Buku
9 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
BODOH. Dari mana kita banyak menimba ilmu atau pengetahuan? Buku. Dapatkah berguru pada buku? Secara definisonal tidak, secara esensial bisa. Definisi buku dan guru berbeda. Dapatkan belajar menulis dari buku? Secara teoritis bisa, pratikknya lakukan sendiri. Buku tidak menulis dirinya, he he. Apalagi, jadi guru.
Boleh saja buku dijadikan guru. Tetapi, seorang teman menulis, buku adalah guru yang bodoh. Setelah dipikir-pikir, disamping bodoh, buku egois. Nah, lo.
Semula heran. Namun, Si Kawan berargumen: Kalau punya pertanyaan tentang apa yang tertulis di buku, apakah bisa dijawab langsung oleh buku? Tentu tidak. Kalau tidak sependapat atau tidak sepaham tentang apa yang tertulis di buku, jangankan membantah, buku tidak akan bereaksi. Dibanting sekalipun.
Lagi pula, buku tidak pernah bercerita tentang kejelekan dirinya (buku), tetapi adakalanya ‘menulis’ tentang kejelekan lainnya. Buku benar sendiri. Sampai-sampai ada yang berargumen, begitu menurut buku.
Implikasinya, pengetahuan atau ilmu, dalam hal ini tentang menulis, silahkan raup dari buku. Motivasi dan aneka teori pun sambar saja. Buku menulis hal-hal demikian. Belajarlah dari buku. Tetapi, … buku tidak akan menjadikan kita piawai menulis. Lalu?
Apa yang ‘dipapar’ buku, praktikkan. Buku, terkadang maunya yang serba sempurna, serba baik, serba wah, padahal kemampuan kita jauh dari hal sedemikian. Kalau apa yang ditulis buku dijadikan patokan menulis, akan susah dipraktik. Pandai-pandailah.
Menulis melalui tahap-tahapan, buku langsung ke ranah ideal. Karena itu, praktik jangan sampai diabai. Banyak orang punya pengetahuan (tentang menulis) dari buku. Tapi, sedikit orang yang mampu melajukannya sampai menjadi penulis.
Buku itu baik. Jauh lebih, praktik. Semakin banyak membaca (buku), semakin mungkin mengembangkan potensi (menulis). Sebaliknya, kalau ingin seperti apa yang tertulis di buku, itu pemimpi. Belajarlah dari buku, dan jadikanlah diri buku yang cerdas. Cerdas menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 9 Maret 2008.









7 Responses to “Buku”
By eNPe on May 9, 2008 | Reply
nggih, bah ai.kalo cm teori2 dgn baca buku tapi gak ada praktek percuma saja. ilmu yang didapat tidak diimplementasikan…
wew…horeeeeeeee!!! komen pertama di web abah
By german on May 9, 2008 | Reply
boleh.. boleh…
By Badiyo on May 9, 2008 | Reply
Anjuran pertama, “mari membaca buku!”, anjuran kedua, “mari menulis buku!”
SIIIIIIIIIIIIIIIIIIP, persis.
By sluman slumun slamet on May 9, 2008 | Reply
Buku bisa gak diganti dengan blog, pak?
***Ya, ya. Buku is buku toh. Blog dalam kenyataan sosiologis masyarakat kita masih barang langkah he he. Dalam pembelajaran diri kita bagus ajap>
By Anang on May 10, 2008 | Reply
ada buku tempat kita belajar segalanya.. hehehe KITAB SUCI
By toni februari on May 10, 2008 | Reply
anjuran ketiga…jadilah penulis eeeeeeeh he he
By meiy on May 15, 2008 | Reply
satu hal yg membuat saya bertanya2 ttg buku skrg, kasihan byk sekali hutan yg ditebang krn buku. teorinya memang ambil kertas dari perkebunan, praktiknya ada yg nyuri dari hutan. mencoba berdalih memaafkan diri krn buku bermanfaat….:(
***He he … pencuri itu muaranya ke orang-orang Barat, mereka yang banyak bikin buku; rasio per penduduk merek tinggi. Kita kecil saja, lalu … mereka bilang, kasihan hutan ditebang untuk buku. Meraka yang banyak pakai kog. Kita korban karena …