Agitator Menulis
12 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis warmansyah Abbas
PEMANTIK menulis, sebagaimana rizki, terkadang datang tanpa diduga. Kalau Allah SWT mendatangkan rizki, tanpa mengharapkan akan didapat. Wajar, Rasulullah tidak mengajarkan, tidak ada hadis, menolak rizki. Rizki datang dari Allah.
Menulis tentu bukan ’rizki’ dalam artian harpiah. Hanya saja, kalau mampu dimaknai bisa jadi ‘ibu’ rizki. Menguntungkan secara psikologis, berupa amal manakala untuk kebaikan, dan berbuah rizki (pendapatan) kalau bermanfaat oleh pembaca.
Maaf, bukan bermaksud ‘bergaya’. Bagi saya menulis dipatok dalam kancah positif. Sekalipun belum penulis handal di lubuk jiwa ada keinginan berbagi. Korban awal tentu lingkungan terdekat. Perasaan berasa melayang ke langit ke tujuh apabila yang dimotivasi menulis.
Pada posisi demikian mungkin punya kelainan. Pada tingkat tertentu, motivasi yang diumbar adakalanya tergolong agitasi; menghasut dengan aneka cara agar orang terpantik menulis. Padahal, kalau dipikir-pikir, terkadang malu juga. Siapa sih sebenarnya awak ini?
Di ‘dunia darat’, terutama mahasiswa-mahasiswa dan atau peserta seminar, penataran, atau apa begitu, tahu benar ‘gaya’ memotivasi, atau agitasi saya. Terkadang (maaf), sampai dikatakan: Menulis mimal memerlukan dua syarat. Orang pemalas, suka beralasan atau piawai mendebat, tidak mungkin bisa mengatasinya.
Pertama, banyak membaca. Kalau berkemampuan baik, ‘isi’ bacaan akan dipahami untuk disimpan di memori. Kalau susah, bisa jadi, karena membacanya tidak benar, atau penyimpanan tidak sempurna. Kalau demikian, sangat sukar ditulis. Banyak orang berilmu, ahli segala rupa, menulis apa yang diomongkannya, bisa pingsan dia. Perlu diberi pencerahan.
Kedua, tidak malu ‘kebodohan diri’ diketahui khalayak. Menulis berbeda dengan bicara (ngomong). Kalau bicara, begitu selesai ditelan ruang. Kalau disoal berkilah: Ah saya tidak bicara begitu. Sampeyan salah dengar, salah tangkap (emang tikus). Menulis tentu tidak bisa berkilah. Tertulis kog. Tepatnya, dari tulisan akan kelihatan ‘bodoh’ atau ‘pintar’ seseorang. Kalau tidak mau ketahuan bodoh, jangan menulis.
Entahlah. Yang pasti niat saya baik. Terakhir semakin menaik, bukan sekadar menulis, tetapi menulis buku. Syamsuwal Qomar dan Suciati, diwajibkan menulis buku sebelum sarjana. Kalau berhasil diterima jadi karyawan. Ada yang bilang, wartawan senior itu kalau sudah menulis buku, Qomar dan suci sebelum resmi jadi wartawan telah menulis buku.
Mantan mahasiswa saya yang kini dosen, Syaharuddin, dan isterinya Ella Agustina, mungkin paling empuk jadi sansak. Sempei Kempo pemenang medali emas Porda VI Kalsel tersebut, ditengah sibuk mengerjakan tesis S2 di UGM, kalau ke rumah disambut muka cemberut dan, kadang-kadang makian. Apa sebab?
Sebelum berangkat ditancapkan: ”Sebagai murid saya, apa tidak malu berpendidikan S2 tidak menulis buku. Agitasi mujarab. Dua bukunya nongol. Aktulisasi Nilai-Nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat, dan Pendidikan Antara Konsep dan realitas. Yang terakhir karya bersama dengan isterinya. Diterbitkan penerbit Eja Publisher Jogja.
Syaharuddin, anak tabah dan baik hati tersebut, membawa hadiah buku Kado Perkawinan; Road to Holy Wedding karya Muhammad Yusuf. Yusuf, mahasiswa pascasarjana UGM tersebut menulis terpantik buku Menulis Sangat Mudah. Saya agak malu testimoninya betapa buku kacangan tersebut sangat dahsyat memotivasi. Ya, sudah, Alhamdulillah.
Tulisan ini saya hadiahkan sebagai apresiasi buat mereka. Maaf kalau cara saya terlalu keras. Yakini satu hal, menulis itu baik. Lakukan sebagai medan dakwah, ladang amal. Biarlah saya tertunduk sebagai motivator kacangan atau agitator tidak berbudi, yang penting kalian bukan sekadar menulis saja, tetapi menjadi penulis buku.
Salam maaf. Menulis, menulis, mari menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 12 Mei 2008.











14 Responses to “Agitator Menulis”
By syaharuddin on May 12, 2008 | Reply
wah makasih banget buku gua dikomentari. Yang jelas terbitnya dua buku tersebut plus buku M. Yusuf yang saya editori tidak terlepas dari motivasi EWA selama ini. Dulu, saya berpikir buat buat buku itu susah banget, baik masalah proses editing, maupun biaya cetak, tapi ternyata setelah dilakoni eh gak jg tuh, asal ada niat dan kemauan, maka jadilah.Motivasi utama terbitnya buku ini, sebagaimana yg ditulis EWA, bahwa ada cara lain untuk berbagi, beramal dan berdakwah.Kedua, agar “kebodohan” saya terlihat maka saya menulis. maka itu kritikan untuk kedua buku tersebut plus buku yg kueditori dibuka lebar-lebar. Semoga dengan kritikan saya bisa lebih baik maju dalam menulis buku-buku selanjutnya. Sekali lagi Terima kasih EWA atas semuanya, terima kasih juga kepada semua yang telah membantu, semoga amal baik pian sebarataan diganjar oleh Allah SWT.
