bidang olahraga sebaiknya mendaftar di kampus FKIP banjar baru karena disana sudah tersedia jurusan olahraga tersebut.

  18. By HELMI HAKIM on May 17, 2008 | Reply

    VISI DAN MISI FKIP UNLAM

    Setiap lembaga atau instansi pasti mempunyai visa & misi yang di harap kan nantinya dapat terlaksana dengan baik, begitu juga lembaga pendidikan FKIP Unlam yang mempunyai visi & misi yang akan di capainya dengan di bentuknya lembaga tersebut. Visi dan misi itu adalah :

    Visi

    Menjadi lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang terkemuka yang lulusannya memiliki kemampuan akademik, profesional dan menguasai teknologi informasi serta daya saing yang tinggi.

    Misi

    a.Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional yang lulusannya menjadi tenaga kependidikan pada jenjang pendidikan dasar ( TK, SD/MI, dan SMP/MTs), SMA/MA dan SMK serta pendidikan tinggi sesuai kebutuhan pengembangan pendidikan dan pembangunan.
    b.Menyelengarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pendidikan dan bidang yang terkait dengan kebutuhan pengembangan pendidikan dan pembangunan.
    c.Mengoptimalkan pemberdayaan dan meningkatkan kinerja dosen dan karyawan.
    d.Melakukan kerjasama dalam bidang pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan PTN/PTS di dalam dan di luar negeri, serta dengan instansi-instansi pemerintahan dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lain nya.
    e.Memberikan pengetahuan dan keterampilan teknologi informasi, sehingga setiap lulusan mampu memanfatkan teknologi informasi untuk kepentingan pendidikan.

    Sesuai dengan visi dan misi di atas, maka FKIP Unlam harus dapat membuktikan bahwa nantinya visi dan misi itu akan dapat terselenggara dengan baik sebagai mana mestinya, sehingga untuk mencapai visi dan misi tersebut FKIP Unlam harus memajukan kinerja FKIP Unlam dengan baik agar nantinya dapat menjadi lembaga pendidikan dan menghasilkan tenaga kependidikan yang terkemuka. Selain itu juga FKIP Unlam harus meningkatkan sarana dan prasarana yang menunjang visi dan misi tersebut baik yang datang dari dalam FKIP Unlam tersebut, seperti masalah yang timbul dari dosen-dosen pengajar, para mahasiswa atau masalah berupa infrastruktur kampus dan masalah yang muncul dari luar FKIP Unlam tersebut, seperti kebijakan-kebijakan rektor, dinas pendidikan maupun pemerintah, serta dari masyarakat. Kembali lagi ke masalah terselenggaranya visi dan misi juga penunjang terselenggaranya visi dan misi tersebut, apakah FKIP Unlam sudah terselenggara visi dan misinya dan apakah penunjang terselenggaranya visi dan misi tersebut sudah terpenuhi????????????????????

  19. By Abdul Rahman S. on May 17, 2008 | Reply

    MINAT MAHASISWA SEJARAH DALAM PENGGUNAAN INFORMASI TEKNOLOGI

    penggunaan teknologi saat ini mau tidak mau mengakibatkan terjadinya perubahan tidak hanya di bidang plolitik, hukum, ekonomi, sosial, namun juga berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Namun saat ini perkembangan teknologi komunikasi sudah sangat cangih. sebut saja internet yang mapu menjangkau seluruh belahan dunia bahkan saat ini internet sudah menjadi gaya hidup yang merekatkan dan membukakan sekat-sekat segala belahan dunia. Namun dengan teknologi yang canggih maka setiap media masa berusaha untuk melakukan peliputan dan mengetahui kejadian yang sebenarnya disana. sehingga CNN mampu mengabdikan beberapa adegan penting yang terjadi di sana secara audio visual.

    Dari hal tersebut maka jelaslah bahwa seperti yang di terangkan sebelumnya bahwa saat ini tidak ada lagi sekat-sekat antar bangsa di dunia. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah sampai pada batas-batas yang sulit dibayangkan oleh manusia.

    Sehingga sangatlah wajar jika dalam tataran selanjutnya dengan kemajuan teknologi yang berkembang seluruh umat manusia di tuntut untuk menguasai teknologi komunikasi atau yang sering di kenal IT. ketika saya menyadari semua tentang 3G oleh salah satu operator telefon swata mengatakan bahwa perkembangan teknologi komunikasi sudah sangat maju dan sudah enjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa terpisahkan bahkan saat ini ketergantunan pada Handphone sama seperti kehilangan nyawa sendiri. Berkaca dari hal yang positifnya meskipun tidak bisa di pungkiri pula bahwa ada dampak negatifnya pula dari kemajuan IT tersebut tentuya bagi saya sangatlah menunjang dari studi yang saat ini saya jalani. salah satunya misalnya internet yang bisa saya telusuri dengan sangat mudah.

    Saat ini dalam penilaian saya minat mahasiswa sejarah denagn menjadiakn IT sebagai media pembelajaran sejarah sudah sangat maju bahkan mereka sendiri sudah bisa membuat web. Ini haruslah di sokong oleh fakultas sebagai baian dari istitusi yang mampu memberikan berbagai fasilitas yang dapat menunjang studi mahasiswanya.

  20. By VIDA AULIA RAKHMAN on May 17, 2008 | Reply

    Praktek Kerja Lapangan ( PKL )

    Kegiatan ini dilaksanakan hampir setiap akhir semester atau tepatnya pada waktu pekan teduh mahasiswa. maksud dari acara ini adalah sebagai salah satu bentuk observasi mahasiswa dan mahasiswi yang didampingi oleh dosen ke tempat yang dinilai masih menyimpan nilai historisnya sehingga dapat membantu dalam pemahaman materi sekaligus sebagai bentuk refresing mahasiswa.

    Banyak hal yang diperoleh dari kegiatan ini, seperti pada PKL yang dilaksanakan di Desa Mentewe Kab. Tanah Bumbu, adapun obyek yang dilihat adalah Gua Sugung yang telah diteliti dan dilakukan penggalian oleh Balai Arkeologi dan dinyatakan sebagai tempat tinggal manusia purba jaman prasejarah dahulu. KIta dapat melihat dan mengetahui bagaimana ketentuan-ketentuan gua yang dapat dijadikan tempat tinggal.

    Dalam perjalanan itu kita dapat tahu bagaimana pola dan cara hidup manusia pada waktu itu.Walaupun untuk biaya ke tempat itu menggunakan biaya sendiri tanpa ada dana bantuan dari fakultas.

    Keinginan untuk dapat meminta bantuan dari fakultas itu ada, namun protokolernya sangat rumit dan berbelit-belit belum lagi tenggang waktu cairnya dana lumayan cukup lama sehingga rencana yang diharapkan juga mengalami penundaan.Hal ini lah yang membuat panitia mencari alternatif lain agar kegiatan dapat terus berjalan.Mahasiswa memang harus merogoh kocek dalam-dalam agar tercapainya kegiatan itu, alhasil yang didapat pun cukup setimpal dengan jumlah yang telah dikeluarkana secara pribadi itu dan muncul pula aanya kepuasan hati atas terselenggaranya kegiatan ini dalam artian kita belajar tidak hanya statis dikampus saja melainkan turun ke lapangan untuk melihat langsung.

    Dan sebagai orang yang belajar tentang sejarah kegiatan ini memang patut untuk dilaksanakan dan diikuti untuk lebih dapat memahami materi kesejarahan yang diberikan.

  21. By Farida Ariyani on May 17, 2008 | Reply

    PERATURAN TATA TERTIB FKIP

    Setiap lembaga atau khususnya perguruan tinggi pastilah mempunyai suatu peraturan atau tata tertib yang di buat dengan tujuan untuk dapat di jalan kan atau di perhatikan oleh orang yang berada di dalam ruang lingkup lembaga pendidikan tersebut. Begitu hal nya di lembaga perguruan tinggi Unlam seperti fakultas pendidikan dan ilmu keguruan, di dalam lembaga ini terdapat banyak peraturan-peraturan tata tertib yang harus di patuhi dan di taati oleh semua orang yang berada di dalam lingkungan tersebut, tetapi ada macam-macam peraturan yang mana peraturan itu harus di taati oleh semua instansi, dosen dan mahasiswa. Peraturan itu hanya untuk instansi yang ada di FKIP saja, hanya untuk para setap pengajar (dosen) atau peraturan yang hanya di khususkan untuk mahasiswa saja, tetapi dalam pembahasan ini akan di khususkan mengenai peraturan atau tata tertib untuk mahasiswa yang mana peraturan nya di pajang di stiap ruang kulih dengan berbingkaikan kayu dengan kaca seolah-olah peraturan itu sangat berharga dan tinggi nilainya, namun kalau dipikir-pikir memang demikian pada hakekatnya, tetapi kini yang menjadi permasalahan apakah peraturan itu sudah terlaksana aplikasinya atau di jalan kan oleh para mahasiswa??? Baik peraturan mengenai tata tertib dan perkuliahan misalnya dilarang datang terlambat, maupun makan dan minum di ruang kulih. Selain itu peraturan dalam berpakaian yang mana di haruskan memakai pakaian rapi dan tidak diperbolehkan menggunakan celana jins yang sobek-sobek. Setiap mahasiswa haruslah memiliki sopan santun dalam pergaulannya, dll.

  22. By Asmia Ulfah on May 17, 2008 | Reply

    Dosen Yang Tak Ber “Ruang”

    Kampus Fkip Unlam sebagai lembaga tertinggi dibidangnya ternyata banyak memiliki kekurangan.
    Tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, khususnya bagi calon mahasiswa. Mereka membayangkan
    kampus tersebut adalah kampus yang bersih, nyaman dan mempunyai fasilitas yang lengkap
    bagi mahasiswa maupun dosen. Karena Fkip merupakan kampus yang mencetak calon guru khususnya
    di kalimantan Selatan. Karena pola pikir masyarakat Hulu Sungai berpikir, menjadi guru adalah
    idaman setiap orang tua bagi anak-anak mereka. Maka sewajarnya Fkip memberikan fasilitas
    yang sesuai dengan harapan mahasiswa dan dosen. Hal ini tentunya sebanding dengan ikon
    fakultas dengan predikat mahasiswa terbanyak. Coba kita bayangkan, jika kita hitung pendapatan
    dari iuran mahasiswa yang jumlahnya mencapai angka ribuan lebih, didapatkan dana yang lumayan
    banyak juga untuk membangun fasilitas yang sesuai, lebih heboh lagi sekarang ada Jalur tanpa
    ikut tes SPMB untuk menjadi mahasiswa, yang konon katanya iuran registrasinya 3 kali lipat
    dari mahasiswa reguler. Mahasiswa banyak maka hukumnya dosen harus sebanding dengan kenyataan.
    memang dosen diFKIP sudah memenuhi kriteria banyaknya mahasiswa, akan tetapi cukup dan sesuaikah
    fasilitas yang didapat mahasiswa maupun dosen.
    Saya sebagai salah satu mahasiswi Fkip tentunya ikut melihat, mendengar dan merasakan
    akan fasilitas kampus yang terbatas khususnya bagi para dosen. Hal ini saya perhatikan akan ruangan
    yang menampung dosen tersebut. Ternyata hanya mempunyai satu ruangan yang saya katagorikan tidak
    cukup luas untuk menampung para dosen fkip. Ini saya lihat setiap memasuki jam mata kuliah.
    ada saja dosen yang duduk di kursi yang “seharusnya” diduduki mahasiswa, kasian memang. Tetapi
    apa mau dikata air sudah mendidih, suhu semakin panas akibat banyaknya mahasiswa ditambah dosen
    tidak mempunyai ruangan. Berdasarkan perhitungan diatas, tidak mungkin Fkip kekurangan dana hanya
    untuk membangun sebuah “gubuk” bagi dosen. Wallahuallam bin jalik kenyataannya memang demikian.
    Dikemanakan dana tersebut, pembangunan tidak terlalu menonjol dilingkungan FKIP.
    Saya berharap para pengelola mau berkenan memikirkan ini. Saya jujur sangat prihatin akan “nasib” para dosen yang tidak
    mendapatkan PENGHARGAAN tempat bersantai. Cukup bagi kami para mahasiswa yang tidak mendapatkan fasilitas
    yang nyaman, bukan dosen. Niat sudah memuncak untuk mendapatkan ijazah sarjana diFakultas tercinta ini
    jadi fasilitas tentunya “mungkin” saya nomer duakan.

    Tulisan ini juga saya posting diblog saya.
    terima kasih.

  23. By Linda Araini on May 17, 2008 | Reply

    Ruang fotocopy FKIP
    Di FKIP Unlam terdapat beberapa sarana yang dapat digunakan mahasiswa dan mahasiswi untuk menyelesaikan tugas – tugas kuliah sebut saja ruang multimedia dan ruang fotocopy. Namun, yang saya akan bahas pada kesempatan ini yaitu ruang fotokopy di mana ruang tersebut pada waktu tertentu selalu disesaki oleh mahasiswa dan mahasiswi yang ingin mengopy bahan untuk tugas kuliah.. Ruang tersebut disesaki pada waktu pagi hari, sayangnya ruang tersebut digolongkan masih kecil sehingga jika masuk kedalam ruang tersebut harus berdesak-desakan ataupun antri dan menunggu diluar. Petugas yang ada hanya 2 orang saja dan mesin fotocopy yang juga berjumlah 2 buah dan tidak jarang mesin tersebut rusak berikut hasil fotocopynya yang juga sering tidak jelas. Jumlah petugas di ruang tersebut yang berjumlah 2 orang untuk melayani mahasiswa FKIP yang berjumlah ratusan orang tidak memadai sampai-sampai mahasiswa FKIP mesti keluar kampus untuk mengopy bahan untuk tugas kuliah. Peralatan yang ada disitu juga kurang lengkap sehingga mahasiswa terkadang harus keluar FKIP untuk mencari alat yang mereka perlukan. Mesin pendingin yang ada hanya kipas angin yang berjumlah satu buah mengakibatkan ruang yang kecil tersebut terasa panas.

  24. By haryani on May 17, 2008 | Reply

    Forum Studi Islam (FSI) Al Furqon FKIP Unlam

    FSI Al Furqon adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa Fakultas (UKMF) yang bernaung di kampus FKIP Unlam, sekaligus sebagai satu-satunya UKMF di FKIP Unlam yang bergerak dibidang kerohanian islam.
    FSI Al Furqon didirikan pada tahun 1995 oleh para mahasiswa yang tergabung dalam sekbid kerohanian di masing-masing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di kampus FKIP Unlam.
    Awalnya keberadaan FSI Al Furqon ditujukan untuk menyatukan gerak langkah dalam syiar Islam di Kampus FKIP, tapi seiring dengan perkembangannya FSI melihat perilaku mahasiswa muslim khususnya di FKIP Unlam semakin memprihatinkan. Budaya dan pemikiran barat yang bersifat destruktif dengan mudah diadopsi dan kemudian mengkristalisasi di dalam generasi muda Muslim. Kamudian dengan minimnya alokasi waktu untuk mata kuliah agama Islam yang hanya 2 SKS.
    Maka dengan melihat fakta-fakta seperti itu, FSI Al Furqon bekerjasama dengan dosen-dosen pembimbing mata kuliah agama Islam melaksanakan program pembinaan lewat mentoring, yang berlangsung selama satu semester bebarengan dengan pengambilan mata kuliah agama Islam.

    Visi, Misi dan Motto FSI Al Furqon

    Visi : Menjadikan Islam di atas segalanya dan membumikan nilai-nilai
    Islam dalam kehidupan multidimensi terutama bidang
    pendidikan.
    Misi : Menumbuhkan nilai-nilai Islam di Masyarakat terutama
    masyarakat pendidikan dengan mengacu pada pola pembinaan,
    syi’ar dan dakwah Islam.
    Motto : Media penjernihan pemikiran dan perasaan untuk membentuk
    insan yang furqon (pembeda antara yang haq dan yang bathil)
    dan berkepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiah).

    Program Kerja FSI Al Furqon
     Marhaban Mahasiswa baru
     Ta’aruf FSI Al Furqon dan pembukaan mentoring
     Mentoring
     Penutupan Mentoring
     Pekan Pendidikan Islam (PPI)
     Ta’mir Ramadhan di Kampus (TRDK), kerjasama dengan LDK AMBH Unlam.
     Peringatan hari-hari besar Islam
     Daurah Dirasah Islamiyah
     Pelantikan dan training Pengurus FSI Al Furqon
     Buletin Al Furqon
     Kajian pengurus Ikhwan FSI Al Furqon
     MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa)
     NGTREN (Ngaji Ala Pesantren)
     One Night With Us
     The Best FM (Forum Muslimah Terbaik)
     Klinik Muslimah
     PEPSI (Pengjian Pengurus FSI Al Furqon)
     Manajemen Dakwah Organisasi (MADANI)
     TOP (Training Orientasi Pengurus)
     Rihlah
     Briefing Mentoring
     SILCIVA (Silaturrahmi Civitas Akademika)
     Pengiriman utusan
     Mading FSI
     PENTIUM (Pertemuan Pengurus dan Alumni)
     BUFET (Breaking Fast Together)
     Kajian Pendidikan Islam
     POKUS (Penyebara Opini Khusus)
     Iuran Pengurus
     Bursa Usaha Alif
     Donator Tetap
     Bazar
     Penerimaan, pengumpulan,dan penyaluran Jildab dan Khimar.

    Inilah sekilas wacana tentang Forum Studi Islam Al Furqon Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat.

  25. By Hanik Puspitasari on May 17, 2008 | Reply

    BLM FKIP

    Seperti halnya BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang sudah pasti ada disetiap fakultas kampus UNLAM, BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) pun merupakan lembaga mahasiswa yang sudah pasti ada disetiap fakultas.

    Tugas BLM adalah sebagai wadah penyaluran aspirasi masyarakat kampus untuk disampaikan kepada Pejabat kampus. Baik menyampaikan keluh kesah, saran-saran atau uneg-uneg apapun yang dirasakan mengganjal. Namun, fungsi ini tidak begitu tercapai. Singkatnya, BLM sampai saat ini belumlah difungsikan senbagaimana mestinya. Pada dasarnya, BLM belum tersosialisasikan dengan baik dikalangan kampus.

    Baru saja ada seorang teman yang menghampiri saya dan bertanya “BLM tu apa??” Entah BLM yang kurang tersorot ataukah mahasiswanya yang memang tak pernah mau tahu tenyang kampus?? Melihat realita ini, tentunya membuat kita berfikir. Kalau apa BLM saja belum diketahui apalagi perannya? Dan bagaimana bisa memanfaatkannya……..

    BLM memang tidak terlalu berperan dalam mengurusi hal-hal yang berhubungan langsung dengan mahasiswa. Pertama kali saya tahu BLM, ketika akan diadakan pemilihan umum ketua BEM 2007-2008. Kedudukan BLM setingkat diatas BEM. BLM bertugas menyelenggarakan pemilihan umum ketua BEM dan berikutnya mengawasi tindak tanduk BEM di kampus.

    Adapun anggotanya diambil dari perwakilan mahasiswa tiap program studi. Masing-masing 2 orang. Namun dalam geraknya, seringkali tak sempurna. Pengalaman yang saya dengar dari ketua BLM, tiap tahunnya hanya sekitar 4 orang yang benar-benar aktif mengurusi BLM. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan masing-masing anggota. Ada yang akif di HIMA, IMPS-B, FSI Al Furqon. Malkum, ketika dicari siapa yang mau masuk dalam keorganisasian BLM, orangnya hanya itu-itu saja. Mereka yang memang punya kepedulian terhadap kampus dan memang sudah bergerak disalah satu organisasi kampus. Terakhir, BLM sangat sulit mengadakan pertemuan, walaupun hanya 1 bulan sekali. Kebetulan ketuanya sedang menyelesaikan skripsinya di luar kota.

    Untuk sekretariat, BLM punya satu ruangan. Letaknya didekat tempat rapkir dosen-dosen FKIP. Saat awal-awal BLM membentuk anggota baru tahun 2007 tadi, sebagian besar aktivitas BLM dilakukan di Sekretariat BEM. Karena kondisi sekretariat BLM yang sangat mengenaskan. Bagaimana tidak mengenaskan, ruangan yang seharusnya ditempati BLM malah ditempati paman parkir…….. Ada cermin, baju-baju beliau, poster-poster artis di dindingnya… Bahkan ketika kami akan mengadakan rapat, kami mesti permisi dulu sama penghuni barunya… Ajaib memang!!! Uniknya, kampusku….

