Busur
11 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis warmansyah Abbas
OTAK tiap hari ditimbuni berbagai informasi. Dari apa yang dilihat, dibaca, didengar, dirasa, diraba atau dipikirkan sekalipun. Proses kerja otak, saking aktifnya, bahkan ketika ‘tidak sadar’ seperti ketika kita tidur, hampir tidak penah berhenti. Memori otak unlimited. Kalau otak berhenti beraktiviatas pertanda sesorang wassalam.
Dapat dibayangkan, betapa banyaknya tumpukan sari pati atau ampas dari kerja otak. Kemana semua itu disalurkan? Satu caranya dengan menulis. Tidak berlebihan manakala menulis dipandang katarsis, membersihkan kerak-kerak otak. Kalau katarsis tidak pernah dilakukan, dan apa yang bergelora di otak dihimpit dengan lamuan, misalnya, dapat dibayangkan betapa menumpuknya. Ibarat busung, atau karena tumbang tindih, otak bisa hang. Kalau sudah begitu, gawat am.
Tidak elok menumpukkan semua hal di otak. Pekerjaan merdeka menyalurkan ‘isi otak’ dengan menulis. Bahkan, dapat dikatakan sebagai busur bagi melejitnya pikiran. Kalau ‘isi otak’ dijadikan tulisan, bukan saja baik bagi otak itu sendiri, tetapi terlebih bagi yang punya otak, yang berotak.
Apabila ‘isi otak’ ditulis, terutama hal-hal yang bermanfaat bagi sesama, menulis menjadi busur sangat bagus mengantarkan ‘buah pikiran’. Begitulah, tulisan dijadikan penyampai ilmu, pengetahuan, hal-hal baik, dan hal-hal buruk. Bayangkan kalau Al-Quran tidak ditulis betapa susahnya kita membaca dan belajar dari firman Allah SWT.
Jadi, mari jadikan menulis sebagai busur bagi pikiran, pikiran yang baik, yang bermanfaat. Caranya?
Tulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 11 Maret 2008.










4 Responses to “Busur”
By Kang Sadi on May 11, 2008 | Reply
Ya saya setuju dengan Bapak…tapi kalau enggak ada ide gimana ya Pak…yah..seperti blog yang saya tulis ini
**Ide itu ada saja, sudah ada … memindainya aja lagi
By HARIS ZAKY MUBARAK MAP on May 11, 2008 | Reply
busur cuma 360 derajat aja coy .dan sekalipun dibeli biasanya lengkap satu paket, komplit ama jangka nya.terlalu kacau kalau mengatakan nenulis sebagai busur pikiran,karna menulis menyentuh banyak makna yang berharga…………………………………….
***Yang tidak kacau itu seperti apa bos? Entry busur ada beberapa arti, lho.
By Ikkyu_san on May 11, 2008 | Reply
Maksud bapak di sini kan busur panah ya?
Busur itu tajam … sama dengan pena itu tajam.
Alangkah baiknya jika dipakai untuk menajamkan pikiran, bukan pertikaian.
Setuju sekali kalau isi otak wajib dikeluarkan. dan itu berupa tulisan.
Karena kebanyakan orang Indonesia mengeluarkan isi otak lewat mulut.
***Itu dia, menajamkan pikiran.
By german on May 11, 2008 | Reply
hehe.. gemar berfilsafat rupanya…
***He he