Tantangan Buat Mahasiswa
12 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Hallo teman-teman. Jarang lho yang nulis tentang kampus sendiri, ya kampusnya, dosennya, maahasiswanya, karyawannya, sistemnya, atau apa saja, fisik dan non-fisik. Bagaimana kalau menulis ‘diri sendiri’, melihat diri. Mana tahu dapat masukan dari teman-teman. Salam.
73 Responses to “Tantangan Buat Mahasiswa”
By M. Rizky Adha on May 13, 2008 | Reply
Wah, kalo nulis tentang diri sendiri apa gak terlalu subjektif pak???
Kalo gitu bisa narsis2an donk….!!! Hee…he…hee.. Kalo memaknai diri sendiri kayaknya bisa menjadi ungkapan yg tepat, mengapa kita lahir, hidup, dan kelak kembali kepada-Nya itu merupakan takdir yang telah digariskan, namun orang bijak mengatakan bahwa diri kita merupakan musuh terbesar dalam hidup, maka refleksinya adalah hendaknya kita tetap sadar bahwa masih ada yg lebih kuasa dan Maha segala-galanya… Lebih dari ambang batas kemampuan kita.
***Khusus untuk yang mau tidak beralasan dan mendebat he he … Berlatih menulis.
By toni f on May 13, 2008 | Reply
siaap…mohon bimbingannya pak heeee….
***Ha ha aneh-aneh aja
By Ikkyu_san on May 13, 2008 | Reply
bisa juga untuk dosennya menceritakan mahasiswa jaman sekarang hehehe
***He he tau azzza
By ompiq on May 13, 2008 | Reply
lagi konsen mo demo pak….protes kenaikan BBM
***Siiip, hati-hatilah lho. Ada dua pilahan protes …
By hanggadamai on May 14, 2008 | Reply
wah ide bagus pak..
mesti ngumpulin bahan dulu nih..
***Lakukan … tulis. Salam.
By diah eka rini on May 14, 2008 | Reply
PEDAGANG KAKI LIMA DI FKIP
Fakultas keguruan ilmu pendidikan Universitas lambung mangkurat adalah termasuk fakultas favorit bagi seluruh masyarakat kampus dari berbagai fakultas dalam kunjungan makan siang atau sekedar membeli jajanan. Kenapa? Karena FKIP UNLAM menyediakan berbagai macam menu makanan dan minuman serta jajanan yang enak dan murah tentunya .semua itu dapat kita lihat di halaman kampus FKIP yang mana para PKL (pedagang kaki lima ) berjejer dengan aneka macam dagangannya. Adapun jenis makanan yang di jual di FKIP adalah sebagai berikut:
- Bakso dan mie ayam
- Gado-gado
- Sate ayam
- Lalapan ayam dan rawon
- Bubur ayam
- Aneka minuman jus, es campur, dan es kelapa
- Dan voucher pulsa
Maka dari itu saat kita melihat FKIP dari luar maka kita akan melihat pemandangan mini pasar kaki lima di lingkungan kampus. Keberadaan PKL memang disukai oleh para mahasiswa bahkan para dosen karena mempermudah dalam membeli makan siang yang enak dan murah. Padahal pihak kampus sendiri sudah membangun beberapa buah kantin dalam wilayah kampus. Namun, karena warga kampus yang sangat banyak maka kantin yang sudah disediakan melibihi kapasitas pengunjung. Oleh karena itu PKL menjadi serbuan warga kampus yang ingin makan.tidak hanya warga kampus yang senang tapi para PKL pun tidak kalah senangnya karena setiap hari mendapat keuntungan besar dari hasil berdagang di lingkungan kampus. FKIP menjadi lahan basah dalam berdagang. Tapi apakah keberadaan mereka layak di dalam lingkungan kampus FKIP? Apakah tidak menggangu pemandangan lingkungan akademik? Masalah etis tidak etis memang persepsi masing-masing individu, akan tetapi kita harus tetap mengutamakan kenyamanan bagi masyarakat umum dan mengutamakan kebersihan lingkungan dan penataan ruangnya. Apakah FKIP sudah indah dengan di hiasi gerobak-gerobak PKL, apabila kita mau sedikit membuka mata sebnarnya keberadaan PKL telah merusak lingkungan kampus. Lihat saja keadaan selokan halaman kampus penuh dengan sampah - sampah sisa makanan. Para PKL memang mengelak jika dikatakan membuang sampah di selokan mereka selalu bilang mengumpulkan sampah-sampahnya apa benar? Tapi bagaimana dengan para pembeli makanan. Jangan-jangan mereka adalah pelaku utama dalam pengerusakan lingkungan kampus. Setiap masalah memang ada sebab dan akibat namun kita hendaknya bersikap bijaksana. Yang menjadi keanehan adalah PKL seringkali keberadaanya menjadi buruan para Satpol PP Pemerintah kota karena di anggap merusak pemandangan dan tatanan kota. Tapi di lingkungan Akademik PKL menjadi pedagang unggulan dan tidak pernah dipersalahkan keberadaannya. PKL pun kelihatannya tenang dan aman-aman saja dalam menjalani hari-harinya. Sepertinya ada kong kali kong dengan beberapa pihak sehingga mendapat ijin berdagang di lingkungan kampus.tapi dengan cara apa sehingga mereka mendapat ijin, apa ada imbalan untuk pihak-pihak terkait. Pernah saat kepada saya saya beli jajanan pada seorang PKL tanpa saya bertanya si pedagang mengeluh karena telah di pungut biaya per bulan oleh beberapa pihak yang tidak bisa saya sebut namanya yang mana pungutan itu menjadi surat ijin berdagang di lingkungan kampus.Hendaknya ini menjadi kesadaran kita bahwa kampus sebagai tempat melatih dan mendidik pola pikir dan perilaku secara intelektual agar tidak mengerbonkan lingkungan hanya demi beberapa lembar rupiah. Masalah PKL ini hendaknya bisa diatasi secara bijaksana. Akan tetapi bagaimana bisa diatasi bahkan dianggap jadi masalah saja tidak. Kebersihan, kerapian,dan keindahan kampus bukan lagi menjadi prioritas utama. Budaya kotor dan tidak peduli lingkungan sepertinya sudah mendarah daging pada setiap orang sehingga dengan cara apapun demi mendapat keuntungan akan ditempuh. Sehingga kampus yang berfungsi sebagai wadah akademik ternyata bisa juga menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Luar biasa………………..
By ihsan on May 14, 2008 | Reply
kalau mahasiswa menulis tentang kapus sendiri apakah bapak tidak khawatir hanya akan mendapat kenyataan pahit bahwa kampus banyak kekurangannya
***Itu dia, yang dipikirkan yang jelek melulu, yang pahit-pahit, kenapa tidak berpikir manis?
By toni februari on May 15, 2008 | Reply
Kontribusi parkir FKIP..wuush!!!
Jika kita sebagai mahasiswa Unlam bertanya, fakultas mana sih yang paling banyak mahasiswanya?? Tentu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( FKIP ) lah jawabannya, banyaknya dalam segi kuantitas lho, kalau kualitasnya? Ehmmm au ah gelap….
FKIP memang memiliki ribuan mahasiswa, dalam satu angkatan bisa mencapai 150 mahasiswa, dikalikan dengan jumlah program studi, dikalikan lagi dengan jumlah angkatan yang ada, aduuuh malas menghitung ah, pokoknya paling banyak deh se Unlaman. FKIP dikhususkan untuk mencetak para guru-guru masa depan, makanya kalau masuk dan milih kuliah di fakultas ini, berarti pengen jadi guru, betul gak? Masa pengen jadi dokter.
Selain banyaknya mahasiswa sebagai cirri dari FKIP ini, ada lagi cirri pendukung yang lain, jika pengen melihat, datang aja ke FKIP pada jam 10 siang sampe jam dimana anda bisa merasakan keindahan fakultas ini.
Di halaman kampus, banyak sekali kendaraan mahasiswa yang parkir, berdesak-desakkan, lalu lalang keluar masuk kendaraan, tempat parkirnya aja sampai gak muat, yang jaga parkir sibuk mengatur tata letak kendaraan, supaya kelihatan rapi dan muat di halaman kampus yang jalannya rusak.
Saking banyaknya kendaraan mahasiswa yang parkir tiap harinya, paman parkir sampai kewalahan mengurusnya, beliau menambah karyawan lagi, agar kinerja keparkirannya meningkat dan seimbang dengan kenyataan, dari 3 orang menjadi 5 orang, keren gak? Penjaga parkir, yang paling banyak di banjarmasin, ya di FKIP ini.
Harga parkir sangat sesuai dengan Perda yang dikeluarkan Yudi Wahyuni, yaitu Rp 500, /kendaraan/sekali masuk, kalau keluar masuk? Ya bayar lagi dong, kasian paman parkir menjaga kendaraan kita. Mahasiswa FKIP adalah mahasiswa yang aktif, terbukti dalam satu hari kuliah itu bisa 3 kali bolak-balik masuk kampus, berapa ya dia bayar parkir? Minimal Rp 1000 yang harus keluar dari saku.
Kontribusi parkir biasanya digunakan untuk membangun fasilitas umum oleh pemerintah, dari masyarakat untuk masyarakat demi kepentingan masyarakat, FKIP sudah bertahun-tahun menyandang predikat mahasiswa terbanyak dan parkir terbanyak pastinya kontribusi dari biaya parkir di kelola dan digunakan untuk sarana dan prasarana mahasiswa.
Kira-kira di pakai untuk apa ya kontribusinya di FKIP, kok mahasiswa FKIP belum ada yang tahu, dalam sebuah media cetak daerah, Dekan FKIP diwawancarai mengenai parkir, dan penggunaan kontribusinya, Pak Dekan menyebutkan bahwa Kontribusi parkir digunakan untuk kegiatan mahasiswa.
BEM sebagai wadah aspirasi mahasiswa jadi pemegang sekaligus yang di beri amanah untuk menggunakan uang kontribusi parkir. Jadi, Kontribusi parkir tersebut digunakan untuk kegiatan mahasiswa, diturunkan melalui BEM. Itu kata Pak Dekan waktu itu. Lalu dana kegiatan mahasiswa yang dikumpulkan melalui SPP kemana larinya? Iya am..
Belajar dari fakultas Hukum, fakultas ini jauh dari predikat parkir dan mahasiswa terbanyak, menurut paman penjaga parkir, kontribusi parkir, diserahkan kepada pihak fakultas setelah dikurangi upah bagi penjaga parkir, sisanya dikumpulkan untuk memperbaiki jalan halaman kampus oleh pihak fakultas agar lalulalang kendaraan bisa lancar dan mahasiswa merasakan sarana fakultas yang memuaskan. Dan itu memang terbukti, halaman fakultas Hukum yang luas itu di aspal dan kelihatan nyaman untuk didatangi.
Di FKIP kontribusi parkirnya kok hanya untuk kegiatan mahasiswa aja, padahal sarana dan prasarananya masih dalam tahap khayalan, jika memang digunakan untuk kegiatan mahasiswa, kenapa BEM juga tidak terlalu aktif menyuarakan, malah gak ada kabarnya lagi. Dulu pernah ditanya, mengenai dana kegiatan yang masuk dari fakultas, bendahara BEM malah geleng-geleng kepala, persenannnya aja gak ada yang tahu. Asal terima aja. Beresss.
Masalah duit memang sangat sensitive, namun apa lagi yang harus disembunyikan, kenyataan berbicara, sarana dan prasarana FKIP jauh tertinggal di banding Fakultas yang lain, jalan yang becek jika tergenang, WC yang cuma sepasang bagi ribuan mahasiswa, dan lain sebagainya.
Semoga dengan segala kekurangan ini, kita bisa lebih bijak dalam menghadapi keadaannya, dan semoga kita semua sadar dan paham akan arti hak dan kewajiban kita sebagai manusia di dunia ini. HIDUP MAHASISWA YANG HIDUP!!!
By Septha Yudha H on May 15, 2008 | Reply
Ruangan Kelas Kampus 1 FKIP UNLAM Banjarmasin yang Terasa Seperti Gudang
“FKIP Unlam” mungkin kata-kata itu tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Kampus kebanggan sebagian besar orang-orang Kalimantan Selatan yang tiap tahunnya selalu menerima jumlah Mahasiswa sampai ratusan orang di setiap prodi yang dimilikinya. FKIP Unlam ini sendiri sekarang mempunyai program studi terbanyak dari kampus yang lainnya di lingkungan UNLAM. Kampus yang memiliki hampir 6000 orang Mahasiswa ini mempunyai 10 jurusan program studi Reguler, diantaranya:
1. Pendidikan Sejarah
2. Pendidikan Ekonomi
3. Pendidikan PPkn
4. Pendidikan Matematika
5. Pendidikan Kimia
6. Pendidikan Fisika
7. Pendidikan Biologi
8. Pendidikan Bahasa Indonesia
9. Pendidikan Bahasa Inggris
10. Penjaskesrek
Hampir semua jurusan itu berdomisili di kampus 1 FKIP Unlam kecuali penjaskesrek. Jumlah ruangan kelas yang menjadi sarana dan prasarana yang dimiliki kurang lebih sekitar 30 ruangan.
Jika kita masuk ke salah satu ruangan kelasnya kita akan menyaksikan suatu pemandangan yang langka, yang sangat jarang kita lihat dan hal ini sudah menjadi ciri khas dari setiap ruangan kelas yang dimiliki oleh FKIP Unlam. Seperti di dalam ruang 1 yang biasa di gunakan oleh sebagian besar mahasiswa PSP Sejarah dalam melakukan aktifitas perkuliahannya, sangat ironis sekali ruangan ini selalu kotor oleh debu dan sampah-sampah yang hasilkan dalam suatu kegiatan perkuliahan (kertas dan sebagainya). Lemari/cabinet yang notabene di gunakan sebagai tempat meletakkan alat-alat penunjang perkuliahan berubah fungsi menjadi tempat tumpukan sampah yang tidak pernah dan bahkan tak akan pernah terbuang dari ruang ini. Jika kita mau untuk membuka laci yang terdapat dimeja Dosen kita akan menemukan tumpukan sampah-sampah kertas dan abu-abu rokok beserta sisa-sisa puntung rokok yang sudah barang tentu berasal dari Dosen-dosen yang mempunyai kebiasaan merokok. Belum lagi ventilasi-ventilasi ruangan yang biasanya berfungsi untuk saluran udara sudah tidak befungsi sebagai mana mestinya, karena hampir seluruh ventilasi tersebut ditutupi oleh sarang-sarang “spidey” dan nyamuk di tambah debu yang mungkin sudah menjadi penghuni tetap dari ruang 1 tersebut. Pra Sarana pendukung penunjang kegiatan perkuliahan yang dimiliki oleh ruang 1 ini hanya 2 buah papan tulis, sebuah kipas angin yang juga tak pernah di bersihkan,dan sebuah OHP. Kesannya jika kita melakukan kegiatan perkuliahan di dalam setiap ruangan yang tersedia di kampus1 FKIP Unlam sangat tidak nyaman dan tidak menyenangkan.
Padahal sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah ruangan kelas turut menciptakan suasana yang dan ikut menentukan suatau keberhasilan yang ingin di capai dalam proses belajar dan pembelajaran yang di lakuakan. Hal ini entah sampai kapan akan terus berlangsung dan tetap menjadi pemandangan yang mau tak mau akan dilihat oleh setiap warga FKIP Unlam dan para pengunjungnya.
By DINA YULINDA on May 15, 2008 | Reply
ANTARA KEBERSIHAN, SAMPAH DAN CITRA FKIP
Kebersihan sebagian dari pada iman, begitu ucapan Rasul kita Muhammad SAW yang selalu kita pegang. Tidak hanya islam, semua agama mengajarkan tentang perlunya kebersiahan dalam kehidupan. Berbicara tentang kebersihan kita pasti akan teringat dengan yang satu ini yaitu sampah, hal yang bisa jadi sumber permasalahan terutama saat kita hendak menegakkan kebersiahan di lingkungan kita.
