Novel: Lolo (6.1)
12 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM ITU. Lolo tersandar lemas. Pikirannya mengawang. Hatinya gundah. Kiriman dari kampung tidak kunjung datang. Bapaknya, Lurah Kelurahan Gempol, tanpa sebab yang jelas —menurutnya— diperiksa kejaksaan, dan dijebloskan ke Hotel Pordeo. Kasusnya penggelapan uang Bantuan Tunai Langsung (BTL). BTL sebagai kompensasi kenaikan BBM untuk rakyat kecil. Kasus itu menista keluarganya.
Ketika pulang kampung, sempat berdiskusi. Menurut Bapaknya, dia tidak tahu menahu-nahu soal penggelapan uang BTL tersebut. Petugas kecamatan, memerintahan membagikan uang kepada keluarga miskin sebanyak Rp.500 juta. Lalu dia disuruh menandatangi kuitansi sebesar Rp.2 miliar.
Tentu saja diprotes. Petugas kecamatan mengatakan, itu kebijakan Pak Camat, kelanjutan kebijakan dari pihak-pihak berkompeten di pemerintah kabupaten. Bahkan, bapak Lolo setengah diancam: “Dibantu saja cerewet. Tolong rakyatmu yang miskin itu, bukannya protes diberi bantuan”.
Ketika kejaksaan mengendus raipnya uang BTL sebesar Rp.1,5 miliar, pihak kabupaten menyemangati pengusutan. Pak Lurah kena. Jelas-jelas tandatangannya lengkap dengan cap kelurahan pada kuitansi penerimaan uang. Negara ini negara hukum, bukti tertulis lebih dari segala hal. Sebagai ‘penggelap’, bapak Lolo tidak bisa mengelak.
Sebagai tokoh mahasiswa, Lolo menyelidiki hal sebenarnya. Tapi, ya itu tadi. Bukti tertulis tidak bisa dibantah. Hukum harus diterapkan. Keluarga Lolo, mau tidak mau, menerima kenyataan.
Sejak itu, keluarganya berantakan secara ekonomis. Rumah, sawah, dan semua harta peninggalan kakeknya disita atau dijual untuk menganti uang BTL yang ‘diselewengkan’. Betapa gundahnya hati Lolo melihat mereka-mereka yang mengurus BTL justru bermobil baru.
Pengalaman tersebut sangat berbekas di pikiran dan batinnya. Hanya ada satu tekad, dimana pun, kapan pun, akan berjuangan melawan praktik korupsi. Di kantin kampus, Lolo termenung.
“Hai, Lo. Kita makan, yu”.
Kagetnya belum hilang, Laweh menuntun Lolo ke kantin kampus.
“Sudahlah. Adakalanya kenyataan adalah kebenaran itu sendiri. Bapakku, besok ke Bandung. Mempersiapkan pembukaan perusahaan penambangan intan di Cempaka. Beliau berhenti dari PT TAR. Beliau bergabung dengan teman-temannya”. Lolo tidak menjawab. Pikirannya masih kusut.
“Kamu kan tahu, aku sendirian di rumah. Tolong temani aku”. Lolo tidak mendapatkan kata-kata untuk merespon tawaran Laweh.
“Mau kan menemani aku?”. Lagi-lagi Laweh mempertegas permintaan. Sembari menyeruput teh botol yang diantar pelayan kantin, Lolo menganggukan kepala.
“Begitu, dong”.
Sehabis dari kantin mereka langsung ke kos Lolo. Layaknya anak muda, bekerja cepat. Barang-barang Lolo yang tidak seberapa dimasukkan ke mobil Laweh. Lolo adalah penghuni pertama Markas Gerilya sesudah yang empunya, Laweh.
Mula-mula Lolo meluluhkan diri membaca buku-buku di perpustakaan pribadi bapak Laweh. Seluruh buku-buku ‘ganas’, yang sering dikatakan buku-buku kiri, dilahapnya. Lalu, terasyik berdiskusi.
Diskusi semakin mengasyikkan setelah Lundang, Talang, dan Sapan bergabung. Diskusi yang tidak berjadwal. Asal ada kesempatan. Tema apa saja. Dari hiruk pikuk politik sampai penambangan batubara yang tidak ada ujung pangkalnya, dari memperjuangkan WC untuk mahasiswa sampai ‘kunonya’ tradisi akademis di kampus. Diskusi, diskusi, dan diskusi.
Sampai pada suatu hari, ‘dikuliahi’ Laweh tentang betapa bangsa tercinta ini ‘dikerjai’ bangsa asing. Ditipu dalam banyak hal. Mulai dijerat IMF sampai hal-hal berbau intelektualitas. Kebetulan, menteri kesehatan menerbitkan buku tentang penelitian virus flu burung, sangatnasionalistis dengan pendekatan ilmiah. Mereka terpincut.
Laweh memaparkan informasi yang didapatkan dari bapaknya. Anal-anak muda itu terperangah. Semangat cinta Tanah Air mengubun-ubun. Mereka berbagi tugas. Lolo ditugaskan berteman dengan orang penting di PT TAR. Lolo paling jago bahasa Inggris. Bahkan bahasa Perancis dan Mandarin dikuasainya.
Lolo bertugas mengorek informasi. Tanpa sempat membahas, apalagi berargumen, tugas diterima. Setelah itu barulah ada tanya, bagaimana caranya?Tetapi, selalu saja ada jalan. Lolo memutar otak. Bersama Lundang mereka mendaftar untuk menjadi karyawan. Apa lacur, hanya Lundang yang diterima. Itu pun sebagai petugas kebersihan. Lolo ditolak.








