Bual

11 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansya Abbas

TONG kosong nyaring bunyinya. Begitu pepatah tentang orang yang kalau bicara, omong kosong, cakap besar alias bual. Membual berarti bercakap-cakap yang bukan-bukan (sombong). Dalam menulis tinggal memindahkan maknanya, menulis dalam katup tidak berdasar, hil yang mustahal. Jauh dari yang sebenanrnya.
 
Suatu kali, ketika menulis di media cetak, dibuali seseorang. Luar biasa omong kosongnya tentang tulisan yang baik dengan kaidah bahasa sempurna. Saking muaknya saya katakan: “Mas, tulis apa yang diomongin (cakapkan), kalau bagus nanti saya tiru”. Kenyataannya?
 
Sampai hari ini tidak ada tulisannya. Pembual adalah orang yang tidak bisa membedakan kenyataan dengan khayalan. Kalau tingkatnya sudah tinggi, apa yang dipikirkannya dianggapnya sebagai kenyataan.
 
Banyak hal terpikirkan dan dipikirkan di batok kepala masing-masing orang, tetapi sedikit orang yang mampu menuliskannya. Adakalanya, mereka yang tidak berkemampuan, kalau bicara tentang menulis dan tulisan, lebih ‘ahli’ dari penuli. Apa saja bisa dibahasnya, kecuali … menulis itu sendiri.
 
Suatau kali, www.webersis.com dicaci seseorang. Seperti biasa, didoakan agar dia membuat blog bagus. Dibuat. Jangankan populer, hanya dikunjungi dua-tiga orang. Itu pun kawan-kawan dekatnya. Kasian dech lo. Saya berdoa, semoga sadar bahwa bualan harus dicampakkan. Hadapai kenyataan. Betapaun pahitnya.
 
Membual bagus untuk menghilangkan kegundahan pikiran (sementara), tetapi kalau bualan dijadikan trade mark, bikin stres sendiri, he he. Melawan bual dengan melakukan, menukarnya menjadi kenyatan. Dan, itu tantangan berat bagi pembual.
 
Kita belajar menulis dengan menulis saja yu. Ngak usah deh jadi pembual, ngak keren euy.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 10 Maret 2008.

  1. 13 Responses to “Bual”

  2. By hanna on May 11, 2008 | Reply

    Kita boleh saja mendengarkan apa kata orang lain tapi itu tidak bisa menjamin apa tindakannya. Kita bisa saja memperhatikan perbuatan orang lain, tapi kita juga bisa salah menilai kemampuannya.

    ***He he … makanya lebih baik mengasah kemampuan sendiri, ya mBak.

  3. By toni februari on May 11, 2008 | Reply

    saya ingat dengan kata-kata seseorang yang kehadirannya gak penting-penting amat di masyarakat, dia mengatakan bahwa tanah sering di timpa dengan panas terik matahari, air hujan, air comberan, kotoran, sampah dan lain-lain, namun yang ditumbuhkan tanah adalah tumbuhan yang penuh dengan manfaat,analogi saja pak…
    makanya doakan terus aja yang baik-baik tu pak..satuju daaah sama pian, salut pokokna mah sama doanya…

    ***Mana ada doa yang ngak baik … he he, kecuali doa …

  4. By alex® on May 11, 2008 | Reply

    <blockquote>
    Kita belajar menulis dengan menulis saja yu. Ngak usah deh jadi pembual, ngak keren euy.

    Bagaimana menurut Sampeyan?
    </blockquote>

    Sepakat, Pak.

    Itu juga yang saya katakan sama anak-anak di daerah saya. Masalah mutu dan karakter tulisan, Insya Allah nanti juga akan brkembang sendiri kok :)

    ***Setuju. Kalau anak-anak diajatrkan menulis sejak dini, belum dewasa dia akan mampu menulis, kalau diajarkan ‘bicara’ atau ‘membantai’ karya orang, maka rusaklah negeri ini, saling menyalahkan. Ngomong doang, negara agraris tapi pengimpor segala produk pertanian.

  5. By M Shodiq Mustika on May 11, 2008 | Reply

    Ada sejumlah editor yang belum pernah menulis sendiri buku yang berkualitas, tetapi berani “mengoreksi” naskah para penulis seperti kita. Apakah orang seperti itu tergolong “pembual” di mata Pak Ersis?

    ***Tidak dong dia kan bekerja, bukan membual. Manfaatkan saja. Paling seumur-umur jadi editor terus he he tidak berkarya. Itu namannya orang upahan, dan juga ngak ada salahnya. Semua kita kan menerima upah, termasuk untuk diri sendiri he he. Wah senang lama ngak dikunjungi Mas Shodiq.