  26. By Siti Nurul Kamila on May 17, 2008 | Reply

    FENOMENA MAHASISWA REGULER & MANDIRI

    Dalam lembaga pendidikan FKIP Unlam yang mana untuk masuk dalam perguruan tinggi tersebut dapat melalui berbagai macam cara yaitu melalui berbagai tes diantaranya:

    1.Melalui jalur PMDK
    2.Melalui jalur SPMB
    3.Melalui jalur Mandiri
    Melalui jalur-jalur diatas nantinya siswa-siswa lulusan SMA/MA dan SMK dapat kuliah dan menjadi mahasiswa di FKIP Unlam.
    Setelah mereka menjadi mahasiswa maka nantinya mahasiswa yang masuk melalui jalur PMDK dan SPMB disebut sebagai mahasiswa Reguler dan mahasiswa yang lulus melalui jalur Mandiri disebut dengan mahasiswa Mandiri. Sebenarnya Reguler ataupun Mandiri tidak ada bedanya dalam menerima perlakuan dan Fasilitas di dalam kampus, tetapi yang membedakan hanyalah jumlah pembayaran SPP yang mana mahasiswa yang masuk melalui jalur Mandiri lebih mahal jumlahnya hampir dua sampai empat kali lipat dari mahasiswa reguler yang lebih jelas terlihat pada saat pembayaran iuran masuk pertama/peandaftaran ulang mahasiswa. Walaupun pada dasarnya tidak ada perbedaan perlakuan dan fasilitas antara mahasiswa reguler dengan mandiri, tetapi kadang mahasiswa mandiri menganggap diri mereka lebih tinggi kedudukannya di bandingkan mahasiswa reguler. Hal ini karena kebanyakan mahasiswa yang masuk lewat jalur mandiri mereka dari golongan masyarakat menengah keatas. Namun pada hakekatnya mereka tidak menyadari bahwa mereka sama-sama kuliah di dalam fakultas(perguruan tinggi) FKIP Unlam yang serba kekurangan fasilitas.

  27. By juwita sari on May 17, 2008 | Reply

    KWALITAS MAHASISWA FKIP
    Fkip merupakan salah satu fakultas yang ada di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Fakultas ini bediri pada tanggal 8 desember 1983. Dilihat dari usianya fkip bisa dikatakan sebagai salah satu fakultas yang cukup tua. Umur boleh tua, tetapi nampaknya fkip hingga sekarang masih belum dapat disejajarkan dengan fakultas-fakultas lain, baik dalam ruang lingkup lokal ataupun nasional. Fkip selalu saja dianggap sebagai fakultas kasta bawah. Apa sebabnya?

    Sebab utamanya adalah kwalitas mahasiswa fkip masih dianggap rendah. Bagaimana bisa mencetak mahasiwa yang berkualitas, apabila dalam proses kegiatan perkuliahan selalu dilakukan dalam kondisi yang serba memprihatinkan. Bisa dikatakan memprihatinkan, sebab segala fasilitas pendukung proses perkulihan sangat terbatas, sudah ketinggalan zaman dan tidak layak pakai lagi.

    Bayangkan untuk sebanyak 3000 ribu lebih mahasiswa, 10 prodi, dan 28 ruang kelas, kampus ini cuma memiliki tidak lebih dari 10 buah uhv, itu pun sudah termasuk yang tidak bisa dipakai lagi alias rusak berat. Sehingga apabila ingin mengunakan uhv, kita harus mencari-cari keliling kampus terlebih dahulu, malah terkadang hingga harus berebut dengan mahasiswa lain.

    Itu soal uhv, belum lagi soal proyektor. Walaupun Nasib keduanya tidak jauh berbeda, serba kekurangan dan tidak relevan untuk mahasiswa yang sebanyak ini, tetapi patut diacungi jempol karena paling tidak ada upaya dari fakultas untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.

    Bicara mengenai perbaikan kwalitas mahasiswa FKIP, fakultas FKIP baru-baru ini mulai mengoprasikan fasilitas hot spot dan ruang multi media. Tujuannya memang mulia yaitu agar mahasiswa fkip dapat akrab dengan segala macam kemajuan teknologi, terutama internet. Akan tetapi, pada kenyataannya fasilitas tersebut hanya dapat digunakan oleh sebagian kecil mahasiswa saja. Untuk ruang multimedia misalnya, karena keberadaan komputer yang terbatas, menyebabkan tidak semua mahasiswa dapat menggunakannya. Begitu pula dengan fasilitas hot spot. Mahasiswa yang dapat menggunakannya hanyalah mahasiswa yang memiliki laptop. Alhasil mahasiswa yang tidak punya laptop tidak dapat menggunakan fasilitas tersebut, padahal uang untuk membayar iuran penggunaan hot spot tersebut berasal dari uang operasional kampus yang berasal dari pembayaran kuliah mahasiswa persemester.

    Keprihatinan tidak hanya dari segi penggunaan teknologi, tetapi juga dari segi fasilitas pendukung kenyamanan dalam proses perkuliahan. Seperti ruang perkuliahan yang begitu sempit, panas dan kotor. Dengan keadaan seperti ini bagaimana mahasiswa bisa belajar dengan baik. Apabila boleh kita bandingkan dengan fakultas lain yang masih dalam satu universitas, seperti fakultas ekonomi, tentu FKIP sangat payah. Payah karena, fakultas ekonomi dalam hal ruang kuliah serta fasilitas pendukungnya bisa dikatakan sudah memenuhi standar tinggi. Di setiap ruangan dilengkapi dengan pendingin ruangan, dan kelasnya bersih terjaga. Keadaan ini sungguh berbanding terbalik dengan fakultas fkip.

    Selain keterbatasan dalam hal penggunaan teknologi dan fasilitas di ruang kuliah, rendahnya kwalitas mahasiswa Fkip juga dikarenakan kurangnya bahan-bahan pendukung perkuliahan, seperti buku-buku yang berhubungan dengan materi kuliah. Padahal seperti kata orang bijak bahwa buku merupakan jendela dunia, artinya dengan membaca buku, pengetahuan kita akan bertambah.

    Dengan keadaan demikian, bagaimana kwalitas manusia FKIP bisa maju dan berkembang. Apalagi di era globalisasi ini, di mana akan terjadi persaingan sangat keras dalam segala bidang. Apabila seseorang itu tidak memiliki kwalitas yang baik, ia akan kalah bersaing. Karena itu hendaknya masalah ini, di waktu yang akan datang dapat lebih diperhatikan lagi, sehingga manusia FKIP dapat menjadi lulusan yang professional dan mampu bersaing dengan lulusan-lulusan fakultas atau universitas lain. Amin……

  28. By Dwi Setiowati on May 17, 2008 | Reply

    SIKAP DISIPLIN WARGA FKIP

    Universitas Lambung Mangkurat memiliki satu fakultas yang terkenal sebagai tempat dimana para mahasiswanya ditempa sebagai calon pengajar atau guru. Fakultas tersebut bernama FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Sama seperti fakultas lain, di FKIP pun terdapat seperangkat peraturan yang mengatur para “warganya” dan juga jadwal-jadwal yang telah disusun untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar. Agar peraturan dan jadwal tersebut dapat berjalan baik, maka diperlukan sikap disiplin yang kuat dari warganya. Dalam tulisan ini akan dibicarakan tentang sikap disiplin warga FKIP yang lebih menonjol.

    Peraturan pertama di FKIP adalah jaga kebersihan dan buanglah sampah pada tempatnya. Namun, hal yang terjadi malah sebaliknya dengan mudahnya sebagian besar warga FKIP membuang sampah sembarangan dan tidak mau menjaga kebersihan lingkungan. Alasannya karena di kampus tersebut telah ada petugas kebersihan. Peraturan kedua yang dapat terlihat adalah tulisan yang terdapat di tiang dekat tempat fotokopian. Tulisannya adalah “lokasi bebas parkir”, maksud dari tulisan tersebut adalah lokasi tersebut tidak di[erbolehkan untuk parkir kendaraan. Tapi pada kenyataan masih ada pegawai FKIP yang memarkirkan kendaraan di lokasi tersebut. Entah karena kesalahan bahasa yang terdapat ditulisan tersebut atau memang mereka ingin menunjukan “sikap disiplin” nya.

    Selanjutnya peraturan bagi mahasiswa, dalam sebuah “pajangan” yang ditaruh disetiap ruang kuliah terdapat sejumlah yang peraturan yang ditujukan untuk mahasiswa. Salah satu peraturan yang tertulis adalah “bagi mahasiswa diharapakan berbusana yang rapi dan sopan”. Hal yang terjadi selanjutnya adalah sebagian besar mahasiswa mengugunakan busana yang rapi dan sopan menurut versi masing-masing. Ada yang (maaf)memperlihatkan bentuk tubuh,belahan dada, bahkan memperlihatkan belahan pantat.

    Setelah berbicara tentang peraturan, mari kita bicara tentang “sikap disiplin” warga FKIP terhadap jadwal yan telah diatur. Salah satunya jadwal kuliah yang dimulai dari pukul 08.00, akhirnya “ngaret” ke pukul 08.30. Hal ini disebabkan karena dosen pengajarnya datang terlambat akibat dari sibuk mengurus urusan pribadinya. Apalagi ditambah dengan “sikap disiplin” mahasiswanya sendiri. Selain itu seringkali dosen minta tambahan waktu kuliah, karena waktu memulai kuliah tadi terjadi keterlambatan.

    Jadwal selanjutnya adalah penyelesaian file-file penting di BAAK yang selalu mengalami keterlambatan dari jadwal yang ditentukan. Akhirnya keterlambatan ini menyebabkan jadwal lain yang telah ditetapkan ikut berantakan. Inilah gambaran “sikap disiplin” warga FKIP terhadap semua peraturan dan jadwal yang ditentukan oleh fakultas dan universitas.

  29. By Noor Fahriani on May 17, 2008 | Reply

    Pentingnya Menjaga Kebersihan FKIP UNLAM

    Layaknya kampus-kampus yang ada, FKIP UNLAM juga mempunyai sebuah halaman depan yang merupakan gerbang depan FKIP, di halaman itu biasanya juga digunakan untuk parkir kendaraan roda4, tidak ada yang salah dengan halaman tersebut dijadikan tempat parkir, tetapi masalahnya disini adalah apabila hujan deras halaman depan tersebut akan di genangi air yang cukup banyak dan dapat menyebabkan banjir kecil, entah apa sebabnya air dapat menggenang di halaman apabila hujan deras turun, padahal di halaman itu ada parit yang dapat menampung air hujan yang turun. Kebiasaan yang ada adalah apabila suatu daerah terkena banjir artinya saluran air yang ada di daerah tersebut tersumbat oleh banyaknya sampah yang ada di saluran air tersebut.
    Banjir tersebut memang tidak mengganggu jalannya perkuliahan, tetapi apa tidak sebaiknya dari pihak kampus dapat menangani hal kecil tersebut, bagi mahasiswa yang membuang sampah ke dalam parit dapat dikenakan denda atau sanksi, tapi dari sebab ini diperlukan juga kesadaran diri dari mahasiswa dan dari staf pengajar ataupun administrasi yang ada di FKIP untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, Sampah yang menyebabkan meluapnya air hujan tersebut terus saja bertambah dan bertambah hingga menyebabkan saluran yang ada pada parit tersumbat dan menyebabkan meluapnya air keluar, padahal sudah ada petugas kebersihan yang bertugas untuk menangani sampah itu sendiri, petugasa kebersihan tidak akan banyak membantu juga apabila dari kita sendiri kurang mempunyai kesadrana diri akan kebersihan lingkungan
    Di FKIP UNLAM sendiri petugas kebersihan terbagi dari dua, ada yang khusus yang membersihkan ruangan-ruangan perkuliahan yang biasanya terdiri dari mahasiswa yang mau bekerja sebagai petugas itu, mereka biasanya diberi kontribusi Rp.65.000 per bulan dan ada yang khusus menangani halaman kampus, biasanya dari orang-orang yang menjaga parkir kendaraan di FKIP , meskipun sudah ada petugas kebersihan seperti itu, halaman depan ataupun ruang perkuliahan di FKIP masih banyak terdapat sampah yang berserakan. Masalah sampah ataupun masalah kebersihan di dalam suatu fakultas merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan saja.
    Mengenai banyaknya sampah juga tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada para petugas kebersihan, disini juga harus adanya kesadaran dari mahasiswa FKIP sendiri, apabila kita ingin membuang sampah dan tidak ada tempat sampah di dekat kita sebaiknya sampah tersebut kita simpan dulu, kemudian baru kita buang setelah ada tempat untuk mebuang sampah, dari kita ada di sekolah dasar kita sudah diajari untuk tidak membuang sampah sembarangan karena dapat menyebabkan banjir, tapi kenapa saat kita sudah ada di jenjang pendidikan yang lebih tinggi kita melupakan ajaran yang paling mendasar tersebut. Selain kesadaran dari mahasiswanya juga diperlukana danya kesadaran dari seluruh jajaran staf yang ada di FKIP sendiri baik itu dosen, bagian administrasi maupun dekan FKIP sendiri.
    Faktor paling besar dalam hal yang menyebabkan tersumbatnya saluran air yang ada di FKIP ialah kurangnya kesadaran diri orang-orang yang ada di dalam fakultas itu sendiri, mereka masih suka membuang sampah di sembarang tempat, terutama di parit yang umumnya adalah tempat untuk menampung air. Karena parit tersebut tidak dipergunakan sebagaimana mestinya maka hal tersebut menyebabkan adanya banjir di halaman depan FKIP.

  30. By Noor Fahriani on May 17, 2008 | Reply

    Pentingnya Menjaga Kebersihan FKIP UNLAM

    Layaknya kampus-kampus yang ada, FKIP UNLAM juga mempunyai sebuah halaman depan yang merupakan gerbang depan FKIP, di halaman itu biasanya juga digunakan untuk parkir kendaraan roda4, tidak ada yang salah dengan halaman tersebut dijadikan tempat parkir, tetapi masalahnya disini adalah apabila hujan deras halaman depan tersebut akan di genangi air yang cukup banyak dan dapat menyebabkan banjir kecil, entah apa sebabnya air dapat menggenang di halaman apabila hujan deras turun, padahal di halaman itu ada parit yang dapat menampung air hujan yang turun. Kebiasaan yang ada adalah apabila suatu daerah terkena banjir artinya saluran air yang ada di daerah tersebut tersumbat oleh banyaknya sampah yang ada di saluran air tersebut.

    Banjir tersebut memang tidak mengganggu jalannya perkuliahan, tetapi apa tidak sebaiknya dari pihak kampus dapat menangani hal kecil tersebut, bagi mahasiswa yang membuang sampah ke dalam parit dapat dikenakan denda atau sanksi, tapi dari sebab ini diperlukan juga kesadaran diri dari mahasiswa dan dari staf pengajar ataupun administrasi yang ada di FKIP untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, Sampah yang menyebabkan meluapnya air hujan tersebut terus saja bertambah dan bertambah hingga menyebabkan saluran yang ada pada parit tersumbat dan menyebabkan meluapnya air keluar, padahal sudah ada petugas kebersihan yang bertugas untuk menangani sampah itu sendiri, petugasa kebersihan tidak akan banyak membantu juga apabila dari kita sendiri kurang mempunyai kesadrana diri akan kebersihan lingkungan

    Di FKIP UNLAM sendiri petugas kebersihan terbagi dari dua, ada yang khusus yang membersihkan ruangan-ruangan perkuliahan yang biasanya terdiri dari mahasiswa yang mau bekerja sebagai petugas itu, mereka biasanya diberi kontribusi Rp.65.000 per bulan dan ada yang khusus menangani halaman kampus, biasanya dari orang-orang yang menjaga parkir kendaraan di FKIP , meskipun sudah ada petugas kebersihan seperti itu, halaman depan ataupun ruang perkuliahan di FKIP masih banyak terdapat sampah yang berserakan. Masalah sampah ataupun masalah kebersihan di dalam suatu fakultas merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan saja.
    Mengenai banyaknya sampah juga tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada para petugas kebersihan, disini juga harus adanya kesadaran dari mahasiswa FKIP sendiri, apabila kita ingin membuang sampah dan tidak ada tempat sampah di dekat kita sebaiknya sampah tersebut kita simpan dulu, kemudian baru kita buang setelah ada tempat untuk mebuang sampah, dari kita ada di sekolah dasar kita sudah diajari untuk tidak membuang sampah sembarangan karena dapat menyebabkan banjir, tapi kenapa saat kita sudah ada di jenjang pendidikan yang lebih tinggi kita melupakan ajaran yang paling mendasar tersebut. Selain kesadaran dari mahasiswanya juga diperlukana danya kesadaran dari seluruh jajaran staf yang ada di FKIP sendiri baik itu dosen, bagian administrasi maupun dekan FKIP sendiri.

    Faktor paling besar dalam hal yang menyebabkan tersumbatnya saluran air yang ada di FKIP ialah kurangnya kesadaran diri orang-orang yang ada di dalam fakultas itu sendiri, mereka masih suka membuang sampah di sembarang tempat, terutama di parit yang umumnya adalah tempat untuk menampung air. Karena parit tersebut tidak dipergunakan sebagaimana mestinya maka hal tersebut menyebabkan adanya banjir di halaman depan FKIP.

  31. By Ganjar Muttaqin on May 17, 2008 | Reply

    Ruang SIM
    (Sistem Informasi Manajemen)
    FKIP bingung???
    Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen. Dan memiliki tujuan umum yaitu Menyediakan. informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan, Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
    SIM merupakan kumpulan dari sistem informasi :
    1. Sistem informasi manajemen persediaan.
    2. Sistem informasi personalia.
    3. Sistem informasi distribusi.
    4. Sistem informasi pembelian.
    5. Sistem informasi kekayaan.
    6. Sistem informasi penelitian dan pengembangan.
    7. Sistem informasi teknik.
    Setiap lingkungan dari sekitar kampus pasti memiliki banyak ruang, di antaranya ruang laboratorium bahasa, ruang multimedia, ruang kuliah, ruang dosen dan lain sebagainya. Setiap ruang memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda dan memiliki fasilitas masing-masing. Diantaranya adalah ruangan sistem informasi manajemen yang berada pada lantai 2 gedung FKIP UNLAM.
    Dalam beberapa hari saya mengamati ternyata ruangan sistem informasi tersebut hampir tak ada satu mahasiswa pun yang masuk kedalam, hal ini dikarenakan ruangan tersebut selalu terlihat tertutup pintunya dan terkunci. Setelah saya tanyakan hal ini kepada beberapa kawan-kawan mahasiswa ternyata hampir keseluruhan dari mereka tidak mengetahui bahwa mereka memiliki ruang sistem informasi manajemen “aneh”.
    Anehnya lagi ada beberapa dari kawan-kawan mahasiswa tidak mengetahui letak dari ruang sistem informasi manajemen tersebut “parah”. Bahkan kebanyakan dari kawan-kawan mahasiswa tidak mengetahui kegunaan dan fungsi ruang sistem informasi manajemen. Fasilitas di dalam ruangan ini kebanyakan telah “di imigrasikan” ke ruang multimedia sehingga ruangan ini pun hanya tersisa bangku dan meja.
    hal ini menunjukkan tidak adanya efisiensi dalam pengadaan ruangan sehingga kelihatannya bersifat sia-sia “mubazir”. Pihak kampus pun tidak pernah melakukan sosialisasi kepada kawan-kawan mahasiswa tentang kegunaan dan fungsi dari ruang sistem informasi manajemen tersebut sehingga banyak dari kawan-kawan mahasiswa tidak mengetahui kegunaan dari ruang sistem informasi manajemen FKIP UNLAM. Bahkan sampai hari ini masih ada box atau kotak yang berbentuk kerangkeng dari besi yang terdapat pada sudut-sudut kampus yang dulunya di isi dengan komputer informasi manajemen dan sekarang di biarkan terbengkalai begitu saja sehingga menambah kesan tidak sedap di pandang pada sudut-sudut kampus FKIP. Keadaan ini bertolak belakang dengan visi dan misi FKIP UNLAM yaitu mencetak pendidik yang berbasis teknologi dan informasi. Padahal tujuan didirikannya ruang sistem informasi manajemen agar para kawan-kawan mahasiswa bisa mengetahui informasi tentang kampus dan cara kinerja manajemen sebuah kampus, dan juga menciptakan pendidik yang berbasis teknologi dan informasi.

