Buntu

10 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis warmansyah Abbas

MENULIS menuangkan pikiran. Begitu sering saya tulis. Kalau pikiran buntu, tidak seorangpun mampu menulis. Ya, bagaimana mau menulis kalau segala ‘lubang’ untuk keluaran pikiran tertutup, buntu. Jangankan mengeluarkan, wong pikirannya saja tertutup he he.
 
Berbahagialah yang mampu menulis. Apa pun analisisnya, menandakan pikiran tidak buntu. Bisa pula pikiran tidak buntu, tetapi menulisnya buntu. Kalau yang terakhir, bisa jadi pikirannya masih normal, tapi ya tu tadi, menulisnya buntu. Kenapa bisa buntu?
 
Bisa jadi memang tidak mampu menulis. Sudah tidak berkemampuan, tidak pula mau belajar.  Tidak apa-apa juga sebenarnya. Banyak orang seperti itu. Hanya saja, tentu ada tugas sebagian orang, yaitu menlis. Kalau tidak ada tulisan, apa yang mau dibaca?
 
Kalau disatu komunitas, warganya buntu berpikir, tamatlah riwayat komunitas tersebut.  Kalau menulisnya buntu, menuliskan pikiran dan pemikiran yang bergelora di komunitas tersebut, itu lampu merah. Berarti kembali ke zaman pra sejarah, zaman sebelum adanya peningalan tertulis, alias Manusia Purba.
 
Kebuntutan menulis bukanlah penyakit permaen. Tidak susah obatnya. Latih dengan menulis, menulis, dan menulis. Yang menjadi musuh, paling-paling ‘kelihaian’ menulis atau ‘cercaan’ atas hasilan tulisan.
 
Yang pertama, ya itu tadi, latih. Yang kedua, lebih gampang, tabalkan menulis tugas mulia, dicerca cuekin. Kalau belum baik, belajar. Mudahkan saja. Jangan sampai gara-gara hal tersebut, buntu. Buntu menulis, dibarengi usus buntu, tentu lebih gawat lagi, he he.
   
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 10 Maret 2008.

  1. 5 Responses to “Buntu”

  2. By Anang on May 10, 2008 | Reply

    haduh saya pernah usus buntu.. jangan diledekin dong pak.. hekekek

  3. By hanggadamai on May 10, 2008 | Reply

    waduh diriku sering buntu ditengah2 menulis, bila itu terjadi biasanya diriku kembali blogwalking mencari ilham :D

    ***Yap, jangan pelihara …

  4. By haris zaky mubarak on May 10, 2008 | Reply

    Hanya orang konyol yang pikirannya marasa buntu terhadap menulis.

    ***he he

  5. By Badiyo on May 10, 2008 | Reply

    Pernah saya jumpai, dan ini memang sering ada di pinggiran jakarta yaitu “Gang Buntu”. Anehnya, meskipun gang buntu, kok banyak juga orang yang mau masuk dan melewati gang tersebut. Ya itu mungkin karena orang itu memang rumahnya di situ atau ada famili di di situ. Artinya orang tersebut memiliki tujuan untuk masuk ke gang itu.

    Dalam menulis, jika kita memiliki tujuan, tentu ke-buntu’an pun bisa kita terabas dan lewati bukan?

    ***Kalau Gang Kelinci malah ramai ya Mas.

  6. By Ikkyu_san on May 11, 2008 | Reply

    Ususnya buntu bisa dipotong…
    Pikiran buntu potong kepala??? hiiiiii ngeri.
    semoga jangan sampai buntu….sembelit saja… makan sayur bisa lancar.

    ***He he jangan …

Post a Comment