Kebersihan merupakan hal yang mutlak dalam kehidupan manusia, terlepas dari bagaimana seseorang memandang arti kebersihan itu sendiri. Di mana saja dan kapan saja layaknya kebersihan harus selalu di tegakkan, tak terkecuali di FKIP Unlam. Sebagai sebuah sarana pendidikan, FKIP di tuntut mampu membuat citra diri sebagai tempat yang bersih dan bebas sampah. Karena tak bisa di tolak kebersihan ataupun sampah yang berserakan di tempat “ menimba ” ilmu sangat mempengaruhi kenyamanan dalam proses belajar – mengajar. Bayangkan saja, apakah kita bisa konsentrasi penuh dalam belajar apabila ruangan tempat kita belajar penuh dengan kulit permen, wadah sisa makanan ataupun minuman, saya yakin pasti tidak akan betah. Orang Bijak mengatakan jika ingin menilai seseorang lihatlah dari kebersihan tempat – tempat dalam hidupnya. Lalu bagaimana pandangan orang seandainya melihat kita dari lingkungan kampus yang banyak melahirkan tenaga dalam bidang pendidikan tersebut ? , bagaimana dengan kebersihan dan sampah yang ada di FKIP ?, siapa yang patut di mintai pertanggung jawaban mengenai kebersihan di FKIP dan bagaimana dengan kesadaran orang – orang yang ada di FKIP ?
Dalam kehidupan ketika kita membahas kebersihan sepertinya itu sesuatu yang mutlak, sama dengan kemutlakan kita dalam menghentikan sampah yang berada di tempat yang tidak seharusnya iya berada. FKIP merupakan salah satu fakultas yang luas dan memiliki jumlah mahasiswa terbanyak di bandingkan dengan fakultas – fakultas lain di Unlam. Sebagai tempat belajarnya para calon guru maka keharusan bagi pihak FKIP memberi citra yang baik pada masyarakat, termasuk mengenai kebersihan lingkungan. Kebersihan di fkip sepatutnya di jaga oleh seluruh pihak.
Sejak berada di jenjang pendidikan paling dini di masa kita yaitu TK kita di ajarkan tentang bagaimana menjaga kebersihan, salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya. Lalu lihatlah FKIP kita sepertinya banyak orang di fkip lupa dengan ajaran tersebut. Hal ini dapat terlihat nyata oleh kita, banyaknya sampah yang berserakan dimana – mana. Tentunya hal ini sangat tak pantas terjadi di sebuah sarana pendidikan. Tapi, itulah kenyataan yang terjadi sekarang. Melihat fakta ini sangat tidah adil kalau kita hanya bisa “ memvonis ” petugas kebersihan yang lalai dalam menjalankan tugasnya, karena kita semua dapat menyaksikan sendiri tiap pagi dan sore setelah selesai perkuliahan petugas kebersihan menjalankan tugasnya dengan baik. Sekarang tergantung bagaimana kita ikut memelihara kebersihan tersebut. Tak jarang kita sendiri yang lengah dan tanpa sadar mmembuang sampah tidak pada tempatnya. Namun, bukan mahasiswa namanya kalau tidak pandai mencari alasan banyak alasan yang di lontarkannya. Misalnya, jauh dengan tempat sampah, atau menyalahkan kucing yang ikut serta mengobrak – abrik tempat sampah hingga sampah berhamburan dimana – mana. Masa selalu menyalahkan kucing, kucing tetaplah kucing dan kita manusia jangan hanya bisa menyalahkan kucing, tetapi berusahalah agar tidak seperti kucing yang membuang sampah tidak di tempatnya.
Rasanya tidak bijak kalau kita terus – menerus mencari “ kambing hitam ” yang ingi disalahkan, karena kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama. Pihak fakultas mencoba menangani masalah ini dengan meletakkan bak sampah di tiap sudut kampus, tapi ternyata hal itu tak cukup, penempatan bak sampah di tiap ruang kelas juga dirasa sangat membantu melihat banyaknya sampah yang juga berserakan di dalam ruang kelas. Selain itu, fakultas juga seharusnya menambahkan jumlah tenaga kebersihan di fkip yang tidak hanya bekerja pagi sore tapi bisa bekerja kapan saja.
Di atas semua hal yang saya sebutkan, ada baiknya kita semua pihak yang ada di fkip terlibat dan lebih peduli dengan kebersihan lingkungan di fkip. Dengan menjalankan gerakan membuang sampah pada tempatnya. Hal ini dilakukan dengan, tidak membuang wadah ataupun sisa makanan di sembarang tempat, berusahalah mencari tempat sampah kalau belum ketemu simpan saja dulu ke kantong atau tas. Dermawan lah sedikit dalam hal ini, apabila berjalan dan menemukan sampah yang berserakan tidak pada tempatnya jangan di cuekin pungut dan buang lah sampah itu ke tempatnya, walaupun sampah tersebut bukan bekas kita tapi kerelaan kita melakukannya anggap saja sebagai jihad dalam menegakkan kebersihan dan yang paling penting disiplin pada diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan. Semua ini penting kita lakukan tidak hanya bagi kesehatan ataupun keindahan lingkungan kita, tapi juga citra fakultas yang kita pertaruhkan, tentu sangatlah tak bangga kalau sampai fakultas kita di nobatkan sebagai fakultas terkotor dengan jumlah sampah yang berserakan terbanyak. Demi menjaga citra baik fakultas kita di harapkan tiap orang yang ada di fkip sadar akan pentingnya kebersihan dan ikut serta dalam menjaganya.
By Am. Hamsin Fitriyadi on May 15, 2008 | Reply
PANAS
Barangkali itu lah keadaan yang sesuai untuk menggambarkan suasana kampus FKIP UNLAM pada waktu tengah hari dalam kegiatan proses belajar dan mengajar. Kendati hanya sebuah tulisan sederhana ini tapi dapatlah kiranya kita menuangkan sesuatu hal yang perlu mendapat perhatian sedikit selama ini, mengingat di tengah kegiatan belajar dan mengajar ada terlintas di benak pikiran ini jikalau pada waktu siang hari di saat terik matahari menyengat kulit ini terkadang nampak sering kita jumpai salah satu diantara kita mengusap keringat dan kegerahan, entah itu dari Dosen maupun Mahasiswa khususnya. Maklum sebagian besar di kelas kampus tersebut hanya memiliki kipas angin semata, namun dapatlah kita katakan kipas angin tersebut sudah selayaknya perlu di benahi.
Tanpa di sadari, kemajuan di bidang teknologi menghadirkan sebuah kenikmatan yang memiliki nilai lebih pada penggunannya Sejalan dengan itu sudah saatnya kita membuka mata untuk mengikuti perkembangan tersebut. Kalau lah kita menengok fasilitas di kampus lain yang memiliki kelebihan yang jauh lebih maju sudah sepatutnya kita perlu mengikuti jejak mereka.
Dalam fenomena di kampus FKIP UNLAM saat ini nampak hanya beberapa ruang tertentu hanya memiliki AC (Air Conditioner) tapi di ruang lain hanya bermodalkan kipas angin semata. Ironisnya lagi warga kampus tersebut hanya bisa terlena menikmati apa adanya fasilitas di kampus tersebut padahal jauh tertinggal dari kampus lain.
Dalam pendidikan, Fasilitas kegiatan belajar dan mengajar dapatlah dikatakan sangat menunjang tercapainya keberhasilan tujuan pembelajaran. Barangkali kalau kita sepaham mengenai hal tersebut, sudah saatnya kampus kita ini memiliki fasilitas AC di samping fasilitas penunjang lainnya. Oleh karena itu hendaknya suatu saat nanti penulis mengharapkan adanya perubahan tersebut, memang kita sadari dengan adanya fasilitas AC membuat kita dalam melakukan aktivitas belajar dan mengajar menjadi suasana sejuk khususnya waktu panas dan secara otomatis membuat kita santai.
Mengakhiri sebuah tulisan sederhana ini dapat lah kiranya kita sebagai salah satu warga kampus ini mengharapkan adanya perubahan tersebut. Dengan perkataan sederhana cukuplah kita yang hanya bisa menikmati fasilitas tersebut apa adanya tapi anak dan cucu kita jangan…toh untuk kebaikan kita bersama agar nyaman dan damai dalam aktivitas kegiatan belajar dan mengajar.
By SQ on May 15, 2008 | Reply
Pak? “tantangan” sampeyan juga saya jawab,
mohon kunjungan ke blog saya yahhh
***Yap
By Akbar Alamsyah Hidayat on May 16, 2008 | Reply
SALURAN AIR DI “SURGA” MAHASISWA
FKIP adalah salah satu fakultas favorit di Universitas Lambung Mangkurat di propinsi Kalimantan Selatan. Fakultas yang medidik calon-calon guru masa depan yang akan menggantikan guru – guru yang ada sekarang sebagai pendidik dan pengajar. Oleh karena itu para calon guru disini di bentuk sedemikian rupa hingga benar-benar siap menjadi tenaga pendidik di masyarakat nantinya.
Terlepas dari itu semua fasilitas yang ada di kampus FKIP 1 sangat lah kurang memadai dikarenakan kurang adanya perhatian dari pengurus kampus terhadap keadaan kampus. Bila dilihat lebih detail lagi sering kita lihat bila musim penghujan datang, kampus ini sering sekali tergenag air hujan hinnga hampir meluap masuk kedalam kelas atau ruangan yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya proses belajar dan mengajar. Keadaan ini diperparah dengan tersumbatnya atau mampetnya saluran air atau drainase yang ada di kampus ini karena permasalahan sampah. Padahal bila dilihat kembali dengan permasalahan itu saya lihat ada petugas kebersihan yang digaji untuk membersihkan sampah ada di sekitar areal kampus dan sekitarnya. Setiap hari dia selalu melakukan tugasnya, tetapi mengapa masih saja banjir melulu tiap turun hujan. Dan yang lebih gilanya lagi para pejabat dan pegawai atasan seperti dekan dan para pembantunya dan karyawan-karyawan yang lain seakan cuek bebek dan menutup mata akan hal ini, dan tidak melakukan apa-apa serta menganggap bahwa semua itu adalah hal yang lumrah, sungguh gila bukan ? padahal dengan saluran air yang tersumbat atau mampet tadi dapat mengganggu proses belajar dan mengajar di kampus, bila proses belajar dan mengajar tersebut terganggu, bukankah akan mempengaruhi bagaimana pemahaman dan penerimaan mahasiswa atas materi yang di berikan oleh pengajar atau yang biasa disebut dengan dosen, dan bila itu terganngu dan tidak efektif, bagaimana dapat menghasilkan guru yang profesional.
Sungguh kenyataan yang miris bila melihat itu. Dengan masalah saluran air yang sampai sekarang hanya dianggap sebagai masalah sepele saja oleh orang-orang atasan yang mereka mengganggap diri mereka sebagai dewa penyelamat yang suci, padahal gaji mereka juga dan semua fasilitas kelas VIP yang mereka nikmati juga di peras dari kami – kami juga sebagai mahasiswa yang kuliah di kampus ini. Tetapi seakan- akan mereka tidak peduli pada nasib – nasib kami sebagai mahasiswa yang jauh-jauh datang merantau dari kampung ke kampus FKIP untuk mengejar cita-cita menjadi seorang guru. Tetapi yang didapat hanyalah sepatu basah, jalan lorong yang becek, halaman yang tergenang air dan lain sebagainya, padahal dalam kenyataannya dapat dilihat di dalam saluran air tersebut banyak terdapat sampah-sampah yang menumpuk dari bagian administrasi yang membuang sampah sembarangan di saluran air yang menyebabkan tersumbatnya saluran air yang ada dikampus.
Jadi bagaimana solusinya yang harus dilakukan untuk menyelesaikan maslah saluran air ini, padahal masalahnya hanya soal sepele saja tapi bila dibiarkan berlarut-larut dapat membahayakan kampus FKIP juga. Bagaimana jika seandainya tidak ditindak lanjuitu hingga 10 tahun kedepan, Maka FKIP mungkin akan menjadi kenangan saja karena telah tergenang air hinnga tidak dapat digunkan lagi sebagai tempat pendidikan para calon guru masa depan. Padahal anggaran dana tiap tahun ajaran dan tiap semester selalu bertambah, tetapi mengapa hanya digukan untuk hal yang bisa dibilang sia-sia. Bukannya untuk memperbaiki keadaan saluran air yang ada di kampus FKIP. Dengan itu mungkin hanya dengan mengandalkan mahasiswanya yang harus menyelesaikannya, karena pihak atasan tidak ada yang dapat diandalkan. Padahal seharusnya mahasiswa hanya tahu belajar dan belajar saja. Sedangkan masalah saluran air tersebut adalah maslah atasan yang di gaji untuk mengayomi dan melayani mahasiswa.
By Erina Marsiana on May 16, 2008 | Reply
SAKADOMAS DI FKIP
Sakadomas merupakan bangunan ataupun tempat yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif bagi para civitas akademik Fkip Unlam. Kegiatan-kegiatan disini tidak hanya bersifat akademik. Namun juga bersifat non akademik. Misalnya kegiatan akademik adanya kuliah umum bisa mengenai bedah buku, kalau yang non akademik adanya pentas seni seperti lomba menyanyi, membaca puisi dsb.
Bangunannya yang khas budaya banjar, unik dan menarik lokasinya pun sangat strategis yaitu terletak di tengah-tengah bangunan kampus FKIP. memang dulunya sebelum tempat itu dibangun, tempat itu hanyalah kolam ikan. Apa fungsinya, dan apa pula manfaatnya ? bagaimana efektifitas Sakadomas dalam menunjang ide-ide kreatif yang ada dilingkungan FKIP? mungkin banyak sekali pertanyaan yang akan terlontar mengenai sakadomas karena sakadomas dalam hal ini telah menjadi suatu perbincangan yang menarik pada kalangan mahasiswa yang terkait fungsi dan guna dari tempat tersebut. Sakadomas adalah singkatan dari sakahandak dosen dan mahasiswa, yang kalau boleh diartikan dalam bahasa Indonesia adalah terserah dosen dan mahasiswa. Artinya dosen dan mahasiswa sebagai keluarga besar FKIP mempunyai hak untuk memanfaatkan tempat tersebut yang tentunya dalam hal-hal positif.
Munculnya ide pembuatan tempat tersebut merupakan hasil dari pemikiran dan mempunyai tujuan. Dalam konteks ini kita harus berfikir positif tentang tujuan dari pembuatan sakadomas,dan itulah tadi sepintas dari segi positifnya, ada segi positif tentulah ada segi negatifnya yang bisa dirasakan dampaknya. Sebagai contoh ketika lomba-lomba diselenggarakan di sakadomas, yaitu terganggunya proses kegiatan belajar-mengajar karena pengalaman lomba-lomba tersebut diselenggarakan bertepatan dengan waktu ujian middle test dan menurut saya itu sangatlah mengganggu konsentrasi mahasiswa yang sedang menempuh ujian. Dan yang lebih memprihatinkan lagi dosen yang memberi ujian di kelas, juga ikut menonton acara lomba nyanyi tersebut. Tetapi bagaimanapun juga itu akan menjadi sesuatu yang berharga apabila itu dimanfaatkan oleh mahasiswa.
Sakadomas bisa digunakan untuk apa saja, bahkan setiap hari nampak sekali terlihat mahasiswa yang duduk-duduk santai, tapi terkadang tempat itu bisa jadi tempat kuliah dan arena diskusi. Dalam waktu-waktu tertentu banyak acara-acara yang diadakan di sakadomas, saperti bedah buku, lomba menyanyi, puisi dalam rangka Dies natalis. Walau begitu nampak sekali bahwa sakadomas belum dimanfaatkan secara maksimal. karena dalam penglihatan saya sakadomas menjadi tempat yang banyak nganggurnya daripada digunakan untuk kegiatan yang kreatif. tapi terlepas dari semua itu, sakadomas telah menjadi sarana penting dalam mengapresiasikan ide-ide kreatif yamg muncul dari civitas FKIP UNLAM.