  32. By Puji Astuti on May 17, 2008 | Reply

    Seminar FKIP

    Dalam lingkup FKIP sebagai fakulatas keguruan dan ilmu pendidikan,FKIP ini memiliki program-program yang salah satunya yaitu “Seminar”. Dalam penyelenggaraannya program FKIP ini sering mendatangkan atau juga mendapat tamu-tamu kehormatan dari negara luar contohnya Australia dan Eropa.

    Dalam seminar ini kita banyak memperoleh pengetahuan tentang negara luar misalnya Australia,di negara Australia ternyata mereka juga memiliki kebudayaan yang unik dan dalam seminar atau pertemuan,negara kangguru ini juga mengenalkan tempat-tempat yang bisa dikunjungi sebagai objek wisata yang ada disana.

    Adapun pada saat orang-orang jerman dari benua Eropa mengadakan seminar tentang batu-batuan dan bagaimana cara berbisnis yang baik,pada saat itu tim penyelenggara selaku panitia belum begitu siap dan nampaknya dalam hal ini faktor bahasapun ikut menjadi peranan agar seminar berjalan dengan baik dan lancar sebagaimana layaknya subuah seminar.

    Dalam hal ini harusnya tim penyelenggara atau pelaksana bisa atau bahkan mampu menguasai Bahasa inggris agar dalam sesi tanya jawab sang penerjemah bisa mengutarakan kembali kepada tamu asing sehingga tamu asingpun bisa mengerti apa maksud dari pertanyaan dan dapat menjawab dengan tepat sesuai pertanyaan.Hal inilah kiranya juga yang harus dibenahi dalam seminar di FKIP khususnya jika FKIP mendatangkan tamu dari luar.

    Adapula dalam sistem ketataruangan gedung seminar hendakanya disesuaikan dengan kapasitas muatan dan dalam hal sirkulasi udara nampaknya dalam gedung seminar ini belum begitu baik sarananya,apalagi kalau peserta yang mengikuti seminar tersebut cukup banyak dan hal sekecil inipun dapat mempengaruhi lancarnya sebuah seminar.

  33. By Irma on May 17, 2008 | Reply

    KANTIN FKIP UNLAM

    Bagi kebanyakan orang, kantin sudah tidak asing lagi bahkan sudah terlalu sering untuk dikunjungi. Begitu pula keberadaan kantin di FKIP Unlam, yang merupakan salah satu fasilitas yang ada di fakultas ini. Seperti halnya kantin lainnya, kantin di FKIP Unlam ini tersedia bermacam-macam makanan yang dijual pada umumnya seperti nasi lalapan, nasi campur, nasi sop, soto banjar, sate, bakso, mie ayam dan lain-lain. Sedangkan untuk minuman yang dijual seperti jus, es kelapa, teh es dan sebagainya.

    Kantin di FKIP Unlam ini terdiri dari dua bagian yaitu ada kantin yang tertutup (dalam ruangan) dan kantin terbuka. Pada Kantin yang tertutup, fasilitas kantin berupa ruangan atau tempat ini disediakan langsung oleh fakultas. Di FKIP ini, kantin tertutup berjumlah lima buah kantin. Untuk kepemilikan sebuah ruangan atau tempat berupa kantin ini maka dilakukan system sewa tempat. Dimana para pedagang ini harus menyewa kantin sebagai tempat untuk berjualan kepada fakultas dengan jangka waktu selama enam bulan. Apabila dibuat perincian maka sewa-menyewa kantin di FKIP Unlam sebagai berikut :
    1. Sewa kapetaria 6 bulan x @ Rp 400.000,00 = Rp 2.400.000,00
    2. Kebersihan selama 6 bulan x @ Rp 20.000,00 = Rp 120.000,00
    jadi, total sewa selama 6 bulan yaitu Rp 2.520.000,00. Jumlah tersebut hanya untuk sewa satu buah kantin saja, kalau jumlah sewa lima buah kantin selama 6 bulan sekitar Rp 12.600.000,00. Wah…lumayan juga ya pendapatan FKIP dari hasil sewa kantin saja…

    Lain lagi halnya dengan kantin terbuka. Keberadaan kantin ini merupakan hasil dari inisiatif pedagang sendiri, mereka menggunakan alam terbuka di FKIP Unlam ini sebagai lahan tempat mereka berjualan. Berbeda dengan kantin tertutup, untuk kantin terbuka ini mereka tidak melakukan sewa-menyewa tempat dengan fakultas seperti yang dilakukan pedagang di kantin tertutup. Selain itu, jumlah pedagangnya pun lebih banyak dari pada pedagang di kantin tertutup yaitu sekitar tujuh orang pedagang.
    Pedagang pada kantin terbuka ini merupakan pedagang kaki lima sehingga mereka hanya cukup membayar untuk keamanan saja seperti untuk penitipan gerobak Rp 20.000,00, bayar satpam Rp 20.000,00 dan bayar jaga malam Rp 10.000,00.

    Lazimnya kebanyakan kantin, di FKIP Unlam ini kantin tidak hanya digunakan sebagai tempat makan saja, tetapi juga digunakan sebagai tempat mengobrol dan berkumpul baik bagi mahasiswa maupun dosen. Selain itu, kantin juga sering dijadikan sebagai tempat untuk pacaran. Mengenai pengunjung kantin FKIP ini, rupanya kantin FKIP tidak hanya dikunjungi oleh mahasiswa FKIP saja namun mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari fakultas lain. Hal ini bisa saja dikarenakan kantin FKIP mempunyai banyak menu makanan. Sehingga mereka lebih tertarik untuk makan di kantin FKIP. Selain itu, harga yang ditawarkan pun sesuai dengan kocek mahasiswa.

  34. By selvia agustina on May 17, 2008 | Reply

    Aktivitas Mahasiswa FKIP Menunggu Jam Kuliah

    Ada berbagai macam tingkah polah mahasiswa dalam menunggu jam masuk kuliah,jam masuk pergantian mata kuliah,ataupun menunggu kedatangan dosen yang bersangkutan.Kegiatan mahasiswa menunggu perkuliahan ini sering diwarnai dengan aksi kumpul-kumpul.Tempat yang sering digunakan para mahasiswa ini dalam menunggu jam masuk perkuliahan seperti kursi-kursi didepan kelas,kursi dibawah tangga,dimeja bundar,maupun duduk dibalai sakadomas.Pembicaraan yang sering terjadi antar mahasiswa yang kumpul-kumpul menunggu jam masuk kuliah sering kali tidak lepas dari apa saja kegiatan yang mereka lakukan,bercanda-canda sambil tertawa,saling ejek maupun membicarakan dosen-dosen,ada yang memuji dan ada yang mengolok-olok.Tidak hanya itu,ada juga mahasiswa yang mengisi waktu menunggunya dengan makan kewarung,santai di mesjid,membeli pentol,ke ruang multimedia pergi keperpustakaan prodi,smsan maupun telepon-teleponan.Kebanyakan mahasiwa perginya secara berombongan baik itu untuk makan diwarung maupun membeli pentol.Hanya adasedikit mahasiswa yang menghabiskan waktu menunggu masuknya jam kuliah dengan pergi kemesjid.Mahasiswa yang menunggu jam kuliah dengan pergi keruang multimedia kebanyakan untuk mencari tugas di internet ataupun hanya untuk bermain game dikomputer.Tidak jarang aktivitas mahasiswa menunggu masuknya jam kuliah ini diwarnai dengan keributan-keributan yang pada akhirnya mengganggu proses belajar- mengajar yang terjadi di kelas lain.

  35. By Catur Widyastuti PH on May 17, 2008 | Reply

    Catur Widyastuti PH
    Laboratorium Sejarah…???
    Laboratorium merupakan fasilitas penunjang yang digunakan untuk kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat, dalam bentuk praktikum, penelitian mahasiswa untuk keperluan tugas akhir dan penelitian dosen untuk pengembangan keilmuan atau karya ilmiah, serta pengabdian masyarakat.
    Di UNLAM tempat saya menuntut ilmu khususnya di FKIP juga ada laboratorium. Ada lab.MIPA untuk jurusan program studi matematika,dan IPA. Ada lab.Fisika Dasar untuk program studi fisika,ada lab.Geografi untuk program studi geografi, juga lab. Bahasa Inggris untuk program studi bahasa inggris. Namun, sangat disayangkan lab.program studi pendidikan sejarah tidak ada..?? Padahal pentingnya lab. untuk pendidikan sejarah adalah untuk (1) memperbanyak dan meningkatkan khasanah pengetahuan bidang studi sejarah dan pendidikan sejarah termasuk diantaranya arkeologi, antropologi, dan sosiologi, (2) mempersiapkan dan mengembangkan pengetahuan metode dan teknik mengajar serta mengembangkan keterampilan sebagai sarana penunjang jurusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, (3) mempersiapkan dan mengembangkan pengetahuan metode teknik dan median pengajaran untuk melayani kepentingan masyarakat khususnya sekolah.
    Perasaan iri dengan Prodi lain sangat saya rasakan, selama kurang lebih 4 tahun saya kuliah di FKIP jurusan sejarah tidak pernah merasakan menggunakan lab. Diskriminasi atau apa begitu tidak pentingkah jurusan sejarah, sampai-sampai lab tidak ada untuk kami. Ironis memang, tapi begitulah kenyataannya.
    Jadi diharapkan agar fasilitas untuk pendidikan sejarah agar segera diadakan atau dibangun untuk kepentingan mahasiswa, dosen, dan masyarakat sekitar. Karena mengingat begitu penting adanya suatu lab. dalam menunjang belajar mengajar.

  36. By Melisa Prawita Sari on May 17, 2008 | Reply

    KONDISI PADA SAAT UJIAN AKHIR (FINAL TEST) DI FKIP UNLAM

    Ujian akhir semester (UAS/ Final test) merupakan agenda yang wajib dilaksanakn oleh setiap institusi pendidikan, tak terkecuali FKIP Unlam. Ujian akhir semester tersebut bisa menjadi agenda yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa karena ujian tersebut merupakan akhir dari perkuliahan dan para mahasiswa dapat berlibur panjang setelahnya tetapi ada juga yang menyesalkan mengapa harus ada ujian di tiap akhir semester?

    Disini akan sedikit digambarkan bagaimana keadaan pada saat final test di FKIP Unlam berlangsung. Pelaksanaan ujian akhir semester tersebut dapat dikatakan kurang teratur dan terencana. Why ??? mari telusuri tulisan ini dan kita akan temukan jawabannya.

    Tidak usah ‘lah jauh-jauh studi banding ke luar daerah atau bahkan ke luar negri, cukup studi banding ke kampus tetangga kita yaitu Fakultas Ekonomi(Fekon) yang berada diseberang kampus FKIP. Hampir setiap hari saya ke Fekon karena banyak teman-teman satu SMA saya kuliah di sana dan hampir setiap hari pula saya merasa sedikit iri dengan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Fekon, bagaimana tidak? bayangkan saja di setap ruang kuliah/ kelas di Fekon memiliki AC, pengeras suara, komputer, OHP, kursi yang baru, dan tersedia makanan kecil/ kue serta segelas minuman untuk dosen yang sedang mengajar. Kalau di FKIP memang ada fasilitas seperti itu tetapi yang ada hanyalah kipas angin yang sekarang kondisinya banyak yang tidak layak pakai, OHP dan pengeras suara yang tidak tersedia di seluruh ruangan kelas karena jumlahnya yang terbatas. Fekon juga memiliki ruang multimedia dengan jumlah komputer yang banyak sehingga para mahasiswanya tidak perlu antri/ berebutan untuk menggunakan internet gratis. Cukup sampai di situ, ini sekedar intermezo yang membuat saya sedikit iri terhadap fasilitas yang ada di kampus tersebut. Namun hal ini tidak membuat saya berkeinginan untuk kuliah di sana, hanya dapat berharap kapan kampus saya (FKIP) akan memiliki fasilitas seperti itu dan saya tidak akan membahas masalah ini karena saya akan membahas bagaimana keadaan pada saat ujian akhir semester berlangsung di FKIP.

    Satu saat ketika menjelang final test saya kembali bermain-main ke Fekon, di sana saya lihat teman-teman saya begitu sibuk mempersiapkan segala macam keperluan untuk melaksanakan final test. Untuk dapat mengikuti final test setiap mahasiswa diwajibkan membayar iuran IKOMA (Ikatan Orang Tua Mahasiswa) uang tersebut digunakan untuk membayar soal dan kursi untuk ujian dan setelah membayar iuran tersebut setiap mahasiswa akan mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kartu tersebut dilengkapi dengan pas foto mereka masing-masing dan setiap kursi disusun sedemikian rupa serta ditempeli foto mahasiswa yang akan melaksanakan ujian. Ketika ujian akhir berlangsung para mahasiswa Fekon terlihat tenang, kenapa? karena mereka duduk diatur saling berjauhan dan dosen yang mengawasi ujian tersebut turut membawa beberapa ‘algojo’ (asisten) mereka untuk ikut mengawasi berlangsungnya ujian. Alhasil, para mahasiswa tidak memiliki kesempatan untuk saling menyontek, kalaupun ada tentu bukanlah hal yang mudah untuk menyontek dalam keadaan seperti itu. Ketika ujian akhir telah selesai dan sampai pada waktu pengumuman hasil ujian, seluruh hasil ujian mahasiswa ditempel diseluruh mading yang ada di Fekon, itu berarti Fekon memiliki mading yang banyak untuk menempel nilai-nilai ujian tersebut.

    kemudian…

    Cobalah kita tengok apa yang terjadi di FKIP ketika ujian akhir/ final test akan berlangsung? di FKIP sebelum ujian akhir mahasiswa hanya mendapatkan jadwal ujian yang dapat diperoleh melalui warung fotocopy yang ada di dalam kampus FKIP. Di jadwal tersebut terdapat nama dosen, mata kuliah serta waktu dan tempat/ ruangan untuk ujian. Mahasiswa FKIP hanya mendapatkan jadwal ujian tersebut tanpa mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kenapa? entahlah…

    Ketika ujian akhir berlangsung pun mahasiswa boleh-boleh saja duduk di kursi manapun yang mereka mau karena tempat duduk mereka tidak diatur dan para mahasiswa siap dengan berbagai macam strategi untuk mengelabui dosen yang mengawasi ujian agar mereka dapat menyontek atau bahkan membuka buku dan contekan/ tulisan kecil yang sudah mereka siapkan, para mahasiswa pun ‘mendempet-dempetkan’ kursi dengan teman-temannya agar proses contek-menyontek lebih mudah.

    Dalam satu ruangan/kelas ujian akhir biasanya hanya diawasi oleh satu orang dosen dengan mahasiswa yang biasanya mencapai 30-60an orang dalam satu kelas, dapat dibayangkan kan? Apalagi ketika ujian akhir tersebut merupakan ujian mata kuliah umum, mahasiswa dari beberapa program studi (biasanya 4 prodi) digabungkan dalam satu ruangan/ kelas (biasanya dilaksanakan di aula/ ruangan yang agak ’sedikit’ besar) dan ujian mata kuliah umum tersebut pun hanya di awasi oleh satu orang dosen, lebih gawat lagi kan?

    Pada saat pengumuman hasil ujian pun, nilai ujian tersebut hanya ditaruh dalam satu map untuk setiap prodi, sehingga para mahasiswa biasanya harus antri bahkan berebut untuk melihat nilai ujian mereka. Bahkan bisa juga map nilai tersebut hilang, entah siapa yang telah menghilangkannya. Kenapa ini terjadi? Apakah mungkin karena mading-mading di FKIP tidak cukup untuk memajang nilai-nilai ujian para mahasiswanya?

    Sebenarnya dengan sistem ujian akhir di FKIP yang telah saya paparkan tersebut, para mahasiswanya tidak memiliki keluhan yang berarti, mungkin ada juga mahasiswa yang setuju dengan sistem tersebut karena itu artinya dosen-dosen di FKIP percaya penuh kepada para mahasiswanya dalam melaksanakan ujian dan dosen-dosen FKIP pun mungkin sangat percaya pada diri mereka sendiri bahwa mereka sanggup mengawasi ujian para mahasiswanya itu seorang diri. Dengan adanya sistem ujian akhir seperti yang ada di FKIP, semoga para mahasiswa FKIP dapat menggunakan azas kejujuran dan jangan menyalahgunakan kepercayaan yang telah sepenuhnya diberikan oleh para dosen pada saat ujian akhir tersebut berlangsung. Semoga…

    Para mahasiswa FKIP sebenarnya tidak ingin melakukan kecurangan dalam melaksanakan setiap ujian karena mereka merupakan orang-orang intelektual/ calon guru, tidak sepantasnya ‘kan calon guru melakukan kecurangan-kecuarangan tersebut? apa nanti kata dunia ?

    Namun, menyontek/ kecurangan-kecurangan lainnya yang terjadi pada saat berlangsungnya ujian akhir bukan hanya karena niat tapi juga karena ada kesempatan.
    Waspadalah… Waspadalah !!!

  37. By ihya ul ihsan on May 17, 2008 | Reply

    Masalah Listrik FKIP

    Selasa,6 mei 2008
    Suasana ruang satu yang sumpek karena perkuliahan yang membosankan berubah menjadi sangat panas.Bukan karena terjadi perdebatan sengit antar mahasiswa,tapi karena kipas angin sebagai satu-satunya alay pendingin mati.Matinya kipas angin bukan disebabkan oleh rusaknya benda tersebut,tapi karena listrik padam.Ujung-ujungnya suasana perkuliahan yang sudah tidak enak jadi tambah tidak enak.

    Mati lampu,begitu kata orang Banjar ketika mengalami pemadaman listrik.Hal ini sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah.Selama empat seester kuliah di FKIP mati lampu saat perkuliahan sudah sangat sering terjadi.

    Jumlah ruangan di FKIP unlam lebih dari 30 buah,lebih dari 50 persennya adalah ruang perkuliahan dan sisanya kantor.Ruangan ini mempunyai fasilitas yang sangat berbeda tentunya.Ruang kulah punya kipas angin,kantor punya AC.Ruang kuliah punya UHP,ruang kantor punya komputer.Dari dua ruangan berbeda kegunaan ini,ruangan mana yang menggunakan listrik lebih besar?ruang kuliah dengan kipas angin dan UHPnya atau kantor dengan AC dan komputernya?silahkan menjawab sendiri.

    Saat listrk padam,akan terdengar ditelinga mahasiswa suara meraung-raung yang berasal dari sebuah alat pembangkit listrik cadanganyang kita kenal sebagai genset.hasil bunyi itu adalah ruang kantor yang tetap nyaman dan ruang kuliah yang tambah panas.Kenapa separti itu?

    Rupanya genset digunakan untuk membangkitkan listrk guna keperluan kantor,bukan untuk proses perkuliahan,padahal FKIP kan adalah tempat mahasiswa belajar,kalau fasilitasnya tidak memadai bagaimana bisa balajar.

    Bunyi bising akibat bunyi genset saja sudah sangat mengganggu,apalagi ditambah panas yang mendera tubuh karena tidak berfungsinya kipas angin akibat listrik padam.Tugas FKIPlah sebagai tempat mahasiswa mendapat ilmu untuk menyediakan fasilitas itu,bukan hanya kursi,white board,dan lain-lainnya,tapi juga masalah kelistrikan perlu untuk ditangani.

  38. By Rumadi on May 17, 2008 | Reply

    TATA USAHA FKIP

    Dalam sebuah kampus atau suatu lembaga pendidikan itu selalu ada badan atau tempat untuk melayani siswa atau mahasiswa yang ingin mengurus keperluan administrasinya yang mana bila di kampus dalam sebuah universitas biasanya disebut dengan BAK atau Badan Administrasi Kemahasiswaan. Badan ini merupakan bagian tata usaha dari sebuah lembaga pendidikan yang berada dilingkungan kampus dalam sebuah fakultas. Dikampus FKIP juga memiliki badan ini yang juga mengurus masalah administrasi mahasiswa.

    Badan tata usaha di FKIP ini mempunyai program kerja yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di fakultas – fakultas lain, yaitu tetap mengutamakan urusan administrasi mahasiswa yang kuliah di fakultas itu. Tugas dan fungsinya sudah sangat jelas dipaparkan diatas. Karena FKIP telah berdiri lebih dari 20 tahun maka badan ini pula mungkin sudah berumur hampir menyamai umur FKIP dan telah mengalami banyak perubahan dan pergantian kepengurusan dari tahun ke tahun seiring berjalannya waktu. Dan apakah perubahan yang terjadi tersebut menuju kearah lebih baik atau malah sebaliknya .

