Bumerang

10 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

ABORIGIN, penduduk asli Autralia mempunyai senjata khas, bumerang. Senjata berbentuk lengkung dari kayu tersebut, apabila dilemparkan dan tidak mengenai sasaran, dapat kembali kepada si pelempar. Perkataan atau perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri, disebut bumerang. Dalam menulis, bumerang dapat diartikan apabila ‘melontarkan’ sesuatu, kiritikan atau hujatan, kembali kepada diri sendiri.
 
Mengkritik, tanpa dasar dan argumen, apalagi asbun, dipastikan kembali ke diri. Suatu kali, seorang petinggi kampus, entah entah atas dasar apa, menyebut teman-teman dosen yang rajin menulis di media cetak sebagai Dosen Koran. Daud Pamungkas sebalnya ke ubun-ubun, dan ditulisnyalah artikel bertitel: Dosen Koran. Daud menulis kepositifan dosen menulis di media cetak.
 
Saya ketawa-ketawa kecil saja. Ada yang  menyesalkan hal tersebut. Ada yang tidak memahami, kenapa petinggi mengucapkan hal tersebut. Seorang redaktur media cetak, marahnya luar biasa. Menulis di media cetak kog dikonotasikan negatif.
 
Saya ‘mendamaikan’ hati teman-teman. Kasihan si petinggi. Mungkin saja tidak paham atau lagi emosi, atau kepeleset. Ketika diminta mengomentari tidak mau. Merasa hebat dengan pikiran sendiri, jadi bumerang. Simpati banyak orang padanya melorot.
 
Saya pernah mengalami hal tersebut, tulisan menjadi bumerang. Karena itu, hindari gayutan emosi. Dulunya, main tulis saja. Dengan begitu menulis menjadi lancar. Kini, mulai menimbang-nimbang, sejauh tidak menganggu kelancaran menulis.
 
Pesan yang hendak disampaikan, hati-hatilah menulis sesuatu, apalagi kalau sampai melibatkan emosi. Kalau jadi bumerang, yang kena diri sendiri.
   
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 10 Maret 2008.

  1. 13 Responses to “Bumerang”

  2. By toni februari on May 10, 2008 | Reply

    teori sebab akibat…atau resiko dari apa yang kita kerjakan..selain boomerang adalagi istilah yang lain pak “senjata yang salah makan tuan” beuhhhh…

  3. By John Etawa on May 10, 2008 | Reply

    Kalau di dunia musik ada Pak Namanya…Boomerang…he he.(canda saja)
    Salam Kenal

    ***Salam kembali …

  4. By Latip on May 10, 2008 | Reply

    Kalau gak pernah nulis di Koran namanya Dosen apa ya Pak…?
    Mengenai Bumerang tentang salah ngomong ada juga lho nama lainnya selain yang disebutin Mas Tony …” Keseleo Lidah”
    Salam Kenal

    ***Dosen Tiduuuuuur, kali aja

  5. By hanggadamai on May 10, 2008 | Reply

    menulis itu memang perlu kebijakan

    ***Ya, bagus. Lakukaaaaaaaaaaaaaaan

  6. By SQ on May 10, 2008 | Reply

    Pesannya akan selalu saya ingat baik-baik pak..apalagi, saya masih tergolong hijau dalam dunia tulis-menulis…

    ***Wuw ntar kalah habang kaya apa tu

  7. By haris zaky mubarak on May 10, 2008 | Reply

    AQU gak sula boomerang coy,AQU sukanya GIGI aja,hampir sejalan dg semua itu.AQU sering dikatakan sbg mahasiswa koran,hobi AQU nulis mungkin mendefinisikan penilaian orang pada pola pola ini.tp itu semua tak berarti coy.krna dari sana,AQU merasa menjadi seorang yang LEGEND,

    ***Amin.

  8. By wku on May 10, 2008 | Reply

    bahkan untuk menulis koment ini pun saya mesti ati2, jangan2 jadi bumerang… hehe

    ***Hehe kalau disini bebas aja

  9. By Badiyo on May 10, 2008 | Reply

    Terima kasih banyak Pak Ersis atas pesannya.

    ***Sama-sama

  10. By petak on May 10, 2008 | Reply

    dosen blog
    kedengarannya bagus juga,,

    **Bangus, Dosen Blog, Dosen Go Blog, yang jelek iti Dosen Goblog he he

  11. By c` mel on May 11, 2008 | Reply

    Paham pak. Nulis harus hati - hati. Tulisan bisa di baca terus sampai banyak generasi dan bisa berpengaruh ke orang yang kita ga kenal. Kalo ngomong mungkin cuma yang denger aja yang kena.

    ***ya ya, mendingan nulis dari ngomong, tapi jangan sampai ngak ngomong lho, ngomong itu bagus juga kok pada tempatnya.

  12. By Ikkyu_san on May 11, 2008 | Reply

    Setuju pak…
    Berhati-hati dan menghindari melukai orang lain. Dalam kehidupan juga kan ada yang pantas diucapkan ada yang tidak. Kalau tidak pantas ya simpan untuk diri sendiri saja.

    ***Yoi, filternya ada pada diri masing-masning.

  13. By german on May 11, 2008 | Reply

    ah, tulisan bapak seperti memiliki tendensi yg aneh, menimbang-nimbang dlm menulis saya pikir tak harus diperlukan, justru menulis bebas tanpa memiliki penimbangan akan mengarah pada karakter tulisan yg diinginkan, bedanya, tulisan yg bebas itu jangan sampai dipublikasikan, cukup kita sebagai penulisnya menyimpan tulisan tersebut sebagai referensi berharga untuk menanjak ke level tulisan yg selanjutnya, dengan begitu justru dgn tulisan-tulisan yg kesannya bumerang –seperti tulisan bapak– alih-alih menjadi bumerang –tulisan yg disimpan justru menjadi bumerang tersendiri (cambuk positip) thdp karakter tulisan yg sedang ingin dicapai, kira-kira begitulah…

    ***Bisa jadi, he he … Yap, saya setuju dengan cambuk positif. Maksih atas analisisnya.

  14. By Yari NK on May 12, 2008 | Reply

    Tulisan yang menyulut emosi?? Hmmmm menurut saya sih, sah2 saja, asal jangan menjatuhkan nama seseorang atau kelompok. Saya memang tidak tahu pokok masalahnya sebenarnya bagaimana, yang jelas kalau faktor emosi dibalas lagi dengan faktor emosi, ya dua2nya sama saja payahnya. Baik si petinggi kampus maupun si redaktur surat kabar. Masing2 hanya meihat dari pandangan dan “periuk nasi”nya sendiri.

    Ya sudah, dosen menulis di koran, ya tidak apa2, malah cenderung positif. Orang mengkritik, asal ada dasar dan argumentasi, ya bagus2 juga malah cenderung positif juga. Orang cenderung mengkritik tanpa argumentasi?? Teliti dulu secara benar…. apa motivasi dia menuduh tanpa argumentasi… apakah karena ia cemburu tidak bisa menulis bagus?? Atau sang dosen lebih mementingkan menulis daripada mengajar anak2 didiknya?? Ya… perlu diteliti dulu… jangan sampai kita balik menuduh dan marah2 tanpa argumen yang jelas pula…. kalau hanya sekedar emosi dilawan dengan emosi…. ya itu otak kasihan dong nganggur aja di kepala…. padahal sekarang tingkat pengangguran udah tinggi loh di negeri ini… hehehe……

    ***Ya ya nasehat yang baik, tinggal praktik. Seruju Pak.

Post a Comment