By KAMSINAH on May 17, 2008 | Reply
PETUGAS KEBERSIHAN DI FKIP
Unlam merupakan kampus yang paling tua di Banjarmasin jika dilihat dari segi usianya, dan kampus yang famornya lebih tinggi dibanding kampus lain. Yang mana angka peminat setiap tahunnya sangat banyak dan meningkat terus, khususnya FKIP dapat dilihat dari parkir kendaraan yang melampaui lokasi yang telah tersedia.
FKIP merupakan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan yang namanya sudah tidak asing lagi ditelinga para calon peminatnya dan dikenal banyak orang, namun semuanya berbanding terbalik jika dilihat keadaan FKIP sekarang yang memprihatinkan. Tanpa melihat permasalahan FKIP lebih mendalam, masalah kebersihan FKIP dapat dilihat dengan jelas secara kasat mata baik oleh masyarakat FKIP nya sendiri maupun masyarakat luar atau umum, yang bila masuk kawasan FKIP maka ketidak bersihan di FKIP sudah dapat terlihat.
Tidak jelas apa yang menyebabkan bisa seperti ini, masalah kebersihan FKIP tidak terorganisir dengan jelas. Padahal jika para penguasa FKIP sadar mengenai kebersihan FKIP itu penting dan harus!! maka tidak sulit untuk melakukan dan mengorganisirnya secara terarah. Apalagi keuangan FKIP tidak sedikit bila dilihat dari mahasiswa/mahasiswi yang mendaftara tiap tahunnya, dan ditambah lagi jalus mandiri yang sudah tentu dapat dipikir secara logika bisa menggaji karyawan/petugas-petugas yang dirasa perlu untuk kenyamanan FKIP sendiri, namun hal itu tidak sedikit pun terealisasikan.
FKIP yang besar tidak ada petugas kebersihan secara terorganisir sangat memprihatinkan, bila dibanding sekolah-sekolah umum seperti tingkat SMP, SMA maka sudah jelas kebersihan di SMP, SMA lebih terjaga dibanding kampus yang kita cintai ini. Semoga FKIP kedepannya lebih berkembang, maju dan dapat mempertanggungjawabkan segala sesuatu dengan baik dan jujur, petugas kebersihan di FKIP dapat terpenuhi dan terjalin suatu keselarasan hingga tercipta suatu kenyamanan secara keseluruhan di kampus FKIP kita ini.
By Hamidah ulfah on May 17, 2008 | Reply
SARANA OLAHRAGA Di kampus 1 FKIP BANJARMASIN
Universitas Lambung Mangkurat merupakan salah satu dari sekian banyak universitas yang ada diBanjarmasin, sekaligus menjadi universitas yang tertua di Kalimantan selatan.Hampir diseluruh kabupaten yang ada diKalimantan selatan pasti tahu tentang UNLAM, paling tidak dari namanya sendiri yang sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat sekitarnya.
UNLAM Banjarmasin memiliki 4 fakultas yaitu fakultas ilmu sosial dan ilmu pemerintahan(FISIP),fakultas ekonomi(FEKON), fakultas ilmu keguruan dan ilmu pendidikan(FKIP) dan fakultas hukum(FAKUM), dari ke 4 fakultas yang ada diBanjarmasin tersebut hanya kampus1 FKIP UNLAM saja yang sampai sekarang tidak mempunyai sarana olahraga,entah dikarenakan lahannya yang tidak tersedia ataukah dana yang tidak ada, semua itu hanya orang-orang tinggi di FKIP lah yang bisa menjawabnya.Maka dari itu yang hendak saya bahas disinilah adalah keberadaan dari sarana olahraga dikampus FKIP ini.
Dari SD, SMP, SMA, saya selalu mendapatkan pelajaran tentang pendidikan jasmani dan kesehatan atau yang biasa disingkat dengan Penjaskes.Ketika mendapatkan teorinya seperti: tolak peluru, bolla volly,basket dan sebagainya itu, pasti tidak bisa dipisahkan dari prakteknya baik itu oleh siswanya, atau lebih baik lagi sebelum memulai praktek biasanya guru olahraga bersangkutan memberikan contoh itu terlebih dahulu bagaimana gerakan yang benar.
Namun ketika memasuki perguruan tinggi, pelajaran itu sudah tidak diajarkan lagi dikampus FKIP ini, apalagi sekarang ini saya berstatus sebagai mahasiswi di FKIP UNLAM banjarmasin, dimana dikampus yang sudah saya jalani kurang lebih 3 tahun ini ternyata tidak memiliki sarana/fasilitas olahraganya, padahal walaupun dikampus ini kita tidak lagi memperoleh pelajarang penjaskes itu, tetapi dari sekian ribu mahasiswa yang ada pastilah sebagian diantara mereka memliki bakat dalam bidang olahraganya masing-masing, dengan didukung oleh fasilitas yang ada misalnya lapangan basket, para mahasiswa itu dapat menyalurkan bakatnya.
Melihat kenyataan bahwa dikampus ini tidak memiliki sarana olahraganya, tentu yang menjadi pertanyaan kita kenapa tidak ada, padahal iuran yang dibayarkan tiap semesternya cukup banyak, mungkin pertanyaan ini sempat terlintas dipikiran kita yang kuliah dikampus tercinta ini.Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang mempunyai bakat dibidang basket misalnya, apakah kita harus selamanya sekedar numpang bermain atau berlatih dikampus orang, jika ini dipirkan bersama bakat yang dimiliki itu akan tersendat, sementara tidak hanya lapangan basket saja yang tidak ada,lapangan bulu tangkis pun juga tidak tersedia disini.Contoh kecil misalnya, kebetulan ada teman saya yang juga kuliah dikampus FKIP ini yang juga berpropesi sebagai pemain bulu tangkis,pernah ketika itu saya bertanya, kemana biasanya latihan, untuk mempersiapkan pertandingan, dan dia menjawabnya, kami biasanya satu tim berlatih di GOR Bunnyamin yang ada dipal6, emdengar jawabannya, saya berpikir untuk kesana saja tentu emnyita waktu dan biaya, ccoba saja seandainya dikampus kita memiliki fasilitas yang mendukung olahraha tersebut , pastinya dia tidak susah-susah lagi pergi kesana hanya untuk latihan.
Jika kita lihat dari bangunan yang sekarang ini tegak berdiri ditengah-tengah kampus, yang dinamakan SAKADOMAS itu, dari kabar yang berhembus pembangunan nya sudah menghabiiskan beratus-ratus juta, yang sering digunakan sebagai tempat kegiatan akademik dan lomba-lomba pada acara dies natalis, itu sebaiknya dibangun fasilitas olahraga seperti lapangan bulu tangkis, atau apalah, yang pasti bukan lapangan sepakbola yang justru tidak memungkinkan.
Namun tidak dipungkiri juga keberadaan dari balai sakadomas ini memberikan segi positif karena sering digunakan untuk kegiatan akademik atau non akademik seperti yang sudah dibahas diatas.Bgi mereka yang ingin menyalurkan bakatnya diberbagai macam bidang olahraga sebaiknya mendaftar di kampus FKIP banjar baru karena disana sudah tersedia jurusan olahraga tersebut.
By HELMI HAKIM on May 17, 2008 | Reply
VISI DAN MISI FKIP UNLAM
Setiap lembaga atau instansi pasti mempunyai visa & misi yang di harap kan nantinya dapat terlaksana dengan baik, begitu juga lembaga pendidikan FKIP Unlam yang mempunyai visi & misi yang akan di capainya dengan di bentuknya lembaga tersebut. Visi dan misi itu adalah :
Visi
Menjadi lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang terkemuka yang lulusannya memiliki kemampuan akademik, profesional dan menguasai teknologi informasi serta daya saing yang tinggi.
Misi
a.Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional yang lulusannya menjadi tenaga kependidikan pada jenjang pendidikan dasar ( TK, SD/MI, dan SMP/MTs), SMA/MA dan SMK serta pendidikan tinggi sesuai kebutuhan pengembangan pendidikan dan pembangunan.
b.Menyelengarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pendidikan dan bidang yang terkait dengan kebutuhan pengembangan pendidikan dan pembangunan.
c.Mengoptimalkan pemberdayaan dan meningkatkan kinerja dosen dan karyawan.
d.Melakukan kerjasama dalam bidang pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan PTN/PTS di dalam dan di luar negeri, serta dengan instansi-instansi pemerintahan dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lain nya.
e.Memberikan pengetahuan dan keterampilan teknologi informasi, sehingga setiap lulusan mampu memanfatkan teknologi informasi untuk kepentingan pendidikan.
Sesuai dengan visi dan misi di atas, maka FKIP Unlam harus dapat membuktikan bahwa nantinya visi dan misi itu akan dapat terselenggara dengan baik sebagai mana mestinya, sehingga untuk mencapai visi dan misi tersebut FKIP Unlam harus memajukan kinerja FKIP Unlam dengan baik agar nantinya dapat menjadi lembaga pendidikan dan menghasilkan tenaga kependidikan yang terkemuka. Selain itu juga FKIP Unlam harus meningkatkan sarana dan prasarana yang menunjang visi dan misi tersebut baik yang datang dari dalam FKIP Unlam tersebut, seperti masalah yang timbul dari dosen-dosen pengajar, para mahasiswa atau masalah berupa infrastruktur kampus dan masalah yang muncul dari luar FKIP Unlam tersebut, seperti kebijakan-kebijakan rektor, dinas pendidikan maupun pemerintah, serta dari masyarakat. Kembali lagi ke masalah terselenggaranya visi dan misi juga penunjang terselenggaranya visi dan misi tersebut, apakah FKIP Unlam sudah terselenggara visi dan misinya dan apakah penunjang terselenggaranya visi dan misi tersebut sudah terpenuhi????????????????????
By Abdul Rahman S. on May 17, 2008 | Reply
MINAT MAHASISWA SEJARAH DALAM PENGGUNAAN INFORMASI TEKNOLOGI
penggunaan teknologi saat ini mau tidak mau mengakibatkan terjadinya perubahan tidak hanya di bidang plolitik, hukum, ekonomi, sosial, namun juga berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Namun saat ini perkembangan teknologi komunikasi sudah sangat cangih. sebut saja internet yang mapu menjangkau seluruh belahan dunia bahkan saat ini internet sudah menjadi gaya hidup yang merekatkan dan membukakan sekat-sekat segala belahan dunia. Namun dengan teknologi yang canggih maka setiap media masa berusaha untuk melakukan peliputan dan mengetahui kejadian yang sebenarnya disana. sehingga CNN mampu mengabdikan beberapa adegan penting yang terjadi di sana secara audio visual.
Dari hal tersebut maka jelaslah bahwa seperti yang di terangkan sebelumnya bahwa saat ini tidak ada lagi sekat-sekat antar bangsa di dunia. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah sampai pada batas-batas yang sulit dibayangkan oleh manusia.
Sehingga sangatlah wajar jika dalam tataran selanjutnya dengan kemajuan teknologi yang berkembang seluruh umat manusia di tuntut untuk menguasai teknologi komunikasi atau yang sering di kenal IT. ketika saya menyadari semua tentang 3G oleh salah satu operator telefon swata mengatakan bahwa perkembangan teknologi komunikasi sudah sangat maju dan sudah enjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa terpisahkan bahkan saat ini ketergantunan pada Handphone sama seperti kehilangan nyawa sendiri. Berkaca dari hal yang positifnya meskipun tidak bisa di pungkiri pula bahwa ada dampak negatifnya pula dari kemajuan IT tersebut tentuya bagi saya sangatlah menunjang dari studi yang saat ini saya jalani. salah satunya misalnya internet yang bisa saya telusuri dengan sangat mudah.
Saat ini dalam penilaian saya minat mahasiswa sejarah denagn menjadiakn IT sebagai media pembelajaran sejarah sudah sangat maju bahkan mereka sendiri sudah bisa membuat web. Ini haruslah di sokong oleh fakultas sebagai baian dari istitusi yang mampu memberikan berbagai fasilitas yang dapat menunjang studi mahasiswanya.
By VIDA AULIA RAKHMAN on May 17, 2008 | Reply
Praktek Kerja Lapangan ( PKL )
Kegiatan ini dilaksanakan hampir setiap akhir semester atau tepatnya pada waktu pekan teduh mahasiswa. maksud dari acara ini adalah sebagai salah satu bentuk observasi mahasiswa dan mahasiswi yang didampingi oleh dosen ke tempat yang dinilai masih menyimpan nilai historisnya sehingga dapat membantu dalam pemahaman materi sekaligus sebagai bentuk refresing mahasiswa.
Banyak hal yang diperoleh dari kegiatan ini, seperti pada PKL yang dilaksanakan di Desa Mentewe Kab. Tanah Bumbu, adapun obyek yang dilihat adalah Gua Sugung yang telah diteliti dan dilakukan penggalian oleh Balai Arkeologi dan dinyatakan sebagai tempat tinggal manusia purba jaman prasejarah dahulu. KIta dapat melihat dan mengetahui bagaimana ketentuan-ketentuan gua yang dapat dijadikan tempat tinggal.
Dalam perjalanan itu kita dapat tahu bagaimana pola dan cara hidup manusia pada waktu itu.Walaupun untuk biaya ke tempat itu menggunakan biaya sendiri tanpa ada dana bantuan dari fakultas.
Keinginan untuk dapat meminta bantuan dari fakultas itu ada, namun protokolernya sangat rumit dan berbelit-belit belum lagi tenggang waktu cairnya dana lumayan cukup lama sehingga rencana yang diharapkan juga mengalami penundaan.Hal ini lah yang membuat panitia mencari alternatif lain agar kegiatan dapat terus berjalan.Mahasiswa memang harus merogoh kocek dalam-dalam agar tercapainya kegiatan itu, alhasil yang didapat pun cukup setimpal dengan jumlah yang telah dikeluarkana secara pribadi itu dan muncul pula aanya kepuasan hati atas terselenggaranya kegiatan ini dalam artian kita belajar tidak hanya statis dikampus saja melainkan turun ke lapangan untuk melihat langsung.
Dan sebagai orang yang belajar tentang sejarah kegiatan ini memang patut untuk dilaksanakan dan diikuti untuk lebih dapat memahami materi kesejarahan yang diberikan.
By Farida Ariyani on May 17, 2008 | Reply
PERATURAN TATA TERTIB FKIP
Setiap lembaga atau khususnya perguruan tinggi pastilah mempunyai suatu peraturan atau tata tertib yang di buat dengan tujuan untuk dapat di jalan kan atau di perhatikan oleh orang yang berada di dalam ruang lingkup lembaga pendidikan tersebut. Begitu hal nya di lembaga perguruan tinggi Unlam seperti fakultas pendidikan dan ilmu keguruan, di dalam lembaga ini terdapat banyak peraturan-peraturan tata tertib yang harus di patuhi dan di taati oleh semua orang yang berada di dalam lingkungan tersebut, tetapi ada macam-macam peraturan yang mana peraturan itu harus di taati oleh semua instansi, dosen dan mahasiswa. Peraturan itu hanya untuk instansi yang ada di FKIP saja, hanya untuk para setap pengajar (dosen) atau peraturan yang hanya di khususkan untuk mahasiswa saja, tetapi dalam pembahasan ini akan di khususkan mengenai peraturan atau tata tertib untuk mahasiswa yang mana peraturan nya di pajang di stiap ruang kulih dengan berbingkaikan kayu dengan kaca seolah-olah peraturan itu sangat berharga dan tinggi nilainya, namun kalau dipikir-pikir memang demikian pada hakekatnya, tetapi kini yang menjadi permasalahan apakah peraturan itu sudah terlaksana aplikasinya atau di jalan kan oleh para mahasiswa??? Baik peraturan mengenai tata tertib dan perkuliahan misalnya dilarang datang terlambat, maupun makan dan minum di ruang kulih. Selain itu peraturan dalam berpakaian yang mana di haruskan memakai pakaian rapi dan tidak diperbolehkan menggunakan celana jins yang sobek-sobek. Setiap mahasiswa haruslah memiliki sopan santun dalam pergaulannya, dll.
By Asmia Ulfah on May 17, 2008 | Reply
Dosen Yang Tak Ber “Ruang”
Kampus Fkip Unlam sebagai lembaga tertinggi dibidangnya ternyata banyak memiliki kekurangan.
Tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, khususnya bagi calon mahasiswa. Mereka membayangkan
kampus tersebut adalah kampus yang bersih, nyaman dan mempunyai fasilitas yang lengkap
bagi mahasiswa maupun dosen. Karena Fkip merupakan kampus yang mencetak calon guru khususnya
di kalimantan Selatan. Karena pola pikir masyarakat Hulu Sungai berpikir, menjadi guru adalah
idaman setiap orang tua bagi anak-anak mereka. Maka sewajarnya Fkip memberikan fasilitas
yang sesuai dengan harapan mahasiswa dan dosen. Hal ini tentunya sebanding dengan ikon
fakultas dengan predikat mahasiswa terbanyak. Coba kita bayangkan, jika kita hitung pendapatan
dari iuran mahasiswa yang jumlahnya mencapai angka ribuan lebih, didapatkan dana yang lumayan
banyak juga untuk membangun fasilitas yang sesuai, lebih heboh lagi sekarang ada Jalur tanpa
ikut tes SPMB untuk menjadi mahasiswa, yang konon katanya iuran registrasinya 3 kali lipat
dari mahasiswa reguler. Mahasiswa banyak maka hukumnya dosen harus sebanding dengan kenyataan.
memang dosen diFKIP sudah memenuhi kriteria banyaknya mahasiswa, akan tetapi cukup dan sesuaikah
fasilitas yang didapat mahasiswa maupun dosen.
Saya sebagai salah satu mahasiswi Fkip tentunya ikut melihat, mendengar dan merasakan
akan fasilitas kampus yang terbatas khususnya bagi para dosen. Hal ini saya perhatikan akan ruangan
yang menampung dosen tersebut. Ternyata hanya mempunyai satu ruangan yang saya katagorikan tidak
cukup luas untuk menampung para dosen fkip. Ini saya lihat setiap memasuki jam mata kuliah.
ada saja dosen yang duduk di kursi yang “seharusnya” diduduki mahasiswa, kasian memang. Tetapi
apa mau dikata air sudah mendidih, suhu semakin panas akibat banyaknya mahasiswa ditambah dosen
tidak mempunyai ruangan. Berdasarkan perhitungan diatas, tidak mungkin Fkip kekurangan dana hanya
untuk membangun sebuah “gubuk” bagi dosen. Wallahuallam bin jalik kenyataannya memang demikian.
Dikemanakan dana tersebut, pembangunan tidak terlalu menonjol dilingkungan FKIP.
Saya berharap para pengelola mau berkenan memikirkan ini. Saya jujur sangat prihatin akan “nasib” para dosen yang tidak
mendapatkan PENGHARGAAN tempat bersantai. Cukup bagi kami para mahasiswa yang tidak mendapatkan fasilitas
yang nyaman, bukan dosen. Niat sudah memuncak untuk mendapatkan ijazah sarjana diFakultas tercinta ini
jadi fasilitas tentunya “mungkin” saya nomer duakan.
Tulisan ini juga saya posting diblog saya.
terima kasih.
By Linda Araini on May 17, 2008 | Reply
Ruang fotocopy FKIP
Di FKIP Unlam terdapat beberapa sarana yang dapat digunakan mahasiswa dan mahasiswi untuk menyelesaikan tugas – tugas kuliah sebut saja ruang multimedia dan ruang fotocopy. Namun, yang saya akan bahas pada kesempatan ini yaitu ruang fotokopy di mana ruang tersebut pada waktu tertentu selalu disesaki oleh mahasiswa dan mahasiswi yang ingin mengopy bahan untuk tugas kuliah.. Ruang tersebut disesaki pada waktu pagi hari, sayangnya ruang tersebut digolongkan masih kecil sehingga jika masuk kedalam ruang tersebut harus berdesak-desakan ataupun antri dan menunggu diluar. Petugas yang ada hanya 2 orang saja dan mesin fotocopy yang juga berjumlah 2 buah dan tidak jarang mesin tersebut rusak berikut hasil fotocopynya yang juga sering tidak jelas. Jumlah petugas di ruang tersebut yang berjumlah 2 orang untuk melayani mahasiswa FKIP yang berjumlah ratusan orang tidak memadai sampai-sampai mahasiswa FKIP mesti keluar kampus untuk mengopy bahan untuk tugas kuliah. Peralatan yang ada disitu juga kurang lengkap sehingga mahasiswa terkadang harus keluar FKIP untuk mencari alat yang mereka perlukan. Mesin pendingin yang ada hanya kipas angin yang berjumlah satu buah mengakibatkan ruang yang kecil tersebut terasa panas.
By haryani on May 17, 2008 | Reply
Forum Studi Islam (FSI) Al Furqon FKIP Unlam
FSI Al Furqon adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa Fakultas (UKMF) yang bernaung di kampus FKIP Unlam, sekaligus sebagai satu-satunya UKMF di FKIP Unlam yang bergerak dibidang kerohanian islam.
FSI Al Furqon didirikan pada tahun 1995 oleh para mahasiswa yang tergabung dalam sekbid kerohanian di masing-masing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di kampus FKIP Unlam.
Awalnya keberadaan FSI Al Furqon ditujukan untuk menyatukan gerak langkah dalam syiar Islam di Kampus FKIP, tapi seiring dengan perkembangannya FSI melihat perilaku mahasiswa muslim khususnya di FKIP Unlam semakin memprihatinkan. Budaya dan pemikiran barat yang bersifat destruktif dengan mudah diadopsi dan kemudian mengkristalisasi di dalam generasi muda Muslim. Kamudian dengan minimnya alokasi waktu untuk mata kuliah agama Islam yang hanya 2 SKS.
Maka dengan melihat fakta-fakta seperti itu, FSI Al Furqon bekerjasama dengan dosen-dosen pembimbing mata kuliah agama Islam melaksanakan program pembinaan lewat mentoring, yang berlangsung selama satu semester bebarengan dengan pengambilan mata kuliah agama Islam.
Visi, Misi dan Motto FSI Al Furqon
Visi : Menjadikan Islam di atas segalanya dan membumikan nilai-nilai
Islam dalam kehidupan multidimensi terutama bidang
pendidikan.
Misi : Menumbuhkan nilai-nilai Islam di Masyarakat terutama
masyarakat pendidikan dengan mengacu pada pola pembinaan,
syi’ar dan dakwah Islam.
Motto : Media penjernihan pemikiran dan perasaan untuk membentuk
insan yang furqon (pembeda antara yang haq dan yang bathil)
dan berkepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiah).
Program Kerja FSI Al Furqon
Marhaban Mahasiswa baru
Ta’aruf FSI Al Furqon dan pembukaan mentoring
Mentoring
Penutupan Mentoring
Pekan Pendidikan Islam (PPI)
Ta’mir Ramadhan di Kampus (TRDK), kerjasama dengan LDK AMBH Unlam.
Peringatan hari-hari besar Islam
Daurah Dirasah Islamiyah
Pelantikan dan training Pengurus FSI Al Furqon
Buletin Al Furqon
Kajian pengurus Ikhwan FSI Al Furqon
MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa)
NGTREN (Ngaji Ala Pesantren)
One Night With Us
The Best FM (Forum Muslimah Terbaik)
Klinik Muslimah
PEPSI (Pengjian Pengurus FSI Al Furqon)
Manajemen Dakwah Organisasi (MADANI)
TOP (Training Orientasi Pengurus)
Rihlah
Briefing Mentoring
SILCIVA (Silaturrahmi Civitas Akademika)
Pengiriman utusan
Mading FSI
PENTIUM (Pertemuan Pengurus dan Alumni)
BUFET (Breaking Fast Together)
Kajian Pendidikan Islam
POKUS (Penyebara Opini Khusus)
Iuran Pengurus
Bursa Usaha Alif
Donator Tetap
Bazar
Penerimaan, pengumpulan,dan penyaluran Jildab dan Khimar.
Inilah sekilas wacana tentang Forum Studi Islam Al Furqon Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat.
By Hanik Puspitasari on May 17, 2008 | Reply
BLM FKIP
Seperti halnya BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang sudah pasti ada disetiap fakultas kampus UNLAM, BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) pun merupakan lembaga mahasiswa yang sudah pasti ada disetiap fakultas.
Tugas BLM adalah sebagai wadah penyaluran aspirasi masyarakat kampus untuk disampaikan kepada Pejabat kampus. Baik menyampaikan keluh kesah, saran-saran atau uneg-uneg apapun yang dirasakan mengganjal. Namun, fungsi ini tidak begitu tercapai. Singkatnya, BLM sampai saat ini belumlah difungsikan senbagaimana mestinya. Pada dasarnya, BLM belum tersosialisasikan dengan baik dikalangan kampus.
Baru saja ada seorang teman yang menghampiri saya dan bertanya “BLM tu apa??” Entah BLM yang kurang tersorot ataukah mahasiswanya yang memang tak pernah mau tahu tenyang kampus?? Melihat realita ini, tentunya membuat kita berfikir. Kalau apa BLM saja belum diketahui apalagi perannya? Dan bagaimana bisa memanfaatkannya……..
BLM memang tidak terlalu berperan dalam mengurusi hal-hal yang berhubungan langsung dengan mahasiswa. Pertama kali saya tahu BLM, ketika akan diadakan pemilihan umum ketua BEM 2007-2008. Kedudukan BLM setingkat diatas BEM. BLM bertugas menyelenggarakan pemilihan umum ketua BEM dan berikutnya mengawasi tindak tanduk BEM di kampus.
Adapun anggotanya diambil dari perwakilan mahasiswa tiap program studi. Masing-masing 2 orang. Namun dalam geraknya, seringkali tak sempurna. Pengalaman yang saya dengar dari ketua BLM, tiap tahunnya hanya sekitar 4 orang yang benar-benar aktif mengurusi BLM. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan masing-masing anggota. Ada yang akif di HIMA, IMPS-B, FSI Al Furqon. Malkum, ketika dicari siapa yang mau masuk dalam keorganisasian BLM, orangnya hanya itu-itu saja. Mereka yang memang punya kepedulian terhadap kampus dan memang sudah bergerak disalah satu organisasi kampus. Terakhir, BLM sangat sulit mengadakan pertemuan, walaupun hanya 1 bulan sekali. Kebetulan ketuanya sedang menyelesaikan skripsinya di luar kota.
Untuk sekretariat, BLM punya satu ruangan. Letaknya didekat tempat rapkir dosen-dosen FKIP. Saat awal-awal BLM membentuk anggota baru tahun 2007 tadi, sebagian besar aktivitas BLM dilakukan di Sekretariat BEM. Karena kondisi sekretariat BLM yang sangat mengenaskan. Bagaimana tidak mengenaskan, ruangan yang seharusnya ditempati BLM malah ditempati paman parkir…….. Ada cermin, baju-baju beliau, poster-poster artis di dindingnya… Bahkan ketika kami akan mengadakan rapat, kami mesti permisi dulu sama penghuni barunya… Ajaib memang!!! Uniknya, kampusku….
By Siti Nurul Kamila on May 17, 2008 | Reply
FENOMENA MAHASISWA REGULER & MANDIRI
Dalam lembaga pendidikan FKIP Unlam yang mana untuk masuk dalam perguruan tinggi tersebut dapat melalui berbagai macam cara yaitu melalui berbagai tes diantaranya:
1.Melalui jalur PMDK
2.Melalui jalur SPMB
3.Melalui jalur Mandiri
Melalui jalur-jalur diatas nantinya siswa-siswa lulusan SMA/MA dan SMK dapat kuliah dan menjadi mahasiswa di FKIP Unlam.
Setelah mereka menjadi mahasiswa maka nantinya mahasiswa yang masuk melalui jalur PMDK dan SPMB disebut sebagai mahasiswa Reguler dan mahasiswa yang lulus melalui jalur Mandiri disebut dengan mahasiswa Mandiri. Sebenarnya Reguler ataupun Mandiri tidak ada bedanya dalam menerima perlakuan dan Fasilitas di dalam kampus, tetapi yang membedakan hanyalah jumlah pembayaran SPP yang mana mahasiswa yang masuk melalui jalur Mandiri lebih mahal jumlahnya hampir dua sampai empat kali lipat dari mahasiswa reguler yang lebih jelas terlihat pada saat pembayaran iuran masuk pertama/peandaftaran ulang mahasiswa. Walaupun pada dasarnya tidak ada perbedaan perlakuan dan fasilitas antara mahasiswa reguler dengan mandiri, tetapi kadang mahasiswa mandiri menganggap diri mereka lebih tinggi kedudukannya di bandingkan mahasiswa reguler. Hal ini karena kebanyakan mahasiswa yang masuk lewat jalur mandiri mereka dari golongan masyarakat menengah keatas. Namun pada hakekatnya mereka tidak menyadari bahwa mereka sama-sama kuliah di dalam fakultas(perguruan tinggi) FKIP Unlam yang serba kekurangan fasilitas.
By juwita sari on May 17, 2008 | Reply
KWALITAS MAHASISWA FKIP
Fkip merupakan salah satu fakultas yang ada di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Fakultas ini bediri pada tanggal 8 desember 1983. Dilihat dari usianya fkip bisa dikatakan sebagai salah satu fakultas yang cukup tua. Umur boleh tua, tetapi nampaknya fkip hingga sekarang masih belum dapat disejajarkan dengan fakultas-fakultas lain, baik dalam ruang lingkup lokal ataupun nasional. Fkip selalu saja dianggap sebagai fakultas kasta bawah. Apa sebabnya?
Sebab utamanya adalah kwalitas mahasiswa fkip masih dianggap rendah. Bagaimana bisa mencetak mahasiwa yang berkualitas, apabila dalam proses kegiatan perkuliahan selalu dilakukan dalam kondisi yang serba memprihatinkan. Bisa dikatakan memprihatinkan, sebab segala fasilitas pendukung proses perkulihan sangat terbatas, sudah ketinggalan zaman dan tidak layak pakai lagi.
Bayangkan untuk sebanyak 3000 ribu lebih mahasiswa, 10 prodi, dan 28 ruang kelas, kampus ini cuma memiliki tidak lebih dari 10 buah uhv, itu pun sudah termasuk yang tidak bisa dipakai lagi alias rusak berat. Sehingga apabila ingin mengunakan uhv, kita harus mencari-cari keliling kampus terlebih dahulu, malah terkadang hingga harus berebut dengan mahasiswa lain.
Itu soal uhv, belum lagi soal proyektor. Walaupun Nasib keduanya tidak jauh berbeda, serba kekurangan dan tidak relevan untuk mahasiswa yang sebanyak ini, tetapi patut diacungi jempol karena paling tidak ada upaya dari fakultas untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.
Bicara mengenai perbaikan kwalitas mahasiswa FKIP, fakultas FKIP baru-baru ini mulai mengoprasikan fasilitas hot spot dan ruang multi media. Tujuannya memang mulia yaitu agar mahasiswa fkip dapat akrab dengan segala macam kemajuan teknologi, terutama internet. Akan tetapi, pada kenyataannya fasilitas tersebut hanya dapat digunakan oleh sebagian kecil mahasiswa saja. Untuk ruang multimedia misalnya, karena keberadaan komputer yang terbatas, menyebabkan tidak semua mahasiswa dapat menggunakannya. Begitu pula dengan fasilitas hot spot. Mahasiswa yang dapat menggunakannya hanyalah mahasiswa yang memiliki laptop. Alhasil mahasiswa yang tidak punya laptop tidak dapat menggunakan fasilitas tersebut, padahal uang untuk membayar iuran penggunaan hot spot tersebut berasal dari uang operasional kampus yang berasal dari pembayaran kuliah mahasiswa persemester.
Keprihatinan tidak hanya dari segi penggunaan teknologi, tetapi juga dari segi fasilitas pendukung kenyamanan dalam proses perkuliahan. Seperti ruang perkuliahan yang begitu sempit, panas dan kotor. Dengan keadaan seperti ini bagaimana mahasiswa bisa belajar dengan baik. Apabila boleh kita bandingkan dengan fakultas lain yang masih dalam satu universitas, seperti fakultas ekonomi, tentu FKIP sangat payah. Payah karena, fakultas ekonomi dalam hal ruang kuliah serta fasilitas pendukungnya bisa dikatakan sudah memenuhi standar tinggi. Di setiap ruangan dilengkapi dengan pendingin ruangan, dan kelasnya bersih terjaga. Keadaan ini sungguh berbanding terbalik dengan fakultas fkip.