    Kenyataannya hasil kerja yang tertampak saat ini sangatlah jauh dari apa yang diharapkan mungkin bisa dibilang tidak memuaskan karena kebanyakan para pegawainya tidak profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai pegawai tata usaha, banyak urusan – urusan administrasi mahasiswa yang tidak selesai dengan baik malahan banyak yang terbengkalai padahal sudah mengeluarkan biaya untuk mengurus keperluan para mahasiswa tersangkut masalah administrasi.

    Hal diatas di perkuat dengan survei yang dilakukan secara tidak langsung hanya dari obrolan dengan beberapa mahasiswa yang berkuliah di FKIP banyak sekali yang mengeluh dengan kinerja dari BAK ini. Padahal mereka itu sudah membayar sejumlah uang untuk membayar biaya mengurus keperluannya. Banyak pula yang mengeluhkan pelayanan yang tidak memuaskan dari pegawainya yang tidak ramah dalam melayani mahasiswanya dan sering menunjukkan ekspresi wajah yang tidak ramah, padahal yang mereka layani itu adalah mahasiswa yang memberi iuran tiap semester untuk menggajinya, dan bisa dibilang mahasiswa adalah raja, tapi menegapa mereka malah seenaknya saja dalam melakukan tugasnya, yang lebih gila lagi mereka menganggap bahwa mereka itu lebih hebat dari mahasiswa karena menikmati fasislitas vip yang disediakan oleh fakultas, mereka mendapatkan makanan yang iuran anggarannya diambil dari kami- kami ini sebagai mahasiswa yang tiap semester membayar, tetapi malah bukannya berterima kasih atas biaya yang kami keluarkan, mlah mereka seenaknya memperlakukan kami bila kami meminta tolong kepada mereka.

    Sebenarnya kami ini tidak minta lebih dari BAK, yang kami minta hanya kelancaran dan kemudahan kami dalam mengurus keperluan kami menyangkut urusan administrasi, dan pelayanan yang baik tanpa harus ada rasa dongkol di hati kami, kan bila kami lancar , pasti tidak ada masalah bukan …. ?

  39. By nurkhulis wardani on May 17, 2008 | Reply

    fkip.unlam.ac.id ??????

    dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka berkembang pula teknologi, lalu dikenallah suatu teknologi yang namanya internet dengan variasi fiturnya yang lengkap, salah satunya yaitu website.

    website adalah kumpulan file atau dokumen yang tersimpan dalam suatu server (Komputer khusus yang selalu terhubung dengan internet). Setiap file mempunyai alamat masing-masing yang dinamakan URL (Uniform Resource locators).

    Website atau situs dapat diartikan sebagai kumpulan halaman-halaman yang digunakan untuk menampilkan informasi teks, gambar diam atau gerak, animasi, suara, dan atau gabungan dari semuanya itu baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink).

    setiap universitas mempunyai website termasuk universitas lambung mangkurat banjarmasin. Sampai pada fakultas-fakultasnya pun juga mempunyai website. Penyediaan website oleh fakultas akan mempermudah mahsiswanya untuk mencari informasi terutama yang berkaitan dengan perkuliahan dan tentang kampus sendiri, dosennya, mahasiswanya, karyawannya, sistemnya, baik fisik maupun non-fisik dan lain-lain. karena manfaat sebuah website yaitu untuk segala sesuatu mulai dari pekerjaan sampai dengan memesan makanan karena prosesnya yang cepat, murah, mudah dan menyenangkan. Bahkan orang yang suka belanja sekalipun mencari produk yang diinginkan di Website. Dan tidak menutup kemungkinan dapat Membuat pengumuman atau pemberitahuan. Memberikan pelayanan kepada Customer Anda. Menerima masukan dari pengunjung/customer Anda. Membagi dan mendistribusi file dan foto. Berkomunikasi langsung dengan Customer Anda yang berada di belahan dunia manapun.

    Akan tetapi website FKIP UNLAM Banjarmasin kurang menarik bahkan tidak menarik untuk dikunjungi, karena di dalamnya tidak ada file-file isinya memberikan informasi terutama kepada mahasiswanya sendiri.

    Keadaan website fkip dapat diketegorikan miskin kreativitas. Desainnya pun tidak menarik. website fkip sama sekali tidak efektif baik untuk para mahasiswanya sendiri maupun para dosen yang mengajar,sebab website tersebut tidak sama sekali memuat ilmu yang bermanfaat bahkan ada yang kosong melompong.sebagai seorang mahasiswa saya merasa kecewa, sebab apa gunanya ada website tapi tidak ada manfaatnya.bahkan untuk desain pun website fkip tidak menarik sama sekali,kurangnya unsur kreatif menyebabkan para mahasiswanya kurang berminat untuk membuka website tersebut.

    saran untuk pengelola supaya bikin websitenya lebih hidup sehingga websitenya tidak mubazir dan tidak kalah dengan kampus-kampus lain. sebaiknya website FKIP memuat tentang berita-berita sekitar kampus yang up to date. Untuk menarik minat mahasiswa mengunjungi website dimuatlah lomba-lomba, misalnya lomba karya tulis ilmiah, lomba desain web, lomba mendesain blog, dan lain-lain…

    Website FKIP unlam sendiri seharusnya memiliki pengelola yang kompeten dibidangnya, supaya website dapat dimannfaatkan oleh kawan-kawan mahasiswa, dan ada yang mengurus website tersebut.

  40. By Rizal Hasannor on May 18, 2008 | Reply

    PROGRAM KEGIATAN BEM FKIP UNLAM

    BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) adalah organisasi mahasiswa intra kampus yang merupakan lembaga eksekutif di tingkat Universitas. Fungsi dari BEM sendiri adalah sebagai wadah bagi mahasiswa untuk berorganisasi dan mengapresiasikan segala minat dan bakatnya. Selain itu BEM juga berfungsi sebagai perantara antara mahasiswa dengan pimpinan Fakultas dan Universitas. Ada banyak kegiatan yang dilakukan BEM seperti melakukan pentas seni, mengadakan forum diskusi, membantu mahasiswa dalam pengenalan kampus (P2B), dan lain-lain.
    Seperti fakultas-fakultas lainnya, FKIP UNLAM juga mempunyai BEM sendiri dengan nama BEM FKIP UNLAM. Akan tetapi ada hal yang “menarik” dari BEM FKIP UNLAM ini yang membedakan dia dengan BEM lainnya, yaitu program kegiatannya. Jika BEM-BEM lain disibukkan dengan berbagai macam kegiatan, BEM FKIP UNLAM malah “tidur siang”. Buktinya hampir tidak ada kegiatan yang dilakukan oleh BEM FKIP UNLAM di kampus. Kalaupun ada kegiatan yang dilakukan itupun dalam rangka menyambut Dies Natalis UNLAM. Bandingkan saja dengan BEM dari fakultas lainnya BEM FKIP UNLAM masih kalah kreatif. Apalagi kalau harus membandingkan dengan BEM-BEM yang ada di pulau Jawa sana, BEM FKIP UNLAM harus angkat tangan. Memang benar telah banyak prestasi yang diraih BEM FKIP UNLAM, tetapi semua itu didapat pada masa BEM FKIP UNLAM yang terdahulu. Sedangkan pada masa yang sekarang ini jarang sekali ada prestasi yang diraih. Kalaupun ada biasanya dibidang olahraga karena FKIP UNLAM mempunyai program studi JPOG yang handal dibidang olahraga. Apakah semua prestasi yang dulu pernah diraih hanya menjadi sejarah yang manis ?
    Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi kalau anggota BEM FKIP UNLAM lebih kreatif. Mereka bisa melakukan acara pentas seni setiap minggunya sehingga mahasiswa yang mempunyai bakat dibidang seni seperti menyanyi, menari, teater dan baca puisi dapat menyalurkan bakatnya. Atau bisa juga dengan mengadakan event olahraga antar program studi. Akan tetapi kegiatan seperti ini jarang sekali bisa dilihat di kampus FKIP UNLAM. Jika ditanya kenapa hal ini bisa terjadi biasanya alasan “klasik”lah yang timbul yaitu masalah dana. Jika memang benar masalahnya terletak pada dana seharusnya anggota BEM FKIP UNLAM yang katanya orang-orang yang senang berorganisasi bisa minta dana kepada Dekan atau Rektor. Bila masih tidak dapat dana juga dari Dekan atau Rektor karena “dipersulit”, mereka bisa mencari sponsor di luar kampus.
    Semoga saja kedepannya BEM FKIP UNLAM mampu lebih maju dari sekarang. Sudah saatnya BEM FKIP UNLAM untuk berinovasi demi kemajuan peradaban fakultas FKIP UNLAM.

    Tulisan ini juga bisa dilihat di blog saya.

  41. By mini febrianti on May 18, 2008 | Reply

    PERILAKU MAHASISWA FKIP UNLAM DALAM RUANG KULIAH, PEGAULAN SEHARI-HARI, DAN DALAM LINGKUNGAN KAMPUS.

    Setiap mahasiswa FKIP UNLAM dituntut mempunyai kesadaranakan hubungan dengan Tuhannya, sebagai makhluk Tuhan yang bermoral dan berakal, setiap mahasiswa harus berprilaku yang berbeda dengan makhluk Ciptaan Tuhan lainnya. Mahasiswa FKIP pada khususnya merupakan mitra dosen dalam menjunjung tinggi dan menjaga norma dan etika pergaulan. Adapun prilaku mahasiswa di dalam ruang kuliah adalah :
    1.Tidak terlambat datang ke dalam ruang kuliah, dan harus mengikuti sampai selesai.
    2.Tidak melakukan sesuatu yang dapat mengganggu ketertiban, ketentraman, keamanan dan ketenangan ruang kuliah.
    3.Tidak melakukan sesuatu yang dapat merusak kebersihan dan keindahan ruang kuliah.
    4.Membantu menyiapakan sarana perkuliahan (mikrofon, OHP, papan tulis yang bersih, kapur tulis, spidol dan lain-lain).
    5.Mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama uraian yang disampaikan dosen.
    6.Harus bertanya mengenai materi kuliah yang belum dimengerti dengan baik.
    7.Mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen, dan mengumulnya dengan tepat waktu.
    8.Tidak keluar ruangan sebelum minta izin kepada dosen yang mengajar. Dan masih banyak lagi.

    Dalam pergaulan sehari-hari mahasiswa FKIP tidak membedakan antara teman satu dengan yang lain, mereka diajarkan luwes dalam pergaulan, hangat dan tidak dibenarkan acuh tak acuh dalam pergaulan. Saling tolong menolong dalam lingkup kegiatan positif dan tahu cara berterima kasih terhadap orang yang memberikan pertolongan. Sebagai makhluk Tuhan mahasiswa dianjurkan sesuai dengan aturan yang berlaku di FKIP untuk tidak sombong, angkuh dan takabur. Hendaknya selalu bersikap ramah tamah dan menghormati orang lain apalagi kalau ada teman yang berpapasan hendaknya saling menegur agar suasana persahabatan dan kebersamaan di kampus FKIP tetap terjaga dengan baik.
    Lingkungan hidup adalah kesatuan orang dengan semua benda, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Setiap mahasiswa pada umumya dan mahasiswa FKIP pada khususnya menyadari bahwa hanya dalam lingkungan hidup baik manusia dapat berkembang secara maksimal dan hanya dengan manusia yang baik lingkungan hidup dapat berkembang ke arah optimal. Atas dasar itu mahasiswa FKIP mempunyai kepedulian dan perhatian terhadap masalah-masalah lingkungan hidup, dan dapat mengaktualisasi dirinya untuk mencegah hal-hal yang dapat merusak lingkungan hidup terutama merasa bertanggung jawab atas kebersihan dan keindahan kampus dan sekitarnya. Untuk itu perilaku mahasiswa untuk mencegahnya dengan cara tidak membuang sampah sembarangan yang berakibat merusak keindahan kampus, dengan norma yang mengatur mahasiswa tidak melakukan perjudian, minuman keras, prostitusi. Maraknya pengedar dan pemakai narkoba yang rentan sekali dialami oleh para mahasiswa dan pelajar belum lagi pergaulan bebas yang kerap kali ada di lingkungan pergaulan mahasiswa. Dengan itu mahasiswa diharapkan mematuhi peraturan yang ada di kampus dengan berprilaku sesuai dengan aturan yang berlaku dan membentengi diri dengan norma dan nilai yang baik dalam perilaku atau sikap dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan kampus, lingkungan pergaulan di luar kampus maupun di lingkungan keluarga.

  42. By Akhmad fauji on May 18, 2008 | Reply

    DAMPAK KEDATANGAN MAHASISWA MANDIRI

    Seiring dengan kenaikan pamor fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan(FKIP)UNLAM.Karena dalam pandangan masyarakat Banjar kalau masuk kuliah ke FKIP mempunyai masadepan yang cerah dan menjanjikan.Karna setelah lulus bisa menjadi pegawai negri,dijaman serba susah ini mencari pekerjaan itu sangat susah,banyak sarjana-sarjana yang pengangguran.Maka setidaknya lulusan FKIP itu selama menunggu pengangkatan jadi PNS bisasaja menghonor,atau jadi guru bantu.Begitulah pandangan masyarakat Banjar.Selain itu untuk masa tua pun juga terjamin karena ada gaji pensiunan.

    Berakar dari semua hal tersebut,maka membludaklah para siswa yang ingin masuk FKIP.Melihat keadaan tersebut maka FKIP merupakan lahan empuk buat meraup keuntungan yang besar bagi pihak-pihak tertentu(???).
    Maka dibukalah jalur mandiri bagi siswa yang ingim masuk FKIP yang tidak lulus saat jalur PMDK maupun SPMB.Namun tentunya masuk lewat jalur mandiri ini biayanya jauh lebih mahal dari PMDK dan SPMB.Begitupun SPP yang dibayar tiap semesternya,dua kali lipat lebih mahal.

    Namun dibalik kedatangan mahasiswa mandiri tersebut menimbulkan dampak dan permasalahan dalam kampus FKIP.Yaitu timbulnya permasalahan dalam sarana dan prasarana kampus,diantaranya ruangan kelas yang tidak mencukupi,sehingga sering terjadi benturan jadwal saat ingin melaksanakan proses belajar mengajar.maka bingung untuk mencari ruangan yang kosong.Hal ini jelas sangat mengganggu dan merugikan.Yang membuat jengkel seringkali mahasiswa mandiri ini yang lebih diutamakan ketimbang mahasiswa reguler.Selain itu parkiran buat mahasiswa pun semakin membludak dan tak tertampung lagi,maka semrautlah jadinya keadaan parkiran FKIP yang sangat mengganggu pemandangan.

    Yang lebih parah dan sangat mengecewakan yaitu perlakuan para dosen yang seolah ada pembedaan antara mahasiswa mandiri dan reguler ini.Seakan mahasiswa mandiriini bak anak emas dimata dosen,terbukti dalam hal pemberian nilai pada akhir semerter.Mahasiswa mandiri ini hampir2 semuanya mendapat nilai bagus,sebaliknya mahasiswa reguler nilainya jelek-jelek.Padahal secara realita mahasiswa reguler itu pasti lebih pandai karena mereka masuk lewat tes PMDK dan SPMB yang bertarap Nasional,sedangkan mahasiswa mandiri masuknya hanya lewat kebijakan kampus saja,dan kebanyakannya yang masuk lewat mandiri ini yaitu para siswa yang tidak lulus lewat SPMB.

    Entah apa yang terjadi dari semuanya ini????Allahuawam Bissawaf(saya orang awam tidak bisa menjawab).Mungkin Bayarannya yang lebih mahal Kale…….

  43. By Muhammad Hidayat on May 18, 2008 | Reply

    INSTALASI LISTRIK DI FKIP BERMASALAH

    FKIP Unlam adalah sebuah pabrik penghasil guru yang sudah terkenal di Kalimantan, terlebih lagi Kalimantan Selatan, visi dan misi FKIP pun terpampang di depan kampus yang salah satunya menyatakan “memberikan pengetahuan dan keterampilan teknologi informasi sehingga setiap lulusan mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pendidikan”, FKIP juga mempunyai mahasiswa terbanyak dibanding Fakultas lain. Dalam masalah kurikulum FKIP bisa dikatakan sudah cukup mumpuni, tetapi dalam masalah sarana dan prasarana dalam menunjuang proses belajar mengajar di kampus masih dipertanyakan, salah satunya adalah instalasi listrik yang masih bermasalah.
    FKIP mempunyai 26 ruang perkuliahan dan semuanya dapat dipergunakan dengan baik, akan tetapi dalam setiap ruangan penggunaan alat-alat elektronik tidak maksimal, hal ini dikarenakan instalasi listrik yang tidak sempurna, dalam ruangan hanya terdapat satu kontak ke listrik padahal sekarang sudah zaman modern dimana banyak dosen sudah menggunakan laptop sebagai media dalam pembelajarannya akan tetapi kontak listrik tersebut malah tidak dapat digunakan karena rusak ataupun aliran listriknya terputus, selain itu sistem keluar masuk udara hanya dibantu kipas angin yang berdebu yang kelihatannya hanya dibiarkan begitu saja.
    Pada waktu kuliahpun mahasiswa seringkali terganggu dengan suara bising kipas angin yang berputar diatas, bahkan terdapat kipas angin yang sudah tidak mempunyai baling-baling tetapi tetap saja hidup, padahal kipas tersebut sudah tidak dapat berfungsi dan mestinya harus diganti dengan yang baru, paling tidak sebagai kampus yang dalam visi dan misinya tercantum menciptakan pendidik yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi harusnya sudah menggunakan pendingin ruangan (air conditioner). Ternyata hal seperti ini luput dari pandangan para mahsiswa dan dosennya bahkan oleh dekannya sendiri, mungkin sang pemimpin kampus jarang inspeksi ke ruangan kampusnya untuk mengetahui bagaimana sebenarnya keadaan ruangan kampus yang dipimpinnya.
    Apabila hari hujan yang diikuti mendung yang sangat dahsyat, proses belajar mengajar sangat terganggu karena dalam ruangan sangat gelap, hal ini dikarenakan lampu-lampu yang ada di ruangan tidak mampu berfungsi secara maksimal, bahkan dalam didapati tulisan “lampu luar jangan dinyalakan” hal ini menggambarkan bahwa instalasi listrik di FKIP sangat buruk, kemudian di salah satu ruangan tidak didapati lampu untuk penerangan, hal ini perlu dipertanyakan, mengapa sebagai kampus yang menghasilkan guru yang katanya mampu untuk berkompetisi di dunia pendidikan malah tidak memperhatikan sarana penunjang dalam pembelajaran, instalasi listrik di FKIP harus segera dibenahi sebab hal ini akan mengganggu dan membuat FKIP sebagai kampus yang ketinggalan zaman.
    FKIP sebenarnya mempunyai sebuah ruang multimedia yang dapat digunakan mahasiswa untuk menunjang dia untuk mencari ilmu, namun karena instlasi listrik FKIP yang buruk membuat komputer diruangan tersebut rusak, karena seringkali listrik padam saat komputer tersebut sedang online.
    Mudah-mudahan pada beberapa bulan yang akan dating instalasi listrik di FKIP benar-benar diperhatikan agar mampu menunjang proses belajar mengajar di kampus tersebut dan mampu bersaing dengan Fakultas-Fakultas lain yang notabene sudah maju dibanding FKIP, paling tidak maju dalam pemanfaatan instalasi listrik di kampusnya, siapa yang tidak senang apabila dalam perkuliahan menggunakan LCD atau Laptop yang mampu membuat mahasiswa lebih mudah mengerti tentang pelajaran yang diajarkan dosennya dan tidak perlu kepanasan lagi apabila dalam ruang perkuliahan sudah menggunakan air conditioner.

  44. By Fahrian Hefni on May 18, 2008 | Reply

    Pengelolaan sampah dan kesadaran akan kebersihan para mahasiswa
    FKIP UNLAM.