  6. By Zul ... on May 11, 2008 | Reply

    Tumben seperti ‘marah-marah’.
    Yang menjadi sasaran belum tentu baca, lho.
    Kalau toh baca, tak akan bikin kupingnya merah.
    Paling banter dia tertawa, sambil nyerocos: “Selamat, Anda kena bual saya!”

    Novelnya lanjutin, Bang!

    Aku sudah edit beberapa yang ada.
    (Yang ini bukan bualan!)

    Tabik!

    ****Sepertinya, padahal tidak. Tidak ditujukan pada seseorang, cuman diinspirasii oleh seseorang. Novel ditulis tiap Minggu. Makasih diingatkan.

  7. By Kang Sadi on May 11, 2008 | Reply

    Membual sama dengan Omong kosong ya Pak….
    Salam kenal

    ***Salam kenal kembali …

  8. By danalingga on May 11, 2008 | Reply

    Bualan bagus buat ditulis cerita fiksi keknya pak. :D

    ***Jangan-jagan cerita fiksi berasal dari sebelum jadi bualan he he

  9. By HARIS ZAKY MUBARAK MAP on May 11, 2008 | Reply

    asyik juga tuh menulis hal hal bualan.mo ngajari kah bos/pengen rasanya AQU jadi orang gila yg memuntahkan bualan bualan cerdas,yang sulit dimengerti oleh para Prof sekalipun.

    ***Mungkin lebih hebat dari profesor kali tu.

  10. By Ikkyu_san on May 11, 2008 | Reply

    Baca tulisan bapak jadi ingat pepatah “Tong kosong nyaring bunyinya”. Gitu kan pak?

    ***Kira-kira he he

  11. By german on May 11, 2008 | Reply

    meski bualan toh sah-sah saja, siapa pun berhak mengeluarkan pendapat –meskipun bualan semata, lihatlah para calon pemimpin daerah di indonesia, saya kira mereka hanya membual, katanya saja ingin menggratiskan pendidikan, kesehatan dll, kenyataannya? semua itu cuma bualan!! berkoar-koar kesana kemari (kampanye) hanya semata-mata agar masyarakat simpatik lantas memilih mereka. mengapa, karena inilah alam demokrasi, semua berhak membual semaunya, entah mengatakan dgn kata-kata kasar! kata-kata yg tidak membangun bahkan kata-kata yg dibangun dgn landasan ideologi masing-masing kita! maka, membuallah… hahaha…

    ***Ya ya. sah memang. Kitakan lebih memilih yang tidak membual, he he. Setidaknya berusaha tidak membual. Bagaimana, sepakat?

  12. By noorlatifah on May 11, 2008 | Reply

    Emang mengoreksi kerjaan orang tuch gampang, tapi mengerjakan sendiri belum tentu mampu. Tapi ambil hikmahnya aja bualan sebagai kritikkan yang membangun. Setuju ga?

    ***Setuju dong. Dari apa pun, peristiwa apa pun, ambil positifnya.

  13. By sawali tuhusetya on May 12, 2008 | Reply

    bualan orang dan caci-maki kadang2 juga diperlukan, pak eris, hehehehe :lol: kalau tulisan dan blog kita terlalu banyak disanjung punji secara berlebihan seringkali membikin kita jatuh dan lupa diri, hiks :mrgreen:

    ***Ya kadang-kadang sebagai pemicu. Pujian itu bagus, yang kuran baik, pujian menjadikan GR. ya to Pak?

  14. By Yari NK on May 12, 2008 | Reply

    Ya… biarkan saja ada orang membual. Itu haknya dia. Mungkin dari bualan tersebut ada yang bisa kita pelajari, kalo nggak bualannya, ya sifat2nya atau yang lain2nya. Toh definisi bualan itu berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Lagipula bualan belum tentu jelek kok, walaupun belum tentu bagus juga. Terkadang susah menilai, mana yang lebih baik, yang membual apa yang tidak membual, kita pribadi misalnya lebih condong memihak yang tidak membual, tapi orang lain belum tentu.

    Yah, kalau kita “suka” dengan bualannya silahkan tanggapi yang baik2, kalau kita tanggapi dengan emosi dan bualan juga, maka kita tidak beda jauh dengan yang membual. Kalau kita “tidak suka” dengan bualannya ya sudah cuekin aja. Rebes!

    ***Refleksi kebebasannya. Esensinya, dari apa pun ambil manfaatnya. Cherrio.

Post a Comment