Selain keterbatasan dalam hal penggunaan teknologi dan fasilitas di ruang kuliah, rendahnya kwalitas mahasiswa Fkip juga dikarenakan kurangnya bahan-bahan pendukung perkuliahan, seperti buku-buku yang berhubungan dengan materi kuliah. Padahal seperti kata orang bijak bahwa buku merupakan jendela dunia, artinya dengan membaca buku, pengetahuan kita akan bertambah.
Dengan keadaan demikian, bagaimana kwalitas manusia FKIP bisa maju dan berkembang. Apalagi di era globalisasi ini, di mana akan terjadi persaingan sangat keras dalam segala bidang. Apabila seseorang itu tidak memiliki kwalitas yang baik, ia akan kalah bersaing. Karena itu hendaknya masalah ini, di waktu yang akan datang dapat lebih diperhatikan lagi, sehingga manusia FKIP dapat menjadi lulusan yang professional dan mampu bersaing dengan lulusan-lulusan fakultas atau universitas lain. Amin……
By Dwi Setiowati on May 17, 2008 | Reply
SIKAP DISIPLIN WARGA FKIP
Universitas Lambung Mangkurat memiliki satu fakultas yang terkenal sebagai tempat dimana para mahasiswanya ditempa sebagai calon pengajar atau guru. Fakultas tersebut bernama FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Sama seperti fakultas lain, di FKIP pun terdapat seperangkat peraturan yang mengatur para “warganya” dan juga jadwal-jadwal yang telah disusun untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar. Agar peraturan dan jadwal tersebut dapat berjalan baik, maka diperlukan sikap disiplin yang kuat dari warganya. Dalam tulisan ini akan dibicarakan tentang sikap disiplin warga FKIP yang lebih menonjol.
Peraturan pertama di FKIP adalah jaga kebersihan dan buanglah sampah pada tempatnya. Namun, hal yang terjadi malah sebaliknya dengan mudahnya sebagian besar warga FKIP membuang sampah sembarangan dan tidak mau menjaga kebersihan lingkungan. Alasannya karena di kampus tersebut telah ada petugas kebersihan. Peraturan kedua yang dapat terlihat adalah tulisan yang terdapat di tiang dekat tempat fotokopian. Tulisannya adalah “lokasi bebas parkir”, maksud dari tulisan tersebut adalah lokasi tersebut tidak di[erbolehkan untuk parkir kendaraan. Tapi pada kenyataan masih ada pegawai FKIP yang memarkirkan kendaraan di lokasi tersebut. Entah karena kesalahan bahasa yang terdapat ditulisan tersebut atau memang mereka ingin menunjukan “sikap disiplin” nya.
Selanjutnya peraturan bagi mahasiswa, dalam sebuah “pajangan” yang ditaruh disetiap ruang kuliah terdapat sejumlah yang peraturan yang ditujukan untuk mahasiswa. Salah satu peraturan yang tertulis adalah “bagi mahasiswa diharapakan berbusana yang rapi dan sopan”. Hal yang terjadi selanjutnya adalah sebagian besar mahasiswa mengugunakan busana yang rapi dan sopan menurut versi masing-masing. Ada yang (maaf)memperlihatkan bentuk tubuh,belahan dada, bahkan memperlihatkan belahan pantat.
Setelah berbicara tentang peraturan, mari kita bicara tentang “sikap disiplin” warga FKIP terhadap jadwal yan telah diatur. Salah satunya jadwal kuliah yang dimulai dari pukul 08.00, akhirnya “ngaret” ke pukul 08.30. Hal ini disebabkan karena dosen pengajarnya datang terlambat akibat dari sibuk mengurus urusan pribadinya. Apalagi ditambah dengan “sikap disiplin” mahasiswanya sendiri. Selain itu seringkali dosen minta tambahan waktu kuliah, karena waktu memulai kuliah tadi terjadi keterlambatan.
Jadwal selanjutnya adalah penyelesaian file-file penting di BAAK yang selalu mengalami keterlambatan dari jadwal yang ditentukan. Akhirnya keterlambatan ini menyebabkan jadwal lain yang telah ditetapkan ikut berantakan. Inilah gambaran “sikap disiplin” warga FKIP terhadap semua peraturan dan jadwal yang ditentukan oleh fakultas dan universitas.
By Noor Fahriani on May 17, 2008 | Reply
Pentingnya Menjaga Kebersihan FKIP UNLAM
Layaknya kampus-kampus yang ada, FKIP UNLAM juga mempunyai sebuah halaman depan yang merupakan gerbang depan FKIP, di halaman itu biasanya juga digunakan untuk parkir kendaraan roda4, tidak ada yang salah dengan halaman tersebut dijadikan tempat parkir, tetapi masalahnya disini adalah apabila hujan deras halaman depan tersebut akan di genangi air yang cukup banyak dan dapat menyebabkan banjir kecil, entah apa sebabnya air dapat menggenang di halaman apabila hujan deras turun, padahal di halaman itu ada parit yang dapat menampung air hujan yang turun. Kebiasaan yang ada adalah apabila suatu daerah terkena banjir artinya saluran air yang ada di daerah tersebut tersumbat oleh banyaknya sampah yang ada di saluran air tersebut.
Banjir tersebut memang tidak mengganggu jalannya perkuliahan, tetapi apa tidak sebaiknya dari pihak kampus dapat menangani hal kecil tersebut, bagi mahasiswa yang membuang sampah ke dalam parit dapat dikenakan denda atau sanksi, tapi dari sebab ini diperlukan juga kesadaran diri dari mahasiswa dan dari staf pengajar ataupun administrasi yang ada di FKIP untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, Sampah yang menyebabkan meluapnya air hujan tersebut terus saja bertambah dan bertambah hingga menyebabkan saluran yang ada pada parit tersumbat dan menyebabkan meluapnya air keluar, padahal sudah ada petugas kebersihan yang bertugas untuk menangani sampah itu sendiri, petugasa kebersihan tidak akan banyak membantu juga apabila dari kita sendiri kurang mempunyai kesadrana diri akan kebersihan lingkungan
Di FKIP UNLAM sendiri petugas kebersihan terbagi dari dua, ada yang khusus yang membersihkan ruangan-ruangan perkuliahan yang biasanya terdiri dari mahasiswa yang mau bekerja sebagai petugas itu, mereka biasanya diberi kontribusi Rp.65.000 per bulan dan ada yang khusus menangani halaman kampus, biasanya dari orang-orang yang menjaga parkir kendaraan di FKIP , meskipun sudah ada petugas kebersihan seperti itu, halaman depan ataupun ruang perkuliahan di FKIP masih banyak terdapat sampah yang berserakan. Masalah sampah ataupun masalah kebersihan di dalam suatu fakultas merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan saja.
Mengenai banyaknya sampah juga tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada para petugas kebersihan, disini juga harus adanya kesadaran dari mahasiswa FKIP sendiri, apabila kita ingin membuang sampah dan tidak ada tempat sampah di dekat kita sebaiknya sampah tersebut kita simpan dulu, kemudian baru kita buang setelah ada tempat untuk mebuang sampah, dari kita ada di sekolah dasar kita sudah diajari untuk tidak membuang sampah sembarangan karena dapat menyebabkan banjir, tapi kenapa saat kita sudah ada di jenjang pendidikan yang lebih tinggi kita melupakan ajaran yang paling mendasar tersebut. Selain kesadaran dari mahasiswanya juga diperlukana danya kesadaran dari seluruh jajaran staf yang ada di FKIP sendiri baik itu dosen, bagian administrasi maupun dekan FKIP sendiri.
Faktor paling besar dalam hal yang menyebabkan tersumbatnya saluran air yang ada di FKIP ialah kurangnya kesadaran diri orang-orang yang ada di dalam fakultas itu sendiri, mereka masih suka membuang sampah di sembarang tempat, terutama di parit yang umumnya adalah tempat untuk menampung air. Karena parit tersebut tidak dipergunakan sebagaimana mestinya maka hal tersebut menyebabkan adanya banjir di halaman depan FKIP.
By Noor Fahriani on May 17, 2008 | Reply
Pentingnya Menjaga Kebersihan FKIP UNLAM
Layaknya kampus-kampus yang ada, FKIP UNLAM juga mempunyai sebuah halaman depan yang merupakan gerbang depan FKIP, di halaman itu biasanya juga digunakan untuk parkir kendaraan roda4, tidak ada yang salah dengan halaman tersebut dijadikan tempat parkir, tetapi masalahnya disini adalah apabila hujan deras halaman depan tersebut akan di genangi air yang cukup banyak dan dapat menyebabkan banjir kecil, entah apa sebabnya air dapat menggenang di halaman apabila hujan deras turun, padahal di halaman itu ada parit yang dapat menampung air hujan yang turun. Kebiasaan yang ada adalah apabila suatu daerah terkena banjir artinya saluran air yang ada di daerah tersebut tersumbat oleh banyaknya sampah yang ada di saluran air tersebut.
Banjir tersebut memang tidak mengganggu jalannya perkuliahan, tetapi apa tidak sebaiknya dari pihak kampus dapat menangani hal kecil tersebut, bagi mahasiswa yang membuang sampah ke dalam parit dapat dikenakan denda atau sanksi, tapi dari sebab ini diperlukan juga kesadaran diri dari mahasiswa dan dari staf pengajar ataupun administrasi yang ada di FKIP untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, Sampah yang menyebabkan meluapnya air hujan tersebut terus saja bertambah dan bertambah hingga menyebabkan saluran yang ada pada parit tersumbat dan menyebabkan meluapnya air keluar, padahal sudah ada petugas kebersihan yang bertugas untuk menangani sampah itu sendiri, petugasa kebersihan tidak akan banyak membantu juga apabila dari kita sendiri kurang mempunyai kesadrana diri akan kebersihan lingkungan
Di FKIP UNLAM sendiri petugas kebersihan terbagi dari dua, ada yang khusus yang membersihkan ruangan-ruangan perkuliahan yang biasanya terdiri dari mahasiswa yang mau bekerja sebagai petugas itu, mereka biasanya diberi kontribusi Rp.65.000 per bulan dan ada yang khusus menangani halaman kampus, biasanya dari orang-orang yang menjaga parkir kendaraan di FKIP , meskipun sudah ada petugas kebersihan seperti itu, halaman depan ataupun ruang perkuliahan di FKIP masih banyak terdapat sampah yang berserakan. Masalah sampah ataupun masalah kebersihan di dalam suatu fakultas merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan saja.
Mengenai banyaknya sampah juga tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada para petugas kebersihan, disini juga harus adanya kesadaran dari mahasiswa FKIP sendiri, apabila kita ingin membuang sampah dan tidak ada tempat sampah di dekat kita sebaiknya sampah tersebut kita simpan dulu, kemudian baru kita buang setelah ada tempat untuk mebuang sampah, dari kita ada di sekolah dasar kita sudah diajari untuk tidak membuang sampah sembarangan karena dapat menyebabkan banjir, tapi kenapa saat kita sudah ada di jenjang pendidikan yang lebih tinggi kita melupakan ajaran yang paling mendasar tersebut. Selain kesadaran dari mahasiswanya juga diperlukana danya kesadaran dari seluruh jajaran staf yang ada di FKIP sendiri baik itu dosen, bagian administrasi maupun dekan FKIP sendiri.
Faktor paling besar dalam hal yang menyebabkan tersumbatnya saluran air yang ada di FKIP ialah kurangnya kesadaran diri orang-orang yang ada di dalam fakultas itu sendiri, mereka masih suka membuang sampah di sembarang tempat, terutama di parit yang umumnya adalah tempat untuk menampung air. Karena parit tersebut tidak dipergunakan sebagaimana mestinya maka hal tersebut menyebabkan adanya banjir di halaman depan FKIP.
By Ganjar Muttaqin on May 17, 2008 | Reply
Ruang SIM
(Sistem Informasi Manajemen)
FKIP bingung???
Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen. Dan memiliki tujuan umum yaitu Menyediakan. informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan, Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
SIM merupakan kumpulan dari sistem informasi :
1. Sistem informasi manajemen persediaan.
2. Sistem informasi personalia.
3. Sistem informasi distribusi.
4. Sistem informasi pembelian.
5. Sistem informasi kekayaan.
6. Sistem informasi penelitian dan pengembangan.
7. Sistem informasi teknik.
Setiap lingkungan dari sekitar kampus pasti memiliki banyak ruang, di antaranya ruang laboratorium bahasa, ruang multimedia, ruang kuliah, ruang dosen dan lain sebagainya. Setiap ruang memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda dan memiliki fasilitas masing-masing. Diantaranya adalah ruangan sistem informasi manajemen yang berada pada lantai 2 gedung FKIP UNLAM.
Dalam beberapa hari saya mengamati ternyata ruangan sistem informasi tersebut hampir tak ada satu mahasiswa pun yang masuk kedalam, hal ini dikarenakan ruangan tersebut selalu terlihat tertutup pintunya dan terkunci. Setelah saya tanyakan hal ini kepada beberapa kawan-kawan mahasiswa ternyata hampir keseluruhan dari mereka tidak mengetahui bahwa mereka memiliki ruang sistem informasi manajemen “aneh”.
Anehnya lagi ada beberapa dari kawan-kawan mahasiswa tidak mengetahui letak dari ruang sistem informasi manajemen tersebut “parah”. Bahkan kebanyakan dari kawan-kawan mahasiswa tidak mengetahui kegunaan dan fungsi ruang sistem informasi manajemen. Fasilitas di dalam ruangan ini kebanyakan telah “di imigrasikan” ke ruang multimedia sehingga ruangan ini pun hanya tersisa bangku dan meja.
hal ini menunjukkan tidak adanya efisiensi dalam pengadaan ruangan sehingga kelihatannya bersifat sia-sia “mubazir”. Pihak kampus pun tidak pernah melakukan sosialisasi kepada kawan-kawan mahasiswa tentang kegunaan dan fungsi dari ruang sistem informasi manajemen tersebut sehingga banyak dari kawan-kawan mahasiswa tidak mengetahui kegunaan dari ruang sistem informasi manajemen FKIP UNLAM. Bahkan sampai hari ini masih ada box atau kotak yang berbentuk kerangkeng dari besi yang terdapat pada sudut-sudut kampus yang dulunya di isi dengan komputer informasi manajemen dan sekarang di biarkan terbengkalai begitu saja sehingga menambah kesan tidak sedap di pandang pada sudut-sudut kampus FKIP. Keadaan ini bertolak belakang dengan visi dan misi FKIP UNLAM yaitu mencetak pendidik yang berbasis teknologi dan informasi. Padahal tujuan didirikannya ruang sistem informasi manajemen agar para kawan-kawan mahasiswa bisa mengetahui informasi tentang kampus dan cara kinerja manajemen sebuah kampus, dan juga menciptakan pendidik yang berbasis teknologi dan informasi.
By Puji Astuti on May 17, 2008 | Reply
Seminar FKIP
Dalam lingkup FKIP sebagai fakulatas keguruan dan ilmu pendidikan,FKIP ini memiliki program-program yang salah satunya yaitu “Seminar”. Dalam penyelenggaraannya program FKIP ini sering mendatangkan atau juga mendapat tamu-tamu kehormatan dari negara luar contohnya Australia dan Eropa.
Dalam seminar ini kita banyak memperoleh pengetahuan tentang negara luar misalnya Australia,di negara Australia ternyata mereka juga memiliki kebudayaan yang unik dan dalam seminar atau pertemuan,negara kangguru ini juga mengenalkan tempat-tempat yang bisa dikunjungi sebagai objek wisata yang ada disana.
Adapun pada saat orang-orang jerman dari benua Eropa mengadakan seminar tentang batu-batuan dan bagaimana cara berbisnis yang baik,pada saat itu tim penyelenggara selaku panitia belum begitu siap dan nampaknya dalam hal ini faktor bahasapun ikut menjadi peranan agar seminar berjalan dengan baik dan lancar sebagaimana layaknya subuah seminar.