    “Sampah” sebuah istilah yang sering dikatakan orang untuk penyebutan hasil dari sisa-sisa dari barang-barang dari aktifitas mahluk hidup. Akan tetapi masalah sampah ini baru-baru ini sering menjadi pembicaraan yang hangat, bahkan sudah menjadi masalah yang sangat meresahkan orang-orang. Hal ini disebabkan dikarenakan kurangnya pengelolaan sampah itu sendiri, bahkan kurangnya kesadaran kita akan kebersihan lingkungannya. Dikatakan manusia sebagai penunjang dari kebudayaan dibumi yang mana dikatakan hidup harmonis dengan lingkungan alam sekitar, akan tetapi entah apa yang meracuni pemikiran manusia tentang kesadaran akan kebersihan sehingga mereka sudah mulai kurang sekali dalam pemeliharaan tempat tinggal maupun ditempat umum. Bahkan kita sebagai umat yang beragama islam yang mengambil dasar hukum dari dalam Al_Qur’an dan hadis yang mana dikatakan bahwa “kebersihan sebagian dari iman. Nah kalau kita sebagai umat beragama islam maka sudah sepatutnyalah kita menjaga kebersihan, karena dengan bersih kita dapat hidup sehat dan tenang.
    Mengenai masalah kebersihan ditempat-tempat menuntut ilmu, seperti sekolah, universitas, dan lain-lain. Mari kita tinjau bersama-sama apakah sudah masuk dalam kata gori bersih atau sebaliknya. Lihat saja tempat-tempat pendidikan yang dimana banyak sekali membuat tenaga-tenaga yang ahli dibidang masing-masing, apakah sudah memperhatikan kesadaran akan kebersihan.
    Untuk membuat budaya bersih ini emang sangat sulit dalam prakteknya, akan tetapi yang kita fikirkan bagai mana caranya membuat orang-orang sadar akan budaya bersih. Misalnya melakukan penyuluhan-penyuluhan, menyediakan tempat-tempat pembuangan sampah sementara yang sesuai dengan jumlah individu yang mendiami daearh itu, dan membuat tempat untuk membuat pengolah sampah yang dapat berguna lagi, misalnya menjadikan pupuk organic, dan sebagainya.
    Langkah-langkah inilah yang dapat kita gunakan di FKIP UNLAM, yang katanya sebagai pabrik para guru-guru terbesar di Kalimantan Selatan, akan tetapi di kampus itu sendiri pemandangannya masih banyak sampah_sampah yang berserakan seperti puntung rokok, kertas, bungkus permen dan lain-lain. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa yang terlibat dalam masalah ini, akan tetapi menurut saya yang perlu ditanggulangi perlu ditambah banyak tempat-tempat sampah disetiap sudut baik diruangan maupun ditempat yang biasa mahasiswa santai. Dengan metode ini mungkin bisa mengurangi sampah yang berserakan dan sedikit dapat bersih. Lalu supaya sampah itu dapat dibuang ketempat pembuangan akhir, kita buat saja tempat pembuangan akhir yang dikelola oleh Fakultas maupun Universitas yang melibatkan para mahasiswa yang ahli dibidang itu. Misalnya kita gunakan para mahasiswa Biologi dan Kimia yang katanya ahli dibidang ini.
    Dengan metode-metode ini saya fakir dapat efektif mengurangi sampah di kampus dan sekitarnya. Tergantung dari para petinggi-petinggi yang berkuasa dan berhak mengambil keputusan demi majunya pendidikan di Kalimantan Selatan.

  45. By MUHAMMAD FAUZI on May 19, 2008 | Reply

    RUMAH KACA
    Hampir selama empat tahun Saya kuliah di FKIP UNLAM Banjarmasin atau tepatnya Saya sudah duduk di semester delapan, Saya baru tahu bahwa di kampus FKIP ada rumah kaca, itupun Saya tahu setelah ngambil mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar(IAD). Cukup menarik memang setelah Saya berkunjung ke sana. Setelah Saya lihat-lihat, rumah kacanya berjumlah dua buah dan satu lagi bukan rumah kaca, tapi hanya sebuah rumah kecil yang terbuat dari kawat. Karena memang tujuan Saya untuk melakukan penelitian, maka Saya langsung melihat ke rumah kaca pertama. Di tempat tersebut banyak terdapat bibit-bibit tanaman dan pohon, ada bibit mawar, anggrek, cocor bebek, pohon lombok, kasturi, mangga, dan masih banyak lagi jenis bibit tanaman dan pohon lainnya. Di rumah kaca pertama tersebut juga ada terdapat dua buah ember besar dan dua buah botol semprot tanaman, karena pada waktu Saya ke sana tidak ada petugasnya, mungkin kegunaannya untuk menyiram bibit-bibit yang ada si sana. Ada lagi yang Saya temukan di sana, ada dua karung berisi tanah subur dan tumpukannya di lantai, mungkin itu di perlukan untuk menambah tanah pada bibit -bibit tersebut agar tambah subur lagi.
    Setelah selesai penelitian di rumah kaca pertama, Saya berpindah ke rumah kaca kedua, di tempat ini Saya menemukan hal-hal yang sama pada rumah kaca pertama yaitu banyak terdapat bibit tanaman dan pohon, begitu juga di rumah kawat banyak terdapat bibit tanaman dan pohon.
    Menurut Saya cukup menarik memang berada di rumah kaca tersebut, tetapi ada satu yang cukup menyita perhatian Saya, setelah Saya lihat-lihat ke atas atapnya, karena rumah kaca jadi atapnya terbuat dari susunan kaca-kaca , atapnya tersebut sudah tidak berbentuk seperti kaca lagi, warnanya yang dulu bening sekarang sudah berwarna gelap, tidak transparan lagi, pemandangan dari atas langitpun tak kelihatan. Entah karena alasan apa jadi nggak di bersihkan , Saya tidak tahu, Saya mau tanya, pada waktu Saya ke sana tidak ada petugas atau panjaganya.

  46. By henny suryaningsih on May 19, 2008 | Reply

    Kehadiran Ruang Multimedia di FKIP UNLAM

    Dilatarbelakangi oleh keinginan fakultas yang telah menelurkan tenaga pengajar profesional ini untuk mempergunakan dana mahasiswa demi kepentingan mahasiswa pada khususnya dan kepentingan bersama pada umumnya, bp. Drs.Daud Pamungkas selaku dosen PBSID FKIP dan juga sebagai pengelola utama ruangan ini menginginkan mahasiswa dapat merasakan uang semester yang mereka keluarkan dan juga bisa sedikit menghemat pengeluaran bulanan mahasiswa sering kebobolan setiap harus ke warnet untuk mencari bahan kuliah ataupun tugas-tugas lainnya. Dengan kehadiran ruangan multimedia di FKIP yang di dalamnya ada 10 komputer tanpa printernya yang siap meng-up date segala keinginan mahasiswa karena sudah di lengkapi dengan internet, LCD, kipas angin dan AC, kursi, meja, lemari buku, televisi 21″ , dispenser-meski hanya dosen yang mempergunakannya-juga berbagai buku. Dengan adanya ruangan yang menjadi tempat mengasyikan untuk mencari bahan karena tidak perlu bingung harus keluar uang tetapi ruangan ini juga menjadi kontrofersi, mengapa? karena ruangan ini saking lengkapnya hingga menjadi 3 fungsi sekaligus yaitu sebagai ruang internet gratis, ruang kuliah (ruang 17) juga menjadi ruangan perpustakaan PBSID atau mungkin karena multifungsi ini maka ruangan ini di sebut ruang multimedia, saya juga tidak mengerti. Jika saja fakultas lebih memperhatikan hal ini tentu saja tidak ada lagi yang terganggu kuliahnya terutama pada hari senin, selasa, jumat, dan sabtu yang lumayan padat ini karena kehadiran “pihak lain”, selain itu juga bisa mengelola perpustakaan PBSID dengan lebih baik lagi, ruangan ini bisa tertata dan terjaga kebersihannya. Ketidakadaan organisasi yang jelas atau kurang aktifnya pengurus juga bisa saja menjadi suatu hal yang sangat disayangkan, karena kehadiran ruangan ini bisa saja cepat berlalu dan hanya menjadi sejarah fakultas jika tidak segara di benahi.
    Ruangan yang seharusnya menjadi nyaman karena kelengkapan fasilitas malah menjadi sangat kotor, internet yang sempat tidak koneksi beberapa saat jika Bp. Daud tidak ada di tempat.Agar ruangan yang sudah begitu menguntungkan ini akan selalu menjadi tempat yang paling nyaman bagi mahasiswa, ruangan yang rapi, bersih, ada pemisahan ruang antara ruang internet, perpustakaan dan juga ruang kuliah (ruang 17) ada pertanggungjawaban atas semua ini, ada daftar pengguna internat dangan batasan waktu yang jelas agar dapat bergantian dangan yang lain inipun tidak terlepas dengan kesadaran mahasiswa itu sendiri menggunakan fasilitas yang sudah di sediakan fakultas.

  47. By Zul Haziah on May 19, 2008 | Reply

    Mading FKIP UNLAM

    Media massa sebagai sarana untuk menyampaikan informasi sangatlah penting keberadaanya dalam sebuah kampus, dan salah satu media informasi tertulis yang ada di FKIP UNLAM adalah Majalah Dinding (mading). Media informasi tersebut memiliki fungsi-fungsi yang menjadi landasan bahwa sebuah kampus memerlukan media informasi. Di antaranya, fungsi informative (menyampaikan informasi sekitar dunia kampus), edukatif (sebagai tempat belajar/berkreativitas), hiburan, dan kontrol social (upaya pelurusan terhadap hal-hal yang dinilai menyimpang).

    Setiap Program Study (prody) di Fakultas ini memiliki mading tersendiri, dan banyaknya jumlah papan dinding yang dimiliki oleh tiap prody bervariasi, 1 – 3 atau 4 papan dinding, dan FKIP sendiri adalah Fakultas Pendidikan yang terdiri dari 3 Jurusan, yaitu Jurusan IPS (memiliki 3 prody), Jurusan Bahasa dan Sastra (memilik 2 prody), dan Jurusan PMIPA (memiliki 4 prody), sehingga jumlah mading yang ada paling sedikit berjumlah 9 mading dengan jumlah papan dinding lebih dari 10 buah, yang tersebar di sekitar ruang perkuliahan FKIP.
    Sedangkan isi dari mading-mading tersebut kebanyakan berupa pengumuman/pemberitahuan-pemberitahuan seputar kegiatan perkuliahan, dan seruan/himbauan dan pengetahuan serta undangan kegiatan keagamaan dan keorganisasian, beberapa kreativitas seni (puisi, cerpen, dll), dan foto-foto seputar kegiatan keorganisasian/PKL, baik yang ditulis oleh redaksi mading sendiri, perorangan, ataupun dari tiap angkatan/kelas.

    Untuk masalah keteraturan pengorganisasian dan waktu penerbitannya, memang sebagian mading-mading di FKIP UNLAM ini kurang diperhatikan oleh para redaksinya, sehingga banyak mading-mading tersebut bersih dari tulisan-tulisan yang berasal dari redaksinya sendiri. Sebagai gantinya, mading-mading ini banyak memberikan berbagai informasi dan pengetahuan seputar Islam, yang banyak dimanfaatkan oleh para aktivis-aktivis dakwah kampus. Sehingga, hal-hal ataupun kegiatan-kegiatan keagamaan yang berlangsung dikampus adalah sesuatu yang sangat tidak asing bagi masyarakat FKIP, karna sosialisasinya yang banyak dilakukan melalui mading-mading tersebut.

  48. By Wiwik Norliyana S on May 19, 2008 | Reply

    ATAP DI FKIP UNLAM

    Jika kita memasuki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, terlihat bangunan berwarna kuning dengan atap berwarna biru. Khusus pada atap kampus, terlihat bagus saat kita pandang. Tapi, yang terlihat dari luar apa sama bagusnya dengan kondisi yang diperlukan dalam proses belajar mengajar pada saat terjadi hujan?

    Atap kampus secara keseluruhan memang menggunakn atap sejenis multiroof. Penggunaan multiroof memang memberi kesan bagus, tapi jika hujan turun pada saat proses belajar sedang berlangsung kesan bagus itu akan hilang. Hal ini karena air hujan yang jatuh ke atap menimbulkan suara yang sangat keras, sehingga proses belajar mengajar jadi tidak kondusif. Proses belajar mengajar yang seharusnya berjalan lancar menjadi terganggu dan tentu sangat merugikan mahasiswa.

    Apakah tidak ada alternative lain yang bisa digunakan selain menggunakan atap sejenis multiroof? Jawabannya pasti ada. Coba atap yang digunakan terbuat dari bahan yang tidak menimbulkan suara jika hujan turun misalnya menggunakan atap sirap yang terbuat dari kayu atau genteng yang terbuat dari tanah liat. Yang jelas, atap yang digunakan tidak mengganggu proses belajar mengajar.

  49. By Tria Sakti Lianti on May 20, 2008 | Reply

    Pengemis di Kampus FKIP

    Pernah dengar Pengemis masuk kampus ??????? Kampus FKIP Unlam lah tempatnya. Di sini para pengemis dapat masuk dan keluar semau mereka. Ini semakin menguatkan citra FKIP sebagai kampusnya masyarakat yang berasal dari lapisan menengah ke bawah. Hehe…
    Mereka di kampus ini bukan untuk kuliah tetapi hanya untuk meminta sedikit rezeki yang dipunyai oleh mahasiswa FKIP serta penghuni lainnya dan para “pengunjung” yang dilihatnya. Keberadaan para pengemis ini makin membuat kampus FKIP semakin kumuh. Selian para pengemis, para pemulung “kecil” pun turut memperkumuh kondisi FKIP yang memang tidak tertata rapi.
    Para pengemis ini, biasanya mencari rezeki pada hari-hari tertentu. Hari Jumat adalah hari dimana banyak pengemis dapat dijumpai di kampus FKIP. Hari jumat ini pula merupakan hari keberuntungan mereka karena pada hari jumat ini banyak mahasiswa penyetaraan yang kuliah kerena seperti yang sering saya liat biasanya mereka memberi “uang kecil”. Dengan bermodalkan kertas “pelapang dada” mereka mampu menarik belas kasihan dari orang lain. Para pengemis di FKIP biasanya adalah kakek tua, ibu-ibu serta anak kecil yang membawa buku sumbangan.
    Padahal dalam peraturan yang tertera dalam kampus FKIP siapa saja yang masuk ke ruang lingkup kampus tidak diperbolehkan memakai sandal jepit dan kaos oblong. Tapi dalam prakteknya peraturan ini tidak dindahkan sebagaimana mestinya oleh para pengemis tersebut. Pihak keamanan kampus seakan cuek saja terhadap Fenomena ini entah apa mereka merasa kasihan atau hal ini merupakan bagian dari “Bisnis” mereka juga?
    Di lain pihak keberadaan para pengemis ini juga berdampak positif lo! Karena dengan adanya para pengemis ini, para mahasiswa dan penghuni FKIP dapat memberi/menderma sebagian uang yang dimilikinya karena apa yang kita miliki kan hanya titipan dari Allah????? Betul ga?. Selain itu dengan adanya pengemis membuat kita sadar betapa beruntungnya kita dapat hidup enak tanpa meminta belas kasihan dari orang lain seperti mereka.

  50. By Riduan Saidi on May 20, 2008 | Reply

    RIDUAN SAIDI
    HIMASINDO : FASILITAS DAN KEPEDULIAN FAKULTAS

    HIMASINDO FKIP

    Himasindo (Himpunan Mahasiswa Seni Indonesia) adalah organisasi kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang seni. Latar belakang berdirinya organisasi ini sebagai wadah untuk mahasiswa yang mempunyai minat dalam bidang seni teater. Organisasi mahasiswa ini didirikan oleh para dosen Bahasa Indonesia sekitar awal tahun 90 an. Himasindo pada masa pendirian dikhususkan untuk prodi Bahasa Indonesia dan Daerah. Pada perkembangan sekarang, organisasi ini bukan milik jurusan tertentu tetapi sudah diambil alih oleh fakultas, sehingga mahasiswa yang mempunyai minat dalam bidang seni teater dapat menjadi anggota.
    Untuk menjadi anggota himasindo tidak begitu susah, hanya diperlukan keberanian tampil dimuka umum dalam berteater. Untuk mencari keanggotaan yang baru himasindo mempunyai dua cara :
    • Pengumuman
    Seperti lembaga-lembaga organisasi lainnya, bila mereka memerlukan keanggotaan yang baru. Mereka mengadakan mengadakan penerimaan anggota yang baru yaitu dengan menempelkan selebaran yang ditempel di mading kampus. Menurut mereka cara seperti ini tidak banyak mendapat anggota.
    • Rekrutmen
    Di sini para anggota yang lama, secara perorangan mengajak angkatan bawah di jurusan mereka yang dianggap cocok untuk bergabung. Cara seperti lebih banyak mendapat anggota yang baru. Yang nantinya akan menggantikan anggota-anggota lama yang akan lulus kuliah, begitu seterusnya sistem seperti ini akan terus berlanjut. Himasindo anggota tidak hanya dari kalangan mahasiswa juga alumni dari kampus ikut menjadi anggota. Para alumni lebih banyak membantu dalam bidang pengarahan dan pelatihan dalam setiap ada kegiatan.
    Kegiatan latihan yang dilakukan himasindo tidak pernah dalam kampus karena mereka selalu mengadakan latihan di gedung taman budaya. Himasindo sering di undang untuk mengisi acara seni teater yang diadakan oleh lembaga tertentu atau ikut dalam lomba teater. Kalau ada acara di fakultas, mereka mengundang pihak kesenian dari fakultas maupun univesitas lain serta kesenian masyarakat untuk tampil mengisi kegiatan.
    Yang menjadi masalah semua organisasi kegiatan mahasiswa yang ada FKIP, tidak hanya himasindo adalah masalah ruangan dan peralatan. Semua organisasi mahasiwa FKIP ruangannya sudah diambil alih menjadi gudang oleh fakultas. Padahal ruangan bagi sebuah organisasi mahasiswa penting, karena bisa digunakan sebagai tempat rapat untuk merencanakan kegiatan, supaya orang-orang yang ingin mendaftar atau ingin sekedar ingin tahu tentang himasindo ini mudah menghubungi, dan sebagai tempat menyimpan alat-alat yang dimiliki.
    Dalam pendanaan himasindo tidak mempunyai pemasukan untuk tiap bulannya. Mereka akan mendapat dana bila mengajukan proposal untuk mengadakan kegiatan. Tetapi lebih baik kalau setiap organisasi kegiatan mahasiswa yang ada di setiap fakultas mendapat dana tiap jangka waktu tertentu, misalnya tiap per bulan atau per semester yang bisa disimpan sebagai kas. Sehingga kalau ingin mengadakan acara atau kegiatan tidak perlu mengajukan proposal lagi, cukup menggunakan kas yang ada.
    Fakultas seharusnya peduli dalam setiap organisasi yang dibentuk mahasiswa, baik dalam pengadaan ruangan sekretariat, pendanaan, peralatan serta fasilitasnya. Tiap kegiatan yang dilakukan mahasiswa pasti ada manfaatnya, baik bagi fakultas, univesitas, masyarakat, serta mahasiswa itu sendiri.

  51. By Novi Ariyanti on May 20, 2008 | Reply

    KETERBATASAN RUANG KULIAH DI FKIP

    Sebagai salah satu fakultas yang ada di Universitas Lambung Mangkurat, FKIP merupakan fakultas favorit yang menampung ribuan mahasiswa. Di fakultas ini mahasiswa dididik dan diajarkan untuk menjadi seorang guru yang profesional dan berkompeten di bidangnya.
    FKIP yang merupakan ‘pabrik’ guru seharusnya mempunyai fasilitas yang lengkap dan memadai guna terciptanya output yang berkualitas, namun dalam kenyataannya tidak demikian. FKIP yang mempunyai mahasiswa kurang lebih 6000 orang hanya memiliki 32 ruangan kelas saja. Jumlah yang tidak sebanding tersebut tentu saja menimbulkan masalah-masalah diantaranya seringnya terjadi perebutan ruang kuliah antar jurusan dan mahasisiwa. Lalu kemana dana yang berasal dari 6000 mahasiswa tersebut? Mahasisiwa FKIP yang terbagi dalam mahasiswa regular dan mandiri tersebut sudah pasti banyak menyumbangkan dana atau lebih tepatnya membayar untuk dapat kuliah di FKIP. Sudah tentu menjadi hak mereka untuk mendapatkan fasilitas yang memadai dan cukup, salah satunya tersedianya ruang kelas.

    Masalah yang muncul

    Akibat kurangnya ruang kuliah di FKIP UNLAM, sering terjadi konflik kecil antar mahasiswa bahkan dosen karena memperebutkan ruang kuliah. Akibatnya kelompok mahasiswa yang mengalah tidak dapat menjalankan perkuliahan di dalam ruang kelas dan jadwal kuliah mereka ada yang berubah jam dan ruangannya. Untuk mensiasatinya sebagian dosen biasanya menjalankan perkuliahan di luar ruang kelas (out door). Kadang, hal ini kurang efektip karena konsentrasi mahasiswa tidak terpokus sepenuhnya dengan perkuliahan akibat lingkungan sekitar yang ramai. Masalah-masalah seperti itu tidak akan terjadi apabila dana yang diperoleh dari iuran dan sumbangan mahasiswa digunakan untuk penambahan ruang kuliah.

