Adrenalin Menulis
12 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PERMAINAN atau olah raga yang dapat memicu adrenalin, menaikkan tekanan darah dan denyut jantung, kini seolah mewabah di banyak tempat. Di Taman Impian Jaya Ancol banyak pilihannya, dari tora-tora sampai roadcoaster. Di Bali ada yang melambungkan badan ke udara. Kalau pengecut, jangan coba-coba. Ibarat kata, bisa copot jantung. Ih … ngeri.
Adrenalin dalam artian memicu kehendak menulis tentu tidak soal. Lagi pula, caranya mudah dan murah meriah. Misalnya membaca atau berdiskusi, mengamati fenomena alam, atau sekadar menikmati keindahan alam. Menumpahkan kekesalan atau menyampaikan kegembiraan. Bisa pula hal-hal ringan atau yang membeban pikiran. Kalau di memenej dapat memacu adrenalin menulis.
Misalkan reaksi kaum Muslim. Begitu Si Meneer Belanda yang lagi cari sensasi merilis film Fitna yang tidak jelas ujung pangkalnya dari segala penjuru dunia berhamburan tulisan memprotesnya. Adrenalin banyak orang terpicu dan terpacu untuk menulis.
Tetapi, itu faktor eksternal. Kalau ingin memacu adrenalin menulis dari dalam diri, jauh lebih mudah dan dapat tiap saat. Tidak perlu menunggu momen langka. Misalkan menginginkan ‘suara’ lewat tulisan ‘didengar’ orang, ya tulis. Ingin mempublikasikan penemuan, atau mempopulerkan daerah, ya tulis. Pemacuan adrenalin dari dalam berwujud motivasi.
Yang parah, dan ini kurang elok bagi (calon) penulis, menulis kalau ada pemicu eksternal. Kalau yang beginian hanya sebatas respon. Padahal, menulis pada tataran tertentu ‘menjual’ ide. Ide datang dari pikiran. Pikiran itu disambungsampaikan. Itulah tulisan.
Dengan kata lain, apabila menginginkan andrenalin menulis terpacu, perbanyak ide, kembang dan matangkan ide. Lebih ke hulu lagi, picu ide, dapatkan ide, ciptakan ide. Jangan pernah menunggu ide. Caranya?
Kan sudah ditulis di awal tulisan ini. Ah, kog lupa. Kalau begitu agak susah memang memacu adrenalin menulis, he he.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 12 Mei 2008.











6 Responses to “Adrenalin Menulis”
By sawali tuhusetya on May 12, 2008 | Reply
memang utk memcu adernalin menulis bukan soal gampang, pak ersis *sok tahu* adrenalin itu akan tercipta apabila sang penulis mamu menciptakan atmosfer yang tepat bagi dirinya untuk mengungkapna pikiran dan perasaannya. menciptakan atmosfer ini agaknya yang perlu terus dilakukan agra bener2 merasa nikmat dan enjoy dalam menulis, bukan lantaran pengaruh eksternal itu.
***Kalau gampang semua orang sanggp kan Pak. E … ngomong-ngomong, kalau Pak Sawali bagaimana memacunya hingga tulsainnya bejibu begitu? Hayo, bago-bagi dong.
By M. Rizky Adha on May 12, 2008 | Reply
Wah, saya pernah merasakan adrenalin menulis yang sangat luar biasa dalam memberikan motivasi buat saya untuk terus menulis sampe sekarang.. Saat itu tulisan saya terbit disalah satu harian lokal, kemudian saya tidak menyangka bahwa efek dari tulisan saya itu menghasilkan banyak respon yg berbau kritikan mengalir. Saya bukannya ngedrop dihujami kritikan, ehh… nyatanya malah bikin motivasi yg berapi-api untu tetap terus menulis. Ternyata adrenalin menulis itu memang perlu sebagai pemantik dalam menghasilkan ide-ide yg baru, yg sebelumya tidak pernah dipikirkan orang lain…!!!
***Kalau begitu. gali pemicu adrenalin agar kepenulisa terjaga.
By Deni Triwarana on May 12, 2008 | Reply
Wah… kalau lihat blognya Pak Ersis, itulah pemicu adrenalin saya, jadi harus lihat blognya Pak Ersis baru tuh dapat pemicunya, gitu lho Pak Ersis.
***he he … jadi malu. Boleh saja. Tapi, intinya dari dalam diri.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on May 12, 2008 | Reply
Kalo saya harus sering berdiam sejenak, berfikir sejenak (tafakkur), berhenti sejenak (Waqfah), dan merenung sejenak (muhasabah) dst. Tentu membaca juga (membaca alam dan buku) Biasanya akan dapat ide2 segar. Bisa disebut menciptakan ide gak ya?
***Itu cara bagus, kembangkan terus. Lho, mana naskah buku Dona. Disalib terus sama yang lain tu.
By SQ on May 12, 2008 | Reply
kadang saya merasakannya juga, terutama setelah kita melihat alam yang merekah, tetesan air yang lamat-lamat turun, embun yang meresap lembut, sang bayu yang mendesah gemulai atau sekedar lambaian daun dari kejauhan.
rasanya mw cepat-cepat pulang seperti kebelet pipis, sebelum keburu tenggelam apa yang ditulis dalam otak.
***Yap, sip kalau gitu.
By Nafis on May 13, 2008 | Reply
sering banget adrenalin menulis itu muncul, tp nggak PD tulisanny untuk di ekspose.puisi2 hanya trsimpan rapi dilembar2 buku
***Itu lebih mudah lagi, PDkan aja diri … ekspos.