Novel: Lolo (6.2)

12 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Sesuai kesepakatan, dalam menunaikan tugas, soal cara urusan masing-masing. Yang penting, tugas dijalankan. Lolo mendatangi lagi PT TAR. Tetap ditolak. Sekalipun demikian, Lolo mendapat sedikit celah. Lebih mengenal represionis perusahaan, Panai. Gadis cantik asal Marabahan.
 
Celah itu dimanfaat sempurna. Lolo mendatangi tempat kos Panai. Diterima setengah hati. Bahkan, pada kedatangan pertama ibu kos yang menemui Lolo memakai jurus kuno: “Maaf Nak Lolo, Panai lagi kurang enak badan”.
 
Begitulah. Pada kedatangan ketiga barulah Panai mau menemui. Sebentar saja. Berasalan capek, besok pagi ada meeting dan harus menyiapkan bahan, Panai mengusir Lolo dengan cara standar. Pada ketangan ke tujuh baru suasana agak cair. Dua bulan barulah Lolo berhasil berteman dengan Panai. Soal pacaran masih jauh. Jauh … sekali.
 
Pada bulan ke tujuh barulah mereka resmi jadian. Dan … pada bulan kesepuluh Lolo mengungkapkan keinginannya bertemu dengan Si Bos Kedua, Benson. Lolo mengungkapan misi rahasia yang diemban apa adanya. Dari buku-buku yang dia baca, sebenarnya cara tersebut berisiko. Tapi, Lolo tidak punya jalan lain. Panai tertarik. Hanya saja kata-kata Panai membuatnya bingung. “Asal kamu tahan saja”, katanya tanpa memberi keterangan tambahan.
 
Panai membawa Lolo ke kediaman Beson. Biasanya, apabila Benson ke luar daerah secara mendadak, Panai mengantarkan tiket pesawat ke rumahnya di komplek PT TAR. Lolo sempat bertanya membuang cemburunya.
 
“Nai, ngak takut dilecehkan? Dengar-dengar banyak Bule yang nakal, lho?”. Pertanyaan Lolo tidak digubris Panai. Hanya senyum yang susah diartikan dilayangkannya.
 
Pertemuan itu biasa-biasa saja. Panai berbasa-basi, memperkenalkan Lolo, menyerahkan tiket pesawat, dan pamit. Kejutan terjadi ketika Benson: Oh, yeah. Kamu bisa berbahasa Inggris dengan baik? Kalau begitu saya minta nomor HP kamu”.
 
Sembari menyembunyikan kekagetannya, Lolo menyebutkan nomor Hapnya, 081151041777. Si Bule mengerlingkan matanya: “Terima kasih”.
 
Seminggu kemudian, sekembali dari luar daerah, dia menelepon. Lolo kaget. Yang ada dibenaknya, jalan terbuka untuk menjalankan misi. Lolo diminta menemuinya di restoran Hotel Permata Inn Banjarbaru. Surpise.
 
Begitulah mereka bicara ngalor-ngidul. Si Bule tidak abai memuji-muji budaya orang Indonesia. Baik-baik, ramah, dan suka membantu. Pertemuan pertama hanyalah membicarakan hal-hal biasa. Keberbedaan buadaya mereka, dan keindahan Indonesia.
 
Yang membuat Lolo kaget, hampir tiap malam Benson mengundang ke cafe hotel Permata Inn. Padahal, paling-paling cerita ringan-ringan, minum-minum, terkadang sampai dia mabuk. Kalau sudah mabuk, minta dipapah ke mobil, lalu berpisah.
 
Suatu kali Lolo dibawa mencari hiburan ke Banjarmasin. Mula-mula makan-makan di restoran Hotel Banjarmasin Internasional (HBI), lalu ke Nasvile menikmati live musik. Sehabis itu naik ke lantai tiga, ke ruang karaoke.
 
Sekalipun narkoba haram di Banjarmasin, dan Tempat Hiburan Malam (THM) HBI sangat melarang pemakaian narkoba, Benson entah mendapatkan dari mana menengak long island dengan beberapa butir ekstaksi. Semuanya bermuara pada pembicaraan ngaco dan maracau. Untungnya dia bercerita tentang tugasnya di PT TAR.
 
Benson ahli virus lulusan Kentucky University yang bertugas meriset virus-virus daerah tropis. Dia bekerja dibawah komando Mister Goerge Mital, Bos Besar PT TAR. Padahal, Benson tidak paham apa pun tentang kronik, apalagi intan. Ada dua laboratorium untuk penelitian vitus-virus daerah tropis. Setelah diteliti di kirim ke kantor pusat. Beberapa bulan kemudian, dikirimi anti virus. Tugasnya mengujicobakan virus temuannya sekaligus serum antinya. Pada manusia, rakyat Indonesia.
 