  52. By M. Yumni Rasyid on May 20, 2008 | Reply

    AULA FKIP UNLAM
    Aula adalah tempat atau sarana yang cocok untuk berkumpul, saling bertukar pendapat serta mengadakan pertemuan. Akan tetapi ada beberapa hal yang bias mempengaruhi kegiatan proses belajar apabila aula tersebut tidak memenuhi syarat atau ketentuan layak nya sebuah aula yang baik. Hal inilah yang saya lihat di aula FKIP UNLAM yang mana sarana dan prasarana nya sangat kurang sekali
    Dari segi tata ruang menurut saya tekhnik atau cara pembuatan bangunan tersebut tidak tertata rapi penataan sirkulasi udara. Sehingga mempengaruhi suara atau soundsistem yang keluar menjadi kurang jelas didengar dan membuat terganggu jalannya diskusi
    Kekurangan yang lain yang saya lihat adalah masalah pendingin ruangan, dengan kipas angin yang terbatas itu juga dapat mempengaruhi jalannya diskusi, dengan keadaan yang panas dan pengap membuat konsentrasi jadi terganggu
    Dari segi letak dan tempat aula FKIP tidak strategis karena dimuka aula terdapat tempat parkir yang menurut saya membuat pemandangan nya kurang bagus dan keliatan tidak rapi serta tidak enak dipandang. Akan tetapi dengan adanya aula FKIP kita bias mengadakan acara-acara yang bisa dikatakan jumlah atau peserta nya yang lebih besar yang busa memuat mahasiswa-mahasiswa yang berhadir .
    Jadi alangkah baiknya aula yang ada kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya serta dijaga kebersihannya agar lebih berguna kelak bagi generasi penerus kita selanjutnya

  53. By Chairi Ramadhan on May 20, 2008 | Reply

    DOSEN SEJARAH (IBU SRI)
    Assalamuallaikum wr.wb
    Dosen??dosen adalah pengajar sekaligus penidik di kampus, saya mengambil tema dosen sejarah, karena saya mahasiswa kampus FKIP unlam, selama dua tahun trakhir ini begitu banyak hari-hari yang saya lalui, dan saya sudah mulai sedikit demi sedikit mengenal bagaimana sifat dan karekter dosen dosen saya, antara lain ibu Sri Widayanti, beliau adalah dosen sejarah indnesia I dan II cara mengajar beliau lain dari yang lain, ibu mempunyai metode dan strattegi mengajar yang pada awalnya kurang saya mengerti bagaimana cara penilaian beliau dalam memberikan penilaian, saya waktu semester I mengambil mata kuliah Indonesia I an nilainya E. E berarti tidak mempunyai nilai, semester II pun nilai saya E, saya bingung dan terus berpikir bagaimana cara mendapatka nilai yang bagus walau yang saya harap nilai C pun cukup memuaskan tapi alangkah baiknya A. walau beliau tua tapi ingatan beliau kuat, dan bagi saya itu kuat sekali.
    Pada waktu semester I habis ternyata saya mengoreksi diri beliau melakukan penilaian pada mahasiswa tidak semata tugas yang diberikan tetapi sikap, adab, dan kesopanan saat beliau memberikan pelajaran, saya ingat pada wakyu semester satu pada awal beliau masuk dan mengajar pada wakyu iti saya ketiduran tapi saya tidak bermaksud untuk tidur, lalu saya disuruh maju kedepan waktu di depan beliau tdak menghukum saya melainkan beliau hanya berkata “ kamu kenal ga dengan teman sekelasmu ini???saya bilang kenal, sejak saat itu nilai saya hancur,. Kesan pertama harus semaksimal mungkin, itulah kata-kata yang baik buat saya karena pertemuan saya dengan beliau tidak bagus, itulah sebabnya nilai saya anjlok. Saya juga koreksi diri kemampuan berpikir saya kurang walaupun saya sudah mendengarkan apa yang diajarkan dan dikatakan oleh beliau. Tetapi saya tidak menyerah begitu saja, dan pada waktu semester II saya mengambil lagi mata kuliah beliau, dan pada semesterini saya mencoba berubah agar tidak tidur di kelas lagi, tetapi nilai akhir di KHS saya tidak berubah yaitu E, dan semester III say kembali mengambil mata kuliah beliau, karena saya penasaran dengan nilai beliau berikan pada saya, alhasil nilai di KHS saya tidak mengalami perubahan yaitu E lagi.
    Tulisan saya ini tdak bermaksud apa-apa jikalau beliau membaca tulisan saya ini saya harap ibu tidak marah dan tersinggung, tapi pada kenyataan memang seperti itu terima kasih.

  54. By MARTINA on May 20, 2008 | Reply

    BAZAR FKIP
    Bazar adalah suatu kegiatan pencarian dana berupa pasar murah yang hanya dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu atau bersifat insidentil. Salah satu contoh bazar dapat kita jumpai di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Bazar ini dikelola oleh mahasiswa FKIP dengan meminta izin dan persetujuan pada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP.

    Berdasarkan pengelolaannya, bazar yang diselenggrakan di FKIP terbagi dua. Yang pertama adalah bazar yang dikelola oleh mahasiswa yang berasal dari berbagai program studi FKIP. Mereka tergabung dalam Forum Studi Islam Al-Furqan (FSI Al-Furqan) yang biasanya menyelenggrakan bazar setiap 2 bulan sekali. Tujuan diselenggarakannya adalah untuk memperoleh dana bagi kelangsungan organisasi FSI Al-Furqan itu sendiri. Yang kedua adalah bazar yang dikelola oleh mahasiswa per program studi. untuk jenis pengelolan bazar per program studi , sekarang ini baru ada 1 program studi yang mengelola, yakni program studi Fisika. Bazar program studi Fisika ini tergabung dalam Physics Islamic Center Al-Hidayah (PIC Al- Hidayah). Bazar PIC Al-Hidayah diselenggarakan hanya pada momen-momen tertentu. Dan tujuan diselenggarakannya adalah untuk mencari dana agar semua program kerja PIC dapat terlaksana.

    Para anggota bazar FSI Al- Furqan dan PIC Al- Hidayah menyelenggarakan bazar di dalam dan di sekitar kampus FKIP. Mereka memasang tenda-tenda dan menyusun meja-meja serta kursi untuk tempat berjualan. Barang-barang yang mereka jual berupa buku-buku yang berkaitan dengan pengetahuan islam dan novel-novel islami. Selain itu mereka juga menjual kerudung, jubah, kaos kaki dan pernak-pernik lainnya seperti gantungan hp, gantungan kunci, jepit rambut dan bros-bros cantik.

    Barang-barang tersebut mereka dapatkan melalui kerjasama dengan toko buku Al-Azhar dekat kampus STIE dan toko Al- Bayan dekat Tulip. Mereka tidak membeli barang-barang tersebut, tetapi mereka hanya menjualkan dengan sistem bagi hasil. Beberapa persen dari keuntungan barang yang laku terjual diterima oleh mereka
    Anggota bazar FSI Al-Furqan dan PIC AL-Hidayah menjaga bazar secara bergantian. Mereka menyusun jadwal jaga agar tidak terjadi kekosongan penjaga karena jadwal kuliah. Hampir sebagian besar dari anggota bazar FSI Al-Furqan dan PIC Al-Hidayah adalah mereka yang bejubah dan berkerudung lebar bagi para anggota wanitanya yang dalam istilah mereka disebut “Akhwat”. Dan bagi anggota laki-laki biasanya memakai celana panjang berbahan kain dan baju koko yang disebut dengan istilah “Ikhwan”. Anggota wanita bertugas menjaga bazar, sedangkan anggota laki-laki bertugas memasang tenda, mengangkat meja dan kursi untuk berjualan serta mengangkat barang

    Ketika dikonfirmasikan , apakah anggota pengelola bazar harus mereka yang memakai jubah dan kerudung lebar? Jawabnya tidak. Siapa saja boleh menjadi anggota. Tetapi menurut mereka para mahasiswa lain yang tidak menggunakan jubah dan kerudung lebar sulit untuk diajak masuk organisasi-organisasi keagamaan kampus seperti Lembaga Dakwah Kampus (LDK), FSI Al-Furqan, PIC Al-Hidayah dan lain-lain. Karena salah satu syarat untuk menjadi anggota pengelola bazar harus bergabung terlebih dahulu dalam organisasi-organisasi keagamaan kampus dan harus mengikuti kegiatan-kegitan yang diadakan.

    sBagi anggota pengelola bazar FSI Al-Furqan dan PIC Al-Hidayah keuntungan yang mereka dapat dari penyelenggraan bazar tersebut bukan hanya materi tetapi juga pengalaman dalam berbisnis, mendapatkan kepercayaan dan menambah banyak relasi. Sedangkan bagi para mahasiswa lain, keberadaan bazar dapat membantu dalam memperoleh barang-barang yang menarik tanpa perlu pergi jauh-jauh ke tempat-tempat perbelanjaan. Selain itu keberadaan bazar dapat menjadi sarana refresing bagi mahasiswa lain di sela-sela jadwal kuliah. Para mahasiswa dapat membeli asesoris-asesori cantik atau hanya sekedar melihat-lihat saja.

  55. By santy Dwi Pratiwi on May 21, 2008 | Reply

    BEASISWA DI FKIP
    Beasiswa adalah bantuan dana yang diberikan dari suatu lembaga pendidikan (sekolah/ Universitas) kepada peserta didik secara perorangan. Sebagai lembaga pendidikan di FKIP terdapat. program beasiswa. Program beasiswa ini bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam proses pendidikanya di bidang keuangan. Bantuan ini diberikan secara Individu/ bukan kelompok.
    Di FKIP setiap mahasiswa dari berbagai program studi mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa. di program studi Sejarah angkatan 2005 ada 3 orang yang mendapatkan beasiswa.
    Beasiswa yang terdapat di FKIP yaitu: Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik(PPA), Beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa(BBM), Beasiswa BRI, Beasiswa INDOCEMEN, dan Beasiswa Supersemar. Untuk memperoleh beasiswa – beasiswa tersebut, ada syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh Mahasiswa yang mengajukan, berikut akan dilampirkan syarat – syarat dan keterangan dari jenis – jenis beasiswa yang terdapat di FKIP.

    Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA)
    PPA merupakan beasiswa yang diperuntukkan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi akademik baik.
    Syarat – syarat:1. IPK 2,75
    2. Mengisi Formulir
    3. Fotokopi KTM
    4. Pas Photo (2×3 dan 3×4 masing – masing 2 lembar)
    5. Mengisi Transkip yang di bawahnya ditandatangani Dekan
    Beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM)
    BBM merupakan beasiswa yang yang ditujukan kepada mahasiswa yang tidak mampu.
    Syarat – syarat:1. IPK 2,50
    2. Mengisi formulir
    3. Fotokopi KTM
    4. Pas Photo (2×3 dan 3×4 masing – masing 2 lembar)
    5. Mengisi Transkip yang dibawahnya ditandatangani Dekan
    6. Fotokopi Kartu Keluarga
    7. Menyertakan Surat keterangan Tidak mampu dari RT setempat.
    Beasiswa Supersemar
    Supersemar merupakan beasiswa yang diberikan dari Universitas kepada mahasiawa yang berminat mendapatkan beasiswa. Untuk mendapatkan beasiswa ini mahasiswa mengurusnya ke Rektorat.
    Syarat – syarat: 1. IPK 2,50
    2. Fotokopi Ktm
    3. Keterangan Penghasilan Orang Tua tidak mampu.
    4. Pas Photo (2×3 dan 3×4 masing – masing 2 lembar)
    5. Mengisi Transkip yang di bawahnya ditandatangani Dekan.
    Beasiswa BRI dan Beasiswa Indocemen
    Beasiswa BRI dan Beasiswa Indocemen adalah beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa bukan dari Universitas/ Fakultas melainkan berasal dari lembaga pemerintahan/ perusahaan.

    Besarnya dana yang didapatkan dari beasiswa – beasiswa tersebut adalah 1 juta rupiah/ 4 bulan, 3 kali dapat dalam setahun. Dana ini mengalami peningkatan rp. 160.000. sebelumnya beasiswa rp. 840.000. para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa diharuskan hadir untuk mengikuti upacara hari besar nasional dan mengikuti seminar – seminar.

  56. By hadi rahman on May 21, 2008 | Reply

    Aktivitas Pembangunan di FKIP

    FKIP atau Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dewasa ini telah banyak diminati, terlihat dari banyaknya mahasiswa yang diterima dari tahun ke tahun. Sekarang kira-kira jumlahnya sudah mencapai lebih dari 6.000 mahasiswa. Karena banyaknya kadang terjadi kesulitan untuk mencari ruang kuliah yang kosong. Makanya oleh karena itu sekarang ini di FKIP tengah nampak pembangunan ruang-ruang atau bangunan-bangunan baru untuk menunjang dan menampung banyaknya jumlah mahasiswa.
    Aktivitas pembangunan ini biasanya berjalan siang hari dan kadang-kadang berbarengan dengan aktivitas kuliah. Biasanya kalau sudah begitu maka terganggulah konsentrasi kuliah karena kebisingan dan keributan suara mesin atau aktivitas tukang.
    Suatu hari ketika saya masuk salah satu mata kuliah, seorang dosen yang kebetulan mengajar di kelas saya menampakkan ekspresi ketidaksukaan dan merasa terganggu karena ada suara tukang sedang bekerja, ketika itu beliau sedang memberi kuliah, dan akhirnya apa yang beliau kuliahkan kurang bisa didengar.
    Mungkin civitas kampus dewasa ini tidak terlalu memikirkan masalah ini dan juga tidak ada komplain dari civitas kampus tentang keadaan aktivitas pembangunan itu yang mengganggu proses belajar mengajar, tapi insya Allah semoga itu ada perhatian dan diberikan solusinya.

  57. By setiyadi on May 21, 2008 | Reply

    Mahasiswa dan Beasiswa

    Banyak jenis bantuan yang ditawarkan untuk membantu biaya perkuliahan bagi mahasiswa dalam bentuk beasiswa. Untuk mendapatkan beasiswa , mahasiswa harus lah mengajukan permohonan kepada fakultas dulu lalu seterusnya diusulkan kepada universitas, selain itu juga mahasiswa harus memenuhi pesyaratan yang telah ditentukan oleh pihak yang berwenang. Dana yang didapat cukup besar untuk membantu biaya perkuliahan mahasiswa yang bersangkutan. Namun pada kenyataannya, seperti yang terjadi di kampus FKIP Unlam Banjarmasin, tidak sedikit mahasiswa penerima beasiswa yang menyalahgunakan uang beasiswa tersebut untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan kegiatan kuliah. Uang yang didapat tersebut digunakan untuk kegiatan yang tidak bermanfaat dan berfoya-foya. Mengapa hal seperti ini dapat terjadi?

    Jika dilihat lebih teliti, mahasiswa-mahasiswa yang seharusnya lebih pantas menerima beasiswa tersebut adalah mahasiswa yang berprestasi namun juga mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya kuliah. Tidak sedikit mahasiswa yang kuliah di FKIP Unlam berasal dari keluarga yang tidak mampu atau lemah dalam segi ekonomi, yang tentu saja dengan tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Oleh karena itu, pihak fakultas yang bertugas mengajukan siapa-siapa saja mahasiswa yang berhak menerima beasiswa kepada universitas sebaiknya dapat memberikan kebijakan, khususnya untuk mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi tentunya.

  58. By Siti Nurhapsah on May 21, 2008 | Reply

    Kotak saran yang tidak berfungsi

    Sering kali kita bolak-balik melewati ruang BEM FKIP, tetapi hanya melihat sekilas keberadaan kotak saran yang berada didepan ruang BEM tersebut. Kotak saran sudah diletakkan ditempat yang strategis, agar terlihat jelas untuk dipergunakan, tetapi kegunaanya masih dipertanyakan. Seperti kita ketahui kotak saran berfungsi untuk tempat mahasiswa menyampaikan aspirasi secara tertulis, akan tetapi sepertinya tidak ada mahasiswa yang peduli. Padahal kotak saran itu diperuntukkan untuk semua warga FKIP yang peduli akan kondisi FKIP. Dengan tidak berjalannya fungsi kotak saran tersebut,berarti warga FKIP tidak ambil pusing dengan keadaan FKIP dan segala masalahnya. Ikut mengalir saja, cuek dengan situasi yang ada. Yang ada dipikiran mahasiswa, kekampus hanya jika ada mata kuliah.
    Sebenarnya di FKIP banyak terdapat kotak saran yang keberadaannya di pisah-pisah. Satu kotak saran saja tidak ada isinya, hanya debu dan sarang laba-laba yang betah berada di dalamnya. Apakah kotak saran hanya sebagai pajangan dan pelengkap saja?.
    Kotak saran tidak hanya digunakan untuk mengkritik keberlangsungan FKIP, tetapi dapat memberikan saran-saran yang membangun untuk FKIP kedepannya. Sebagai mahasiswa yang kuliah di FKIP sudah seharusnya kita peduli dengan kampus kebanggaan kita. Dengan menyampaikan pesan atau kritik melewati kotak saran, berarti sudah ikut berpartisipasi untuk kemajuan FKIP.

  59. By Dewi Komalasari on May 21, 2008 | Reply

    WC IDAMAN FKIP UNLAM , KAPAN ?

    WC adalah tempat paling vital dalam kegiatan sehari-hari,karena disinilah kita membuang hajat kecil maupun hajat besar.Walaupun sebenarnya tempat ini hanyalah untuk membuang yang kotor-kotor,tetapi tidaklah tempat yang dikenal dengan nama kakus alias jamban ataupun WC ini tidaklah harus kotor,kerana kepribadian seseorang itu dapat dinilai dengan meliat bagian rumahnya khususnya WC bersih atau tidak jadi sebenarnya WC adalah cermin seseorang yang memilikinya.
    Dengan kata lain WC merupakan bagian terpenting dalam hidup kita tidak hanya dirumah saja tetapi setiap tempat umum selalu mempunyai WC seperti saja di Universitas Lambung Mangkurat khususnya di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan tetapi sangat disayangkan Fakultas pencetak calon-calon guru ini hanya mempunyai 6 WC, 2 WC untuk dosen dan 4 WC untuk mahasiswa FKIP yang tercatat sekarang kurang lebih 600 mahasiswa menggunakannya,ya rata-rata dalam satu WC yang menggunakanya rata-rata 150 mahasiswa begitu memilikannya keadaan ini. Bagaimana tidak kotor orang yang memakai seabrek banyaknya sedangkan fasilitasnya secuil ditambah lagi jarangnya petugas kebersihan yang dibayar oleh Fakultas membersihkan Wcdengan lumut dimana-mana, air yang mungkin tidak pernah dikuras karena seringnya ditemukan ampas dari endapan air mungki kalau ditimbang bisa sekilo beratnya,apalagi bau dari WC tersebut sampai keruangan-ruangan kuliah yang berda bersebelahan dengan WC,waduh bisa bubar perkulahan gara-gara bau WC.Tetapi bersyukurlah sedikit karena Dekan yang baru memperhatikan itupun atas usulan seorang Dosen,walaupun gak bagus-bagus amat direhabilitasi tetapi ya kembalilah lagi karena fasilitas sedikit yang memakai banyak tetaplah WC itu kembali kumunya setelah beberapa bulan direhabilitasi.
    Kapan FKIP punya WC seperti yang ada di Duta Mall yang sangat bersih harum dan sesuai kebutuhan pengunjung.Apakah kami mahasiswa harus membayar setiap mau buang hajat di WC seperti WC yang ada Di Duta Mall agar WC FKIP terpelihara kebersihan tambah Fasilitas WC nya.

  60. By Ni Luh Sri Arsini on May 21, 2008 | Reply

    PERPUSTAKAAN PSP SEJARAH

    Bila kita pergi keperpustakaan, pemandangan yang kita dapati adalah berbagai jenis buku dalam jumlah yang banyak, sehingga perpustakaan sering disebut sebagai gudangnya ilmu. Perpustakaan sangat diperlukan oleh masyarakat Indonesia, terutama para pelajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan selain dari sekolah. Perpustakaan banyak dibangun oleh pemerintah dengan tujuan utama mencerdaskan anak bangsa.