***Siiiiiip. teruslah menulis.
By hafidzi on May 12, 2008 | Reply
Ulun sangat setuju penadpat pian….
sebenarnya uln tu handak banar ky pian tuh, tp napakah ngalih banar mancubainya…:D
tulisan nya keren2…salute.
salam dari anak banua banjarbaru,
***Amin. Mari menulis …
By taufik on May 12, 2008 | Reply
Tradisi atau etos menulis itulah yang mesti ditumbuhkembangkan. Tapi, etos itu baru bisa muncul ketika seseorang sudah faham benar dengan apa saja yang pernah ia baca. Dalam komunitas masyarakat transisi, tak jarang orang menenteng buku hanya supaya dipandang sebagai orang terpelajar.
Salam…
***Ya itu yang kita kampanyekan. Mari, mari, mari kiya mulai dari diri sendiri …
By tc on May 12, 2008 | Reply
saya juga suka sih baca.. tapi sukanya yang ringan2..
nulis juga gitu..sukanya nulisnya yang ringan2..
tapi emang bener, dari baca kita bisa dapet buannyaaaakk sekali manfaat
***Setujuuuuuuuuuuu. Membaca menjadikan kita mampu meraih banyak manfaat. Ringan? Ah, siapa bilang membaca yang berat-berat hebat, kalau tenggelam gimana. Hayo ..
By meiy on May 12, 2008 | Reply
harus kena agitation dulu kali ambo ko pak, bia bisa nulis hehe
***he he bisa aja. Agitation nan padek dari dalam. Kali aja, euy.
By olangbiaca on May 12, 2008 | Reply
Ass.
pak Ersis wrote : “Yakini satu hal, menulis itu baik. Lakukan sebagai medan dakwah, ladang amal”
ini lah yg memotivasi saya buat menulis walau baru di blog…
satu lagi agitasi pak Ersis yakni : Setiap edisi terbaru postingan di blog pak Ersis ini, slalu saya ketinggalan, karena slalu ada yg baru….hehe
By noorlatifah on May 12, 2008 | Reply
Ulun salut banget nah, Pak Ersis gak pernah bosan-bosannya mengajak orang lain untuk menulis. Memang yang namanya guru itu tak pernah berhenti mengajak atau menyuruh anak didiknya tuk terus belajar. Mudah-mudahan nia untuk menjadikan orang lain lebih baik ini menjadi amal ibadah bagi guru. Amiin…
***he he guru …
By mathematicse on May 12, 2008 | Reply
Mmmmm, iya juga ya? Syaratnya sederhana! Banyak membaca dan tidak malu kebodohan kita diketahui orang lain. Menulis!
Tapi saya belum nulis buku, jadi gemana nih Pak?
***Sudah kan, tinggal ngumpulin tulisan, jadikan buku. Soalnya kan Sampeyan aja yang ngak mau, buku dah nunggu tu he he
By SQ on May 12, 2008 | Reply
Photonya keren dan selamat buat pak syaharuddin, jadi? kalau kemarn buku saya nggak jadi saya nggak diterima jasi wartawan Bebe Post pak? wallaaah..:mrgreen:
***Ya. Pasti itu.
By toni februari on May 12, 2008 | Reply
niat baik…hasil pasti baik, kalo Nanam padi masa tumbuh nangka heee….yang pasti padi lagi kan,,yoi saya suka dengan orang yang berniat baik.
***Amin.
By sawali tuhusetya on May 13, 2008 | Reply
yang begini ini Pak Ersis layak dapat predikat gurunya mahaguru dalam mengagitasi menulis. para cantriknya aja hebat-hebat, mampu menghasilkan banyak buku. luar biasa. *menjura hormat*
***Ho ho ada-ada azza … menjura hormat kembali.
By kristina on May 13, 2008 | Reply
13 Mei ‘08
Saya setuju dengan teori mas Ersis yang kedua yaitu tidak malu “kebodohan diri” diketahui khalayak. Ya itu betul. Dalam buku “Kado pernikahan untuk istriku” ada tulisan yang mengatakan kalau Christina Onasis adalah wanita cantik dan sering ganti suami, itu salah lho. Setahu saya Christina tidak cantik tapi kaya. Justru itu yang bikin dia susah mencari cinta sejati. Dia sadar dia “tidak atau kurang cantik” jadi Beliau malah curiga kalau ada cowok yang bersedia menjadi suaminya karena hartanya atau karena mencintainya yang “tidak cantik” itu.
Ah kita memang harus banyak membaca, teori yang pertama betul sekali. Selain dari itu buku “Kado pernikahan untuk istriku Bagus” (menurut saya) sehingga saya pinjamkan kepada teman-teman yang akan menikah. Salut atas keberanian penulis buku tersebut, salam dari saya.
***Siiip, sepakat banget.
By Suci on May 15, 2008 | Reply
Pak Syahrudin, sekalinya nulis, banyak euy…selamat yakh
By Mega on May 16, 2008 | Reply
Lama ga mampir..dah segudang aja tulisannya..apakabar PAk dosen..?
***Baik Nak Dosen … sibuk kali ni kawan