Malas

7 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MALAS. … Begitu banyak kata malas diucapkan atau diketik sebagai alasan ketidakmampuan. Bagi pemalas, dijadikan ‘nujum’ pembenaran. Malas itu penyakit diri, yang sebenanya, tidak ada kaitannya dengan orang lain. Kenapa alasan malas diumbar?
 
Malas urusan kejiwaan. Bisa jadi, ‘persiapan’ menuju sakit jiwa. Pangkal malas di lubuk jiwa. Ada kehendak sangat kuat, tetapi tidak mau belajar, tidak mau membenahi kemampuan. Kehendak menggebu-ngebu, tidak dibarengi persiapan.  Akibatnya, terjadi pertentangan dalam diri.
 
Antara keinginan, dalam hal ini menulis, dengan kemampuan bak siang dan malam. Hal itu mendenda diri. Malas dijadikan pecundang. Pertentangan diciptakan untuk merusak diri. Sadar atau tidak, disengaja atau bukan.
 
Solusinya sederhana. Kalau tidak mau belajar, tidak mau membenahi kemampuan, ya sudah. Bunuh kehendak. Pasti jiwa tertenang. Malas tidak berguna lagi, tidak manfaat dijadikan pembenaran tidak mau dan tidak mampu. Sederhana. Bunuh keinginan. Selesai.
 
Seorang yang menamakan dirinya Jenderan Qi megomentari tulisan Menikam Malas: Seorang guru menulis menasehati muridnya: “Menulislah terus. Jangan sampai engkau putus asa. Kalaupun engkau putus asa, maka menulislah dalam keputusasaan…”
 
Kalau malas menulis, membacalah. Masih malas, diskusi. Masih malas, bermainlah ke rumah teman. Masih malas, tidurlah, siapa tahu dapat ide dalam mimpi. Tapi begitu selesai –dan otak segar lagi– menulislah. Kalau masih malas juga, tulislah kemalasanmu sebagai tema. Atau jadikan si malas-mu sebagai tokoh antagonis yang kau tuangkan dalam cerpenmu. Atau tulislah kata-kata makian sepanjang-panjangnya kepada kemalasanmu. Dan, Kalau masih saja malas, semoga engkau segera malas bernapas…
 
Terima kasih Jenderal Qi.  
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 7 Maret 2008.

  1. 14 Responses to “Malas”

  2. By hanggadamai on May 7, 2008 | Reply

    wah pak ersis lagi malas ya.. :)

  3. By aminhers on May 7, 2008 | Reply

    MALAS adalah penyakit yg sangat berbahaya yang menyebabkan OTAK kita tumpul, dan menjadikan ORANG selalu PESIMIS!

  4. By sawali tuhusetya on May 7, 2008 | Reply

    kalau “malas” menjadi alasan pembenar dalam melakukan aktivitas menulis, memang lebih baik melakukan harakiri saja, pak ersis, wakakakaka :mrgreen: urusannya kan dah selesai, hehehehe :lol:

  5. By Suci on May 7, 2008 | Reply

    Yap…saya percaya malas juga yang sering mendindingi seseorang hingga “gagal” menyadari kemampuan diri yang sebenarnya.

    Saya lebih suka menggunakan istilah “brain wall”, malas berperan besar menjadi batu pondasinya. Menulis menghancurkan “brain wall” ? :D/ kalau itu mah, cukup kembali ke masing-masing individunya..

  6. By SQ on May 7, 2008 | Reply

    Ya.. saya setuju dengan konsep diatas, mari menulis untuk menghancurkan “Brain wall”

  7. By wawan halwany on May 7, 2008 | Reply

    Wah benar pak, terkadang kita takut menghadapi masalah tanpa mencari solusi pemecahannya. Dan waktu sangat kejam dia tidak menunggu kapan kita siap menanggung akibatnya. Kayanya malas itu bukan alasan yang bisa dibenarkan yah. Terimakasih atas masuknnya

    ***Yoi.

  8. By syaharuddin on May 7, 2008 | Reply

    sorry gak ada komentar ttg puisi sbb lagi gak mood nich, wah tema malas juga menarik. akhir-akhir ini saya malas kerja tesis dan nulis di media. wah ini jadi penyakit juga nich, tapi ini tidak akan lama sebab saya masih punya keyakinan bisa menyelesaikan dan nulis lagi di media. Yg jadi masalah orang yang tidak punya keyakinan, repot mensupportnya pak.

    ***Malas kog dipelihara he he

  9. By german on May 7, 2008 | Reply

    hehe.. ternyata oh ternyata, pak EWA membahas kata ‘malas’, kata dimana saya sangat menunggu-nunggu utk dibahas. setelah sekian lama baru kali ini kata malas (entah postingan yg lalu) di posting. hemm.. malas, malas memang tidak bisa dilepaskan dengan mahkluk yg namanya manusia, setiap ada malas maka disitu ada manusia yg berperan, bagaimana dgn hewan, maaf, sepertinya hewan tidak memiliki kosakata malas, mereka tidak mengenal arti kasih sayang, perdamaian, toleransi dan lain sebagainya. karena hewan hanya memiliki insting, bagaimana halnya dengan manusia? manusia memang tidak seperti hewan, karena manusia diciptakan melebihi apa yg dimiliki hewan, yaitu akal. akal sangat berperan dalam kehidupan manusia –disamping perasaan/insting– maka sangat mengherankan jikalau malas menandakan hidupnya seorang manusia (??) karena memang, kosakata malas sangat pas dilekatkan di atas pundak manusia, karena di mana ada manusia maka di situ ada malas. hehehe.. sepertinya saya lagi malas nih mengomentari bapak…

    ***Ada yang lebih khas … Menulis Menikam malas … ada di blog ini.

  10. By sluman slumun slamet on May 7, 2008 | Reply

    kalau lagi malas alias juga gak mood saya lebih baik nyangkruk dulu pak….
    ngopi sembari menyumbang pendapatan negara melalui pita cukai…

    ***Siiip … yang penting kemudian nulis lagi, euy.

  11. By Ahmad Nur Irsan Finazli on May 7, 2008 | Reply

    Allahumma ini a’udzubika minal hammi wal hazan, Wa a’udzubika minal aj-zi wal KASALI (malas/ lazy), Wa a’udzubika minal jubni wal buhli, wa a’udzubika min gholabatid daina wa qohrirrijal. Amin.

    ***Wow … yang beginian aku kalah total he he. Maksih atas ingatannya. Salam.

  12. By Fien Prasetyo on May 8, 2008 | Reply

    malas itu manusiawi…setelah malas pasti ada giat lagi…lagian kalo kita ambil hikmahnya, dg adanya malas kita bs istirahat dr rutinitas yg padat spy bs fresh lg sesudahnya…semua pasti ada hikmahnya, ya tho ?

  13. By Badiyo on May 8, 2008 | Reply

    Mari tumpas rasa malas, dan tumbuhkan antusias!

  14. By unai on May 8, 2008 | Reply

    kalau menulis sudah bagian dari hidup…gak akan ada malas lagi pak. Seperti bernafas…kalao malas bernafas, mati saja :)

  15. By meiy on May 8, 2008 | Reply

    hihi kalo malas berhenti saja bernafas pak? lucu deh bapak ini, tapi benar sih ya, aku paling berusaha melawan malas, soale apaan sih malas gak keren gitu kok dijadikan budaya ya

Post a Comment