    Di Universitas Lambung Mangkurat ini, terdapat FKIP jurusan Pendidikan Sejarah yang juga memiliki perpustakaan sendiri. Perpustakaan PSP Sejarah ini memiliki ruangan yang cukup sempit, sehingga mahasiswa yang dapat masuk ke dalam untuk membaca atau meminjam buku hanya sedikit karna keterbatasan tempat. Buku-buku yang ada perpustakan pun jumlahnya belum terlalu banyak terkadang buku-buku yang diperlukan tidak terdapat diperpustakaan, sehingga harus mencari keperpustakaan lain. Biaya untuk penambahan jumlah buku-buku tersebut berasal dari kas prody, atau juga sumbangan dari para dosen dan mahasiswa dalam bentuk buku. Di sini terlihat adanya kerjasama antara mahasiswa dan dosen untuk pengembangan perpustakaan tersebut. Perpustakaan PSP Sejarah ini dilengkapi dengan 2 unit komputer yang dapat digunakan oleh semua masyarakat jurusan sejarah FKIP UNLAM.

    Keberadaan perpustakaan ini tentu saja sangat membantu dosen dan mahasiswanya dalam mencari bahan untuk tugas perkuliahan. Pengembangan perpustakaan ini terus dilakukan dengan tujuan dapat membantu dalam perkuliahan, terutama dalam pemenuhuan keperluan dosen dan mahasiswa akan adanya leteratur-literatur sehingga buku-buku yang diperlukan mudah diperoleh.

  61. By Ganda Resnadi on May 21, 2008 | Reply

    Kafetaria Kampus II FKIP UNLAM Banjarmasin
    Jendela = Pintu
    Dalam sejarahnya, pada awalnya manusia menggunakan gua-gua sebagai tempat tinggal. Gua yang memiliki pencahayaan yang cukup, tidak jauh dari sumber air, serta tidak mudah dijangkau oleh binatang buas. Gua digunakan sebagai tempat tinggal dimana mereka melakukan segala aktifitas kehidupan di dalamnya mulai dari makan dan membuang sisanya (karena mereka belum mengenal tempat sampah), istirahat, melahirkan, sampai buang air. Seiring dengan perkembangan pola pikir manusia yang selalu melakukan adaptasi dengan lingkungannya, manusia kemudian mendapatkan pemikiran tentang sebuah tempat tinggal yang lebih nyaman. Manusia kemudian mengenal rumah sebagai tempat tinggal
    Rumah memiliki bagian-bagian yang lebih spesifik dengan fungsi-fungsi yang terdapat di dalamnya. Ada ruangan tempat tidur, ruang makan, dan sebagainya. Selain itu, rumah juga memiliki pintu dan jendela yang fungsi-fungsinya ada terdapat perbedaan, seperti pintu sebagai akses keluar-masuk dan sebagai sarana untuk menghalangi binatang masuk. Jendela juga memiliki fungsi untuk mempermudah sirkulasi udara dan sebagai pengontrol pencahayaan dalam rumah.
    Berdasarkan perkembangan kebudayaan di atas, ada sebuah hal yang sangat bertolak-belakang yang terjadi di Kampus II FKIP UNLAM Banjarmasin. Mengapa?
    Kemarin, saat kami ada kuliah di Aula Kampus II, ada sebuah pemandangan yang sangat aneh. Ada mahasiswa yang keluar dari jendela salah satu ruangan, bahkan tidak hanya itu, mahasiswi dan bapak-bapak (entah dosen atau bukan) juga keluar dari jendela tersebut. Ada apa dengan cinta?
    Setelah diselidiki, ternyata ruangan tersebut adalah kafetaria. Mengapa harus lewat jendela? Apakah tidak ada pintu?
    Pintu yang ada di bagian depan kafetaria digembok dari luar, dan akses untuk masuk ke kafetaria hanyalah pintu yang ada di bagian belakang (letaknya di luar pagar) dan jendela yang ada di sekelilingnya. Untuk dapat masuk melalui pintu belakang, kita harus berputar dulu ke gerbang depan, baru kemudian ke bagian samping kampus. Karena terlalu jauh dan (mungkin) pengelola takut kehilangan pelanggannya, maka jendela pun dibuka selebar-lebarnya dan disediakan sebuah kursi (yang sering kita gunakan untuk kuliah) di bawahnya agar dapat dengan mudah dipanjat oleh pelanggannya tersebut.
    Kalau dibandingkan dengan kebudayaan orang Eskimo yang memiliki rumah Iglo, yang akses keluar-masuknya hanya satu, sepertinya tidak relevan. Orang Eskimo hidup di Kutub Utara yang suhunya sangat dingin sehingga mereka membangun rumahnya seperti itu dengan tujuan agar suhu yang ada di dalamnya lebih tinggi. Kalau kita? Pintu sudah disediakan dan jendela juga punya fungsi sendiri. Kalau kunci gemboknya hilang, mengapa tidak diganti dengan gembok yang baru? Atau mungkin ingin kembali seperti manusia gua (cave-man)?

  62. By Randy Ahmad on May 21, 2008 | Reply

    IMPAS B(Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Seni dan Budaya)

    IMPAS B merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dan mengarah pada alam, seni dan budaya. Berdirinya organisasi ini dilatar belakangi akan kesamaan visi dan misi para mahasiswa yang mencintai alam, seni, dan budaya. Di sini merupakan wadah para mahasiswa untuk menuangkan kreativitas dan hobinya. banyak kegiatan yang dilakukan para anggotanya, seperti pendakian, penelusuran goa-goa, dan berbagai macam kegiatan lainnya. Pada mulanya organisasi ini didirikan oleh kawan-kawan mahasiswa dari Program Study Pendidikan Sejarah, seiring perkembangan kampus FKIP UNLAM, maka organisasi ini diambil alih oleh fakultas. Mengenai perekrutan anggotanya biasanya dilakukan oleh para senior atau kaka tingkat, mereka pada awalnya memperkenalkan organisasi ini pada masa awal-awal perkuliahan.
    Namun organisasi ini memiliki berbagai macam kendala, seperti masalah ruangan kegiatan, karena organisasi ini tidak memiliki ruangan yang jelas. Masalah lainnya adalah masalah pendanaan dan peralatan. Pada saat ingin melakukan kegiatan, mereka harus mencari dana kesana-kemari tidak jelas, belum lagi masalah perlatan yang digunakan untuk melakukan kegiatan masih dirasa sangat kurang. Masalah-masalah tersebut tentu saja menjadi batu sandungan bagi berlangsungnya kegiatan organisasi ini. Kurangnya perhatian dari fakultas juga sangat menghambat aktifitas dan kreatifitas kawan-kawan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ini. Seharusnya fakultas harus mendukung apa saja yang menjadi kegiatan organisasi ini. karena tanpa adanya dukungan dan kepedulian dari fakultas, maka organisasi ini tidak mampu berbuat banyak untuk melaksanakan tujuan dari organisasi tersebut.

  63. By dharma setyawan on May 22, 2008 | Reply

    Bangunan Baru di FKIP 1 Banjarmasin, mungkinkan penyebab banjir…?

    FKIP Unlam, sebuah fakultas yang dapat dikatakan sebagai Fakultas “terkaya”, coba kalkulasikan saja jumlah mahasiswa dikalikan dengan dana dari mahasiswa persemester (baca: jalur mandiri), jawabannya tentu sama dengan “banyak”. Sebagai wujud manifestasi kekayaan tersebut maka dibangunlah bebarapa gedung baru di sekitaran FKIP 1, yaitu, Kantin, Ruang Aula, dan Ruang Perkuliahan yang di dalamnya juga terdapat Ruang Program Studi.

    Gedung Aula Hasan Bondan dan Ruang Pekuliahan Baru

    Arsitektur merupakan suatu bidang ilmu tentang seni bangunan yang didalamnya tercakup bebagai aspek seperti sosial, budaya dan ekonomi sebagai konsep dari perancangannya, dan esensi dari arsitektur ini adalah hasil budaya dari suatu peradaban Dari pemahaman tersebut, artinya sebuah bangunan, apalagi bangunan publik selayaknyalah mewakili daripada kebudayaan lokal yang berkembang selaras dengan kondisi setempat, sesuai dengan sumberdaya yang tersedia.

    Mengingat bahwa kampus kita tercinta sering calap (kebanjiran). Tentunya hal ini bukan hanya di akibatkan dari faktor alam, namun juga peranan kesalahan manusia (human error) mempunyai andil besar dalam kasus ini. Misalnya saja apabila manusia itu belum faham betul mengenai local genius masyarakat banjar dalam mendirikan sebuah bangunan.

    Melihat keadaan geologis kota Banjarmasin yang memiliki kelerengan 0,13% dengan susunan geologi terutama bagian bawahnya didominasi oleh lempung dengan sisipan pasir halus dan endapan uluvium yang terdiri dari lempung hitam keabuan dan lunak di lengkapi dengan kondisi tanah sebagian besar terdiri dari rawa-rawa tergenang air agaknya beralasan jika dulunya masyarakat Banjarmasin membuat bangunan panggung atau menggunakan pondasi cakar ayam sebagai solusi dalam membijaksanai keadaan alam di sekitarnya. Sehingga komposisi geologis tidak banyak berubah, ini juga berakibat positif yaitu sanitasi kota tidak terganggu, dengan banyaknya lahan penampung air alami, maka kemungkinan untuk mengalami kebanjiran terminimalisir.

    Bagaimana dengan pembanguan kedua gedung baru milik FKIP unlam Banjarmasin? apakah para pengambil kebijakan (deciation maker) juga melihat hal ini sebagai kekayaan budaya yang mestinya ditiru? melihat apa yang terjadi (kebanjiran), tentu kita dapat mendeteksi ada sebuah kesalahan yang mestinya tidak terjadi. Orang banjar yang bijak, ia tidak akan menguruk tanah rawa yang menjadi lahan serapan air dengan tujuan supaya tidak kebanjiran, orang banjar yang bijak, tidak akan melihat sesuatu dengan pragmatis, untung rugi. Dengan kata lain saya menilai bahwa teknik pembangunan kedua bangunan tersebutlah yang menyebabkan timbulnya genangan air dikala hujan lebat.

    Memang betul membangun bangunan ditanah rawa, punya “kelebihan” yaitu kelebihan mahal secara material. Namun jika kita bisa melihat kedepan, bangunan akan lebih terjamin ke-awetannya, kerugian akibat banjir juga dapat dihindari, belum lagi masalah kerusakan ekosistem, Ini hanya sebuah gambaran, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap local genius yang ada

  64. By HELMA NOVIEANTY on May 22, 2008 | Reply

    Nasib Malang Sang Taman

    Sungguh ironis, keberadaan taman kampus di FKIP Unlam yang semestinya menyejukkan pandangan mata dan menyegarkan pikiran para mahasiswa, dosen dan karyawan FKIP malah membuat sumpek suasana, bahkan terkesan seperti hutan, kenapa? Bisa kita lihat sendiri kalau kita datang ke kampus FKIP, inginnya habis kita selesai kuliah sembari menunggu jam perkuliahan berikutnya tentunya kita ingin istirahat sambil menikmati pemandangan di sekeliling kampus seperti taman yang indah, wangi dan sejuk untuk menyegarkan mata dan pikiran. Tapi yang tampak hanyalah taman yang kurang terawat, tanahnya gersang serta banyak daunnya yang sudah mati.

    Kita lihat saja bunga-bunga yang ada di halaman kampus, bunga dan daun-daun yang sudah mengering dibiarkan begitu saja. Di halaman kampus juga tumbuh beberapa pohon, seperti pohon mangga dan akasia yang tumbuh seenaknya tidak ditata hingga menimbulkan kesan seperti hutan liar. Mungkin akan lebih baik apabila ranting dan dahan yang terlalu rindang dipotong saja agar tampak rapi. Selain tanaman yang banyak kering dan mati serta tidak terawat banyak juga ditumbuhi rumput-rumput yang berkeliaran. Sepertinya taman FKIP ini memang dibiarkan tidak dirawat secara serius, petugas kebersihan yang ada hanya membersihkan halaman dan lingkungan kampus dari sampah, tetapi tidak ada yang bertugas khusus untuk merawat tanaman dan taman kampus.

    Pada waktu kegiatan pengenalan kampus untuk mahasiswa baru selalu ada sumbangan bunga, setiap mahasiswa baru wajib menyumbang bunga beserta satu buah pot. Dari sini bisa kita bayangkan, ketika ratusan mahasiswa baru terdaftar di FKIP Unlam, berarti ada ratusan pot bunga pula yang terkumpul. Namun, kemana saja semua bunga itu? Sebagian besar bunga-bunga tersebut sudah tidak tampak lagi, kalaupun ada tersisa bunganya banyak yang kurang terawat dan ada yang mati, hendaknya semua bunga-bunga yang terkumpul itu diletakkan di depan masing-masing ruangan, baik ruang kuliah atau ruang dosen dan karyawan agar segala aktivitas di kampus, terutama perkuliahan terasa tidak jenuh.

  65. By yadi on May 23, 2008 | Reply

    buat teman-teman di UNLAM kayanya masalah yang ada di kampus kalian ga jau beda dengan masalah yang ada di kampus kami, mau tau apa kampus q ga jauh ko tetangga dekat UNPAR universitas palangkaraya kalimantan tengah mungkin sangkin banyaknya masalah dapat UNPAR bisa di singkat Universitas Paling Parah, kalau kalian masih ada fakultas yang di banggakan seperti tadi ada FEKON dari sepenggal pendapat teman-teman di UNLAM, kalau di UNPAR kayanya ga ada deh Mungkin secara administrasi F.Tekhnik deh tapi untuk hal-hal lain masih kurang deh, memangga ga ada yang sempurna tapi kita harus tau donk mestinya pihak yang berkepentingan menjaga mengevaluasi setiap perangkat sarana dan prasarana yang ada harus benar-benar bertanggung jawab jangan cuma proposal pengadaan ini itu tapi bukti nyatanya ga ada. bantuan jalan terus tapi ga ada realisasinya, entah apakah saya cuma berfikir sepihak saja tapi itu yang kami alami sebagai seorang mahasiswa yang semestinya bisa mendapatkan fasilitas yang sudah disediakan negara buat kami, memang moral dan prilaku mahasisswa juga sangat mempengaruhi hal-hal menyangkut kebersiahn ruangan dan sarana perkuliahan, tapi hal tersebut hanya di lemparkan kepada mahasisswa saja, sedangkan untuk menyapu ruangan perkuliahaan saja ga ada,oh ya mungkin anda bertanya saya dari fakultas apa saya dari Fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP), fakultas yang paling banyak manusianya, kalau jurusan dan program studi ga usah deh nanti saya bisa di persulit sama orang-orang di kampus, karena saya dah pernah ngalami hal itu sampai didepan teman-teman di kelas saya di marahi sama ketua jurusan, di karenakan tugas metodologi penelitian yang berjudul analisa pola mengajar dosen terhapa tingkat keberhasilan mahasiswa yang menjadi objek di situ program studi saya sendiri, banyak kata-kata yang mengungkapakan kenyataan yang sebenarnya ada dan memang hal teresebut yang di rasakan teman-teman di kelas, yang jadi pertanyaan saya dosen yang mengasuh mata kuliah itu yang menyebarluaskan isis tulisan saya, sampai-sampai lihat ada photo copyan tugas saya itu di salah satu meja di ruang program studi memmang tulisan itu disebarluasakan, ya saya harus sadar juga apa yang saya tulis harus saya pertanggung jawabkan, tapi apakah sebuah perubahan sebuah masukan seperti layak nya yang di tulis teman-teman menganai keluh kesah di kampus kalian ga bisa menjadi sebuah koreksi untuk mengarah kepada yang lebih baik, sebenarnya masih banyak lagi kekacauan atau carut marut di UNPAR bukan di FKIP hampir merata si seluruh fakultas, yang lebih di perparah kayanya masalah-masalah itu sudah brurat berakar puluhan tahun sudah menjadi sebuah hal yang bisa saja jadi untuk melakukan sebuah perubahan sangat lah sulit, badan aspirasi mahasiswa seperti BEM UNPAR, Senat FKIP ga bisa berbuat apa-apa dan mereka terkesan hanya sebagi boneka para birokrat kampus. buat teman-teman yang juga memiliki keluh kesah yang sama seperti apa yang saya rasakan maju terus memang untuk mencapai sebuah perubahan perlu waktu dan perjuangan tiada henti, cip[takan kader yang memiliki pola pikir yang tepat dan mau mengadakan sebuah perubahan yang membawa dampak lebih baik, jangan sia-siakan angkatan yang dibawah kita hanya untuk perpeloncooan tanpa bentuk pengarahan dan pengjkaderan yang tepat, tanamkan pola pikir maju buka keterbelakangan lo tau apa yang gue bilang yang bisa berpikir seperti kita setidaknya, karena makin banyak orang yang peduli makin mudah untu mengadakan sebuah perubahan karena usaha menuju perubahan itu semakin banyak yang memperjuangkanya dan mealakukannya, kami di sini bersama teman-teman sedang coba dan terus coba membentuk kader buka pembangkang tapi orang-orang yang dapat berpikir sehat dan jernih serta rasional. dan ga lupa tetep takut sama Tuhan itu yang paling utama, JBU……. hidup Mahasiswa, salam dari teman-teman di palangkaraya buat kalian semua yang membaca……..

  66. By Risma Yunyta on May 24, 2008 | Reply

    Halaman Kampus FKIP Citra Sebuah Perguruan Tinggi

    Perguruan tinggi tempat para mahasiswa menuntut ilmu, seyogyanya kampusnya adalah tempat yang serba maha dibandingkan oleh tempat menuntut ilmu para siswa Sekolah Menengah Pertama ataupun Sekolah Menengah Atas. Halaman kampus FKIP merupakan pandangan pertama yang kita temui sebelum memasuki kelas.

    Halaman kampus FKIP UNLAM seharusnya menjadi simbol yang mencitrakan sebuah tempat menuntut ilmu para mahasiswa, namun halaman kampus FKIP jika dibandingkan dengan halaman sekolah-sekolah menengah pertama ataupun menengah keatas lebih tertinggal misalnya dalam masalah keindahan. Lihatlah halaman kampus yang setiap tahunnya selalu kedatangan banjir belum lagi kita melihat halaman kampus yang dirusak oleh pemandangan jejeran sepeda motor yang semerawut.

    Seharusnya halaman kampus FKIP dapat dibuat menjadi lebih indah agar supaya para penuntut ilmunya senang untuk datang ke kampus. Misalnya dengan dibuat taman dan mengalihkan tempat parkir tidak pada halaman depan tetapi pada tempat khusus parkir.

    Jadi, apabila kita ingin lebih semangat datang ke kampus jadikanlah pemandangan pertama yang kita lihat menjadi lebih menarik. Sehingga mencitrakan kampus FKIP adalah tempat menuntut ilmu mahasiswa bukan siswa biasa.

  67. By M.Agustiannur on May 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa FKIP Unlam Banjarmasin

    Selamat datang di kampus pendidikan, begitulah kiranya yang muncul dibenak ketika pertama masuk ke Fakultas Keguruaan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Setiap mahasiswa yang melanjutkan studinya di FKIP, adalah mereka yang umumnya dipersiapkan untuk terjun kedunia pendidikan seperti guru di sekolah-sekolah formal dan informal ataupun dosen yang mengajarkan pendidikan disiplin ilmu tertentu di perguruan-perguruan tinggi.

    Lingkungan FKIP tidaklah ‘sekaku’ seperti yang dibayangkan, seperti dimana dalam pikiran kita semua mahasiswa yang melanjutkan studinya di FKIP harus mengenakan pakaian yang seragam dengan celana kain, tatakrama serta aturan yang santun dan tegas, tapi kenyataannya FKIP bukanlah fakultas yang mengekang kebebasan mahasiswanya. FKIP memberikan kelonggaran untuk mahasiswa berpakaian selama itu masih rapi serta tidak melanggal dari aturan yang telah dibuat.

    FKIP adalah fakultas yang menjadi bagian dalam lingkup Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) Banjarmasin. Satu-satunya fakultas keguruan di Kalimantan yang memiliki program studi kependidikan terlengkap. Sebagai bagian dari Universitas Lambung Mangkurat, FKIP menjadi fakultas dengan mahasiswa yang terbanyak pula. Letak FKIP tepatnya berada disebelah kiri gerdun Rektorat UNLAM atau berseberangan dengan fakultas Ekonomi.

