Macet
8 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MACET. Macet … macet lagi. Begitu banyak keluhan para pesharing menulis. “Bagaimana nich Pak. Ide OK, bahan cukup. Keinginan menulis apa lagi. Tapi, begitu alinea kedua selesai, macet”. Macet?
Biasa saja tu. Sebagai bangsa Indonesia, tidak usah mengeluh. Macet sudah menjadi identitas bangsa, he he. Macet … macet lagi. Yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh mengatasinya. Yang memacetkan jalan, tidak tertib. Yang mengurus, sekalipun hidup makmur dari mengurusnya, berusaha sekadarnya. Paling-paling memasihkan berasalan. Bukan mengatasi kemacetan.
Yang mengatur, podo ae … kalau diatur, apalagi aturannya setaraf UU, kog ya tidak mempan. Berbagai alasan ditegakkan. Lalu, dilempar ke masalah budaya segala rupa. Yang penting ada alasan. Aya aya wae.
Dalam kasus di atas, hampir dapat dipastikan, karena kurang latihan. Menulisnya tidak serius. Ya itu tadi, macet begitu saja. Menulis, macet lagi. Lucunya dibiarkan, dan diulang-ulang. Dasar …. Harusnya bagaimana?
Jangan biarkan Lawan. Teruskan. Dari dua alinea, menjadi tiga, empat, dan sampai tuntas. Seorang teman, dosen PTN, bercerita, file komputernya berisi tulisan-tulisan tidak tuntas. Dasar … Bodohnya pula, besok menulis tidak tuntas lagi. Yang dilatih ketidaktuntasan. Jelas saja akan menjadi ahli tidak tuntas, alias Raja Macet.
Siapa yang memacetkan? Ya, dia sendiri. Kira-kira berniat agar tercatat di rekor MURI atau Guiness Book Record, sebagai Raja Macet Menulis. Kalau tidak, kan pasti di atasainya. Hari ini macet, besok macet, macet … macet lagi. Dipelihara. Aneh.
Dengan kata lain, kemacetan dalam menulis bukan karena UUD, polisi lalu lintas, atau birokrasi yang tersumbat. Tapi, dibangun sendiri, dibuat sekokoh cadas Grand Canyon, oleh … si penulis. Si Raja Macet.
Pada buku-buku saya telah dibahas penyebab macet menulis dengan segala varian dan solusinya. Jika berminat, silahkan baca. Macet, karena diri sendiri.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 8 Maret 2008.









7 Responses to “Macet”
By Ahmad Nur Irsan Finazli on May 8, 2008 | Reply
KAlo macet, untuk saya sendiri biasanya saya dorong dengan “PAKSAKAN”. Ya mulainya dengan sedikit paksaan kan gak papa juga, walhasil bisa jadi tulisan dan menulis lagi.
Silakan berdo’a
“Allahumma paksa ya Allah” 3X…Amiin ya Robbal’alamin.
By Rahmadona Fitria on May 8, 2008 | Reply
Kalo mengalami kemacetan dalam menulis biasanya sih masih bisa berusaha mengatsinya, soalnya buat saya lebih gampang menulis drpd bicara, apalagi bicara sama orang yg pinter ngomong, biasanya berhadapan dgn org semacam itu saya pilih jadikan dia bahan tulisan saya aja,he…menulis ‘n berkomentar dgn tulisan lebih menyenangkan bagi saya,katarsis ya,pak,he….g apa2lah drpd sy trus iri,dengki atau sirik,kan sirik tanda tak mampu (kata Anak muda jaman sekarang)
By Badiyo on May 8, 2008 | Reply
Dalam banyak hal, kondisi di atas kertas dengan di lapangan sering berbeda. Tapi bagaimana jika ternyata konidisinya sama, di atas kertas menulis macet, di jalanan pun macet pula? Tidak ada hubungannya sih.
By Bibidapi on May 8, 2008 | Reply
waduh kayanya saya kebiasaan nulis macet trus dibiarkan nih pak, tapi kalo menulis puisi ya Alhamdulillah lancar-lancar aja, kalo menulis selain puisi itu yang masih sering macet. jalanan macet biarkan saja, mau marah juga percuma, tapi kalo macet menulis harus dilawan ya pak.
By Iwan Awaludin on May 8, 2008 | Reply
Macet itu kan biasanya karena tempat keluarnya tidak cukup besar untuk mengeluarkan isinya. Misal, jalan tol macet karena mobil yang masuk atau keluar ternyata lebih banyak dari kemampuan pintu masuk/keluar jalan tol. Lah, kalo ngga ada isinya sih namanya bukan macet. Jalan kosong gitu lho Pak. Mau tiduran di tengah jalan kosong juga ngga berbahaya, hehehe.
By Evi on May 8, 2008 | Reply
Macet ketika menulis itu biasanya berangkat dari keinginan untuk selalu tampak sempurna. Kita ingin menuliskan sesuatu yang enak dibaca, jelas dan tidak menggangu konsentrasi orang yang membaca. Disamping itu kita juga ingin terlihat pinter. Akibatnya ya itu, angan-angan terbang melewati realita, meninggalkan fakta bahwa menulis kadang tidak harus selalu terlihat berisi
By Anang on May 10, 2008 | Reply
kalau macet rehat bentar mencari sekumpulan ide.. pasti dapat.. dan menulislah menulis….. bukan begitu pak?