Maniak

8 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MANIAK. Pernah dikatai orang, dengan nada cemeeh, maniak menulis? Maniak berarti orang yang tegila-gila sesuatu; orang yang amat sangat menyukai sesuatu. Kalau belum, kalau menulis secara teratur, bisa jadi suatu saat akan dikatakan maniak menulis.
 
Kalau saya sih cuek saja. Saya berpikir, jangan-jangan dia berkeinginan menulis dengan nafsu di ubun-ubun, tapi “editansil’. Tahu arti plesetan ‘editansil’? Cari sendiri dong.
 
Maniak menulis lebih bagus dari mematikan kreativitas orang sebagai dendam karena diri tidak mampu. Prilakunya, mencari-cari kelemahan atau kekurangan. Agar, tulisan dan penulisnya mati sekalian. Kalau orang sehat jiwa, pasti berkontribusi memperbaiki.
 
Lagi pula, menulis tidak membeban. Ada waktu luang, menulis. Menulis apa yang hendak ditulis. Saya jarang memikirkan akan menulis apa, tetapi menulis apa yang ada di pikiran. Jadi, tidak susah.
 
Apalagi, tidak mau dibodohi teori atau dongeng-dongeng yang tidak jelas ujung pangkalnya. Menunggu mood, sesuai calling, harus di tempat yang sejuk, suasana hati lagi nyaman, harus sesuai dengan kriteria anu, anu, dan anu. Ah, menulis kog disusah-susahkan. Saya berpendapat, menulis mudahkan saja. Titik.
 
Lagi pula, tidak usah membaca ini-itu, wong membaca sudah menjadi kebutuhan. Tidak harus belajar anu dulu, baru menulis. Atau, ‘dipaksa-paksa’. Apalagi, dibelenggu Ingin populer, duit,  pengakuan dan seterusnya. Menulis saja. Kalau ada honor, bonus namanya. Kalau dikatakan orang hebat menulis, atau dikenal orang, syukur. Wong saya tidak minta-minta kog.
 
Prinsip saya, menulis aja lagi. Adakalanya, 10 atau 15 menit, jadi satu tulisan. Daripada menegakkan kehebatan berpedapat atau teori-teori  orang, mendingan menulis. Apalagi mendengar ‘ceramah’ tentang menulis dari birokrat kampus yang menulis sealinea saja lunglai, mendingan menulis. Begitu saja kog repot. Biar maniak menulis, biar maniak memotivasi menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 8 Maret 2008.

  1. 7 Responses to “Maniak”

  2. By aRuL on May 8, 2008 | Reply

    saya sependapat dengan bang ersis, selagi kita punya ide itu bisa dituangkan…
    nah semakin hari kita tentunya belajar memperbaiki tulisan kita agar diterima oleh semua orang (dipahami orang)

    ***Pembelajarn itu intinya.

  3. By Juliach on May 8, 2008 | Reply

    Aku lebih parah lagi maniak pergi ke dokter gigi. Setahun bisa 20 kali ke dokter gigi : kontrol utk sendiri 2x, untuk anak-anak, ngantar temen-temen dll.
    Ini sudah mendingan berkurang dibandingkan dulu sewaktu masih kuliah: ke dokter kulit gara-gara jerawat nongol 1, pilek dikit ke dokter…

    ***He he aku baca di blog Sampeyan kog.

  4. By sawali tuhusetya on May 8, 2008 | Reply

    sepakat, pak ersis. predikat maniak menulis itu justru bagus, pak, kan tidak setiap orang layak mendapat sebutan itu. makin mantab, pak. sip!

    ***Ya, Pak Sawalai aja ya, he he

  5. By toni februari on May 8, 2008 | Reply

    MANIAK makin sering menulis makin enak….heee

    ***He he

  6. By antown on May 8, 2008 | Reply

    boleh saya komen pak ersis? kayaknya foto/avatar kalo kepalanya menghadap arah kanan mungkin lebih bagus. karena dari segi komposisi, kata temen2 saya yang biasa layout, gambar seperti ini seperti menabrak dinding karena menghadap ke kiri.

    salam< ***Siiip, makasih sarannya.

  7. By Rahmadona Fitria on May 8, 2008 | Reply

    lebih bagus dikatain maniak menulis drpd iri sama org yg punya kemampuan menulis, tp g berusaha biar mampu menulis.

  8. By Bibidapi on May 8, 2008 | Reply

    kalo maniaknya untuk hal yang positif ya bagus doung. kalo untuk menulis kita harus menjadi maniak, hehehe

Post a Comment