Dalam hal ini harusnya tim penyelenggara atau pelaksana bisa atau bahkan mampu menguasai Bahasa inggris agar dalam sesi tanya jawab sang penerjemah bisa mengutarakan kembali kepada tamu asing sehingga tamu asingpun bisa mengerti apa maksud dari pertanyaan dan dapat menjawab dengan tepat sesuai pertanyaan.Hal inilah kiranya juga yang harus dibenahi dalam seminar di FKIP khususnya jika FKIP mendatangkan tamu dari luar.
Adapula dalam sistem ketataruangan gedung seminar hendakanya disesuaikan dengan kapasitas muatan dan dalam hal sirkulasi udara nampaknya dalam gedung seminar ini belum begitu baik sarananya,apalagi kalau peserta yang mengikuti seminar tersebut cukup banyak dan hal sekecil inipun dapat mempengaruhi lancarnya sebuah seminar.
By Irma on May 17, 2008 | Reply
KANTIN FKIP UNLAM
Bagi kebanyakan orang, kantin sudah tidak asing lagi bahkan sudah terlalu sering untuk dikunjungi. Begitu pula keberadaan kantin di FKIP Unlam, yang merupakan salah satu fasilitas yang ada di fakultas ini. Seperti halnya kantin lainnya, kantin di FKIP Unlam ini tersedia bermacam-macam makanan yang dijual pada umumnya seperti nasi lalapan, nasi campur, nasi sop, soto banjar, sate, bakso, mie ayam dan lain-lain. Sedangkan untuk minuman yang dijual seperti jus, es kelapa, teh es dan sebagainya.
Kantin di FKIP Unlam ini terdiri dari dua bagian yaitu ada kantin yang tertutup (dalam ruangan) dan kantin terbuka. Pada Kantin yang tertutup, fasilitas kantin berupa ruangan atau tempat ini disediakan langsung oleh fakultas. Di FKIP ini, kantin tertutup berjumlah lima buah kantin. Untuk kepemilikan sebuah ruangan atau tempat berupa kantin ini maka dilakukan system sewa tempat. Dimana para pedagang ini harus menyewa kantin sebagai tempat untuk berjualan kepada fakultas dengan jangka waktu selama enam bulan. Apabila dibuat perincian maka sewa-menyewa kantin di FKIP Unlam sebagai berikut :
1. Sewa kapetaria 6 bulan x @ Rp 400.000,00 = Rp 2.400.000,00
2. Kebersihan selama 6 bulan x @ Rp 20.000,00 = Rp 120.000,00
jadi, total sewa selama 6 bulan yaitu Rp 2.520.000,00. Jumlah tersebut hanya untuk sewa satu buah kantin saja, kalau jumlah sewa lima buah kantin selama 6 bulan sekitar Rp 12.600.000,00. Wah…lumayan juga ya pendapatan FKIP dari hasil sewa kantin saja…
Lain lagi halnya dengan kantin terbuka. Keberadaan kantin ini merupakan hasil dari inisiatif pedagang sendiri, mereka menggunakan alam terbuka di FKIP Unlam ini sebagai lahan tempat mereka berjualan. Berbeda dengan kantin tertutup, untuk kantin terbuka ini mereka tidak melakukan sewa-menyewa tempat dengan fakultas seperti yang dilakukan pedagang di kantin tertutup. Selain itu, jumlah pedagangnya pun lebih banyak dari pada pedagang di kantin tertutup yaitu sekitar tujuh orang pedagang.
Pedagang pada kantin terbuka ini merupakan pedagang kaki lima sehingga mereka hanya cukup membayar untuk keamanan saja seperti untuk penitipan gerobak Rp 20.000,00, bayar satpam Rp 20.000,00 dan bayar jaga malam Rp 10.000,00.
Lazimnya kebanyakan kantin, di FKIP Unlam ini kantin tidak hanya digunakan sebagai tempat makan saja, tetapi juga digunakan sebagai tempat mengobrol dan berkumpul baik bagi mahasiswa maupun dosen. Selain itu, kantin juga sering dijadikan sebagai tempat untuk pacaran. Mengenai pengunjung kantin FKIP ini, rupanya kantin FKIP tidak hanya dikunjungi oleh mahasiswa FKIP saja namun mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari fakultas lain. Hal ini bisa saja dikarenakan kantin FKIP mempunyai banyak menu makanan. Sehingga mereka lebih tertarik untuk makan di kantin FKIP. Selain itu, harga yang ditawarkan pun sesuai dengan kocek mahasiswa.
By selvia agustina on May 17, 2008 | Reply
Aktivitas Mahasiswa FKIP Menunggu Jam Kuliah
Ada berbagai macam tingkah polah mahasiswa dalam menunggu jam masuk kuliah,jam masuk pergantian mata kuliah,ataupun menunggu kedatangan dosen yang bersangkutan.Kegiatan mahasiswa menunggu perkuliahan ini sering diwarnai dengan aksi kumpul-kumpul.Tempat yang sering digunakan para mahasiswa ini dalam menunggu jam masuk perkuliahan seperti kursi-kursi didepan kelas,kursi dibawah tangga,dimeja bundar,maupun duduk dibalai sakadomas.Pembicaraan yang sering terjadi antar mahasiswa yang kumpul-kumpul menunggu jam masuk kuliah sering kali tidak lepas dari apa saja kegiatan yang mereka lakukan,bercanda-canda sambil tertawa,saling ejek maupun membicarakan dosen-dosen,ada yang memuji dan ada yang mengolok-olok.Tidak hanya itu,ada juga mahasiswa yang mengisi waktu menunggunya dengan makan kewarung,santai di mesjid,membeli pentol,ke ruang multimedia pergi keperpustakaan prodi,smsan maupun telepon-teleponan.Kebanyakan mahasiwa perginya secara berombongan baik itu untuk makan diwarung maupun membeli pentol.Hanya adasedikit mahasiswa yang menghabiskan waktu menunggu masuknya jam kuliah dengan pergi kemesjid.Mahasiswa yang menunggu jam kuliah dengan pergi keruang multimedia kebanyakan untuk mencari tugas di internet ataupun hanya untuk bermain game dikomputer.Tidak jarang aktivitas mahasiswa menunggu masuknya jam kuliah ini diwarnai dengan keributan-keributan yang pada akhirnya mengganggu proses belajar- mengajar yang terjadi di kelas lain.
By Catur Widyastuti PH on May 17, 2008 | Reply
Catur Widyastuti PH
Laboratorium Sejarah…???
Laboratorium merupakan fasilitas penunjang yang digunakan untuk kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat, dalam bentuk praktikum, penelitian mahasiswa untuk keperluan tugas akhir dan penelitian dosen untuk pengembangan keilmuan atau karya ilmiah, serta pengabdian masyarakat.
Di UNLAM tempat saya menuntut ilmu khususnya di FKIP juga ada laboratorium. Ada lab.MIPA untuk jurusan program studi matematika,dan IPA. Ada lab.Fisika Dasar untuk program studi fisika,ada lab.Geografi untuk program studi geografi, juga lab. Bahasa Inggris untuk program studi bahasa inggris. Namun, sangat disayangkan lab.program studi pendidikan sejarah tidak ada..?? Padahal pentingnya lab. untuk pendidikan sejarah adalah untuk (1) memperbanyak dan meningkatkan khasanah pengetahuan bidang studi sejarah dan pendidikan sejarah termasuk diantaranya arkeologi, antropologi, dan sosiologi, (2) mempersiapkan dan mengembangkan pengetahuan metode dan teknik mengajar serta mengembangkan keterampilan sebagai sarana penunjang jurusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, (3) mempersiapkan dan mengembangkan pengetahuan metode teknik dan median pengajaran untuk melayani kepentingan masyarakat khususnya sekolah.
Perasaan iri dengan Prodi lain sangat saya rasakan, selama kurang lebih 4 tahun saya kuliah di FKIP jurusan sejarah tidak pernah merasakan menggunakan lab. Diskriminasi atau apa begitu tidak pentingkah jurusan sejarah, sampai-sampai lab tidak ada untuk kami. Ironis memang, tapi begitulah kenyataannya.
Jadi diharapkan agar fasilitas untuk pendidikan sejarah agar segera diadakan atau dibangun untuk kepentingan mahasiswa, dosen, dan masyarakat sekitar. Karena mengingat begitu penting adanya suatu lab. dalam menunjang belajar mengajar.
By Melisa Prawita Sari on May 17, 2008 | Reply
KONDISI PADA SAAT UJIAN AKHIR (FINAL TEST) DI FKIP UNLAM
Ujian akhir semester (UAS/ Final test) merupakan agenda yang wajib dilaksanakn oleh setiap institusi pendidikan, tak terkecuali FKIP Unlam. Ujian akhir semester tersebut bisa menjadi agenda yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa karena ujian tersebut merupakan akhir dari perkuliahan dan para mahasiswa dapat berlibur panjang setelahnya tetapi ada juga yang menyesalkan mengapa harus ada ujian di tiap akhir semester?
Disini akan sedikit digambarkan bagaimana keadaan pada saat final test di FKIP Unlam berlangsung. Pelaksanaan ujian akhir semester tersebut dapat dikatakan kurang teratur dan terencana. Why ??? mari telusuri tulisan ini dan kita akan temukan jawabannya.
Tidak usah ‘lah jauh-jauh studi banding ke luar daerah atau bahkan ke luar negri, cukup studi banding ke kampus tetangga kita yaitu Fakultas Ekonomi(Fekon) yang berada diseberang kampus FKIP. Hampir setiap hari saya ke Fekon karena banyak teman-teman satu SMA saya kuliah di sana dan hampir setiap hari pula saya merasa sedikit iri dengan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Fekon, bagaimana tidak? bayangkan saja di setap ruang kuliah/ kelas di Fekon memiliki AC, pengeras suara, komputer, OHP, kursi yang baru, dan tersedia makanan kecil/ kue serta segelas minuman untuk dosen yang sedang mengajar. Kalau di FKIP memang ada fasilitas seperti itu tetapi yang ada hanyalah kipas angin yang sekarang kondisinya banyak yang tidak layak pakai, OHP dan pengeras suara yang tidak tersedia di seluruh ruangan kelas karena jumlahnya yang terbatas. Fekon juga memiliki ruang multimedia dengan jumlah komputer yang banyak sehingga para mahasiswanya tidak perlu antri/ berebutan untuk menggunakan internet gratis. Cukup sampai di situ, ini sekedar intermezo yang membuat saya sedikit iri terhadap fasilitas yang ada di kampus tersebut. Namun hal ini tidak membuat saya berkeinginan untuk kuliah di sana, hanya dapat berharap kapan kampus saya (FKIP) akan memiliki fasilitas seperti itu dan saya tidak akan membahas masalah ini karena saya akan membahas bagaimana keadaan pada saat ujian akhir semester berlangsung di FKIP.
Satu saat ketika menjelang final test saya kembali bermain-main ke Fekon, di sana saya lihat teman-teman saya begitu sibuk mempersiapkan segala macam keperluan untuk melaksanakan final test. Untuk dapat mengikuti final test setiap mahasiswa diwajibkan membayar iuran IKOMA (Ikatan Orang Tua Mahasiswa) uang tersebut digunakan untuk membayar soal dan kursi untuk ujian dan setelah membayar iuran tersebut setiap mahasiswa akan mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kartu tersebut dilengkapi dengan pas foto mereka masing-masing dan setiap kursi disusun sedemikian rupa serta ditempeli foto mahasiswa yang akan melaksanakan ujian. Ketika ujian akhir berlangsung para mahasiswa Fekon terlihat tenang, kenapa? karena mereka duduk diatur saling berjauhan dan dosen yang mengawasi ujian tersebut turut membawa beberapa ‘algojo’ (asisten) mereka untuk ikut mengawasi berlangsungnya ujian. Alhasil, para mahasiswa tidak memiliki kesempatan untuk saling menyontek, kalaupun ada tentu bukanlah hal yang mudah untuk menyontek dalam keadaan seperti itu. Ketika ujian akhir telah selesai dan sampai pada waktu pengumuman hasil ujian, seluruh hasil ujian mahasiswa ditempel diseluruh mading yang ada di Fekon, itu berarti Fekon memiliki mading yang banyak untuk menempel nilai-nilai ujian tersebut.
kemudian…
Cobalah kita tengok apa yang terjadi di FKIP ketika ujian akhir/ final test akan berlangsung? di FKIP sebelum ujian akhir mahasiswa hanya mendapatkan jadwal ujian yang dapat diperoleh melalui warung fotocopy yang ada di dalam kampus FKIP. Di jadwal tersebut terdapat nama dosen, mata kuliah serta waktu dan tempat/ ruangan untuk ujian. Mahasiswa FKIP hanya mendapatkan jadwal ujian tersebut tanpa mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kenapa? entahlah…
Ketika ujian akhir berlangsung pun mahasiswa boleh-boleh saja duduk di kursi manapun yang mereka mau karena tempat duduk mereka tidak diatur dan para mahasiswa siap dengan berbagai macam strategi untuk mengelabui dosen yang mengawasi ujian agar mereka dapat menyontek atau bahkan membuka buku dan contekan/ tulisan kecil yang sudah mereka siapkan, para mahasiswa pun ‘mendempet-dempetkan’ kursi dengan teman-temannya agar proses contek-menyontek lebih mudah.
Dalam satu ruangan/kelas ujian akhir biasanya hanya diawasi oleh satu orang dosen dengan mahasiswa yang biasanya mencapai 30-60an orang dalam satu kelas, dapat dibayangkan kan? Apalagi ketika ujian akhir tersebut merupakan ujian mata kuliah umum, mahasiswa dari beberapa program studi (biasanya 4 prodi) digabungkan dalam satu ruangan/ kelas (biasanya dilaksanakan di aula/ ruangan yang agak ’sedikit’ besar) dan ujian mata kuliah umum tersebut pun hanya di awasi oleh satu orang dosen, lebih gawat lagi kan?
Pada saat pengumuman hasil ujian pun, nilai ujian tersebut hanya ditaruh dalam satu map untuk setiap prodi, sehingga para mahasiswa biasanya harus antri bahkan berebut untuk melihat nilai ujian mereka. Bahkan bisa juga map nilai tersebut hilang, entah siapa yang telah menghilangkannya. Kenapa ini terjadi? Apakah mungkin karena mading-mading di FKIP tidak cukup untuk memajang nilai-nilai ujian para mahasiswanya?
Sebenarnya dengan sistem ujian akhir di FKIP yang telah saya paparkan tersebut, para mahasiswanya tidak memiliki keluhan yang berarti, mungkin ada juga mahasiswa yang setuju dengan sistem tersebut karena itu artinya dosen-dosen di FKIP percaya penuh kepada para mahasiswanya dalam melaksanakan ujian dan dosen-dosen FKIP pun mungkin sangat percaya pada diri mereka sendiri bahwa mereka sanggup mengawasi ujian para mahasiswanya itu seorang diri. Dengan adanya sistem ujian akhir seperti yang ada di FKIP, semoga para mahasiswa FKIP dapat menggunakan azas kejujuran dan jangan menyalahgunakan kepercayaan yang telah sepenuhnya diberikan oleh para dosen pada saat ujian akhir tersebut berlangsung. Semoga…
Para mahasiswa FKIP sebenarnya tidak ingin melakukan kecurangan dalam melaksanakan setiap ujian karena mereka merupakan orang-orang intelektual/ calon guru, tidak sepantasnya ‘kan calon guru melakukan kecurangan-kecuarangan tersebut? apa nanti kata dunia ?
Namun, menyontek/ kecurangan-kecurangan lainnya yang terjadi pada saat berlangsungnya ujian akhir bukan hanya karena niat tapi juga karena ada kesempatan.
Waspadalah… Waspadalah !!!
By ihya ul ihsan on May 17, 2008 | Reply
Masalah Listrik FKIP
Selasa,6 mei 2008
Suasana ruang satu yang sumpek karena perkuliahan yang membosankan berubah menjadi sangat panas.Bukan karena terjadi perdebatan sengit antar mahasiswa,tapi karena kipas angin sebagai satu-satunya alay pendingin mati.Matinya kipas angin bukan disebabkan oleh rusaknya benda tersebut,tapi karena listrik padam.Ujung-ujungnya suasana perkuliahan yang sudah tidak enak jadi tambah tidak enak.