    Terlepas dari membahas secara keseluruhan tentang FKIP lebih menarik kita melihat mahasiswanya. Mahasiswa FKIP seperti yang dijelaskan diatas adalah yang terbanyak jumlahnya daripada mahasiswa fakultas lain di Universitas Lambung Mangkurat. Dengan jumlah yang banyak tersebut, andaikata saja FKIP ingin berdiri sendiri dan lepas dari Unlam pun bisa tapi tidaklah kita bicarakan itu disini karena fokus kita kemahasiswanya saja.

    FKIP memiliki gedung yang yang dapat dikatakan ketinggalan dengan fakultas lainnya. Jika kita sedang melihat mahsiswanya yang sedang kuliah maka terlihat wajah FKIP sebenarnya. Saat kuliah terlihat daya tampung tempat perkuliahan tidak mencukupi untuk menampung mahasiswa yang sedang kuliah, kalaupun mencukupi, kuliahnya paling berdempetan antar mahasiswa karena sesak akibat dipaksakan memakai tempat kuliah yang terbatas dan akhirnya mengganggu konsentrasi kuliah.

    Kalau sedang jalan-jalan ke Unlam, sepintas kita tidak dapat membedakan mahasiswa FKIP dengan mahasiswa dari fakultas lainnya karena di FKIP seperti yang telah disinggung tadi tidak terjadi penyeragaman dalam hal berpakaian ataupun bergaul dengan mahasiswa lainnya. Hal ini pun terjadi dalam lingkungan FKIP sendiri, kita bisa lihat mahasiswa yang ada di FKIP sana dengan mahasiswa yang ada dalam fakultas lainnya. Bahkan dibandingkan lagi, mahasiswa FKIP lebih dinamis dalam mengikuti tren yang ada dalam masyarakat terutama dalam cara berpakaian.

    Setiap individu memiliki ciri khas atau kepribadian yang berbeda. Menurut Kontjaraningrat setiap individu memiliki beberapa ciri watak yang diperlihatkan secara konsisten dan konsikuen menjadikan individu itu memiliki identitas yang berbeda dengan individu yang lain. Begitu pula kepada setiap mahasiswa FKIP yang memiliki watak dan kepribadian yang tidak sama satu dengan yang lainnya.

    Jadi, sebagai kampus pendidikan FKIP Unlam bertujuan untuk mencetak tenaga kependidikan yang tidak hanya berkualitas secara akademik tapi juga secara prilaku lulusan dalam kaitan hubungan dengan masyarakat. Hal ini menjadi tantangan FKIP kedepan, dimana mahasiswa telah disiapkan untuk menjawab tantangan tersebut yang dengan program-program yang dibuat fakultas.

  68. By NURIL NAJMI on May 28, 2008 | Reply

    GORDEN JENDELA KAMPUSKU TRAGIS !!!

    Gordyn atau gorden, adalah satu komponen dalam sebuah ruangan atau kelas yang nampaknya kecil namun memberikan manfaat dan menambah estetika dan warna dari ruangan itu sendiri. Tapiii Gorden jendela yang ada di kampusku FKIP unlam Banjarmasin sangatlah JAUH BERBEDA,gorden kampusku bernasib “tragis” nasibnya,jangankan memberikan manfaat,tapi yang ada malah memberikan mudarat..
    Gorden di kampusku bisa dikatakan sudah sangat tidak layak pakai,teramat kotor,karena terlalu kotornya mungkin ketika di cuci,air rendamannya seperti lumpur lapindo,,sungguh malang nasibnya,mungkin nasib gorden kampusku hampir sama dengan lumpur lapindo yang ada di Sidoarjo,sama-sama tidak di perhatikan..petugas kebersihan dan para pengelola FKIP tidak pernah memperdulikan bagaimana nasib gorden jendela FKIP,mereka acuh tak acuh,,bayangkan saja selama saya menuntut ilmu di kamus FKIP hampir 3 Tahun,gorden tersebut tidak pernah di cuci,apalagi di ganti dengan yang baru,di perbaiki saja tidak,,gorden tersebut masih di biarkan oleh para pengelola dan petugas kebersihan FKIP dengan setianya bergelantungan berantakan dan tak karuan,bahkan banyak yang sobek-sobek termakan usia,kainnya menjadi rapuh,,dan ternyata jauh sebelum saya kuliah di kampus yang banyak mempunyai dan memiliki keajaiban ini,gorden tersebut sudah lama bergelantungan tanpa di perhatikan “sang tuan rumahnya”..

    ketidakpedulian tersebut menimbulkan banyak hal yang tidak nyaman sekaligus tidak menyenangkan,gorden yang berpuluh-puluh tahun tidak di cuci tersebut menimbulkan aroma yang tidak sedap jika tertiup angin,debu juga beterbangan karena sangat banyak debu yang hinggap dan menempel di gorden jika angin berhembus di jendela,,gorden juga menghalangi dan menutupi keindahan dengan pemandangan gorden yang tidak tertata rapi,di biarkan bergelantungan tidak karuan,,gorden membuat malu mahasiswa-mahasiswa FKIP terutama saya sendiri dengan keadaan gorden seperti itu,,

    Gorden-gorden yang sudah layak pakai tersebut,rapuh di makan usia,bertahun-tahun tidak di di perbaiki,di cuci,apalagi di ganti dengan yang baru sangat banyak berada di ruangan perkuliahan FKIP,dari ruang kelas yang berada di bawah sampai dengan ruang yang ada di atas dan di lorong-lorong,kurang lebih sekitar 20 buah ruang kelas yang mempunyai gorden bernasib tragis tersebut,,

    Masalah gorden ini sangat tidak di perhatikan padahal semua yang….. di FKIP memiliki penglihatan yang normal,tetapi kenapa hal ini sangat di biarkan bahkan sepertinya di anggap bukan suatu masalah,,padahal gorden yang ada di kampus FKIP UNLAM adalah salah satu faktor kenyamanan dalam perkuliahan,dan kami sebagai mahasiswa tidak gratis mengikuti perkuliahan,dan kami menuntut kenyamanan dalam perkuliahan kami…..

  69. By pendy on May 29, 2008 | Reply

    pa ersis, ngapain protes-protes masalah campus fkip sama bapa,lebih baik sama dekannya.
    benar ngga pa..
    from anak mandiri

    ***Bisa jadi. Biasakan dulu kan ngak pa pa juga he he

  70. By thonie on May 30, 2008 | Reply

    UNPAR Palangkaraya_Raja Kampus Kami…(Raja rigatnya…)
    hah.. unda kira di palangka haja kampusnya kaya kapal tabalik sakalinya dikampus buan nyawa sama jua leh…
    u..dangsanak sama haja kampus unda gen unda kira samalam kaya di TV atawa sinetron tu barasihnya.. sakalinya pas datang kasitu labar am nang kaya wadah buan galandas guringan sakalinya….
    tapalanjur sudah unda datang ka palangka sini handak babulik kada mungkin nang kadada duitnya lagi kasian kuitan dikampung mamantat haja gawian jadi basabar ai…
    samalam suah pang unda mamprotes lawan babuhan dekan sampai ka rektor sakalinya handak diampihi bunnya unda sakulah oleh jar buhannya kalantihan muntung unda ne managur-nagur buannya…malahan handak dilapor buhannya lawan bapalisi lagi pas am kada badaya jua…
    jadi kayapalah supaya kampus kita ne bisa kaya istana..tapi ngalih pang salawas buan pejabatnya sarik bila dikritik…
    maka jar babuhannya tu orang pintar..titel sing banyakan tapi bila dikritik kaya cacing kana habu…manyupani ja batitel banyak-banyak tapi kada bisa mandangar jar urang…
    unda sambat tuli tapi bisa ja kayanya jadi pejabat..kada tuli tapi kada bisa mandangar
    malahan nang parahnya lagi BEM yang seharusnya wadah baadu sama kaya panjilat jua..kadada baharga dihadapan mahasiswa…disuruh buan pejabat unpar manajilat burit buannya gin dijilatnya kada bungullah jadi mahasiswa…
    nah..ini pang kasasangkalan hati unda salawas sakulah di unpar ni jadi kena haja kita sambung lagi panat dah tan gan unda nah…
    jangan padahkan unda yang manaulisnya kalu dilapor bagiannya pakai kapolda ken pas am labar…
    hidup mahasiswa……
    assalamaualikum…………………………

  71. By SRI WAHYU .A on May 30, 2008 | Reply

    MAHASISWI FKIP UNLAM PAKAIANKU JILBABKU..

    Seperti yang kita kenal Universitas Lambung Mangkurat(UNLAM) merupakan sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal di Kalimantan Selatan tepatnya di kota Banjarmasin, selain itu Unlam juga di kenal oleh daerah-daerah lain di luar Banjarmasin, oleh karena itu tidak salah kalau sebagian dari mahasiswa dan mahasiswinyapun banyak yang berasal dari luar daerah Kalimantan Selatan. Unlam mempunyai Sepuluh Fakultas yang terbagi antara Banjarmasin dan Banjarbaru. Dimana diantaranya berdasarkan hasil observasi Fakultas yang mempunyai minat yang tinggi dari mahasiwa adalah FKIP(Fakultas Kegurun dan Ilmu Pendidikan) yang mana fakultas ini merupakan tempat pencetak guru-guru yang profesional(ya katanya sih Profesional namun tergantung & kembali kepribadinya masing-masing). Mayoritas mahasiswa FKIP Unlam adalah Muslim hampir 80% mahasiswinya menggunakan Kerudung/ Jilab, wajarlah karena masyarakat Banjarmasin mayoritas muslim dan tidak salah kalau disebut sebagai serambi Mekkah. Namun disayangkan pemandangan kepala yang tertutup oleh kerudung/ Jilbab ini kadang tidak sesuai dengan pakaian yang digunakan oleh para mahasiswi. Ada sebagian dari mereka yang menggunakan pakaian yang sangat menutupi bagian tubuhnya pakaian ini yang biasa disebut dengan baju Jubah dengan komunitas yang dikenal dengan kaum Jilbabur, mereka sangat membatasi interaksi dengan lawan jenisnya walaupun demikian mereka tetap berbaur dengan mahasiswa/ mahsiswi lainnya. Selanjutnya adapula mahasiswi berkerudung / berjilab yang menggunakan pakaian yang sewajarnya saja dan seadanya tidak seksi tidak pula seperti kaum Jilbabur. Mahasiswi yang menggunakan pakaian seperti ini mungkin lebih banyak karena pakaian seperti ini sudah sangat umum di kalangan mahasiswi. Namun yang sangat menarik perhatian di Kampus FKIP Unlam yaitu mahasiswi berkerudung / berjilab yang menggunakan pakaian yang menampilkan lekuk tubuhnya yaitu dengan perpaduan baju ketat, celana jeans ketat yang kadang-kadang memperlihatkan punggung mereka. Ya…biar di bilang walaupun berkerudung / berjilab tapi tetap seksi…bukankah itu sudah melanggar norma-norma yang ada. Mereka yang berkerudung / berjilab pastinya tidak dapat lagi menggunakan baju mereka yang lengan pendek donk..Oo..jangan salah, majunya perkembangan zaman membuat banyak mahasiswi yang memodifikasikan pakaian mereka yang lengan pendek dengan manset yang ketat. Memang sih..kelihatan dan rasanya lebih modis dan lebih simpel. Disini bukan hanya itu kerudung / jilab merekapun tidak kalah dengan baju-baju mereka ada yang menggunakan sewajarnya yang menutupi dada dan ada pula yang melilitkan bagian kerudung / jilab keleher kaya pocong bahkan yang paling keren adalah pake kerudung / jilab juga pake poni / rambut pendek yang nampak didahi. Fenomena seperti ini kayanya di kampus FKIP bukanlah hal yang tabu lagi. Apakah seperti ini cara berpakaian sebagai calon seorang guru ya…kalau memang ingin jadi guru dan bukan karena pelarian??bukankah seorang gurum harus menumbuhkan dan mencerminkan sikap yang baik yang ditanamkan sejak dini. Sangat di sayangkan siiih..untuk apa menutup kapala kalau saja tidak sesuai dengan pakaian, dan perbuatan paling ga kan semua mendukung nih atau mengguakan kerudung / jilab hanya sebagai kedokkk?? Sudahlah leih baik tata tertib bepakaian yang ada di kampus FKIP Unlam itu di cabut saja toh juga ga sesuai dengan fakta dan realitanya. Ternyata memang benar apa yang anyak orang bilang kalau peraturan itu di buat untuk di langgarrr.

  72. By Arien Noor Rahman on Jun 5, 2008 | Reply

    Gaya Rambut Mahasiswa FKIP

    Pada masa sekarang gaya rambut telah berubah dan bermacam-macam sesuai perkembangan jaman. banyak sekali macam-macam dan bentuk dari gaya rambut itu sendiri. hal ini dipengaruhi oleh kebudayaan bangsa barat yang masuk ke dalam bangsa kita dan diadopsi sebagai kebudayaan kita. Padahal Kita sendiri tahu bahwa gaya rambut seperti yang ada sekarang bukanlah asli milik indonesia, melainkan dari luar.

    contoh gaya rambut yang sedang berkembang sekarang adalah yang harajuku, mohawk, emo dan lain sebagainya.

    Perkembangan gaya rambut ini secara tidak langsung juga mempengaruhi gaya rambut mahasiswa - mahasiswa sekarang, terutama mahasiswa FKIP. seperti yang kita ketahui bahwa FKIP adalah salah satu fakultas favorit pada universitas lambung mangkurat di Banjarmasin. bagaimana tidak, kampusnya saja ada 4 buah yang terbagi di Banjarmasin dan Banjarbaru.

    Gaya rambut mahasiswa - mahasiswa FKIP ini banyak sekali yang bermacam-macam, ada yang gundul tidak jelas, ada yang gondrong seperti gembel,ada yang rambutnya dicat warna warni seperti pelangi, ada pula yang rambutnya panjang separo. dan yang gilanya lagi ternyata bukan hanya mahasiswanya saja tetapi juga para dosennya yang ” meuluakan ” sehingga para mahasiswanya banyak yang mengikuti

    yang saya bingungkan selama ini dengan gaya rambut itu adalah apa tujuan sebenarnya para mahasiswa membentuk dan merubah gaya rambutnya
    sedemikian rupa. Bila ditanya mengapa mereka melakukannya, jawaban mereka sebagian besar hampir sama yaitu karena ikut-ikut mode tren masa kini itu yang ada.

    Cukup membingungkan bukan dengan masalah ini tetapi tidak perlu terlalu dipikirkan, karena tujuan kuliah bukan untuk pamer gaya rambut, tetapi untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi untuk mencapai cita-cita dan masa depan yang lebih baik. SUKSES ………………….

  73. By M. Rizal Mukhlishin on Jun 5, 2008 | Reply

    SISTEM DRAINASE PADA KAMPUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
    BANJARMASIN

    Apakah pantas untuk bangunan sekelas perguruan tinggi mempunyai halaman yang masih bisa tergenang oleh air pasang? Gejala ini sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat kota Banjarmasin yang notabene secara geografis berada di pesisir laut dan merupakan daerah rawa. Apalagi ditambah air pasang yang kian meninggi setiap tahunnya diakibatkan oleh yang sekarang ini sedang jadi topic utama pembicaraan seluruh dunia, yap betul…Global Warming! Apakah memang hukum alam ini tidak bisa dicegah oleh kita khususnya pihak kampus FKIP sendiri? Seharusnya pihak kampus sudah bisa mengatasi masalah tersebut!
    Kita bisa lihat tentang permasalahan drainase kampus atau bahasa kerennya “selokan” di kampus yang saya rasa kurang mumpuni. Mungkin kita bisa ambil contoh akibat lemahnya sistem pembuangan yang ada di FKIP Unlam membuat halaman tengah yang seharusnya bebas dari air buat mahasiswa malah jadi kolam renang dikala hujan lebat mengguuyur. Ditambah lagi halaman depan yang lumayan agak sedikit berada “dibawah permukaan laut” menambah berat kerja drainase. Dengan kata lain air yang seyogyanya harus dibuang keluar menjadi terhambat oleh air yang sudah lebih dulu menggenangi halaman depan kampus. Jujur saja kita tidak dapat berbuat banyak melihat hal ini.
    Ini bukan sekali atau dua kali saja terjadi, bahkan sudah sejak dulu kala. Yah, walaupun diakui sekarang sudah agak mendingan menurut orang tua zaman dulu yang katanya lebih parah dari sekarang ini. Namun paling tidak harus ada yang bisa dilakukan untuk mencegah itu terjadi lagi. Mungkin sekedar memberikan gambaran dengan meninggikan tanah misalnya. Sebab hal itu masih mungkin dilakukan mengingat tidak semua wilayah Unlam mengalami “musim banjir” ini. Itu berarti tanah yang tinggi bisa menangkal hal serupa terjadi kembali. Kemudian perawatan sistem pembuangan air juga harus diperhatikan kebersihannya dari sampah, selokan harus bebas dari sampah karena akan menyebabkan selokan tersumbat dan akan menghambat laju air yang akan dibuang keluar area kampus. Endapan lumpur yang ada diselokan juga harus diperhatikan karena akan menyebabkan pendangkalan, dan akibat itu debit air yang bisa dibuang semakin sedikit.
    Hal inilah yang seharusnya dilakukan oleh pihak fakultas. Mungkin kita harus memaklumi akan terbatasnya dana yang tersedia untuk kepentingan umum. Memang akan memakan biaya yang besar, tapi akan menghasilkan manfaat yang besar juga dan itu juga akan dirasakan manfaatnya oleh generasi yang akan datang yang bertujuan menjadi tenaga pendidik yang professional.
    Apakah untuk menjadi tenaga pendidik harus mengalami yang namanya mengenyam pendidikan dengan penuh penderitaan? Paling tidak sarana dan prasarana mahasiswa terjamin di fakultas tercinta ini. Karena mengingat cerita dari orang tua zaman dulu yang dengan ikhlas harus berjalan kaki menuju sekolah tempat mengajar hanya dikarenakan akses menuju kesana bisa dikatakan hampir terisolir. Nah, paling tidak kita bisa menikmati keadaan fakultas yang nyaman untuk sekedar menuntut ilmu menjadi tenaga pendidik. Hitung hitung sebagai formalitas agar tidak terlihat seperti zaman dulu.
    Sekarang tinggal bagaimana pihak fakultas menanggapi dengan segera permasalahan ini, fakultas tidak bisa menutup mata dan telinga terhadap masalah ini karena menyangkut kelayakan fakultas itu sendiri. Mungkin harus menyisihkan sedikit lagi pendanaan buat kelayakan infrastruktur, demi kenyamanan bersama. Dan itu harus sesegera mungkin dilakukan.

  74. By naff on Jun 9, 2008 | Reply

    sebelumnya saya minta maaf karena ikutan berkomentar disini.
    mencermati kehidupan mahasiswa di banjarmasin dan banjarbaru sekarang ini, saya merasa sangat prihatin. mahasiswa sekarang lebih mementingkan pacaran dan kepuasan pribadinya saja daripada fokus kepada pelajaran yang notabene akan membangun dirinya demi masa depan.
    mahasiswa fkip merupakan calon-calon guru yang akan mendidik anak-anak di kalimantan selatan dan Indonesia pada umumnya, mereka akan menjadi garda terdepan dalam memajukan pendidikan dan mencerdaskan generasi penerus bangsa. tetapi apakah mereka sanggup dan pantas mengemban tugas yang berat dan mulia tersebut sedangkan moral dan akhlak mereka kurang diperhatikan??
    selain pendidikan formal di dalam kampus, seorang guru juga harus mempunyai moral yang baik, oleh karena itu para mahsiswa FKIP harus diberikan dan di bina moralitasnya agar tidak menjadi bomerang tersendiri bagi mereka saat menjadi guru kelak.
    saya pernah membaca di sebuah buletin yang menyebutkan bahwa ada eberapa mahasiswa FKIP yang melakukan hubungan seks diluar nikah dengan pacarnya?
    apakah mereka pantas menjadi seorang guru yang akan menjadi panutan bagi anak didiknya??????
    http://www.bingatz.co.cc

  75. By Fahrurraji Asmuni on Nov 8, 2008 | Reply

    Yang namanya mahasiswa itu mesti pandai penulis.Kan tugas-tugas membuat makalah sering diperintah oleh dosen.Gimana kalo tidak pandai menulis.Wah,ngupah terus kapan pntarnya ? Hihihi bukan ngajarin, komentar aja kk !

Post a Comment