Sembari memijat-mijat punggung Benson, Lolo terus mengajukan pertanyaan. Eit … tanpa disadari tangan Benson menyentuh daerah terlarangnya. Lolo menampikkan tangan Benson dengan hati-hati. E … tangan Benson kembali berusaha menjelajahi daerah terlarangnya.
 
Otak lolo mereview. Rupanya, ketika tangan Benson mengelus-ngelus pipinya, sekalipun dalam keadaan setengah mabuk, bukanlah elusan tidak sengaja. Lolo menampik tangan Benson dengan kasar. Benson semakin bersemangat. Badannya yang kekar dan dengan sekuat tenaga berusaha memeluk Lolo sembari bibirnya mencari sasaran. Lolo jijik.
 
Dalam kekangan Benson, seketika ingatannya akan tendang kaki kuda dalam ilmu silat yang diajarkan bapaknya menggerakkan tumitnya. Braaak selangkangan Benson menjadi sasaran. Teriakan kesakitan ke luar dari mulutnya seperti auman beruang kutup yang kakinya dipatahkah. Security karaoke HBI bergegas masuk.
 
Melihat Beson kesakitan teramat sangat sangat sembari memegang ‘burung pelatuknya’, cukup alasan bagi mereka memaknai apa yang terjadi. Seorang diantara mereka menekan tombong lampu. Ruangan yang tadinya remang-remang menjadi terang-menderang. Dua orang security memegang pangkal lengan Lolo sembari menyeret ke kantor Satpam.
 
Lolo tidak dibiarkan berargumen. Bule memang sangat dihormati di negeri ini. Setelah komanda security datang dan menanyai Lolo, barulah Lolo dapat menerangkan kronologis kejadian. Lolo malahan dapat simpati, dan dengan mobil HBI diantar pulang ke Banjarbaru, ke Markas Gerilya.
 
Tentu saja teman-teman Lolo prihatin. Hanya saja, sebagai anak muda mereka tidak lupa maulu-ulu. Kejadian sangat serius tersebut, sekalpun emosi terpantik, tetap saja diakhiri dengan ketawa-tawa. Saling ledek.
 
“Yang paling untung Lundang”, kata Laweh, Si Komandon Gerilya.
 
“Ya, lebih untung Lolo dong. Hayo, siapa yang pernah digerayangi Bule kalau bukan Lolo”, kata Sapan meledek.
 
Apa pun yang terjadi, tugas Lundang semakin terang. Informasi yang diarup Lolo sangat berharga.
 
“Begitulah perjuangan”, kata Laweh bak Bung Tomo memberi semangat, “jalan ke kebenaran itu selalu terbuka”.
 
“Ya, . .. “, kata-kata Lolo yang hampir ke luar di potong Balun: “Sudah-sudah. Kita tutup buku kisah Lolo dengan Benson. Kita bicara strategi bagaimana agar Lundang bisa menembus dua gudang itu”.
 
Mereka sepakat. Kali ini Lolo kalah telak. Jijiknya belum hilang. Lolo segera mandi.
 
Besoknya, Lolo menceritakan ‘pelecehan’ yang diterimanya kepada Panai. Gadis cantik keibuan tersebut tenang-tenang saja.
 
“Dari awal sudah saya katakan, asal kamu tahan saja. Di lingkungan PT TAR sudah lama beredar isu, Benson penyuka lelaki. Dia punya kelainan, terlibat jaringan penyuka anak-anak. Hanya saja belum ada bukti”.
 
Lamunannya pada peristiwa menjijikan tersebut seolah mengalahkan apa yang tadi siang mereka alami, mendemo PT TAR.
 
Dalam memperjuangkan kebenaran, pengorbanan tidak mengenal kepatutan. Lolo kini di jalan tersebut.
 
Banjarbaru, 12 Mei 2008.

  1. One Response to “Novel: Lolo (6.2)”

  2. By tri on May 12, 2008 | Reply

    pd bagian Lolo berkenalan dengan Panai terlalu mudah, begitu juga gdn benson sampai ke HBI, menurut ulun terlalu cepat endingnya, kurang membawa emosi pembaca. perlu dibumbui kisahlagi biar lebih asik.

    ***Siiip, nanti kita diskusikan. Setelah selesai ditulis, baru disangi. Oh, ya hari ini kita ke Cempaka, lhat-lihat lokasi. Gimana?

Post a Comment