Mati lampu,begitu kata orang Banjar ketika mengalami pemadaman listrik.Hal ini sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah.Selama empat seester kuliah di FKIP mati lampu saat perkuliahan sudah sangat sering terjadi.
Jumlah ruangan di FKIP unlam lebih dari 30 buah,lebih dari 50 persennya adalah ruang perkuliahan dan sisanya kantor.Ruangan ini mempunyai fasilitas yang sangat berbeda tentunya.Ruang kulah punya kipas angin,kantor punya AC.Ruang kuliah punya UHP,ruang kantor punya komputer.Dari dua ruangan berbeda kegunaan ini,ruangan mana yang menggunakan listrik lebih besar?ruang kuliah dengan kipas angin dan UHPnya atau kantor dengan AC dan komputernya?silahkan menjawab sendiri.
Saat listrk padam,akan terdengar ditelinga mahasiswa suara meraung-raung yang berasal dari sebuah alat pembangkit listrik cadanganyang kita kenal sebagai genset.hasil bunyi itu adalah ruang kantor yang tetap nyaman dan ruang kuliah yang tambah panas.Kenapa separti itu?
Rupanya genset digunakan untuk membangkitkan listrk guna keperluan kantor,bukan untuk proses perkuliahan,padahal FKIP kan adalah tempat mahasiswa belajar,kalau fasilitasnya tidak memadai bagaimana bisa balajar.
Bunyi bising akibat bunyi genset saja sudah sangat mengganggu,apalagi ditambah panas yang mendera tubuh karena tidak berfungsinya kipas angin akibat listrik padam.Tugas FKIPlah sebagai tempat mahasiswa mendapat ilmu untuk menyediakan fasilitas itu,bukan hanya kursi,white board,dan lain-lainnya,tapi juga masalah kelistrikan perlu untuk ditangani.
By Rumadi on May 17, 2008 | Reply
TATA USAHA FKIP
Dalam sebuah kampus atau suatu lembaga pendidikan itu selalu ada badan atau tempat untuk melayani siswa atau mahasiswa yang ingin mengurus keperluan administrasinya yang mana bila di kampus dalam sebuah universitas biasanya disebut dengan BAK atau Badan Administrasi Kemahasiswaan. Badan ini merupakan bagian tata usaha dari sebuah lembaga pendidikan yang berada dilingkungan kampus dalam sebuah fakultas. Dikampus FKIP juga memiliki badan ini yang juga mengurus masalah administrasi mahasiswa.
Badan tata usaha di FKIP ini mempunyai program kerja yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di fakultas – fakultas lain, yaitu tetap mengutamakan urusan administrasi mahasiswa yang kuliah di fakultas itu. Tugas dan fungsinya sudah sangat jelas dipaparkan diatas. Karena FKIP telah berdiri lebih dari 20 tahun maka badan ini pula mungkin sudah berumur hampir menyamai umur FKIP dan telah mengalami banyak perubahan dan pergantian kepengurusan dari tahun ke tahun seiring berjalannya waktu. Dan apakah perubahan yang terjadi tersebut menuju kearah lebih baik atau malah sebaliknya .
Kenyataannya hasil kerja yang tertampak saat ini sangatlah jauh dari apa yang diharapkan mungkin bisa dibilang tidak memuaskan karena kebanyakan para pegawainya tidak profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai pegawai tata usaha, banyak urusan – urusan administrasi mahasiswa yang tidak selesai dengan baik malahan banyak yang terbengkalai padahal sudah mengeluarkan biaya untuk mengurus keperluan para mahasiswa tersangkut masalah administrasi.
Hal diatas di perkuat dengan survei yang dilakukan secara tidak langsung hanya dari obrolan dengan beberapa mahasiswa yang berkuliah di FKIP banyak sekali yang mengeluh dengan kinerja dari BAK ini. Padahal mereka itu sudah membayar sejumlah uang untuk membayar biaya mengurus keperluannya. Banyak pula yang mengeluhkan pelayanan yang tidak memuaskan dari pegawainya yang tidak ramah dalam melayani mahasiswanya dan sering menunjukkan ekspresi wajah yang tidak ramah, padahal yang mereka layani itu adalah mahasiswa yang memberi iuran tiap semester untuk menggajinya, dan bisa dibilang mahasiswa adalah raja, tapi menegapa mereka malah seenaknya saja dalam melakukan tugasnya, yang lebih gila lagi mereka menganggap bahwa mereka itu lebih hebat dari mahasiswa karena menikmati fasislitas vip yang disediakan oleh fakultas, mereka mendapatkan makanan yang iuran anggarannya diambil dari kami- kami ini sebagai mahasiswa yang tiap semester membayar, tetapi malah bukannya berterima kasih atas biaya yang kami keluarkan, mlah mereka seenaknya memperlakukan kami bila kami meminta tolong kepada mereka.
Sebenarnya kami ini tidak minta lebih dari BAK, yang kami minta hanya kelancaran dan kemudahan kami dalam mengurus keperluan kami menyangkut urusan administrasi, dan pelayanan yang baik tanpa harus ada rasa dongkol di hati kami, kan bila kami lancar , pasti tidak ada masalah bukan …. ?
By nurkhulis wardani on May 17, 2008 | Reply
fkip.unlam.ac.id ??????
dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka berkembang pula teknologi, lalu dikenallah suatu teknologi yang namanya internet dengan variasi fiturnya yang lengkap, salah satunya yaitu website.
website adalah kumpulan file atau dokumen yang tersimpan dalam suatu server (Komputer khusus yang selalu terhubung dengan internet). Setiap file mempunyai alamat masing-masing yang dinamakan URL (Uniform Resource locators).
Website atau situs dapat diartikan sebagai kumpulan halaman-halaman yang digunakan untuk menampilkan informasi teks, gambar diam atau gerak, animasi, suara, dan atau gabungan dari semuanya itu baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink).
setiap universitas mempunyai website termasuk universitas lambung mangkurat banjarmasin. Sampai pada fakultas-fakultasnya pun juga mempunyai website. Penyediaan website oleh fakultas akan mempermudah mahsiswanya untuk mencari informasi terutama yang berkaitan dengan perkuliahan dan tentang kampus sendiri, dosennya, mahasiswanya, karyawannya, sistemnya, baik fisik maupun non-fisik dan lain-lain. karena manfaat sebuah website yaitu untuk segala sesuatu mulai dari pekerjaan sampai dengan memesan makanan karena prosesnya yang cepat, murah, mudah dan menyenangkan. Bahkan orang yang suka belanja sekalipun mencari produk yang diinginkan di Website. Dan tidak menutup kemungkinan dapat Membuat pengumuman atau pemberitahuan. Memberikan pelayanan kepada Customer Anda. Menerima masukan dari pengunjung/customer Anda. Membagi dan mendistribusi file dan foto. Berkomunikasi langsung dengan Customer Anda yang berada di belahan dunia manapun.
Akan tetapi website FKIP UNLAM Banjarmasin kurang menarik bahkan tidak menarik untuk dikunjungi, karena di dalamnya tidak ada file-file isinya memberikan informasi terutama kepada mahasiswanya sendiri.
Keadaan website fkip dapat diketegorikan miskin kreativitas. Desainnya pun tidak menarik. website fkip sama sekali tidak efektif baik untuk para mahasiswanya sendiri maupun para dosen yang mengajar,sebab website tersebut tidak sama sekali memuat ilmu yang bermanfaat bahkan ada yang kosong melompong.sebagai seorang mahasiswa saya merasa kecewa, sebab apa gunanya ada website tapi tidak ada manfaatnya.bahkan untuk desain pun website fkip tidak menarik sama sekali,kurangnya unsur kreatif menyebabkan para mahasiswanya kurang berminat untuk membuka website tersebut.
saran untuk pengelola supaya bikin websitenya lebih hidup sehingga websitenya tidak mubazir dan tidak kalah dengan kampus-kampus lain. sebaiknya website FKIP memuat tentang berita-berita sekitar kampus yang up to date. Untuk menarik minat mahasiswa mengunjungi website dimuatlah lomba-lomba, misalnya lomba karya tulis ilmiah, lomba desain web, lomba mendesain blog, dan lain-lain…
Website FKIP unlam sendiri seharusnya memiliki pengelola yang kompeten dibidangnya, supaya website dapat dimannfaatkan oleh kawan-kawan mahasiswa, dan ada yang mengurus website tersebut.
By Rizal Hasannor on May 18, 2008 | Reply
PROGRAM KEGIATAN BEM FKIP UNLAM
BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) adalah organisasi mahasiswa intra kampus yang merupakan lembaga eksekutif di tingkat Universitas. Fungsi dari BEM sendiri adalah sebagai wadah bagi mahasiswa untuk berorganisasi dan mengapresiasikan segala minat dan bakatnya. Selain itu BEM juga berfungsi sebagai perantara antara mahasiswa dengan pimpinan Fakultas dan Universitas. Ada banyak kegiatan yang dilakukan BEM seperti melakukan pentas seni, mengadakan forum diskusi, membantu mahasiswa dalam pengenalan kampus (P2B), dan lain-lain.
Seperti fakultas-fakultas lainnya, FKIP UNLAM juga mempunyai BEM sendiri dengan nama BEM FKIP UNLAM. Akan tetapi ada hal yang “menarik” dari BEM FKIP UNLAM ini yang membedakan dia dengan BEM lainnya, yaitu program kegiatannya. Jika BEM-BEM lain disibukkan dengan berbagai macam kegiatan, BEM FKIP UNLAM malah “tidur siang”. Buktinya hampir tidak ada kegiatan yang dilakukan oleh BEM FKIP UNLAM di kampus. Kalaupun ada kegiatan yang dilakukan itupun dalam rangka menyambut Dies Natalis UNLAM. Bandingkan saja dengan BEM dari fakultas lainnya BEM FKIP UNLAM masih kalah kreatif. Apalagi kalau harus membandingkan dengan BEM-BEM yang ada di pulau Jawa sana, BEM FKIP UNLAM harus angkat tangan. Memang benar telah banyak prestasi yang diraih BEM FKIP UNLAM, tetapi semua itu didapat pada masa BEM FKIP UNLAM yang terdahulu. Sedangkan pada masa yang sekarang ini jarang sekali ada prestasi yang diraih. Kalaupun ada biasanya dibidang olahraga karena FKIP UNLAM mempunyai program studi JPOG yang handal dibidang olahraga. Apakah semua prestasi yang dulu pernah diraih hanya menjadi sejarah yang manis ?
Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi kalau anggota BEM FKIP UNLAM lebih kreatif. Mereka bisa melakukan acara pentas seni setiap minggunya sehingga mahasiswa yang mempunyai bakat dibidang seni seperti menyanyi, menari, teater dan baca puisi dapat menyalurkan bakatnya. Atau bisa juga dengan mengadakan event olahraga antar program studi. Akan tetapi kegiatan seperti ini jarang sekali bisa dilihat di kampus FKIP UNLAM. Jika ditanya kenapa hal ini bisa terjadi biasanya alasan “klasik”lah yang timbul yaitu masalah dana. Jika memang benar masalahnya terletak pada dana seharusnya anggota BEM FKIP UNLAM yang katanya orang-orang yang senang berorganisasi bisa minta dana kepada Dekan atau Rektor. Bila masih tidak dapat dana juga dari Dekan atau Rektor karena “dipersulit”, mereka bisa mencari sponsor di luar kampus.
Semoga saja kedepannya BEM FKIP UNLAM mampu lebih maju dari sekarang. Sudah saatnya BEM FKIP UNLAM untuk berinovasi demi kemajuan peradaban fakultas FKIP UNLAM.
Tulisan ini juga bisa dilihat di blog saya.
By mini febrianti on May 18, 2008 | Reply
PERILAKU MAHASISWA FKIP UNLAM DALAM RUANG KULIAH, PEGAULAN SEHARI-HARI, DAN DALAM LINGKUNGAN KAMPUS.
Setiap mahasiswa FKIP UNLAM dituntut mempunyai kesadaranakan hubungan dengan Tuhannya, sebagai makhluk Tuhan yang bermoral dan berakal, setiap mahasiswa harus berprilaku yang berbeda dengan makhluk Ciptaan Tuhan lainnya. Mahasiswa FKIP pada khususnya merupakan mitra dosen dalam menjunjung tinggi dan menjaga norma dan etika pergaulan. Adapun prilaku mahasiswa di dalam ruang kuliah adalah :
1.Tidak terlambat datang ke dalam ruang kuliah, dan harus mengikuti sampai selesai.
2.Tidak melakukan sesuatu yang dapat mengganggu ketertiban, ketentraman, keamanan dan ketenangan ruang kuliah.
3.Tidak melakukan sesuatu yang dapat merusak kebersihan dan keindahan ruang kuliah.
4.Membantu menyiapakan sarana perkuliahan (mikrofon, OHP, papan tulis yang bersih, kapur tulis, spidol dan lain-lain).
5.Mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama uraian yang disampaikan dosen.
6.Harus bertanya mengenai materi kuliah yang belum dimengerti dengan baik.
7.Mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen, dan mengumulnya dengan tepat waktu.
8.Tidak keluar ruangan sebelum minta izin kepada dosen yang mengajar. Dan masih banyak lagi.
Dalam pergaulan sehari-hari mahasiswa FKIP tidak membedakan antara teman satu dengan yang lain, mereka diajarkan luwes dalam pergaulan, hangat dan tidak dibenarkan acuh tak acuh dalam pergaulan. Saling tolong menolong dalam lingkup kegiatan positif dan tahu cara berterima kasih terhadap orang yang memberikan pertolongan. Sebagai makhluk Tuhan mahasiswa dianjurkan sesuai dengan aturan yang berlaku di FKIP untuk tidak sombong, angkuh dan takabur. Hendaknya selalu bersikap ramah tamah dan menghormati orang lain apalagi kalau ada teman yang berpapasan hendaknya saling menegur agar suasana persahabatan dan kebersamaan di kampus FKIP tetap terjaga dengan baik.
Lingkungan hidup adalah kesatuan orang dengan semua benda, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Setiap mahasiswa pada umumya dan mahasiswa FKIP pada khususnya menyadari bahwa hanya dalam lingkungan hidup baik manusia dapat berkembang secara maksimal dan hanya dengan manusia yang baik lingkungan hidup dapat berkembang ke arah optimal. Atas dasar itu mahasiswa FKIP mempunyai kepedulian dan perhatian terhadap masalah-masalah lingkungan hidup, dan dapat mengaktualisasi dirinya untuk mencegah hal-hal yang dapat merusak lingkungan hidup terutama merasa bertanggung jawab atas kebersihan dan keindahan kampus dan sekitarnya. Untuk itu perilaku mahasiswa untuk mencegahnya dengan cara tidak membuang sampah sembarangan yang berakibat merusak keindahan kampus, dengan norma yang mengatur mahasiswa tidak melakukan perjudian, minuman keras, prostitusi. Maraknya pengedar dan pemakai narkoba yang rentan sekali dialami oleh para mahasiswa dan pelajar belum lagi pergaulan bebas yang kerap kali ada di lingkungan pergaulan mahasiswa. Dengan itu mahasiswa diharapkan mematuhi peraturan yang ada di kampus dengan berprilaku sesuai dengan aturan yang berlaku dan membentengi diri dengan norma dan nilai yang baik dalam perilaku atau sikap dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan kampus, lingkungan pergaulan di luar kampus maupun di lingkungan keluarga.
By Akhmad fauji on May 18, 2008 | Reply
DAMPAK KEDATANGAN MAHASISWA MANDIRI
Seiring dengan kenaikan pamor fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan(FKIP)UNLAM.Karena dalam pandangan masyarakat Banjar kalau masuk kuliah ke FKIP mempunyai masadepan yang cerah dan menjanjikan.Karna setelah lulus bisa menjadi pegawai negri,dijaman serba susah ini mencari pekerjaan itu sangat susah,banyak sarjana-sarjana yang pengangguran.Maka setidaknya lulusan FKIP itu selama menunggu pengangkatan jadi PNS bisasaja menghonor,atau jadi guru bantu.Begitulah pandangan masyarakat Banjar.Selain itu untuk masa tua pun juga terjamin karena ada gaji pensiunan.
Berakar dari semua hal tersebut,maka membludaklah para siswa yang ingin masuk FKIP.Melihat keadaan tersebut maka FKIP merupakan lahan empuk buat meraup keuntungan yang besar bagi pihak-pihak tertentu(???).
Maka dibukalah jalur mandiri bagi siswa yang ingim masuk FKIP yang tidak lulus saat jalur PMDK maupun SPMB.Namun tentunya masuk lewat jalur mandiri ini biayanya jauh lebih mahal dari PMDK dan SPMB.Begitupun SPP yang dibayar tiap semesternya,dua kali lipat lebih mahal.
Namun dibalik kedatangan mahasiswa mandiri tersebut menimbulkan dampak dan permasalahan dalam kampus FKIP.Yaitu timbulnya permasalahan dalam sarana dan prasarana kampus,diantaranya ruangan kelas yang tidak mencukupi,sehingga sering terjadi benturan jadwal saat ingin melaksanakan proses belajar mengajar.maka bingung untuk mencari ruangan yang kosong.Hal ini jelas sangat mengganggu dan merugikan.Yang membuat jengkel seringkali mahasiswa mandiri ini yang lebih diutamakan ketimbang mahasiswa reguler.Selain itu parkiran buat mahasiswa pun semakin membludak dan tak tertampung lagi,maka semrautlah jadinya keadaan parkiran FKIP yang sangat mengganggu pemandangan.
Yang lebih parah dan sangat mengecewakan yaitu perlakuan para dosen yang seolah ada pembedaan antara mahasiswa mandiri dan reguler ini.Seakan mahasiswa mandiriini bak anak emas dimata dosen,terbukti dalam hal pemberian nilai pada akhir semerter.Mahasiswa mandiri ini hampir2 semuanya mendapat nilai bagus,sebaliknya mahasiswa reguler nilainya jelek-jelek.Padahal secara realita mahasiswa reguler itu pasti lebih pandai karena mereka masuk lewat tes PMDK dan SPMB yang bertarap Nasional,sedangkan mahasiswa mandiri masuknya hanya lewat kebijakan kampus saja,dan kebanyakannya yang masuk lewat mandiri ini yaitu para siswa yang tidak lulus lewat SPMB.
Entah apa yang terjadi dari semuanya ini????Allahuawam Bissawaf(saya orang awam tidak bisa menjawab).Mungkin Bayarannya yang lebih mahal Kale…….
By Muhammad Hidayat on May 18, 2008 | Reply
INSTALASI LISTRIK DI FKIP BERMASALAH
FKIP Unlam adalah sebuah pabrik penghasil guru yang sudah terkenal di Kalimantan, terlebih lagi Kalimantan Selatan, visi dan misi FKIP pun terpampang di depan kampus yang salah satunya menyatakan “memberikan pengetahuan dan keterampilan teknologi informasi sehingga setiap lulusan mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pendidikan”, FKIP juga mempunyai mahasiswa terbanyak dibanding Fakultas lain. Dalam masalah kurikulum FKIP bisa dikatakan sudah cukup mumpuni, tetapi dalam masalah sarana dan prasarana dalam menunjuang proses belajar mengajar di kampus masih dipertanyakan, salah satunya adalah instalasi listrik yang masih bermasalah.
FKIP mempunyai 26 ruang perkuliahan dan semuanya dapat dipergunakan dengan baik, akan tetapi dalam setiap ruangan penggunaan alat-alat elektronik tidak maksimal, hal ini dikarenakan instalasi listrik yang tidak sempurna, dalam ruangan hanya terdapat satu kontak ke listrik padahal sekarang sudah zaman modern dimana banyak dosen sudah menggunakan laptop sebagai media dalam pembelajarannya akan tetapi kontak listrik tersebut malah tidak dapat digunakan karena rusak ataupun aliran listriknya terputus, selain itu sistem keluar masuk udara hanya dibantu kipas angin yang berdebu yang kelihatannya hanya dibiarkan begitu saja.
Pada waktu kuliahpun mahasiswa seringkali terganggu dengan suara bising kipas angin yang berputar diatas, bahkan terdapat kipas angin yang sudah tidak mempunyai baling-baling tetapi tetap saja hidup, padahal kipas tersebut sudah tidak dapat berfungsi dan mestinya harus diganti dengan yang baru, paling tidak sebagai kampus yang dalam visi dan misinya tercantum menciptakan pendidik yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi harusnya sudah menggunakan pendingin ruangan (air conditioner). Ternyata hal seperti ini luput dari pandangan para mahsiswa dan dosennya bahkan oleh dekannya sendiri, mungkin sang pemimpin kampus jarang inspeksi ke ruangan kampusnya untuk mengetahui bagaimana sebenarnya keadaan ruangan kampus yang dipimpinnya.
Apabila hari hujan yang diikuti mendung yang sangat dahsyat, proses belajar mengajar sangat terganggu karena dalam ruangan sangat gelap, hal ini dikarenakan lampu-lampu yang ada di ruangan tidak mampu berfungsi secara maksimal, bahkan dalam didapati tulisan “lampu luar jangan dinyalakan” hal ini menggambarkan bahwa instalasi listrik di FKIP sangat buruk, kemudian di salah satu ruangan tidak didapati lampu untuk penerangan, hal ini perlu dipertanyakan, mengapa sebagai kampus yang menghasilkan guru yang katanya mampu untuk berkompetisi di dunia pendidikan malah tidak memperhatikan sarana penunjang dalam pembelajaran, instalasi listrik di FKIP harus segera dibenahi sebab hal ini akan mengganggu dan membuat FKIP sebagai kampus yang ketinggalan zaman.
FKIP sebenarnya mempunyai sebuah ruang multimedia yang dapat digunakan mahasiswa untuk menunjang dia untuk mencari ilmu, namun karena instlasi listrik FKIP yang buruk membuat komputer diruangan tersebut rusak, karena seringkali listrik padam saat komputer tersebut sedang online.
Mudah-mudahan pada beberapa bulan yang akan dating instalasi listrik di FKIP benar-benar diperhatikan agar mampu menunjang proses belajar mengajar di kampus tersebut dan mampu bersaing dengan Fakultas-Fakultas lain yang notabene sudah maju dibanding FKIP, paling tidak maju dalam pemanfaatan instalasi listrik di kampusnya, siapa yang tidak senang apabila dalam perkuliahan menggunakan LCD atau Laptop yang mampu membuat mahasiswa lebih mudah mengerti tentang pelajaran yang diajarkan dosennya dan tidak perlu kepanasan lagi apabila dalam ruang perkuliahan sudah menggunakan air conditioner.
By Fahrian Hefni on May 18, 2008 | Reply
Pengelolaan sampah dan kesadaran akan kebersihan para mahasiswa
FKIP UNLAM.
“Sampah” sebuah istilah yang sering dikatakan orang untuk penyebutan hasil dari sisa-sisa dari barang-barang dari aktifitas mahluk hidup. Akan tetapi masalah sampah ini baru-baru ini sering menjadi pembicaraan yang hangat, bahkan sudah menjadi masalah yang sangat meresahkan orang-orang. Hal ini disebabkan dikarenakan kurangnya pengelolaan sampah itu sendiri, bahkan kurangnya kesadaran kita akan kebersihan lingkungannya. Dikatakan manusia sebagai penunjang dari kebudayaan dibumi yang mana dikatakan hidup harmonis dengan lingkungan alam sekitar, akan tetapi entah apa yang meracuni pemikiran manusia tentang kesadaran akan kebersihan sehingga mereka sudah mulai kurang sekali dalam pemeliharaan tempat tinggal maupun ditempat umum. Bahkan kita sebagai umat yang beragama islam yang mengambil dasar hukum dari dalam Al_Qur’an dan hadis yang mana dikatakan bahwa “kebersihan sebagian dari iman. Nah kalau kita sebagai umat beragama islam maka sudah sepatutnyalah kita menjaga kebersihan, karena dengan bersih kita dapat hidup sehat dan tenang.
Mengenai masalah kebersihan ditempat-tempat menuntut ilmu, seperti sekolah, universitas, dan lain-lain. Mari kita tinjau bersama-sama apakah sudah masuk dalam kata gori bersih atau sebaliknya. Lihat saja tempat-tempat pendidikan yang dimana banyak sekali membuat tenaga-tenaga yang ahli dibidang masing-masing, apakah sudah memperhatikan kesadaran akan kebersihan.
Untuk membuat budaya bersih ini emang sangat sulit dalam prakteknya, akan tetapi yang kita fikirkan bagai mana caranya membuat orang-orang sadar akan budaya bersih. Misalnya melakukan penyuluhan-penyuluhan, menyediakan tempat-tempat pembuangan sampah sementara yang sesuai dengan jumlah individu yang mendiami daearh itu, dan membuat tempat untuk membuat pengolah sampah yang dapat berguna lagi, misalnya menjadikan pupuk organic, dan sebagainya.
Langkah-langkah inilah yang dapat kita gunakan di FKIP UNLAM, yang katanya sebagai pabrik para guru-guru terbesar di Kalimantan Selatan, akan tetapi di kampus itu sendiri pemandangannya masih banyak sampah_sampah yang berserakan seperti puntung rokok, kertas, bungkus permen dan lain-lain. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa yang terlibat dalam masalah ini, akan tetapi menurut saya yang perlu ditanggulangi perlu ditambah banyak tempat-tempat sampah disetiap sudut baik diruangan maupun ditempat yang biasa mahasiswa santai. Dengan metode ini mungkin bisa mengurangi sampah yang berserakan dan sedikit dapat bersih. Lalu supaya sampah itu dapat dibuang ketempat pembuangan akhir, kita buat saja tempat pembuangan akhir yang dikelola oleh Fakultas maupun Universitas yang melibatkan para mahasiswa yang ahli dibidang itu. Misalnya kita gunakan para mahasiswa Biologi dan Kimia yang katanya ahli dibidang ini.
Dengan metode-metode ini saya fakir dapat efektif mengurangi sampah di kampus dan sekitarnya. Tergantung dari para petinggi-petinggi yang berkuasa dan berhak mengambil keputusan demi majunya pendidikan di Kalimantan Selatan.
By MUHAMMAD FAUZI on May 19, 2008 | Reply
RUMAH KACA
Hampir selama empat tahun Saya kuliah di FKIP UNLAM Banjarmasin atau tepatnya Saya sudah duduk di semester delapan, Saya baru tahu bahwa di kampus FKIP ada rumah kaca, itupun Saya tahu setelah ngambil mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar(IAD). Cukup menarik memang setelah Saya berkunjung ke sana. Setelah Saya lihat-lihat, rumah kacanya berjumlah dua buah dan satu lagi bukan rumah kaca, tapi hanya sebuah rumah kecil yang terbuat dari kawat. Karena memang tujuan Saya untuk melakukan penelitian, maka Saya langsung melihat ke rumah kaca pertama. Di tempat tersebut banyak terdapat bibit-bibit tanaman dan pohon, ada bibit mawar, anggrek, cocor bebek, pohon lombok, kasturi, mangga, dan masih banyak lagi jenis bibit tanaman dan pohon lainnya. Di rumah kaca pertama tersebut juga ada terdapat dua buah ember besar dan dua buah botol semprot tanaman, karena pada waktu Saya ke sana tidak ada petugasnya, mungkin kegunaannya untuk menyiram bibit-bibit yang ada si sana. Ada lagi yang Saya temukan di sana, ada dua karung berisi tanah subur dan tumpukannya di lantai, mungkin itu di perlukan untuk menambah tanah pada bibit -bibit tersebut agar tambah subur lagi.
Setelah selesai penelitian di rumah kaca pertama, Saya berpindah ke rumah kaca kedua, di tempat ini Saya menemukan hal-hal yang sama pada rumah kaca pertama yaitu banyak terdapat bibit tanaman dan pohon, begitu juga di rumah kawat banyak terdapat bibit tanaman dan pohon.
Menurut Saya cukup menarik memang berada di rumah kaca tersebut, tetapi ada satu yang cukup menyita perhatian Saya, setelah Saya lihat-lihat ke atas atapnya, karena rumah kaca jadi atapnya terbuat dari susunan kaca-kaca , atapnya tersebut sudah tidak berbentuk seperti kaca lagi, warnanya yang dulu bening sekarang sudah berwarna gelap, tidak transparan lagi, pemandangan dari atas langitpun tak kelihatan. Entah karena alasan apa jadi nggak di bersihkan , Saya tidak tahu, Saya mau tanya, pada waktu Saya ke sana tidak ada petugas atau panjaganya.
By henny suryaningsih on May 19, 2008 | Reply
Kehadiran Ruang Multimedia di FKIP UNLAM
Dilatarbelakangi oleh keinginan fakultas yang telah menelurkan tenaga pengajar profesional ini untuk mempergunakan dana mahasiswa demi kepentingan mahasiswa pada khususnya dan kepentingan bersama pada umumnya, bp. Drs.Daud Pamungkas selaku dosen PBSID FKIP dan juga sebagai pengelola utama ruangan ini menginginkan mahasiswa dapat merasakan uang semester yang mereka keluarkan dan juga bisa sedikit menghemat pengeluaran bulanan mahasiswa sering kebobolan setiap harus ke warnet untuk mencari bahan kuliah ataupun tugas-tugas lainnya. Dengan kehadiran ruangan multimedia di FKIP yang di dalamnya ada 10 komputer tanpa printernya yang siap meng-up date segala keinginan mahasiswa karena sudah di lengkapi dengan internet, LCD, kipas angin dan AC, kursi, meja, lemari buku, televisi 21″ , dispenser-meski hanya dosen yang mempergunakannya-juga berbagai buku. Dengan adanya ruangan yang menjadi tempat mengasyikan untuk mencari bahan karena tidak perlu bingung harus keluar uang tetapi ruangan ini juga menjadi kontrofersi, mengapa? karena ruangan ini saking lengkapnya hingga menjadi 3 fungsi sekaligus yaitu sebagai ruang internet gratis, ruang kuliah (ruang 17) juga menjadi ruangan perpustakaan PBSID atau mungkin karena multifungsi ini maka ruangan ini di sebut ruang multimedia, saya juga tidak mengerti. Jika saja fakultas lebih memperhatikan hal ini tentu saja tidak ada lagi yang terganggu kuliahnya terutama pada hari senin, selasa, jumat, dan sabtu yang lumayan padat ini karena kehadiran “pihak lain”, selain itu juga bisa mengelola perpustakaan PBSID dengan lebih baik lagi, ruangan ini bisa tertata dan terjaga kebersihannya. Ketidakadaan organisasi yang jelas atau kurang aktifnya pengurus juga bisa saja menjadi suatu hal yang sangat disayangkan, karena kehadiran ruangan ini bisa saja cepat berlalu dan hanya menjadi sejarah fakultas jika tidak segara di benahi.
Ruangan yang seharusnya menjadi nyaman karena kelengkapan fasilitas malah menjadi sangat kotor, internet yang sempat tidak koneksi beberapa saat jika Bp. Daud tidak ada di tempat.Agar ruangan yang sudah begitu menguntungkan ini akan selalu menjadi tempat yang paling nyaman bagi mahasiswa, ruangan yang rapi, bersih, ada pemisahan ruang antara ruang internet, perpustakaan dan juga ruang kuliah (ruang 17) ada pertanggungjawaban atas semua ini, ada daftar pengguna internat dangan batasan waktu yang jelas agar dapat bergantian dangan yang lain inipun tidak terlepas dengan kesadaran mahasiswa itu sendiri menggunakan fasilitas yang sudah di sediakan fakultas.
By Zul Haziah on May 19, 2008 | Reply
Mading FKIP UNLAM
Media massa sebagai sarana untuk menyampaikan informasi sangatlah penting keberadaanya dalam sebuah kampus, dan salah satu media informasi tertulis yang ada di FKIP UNLAM adalah Majalah Dinding