Malam
6 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM ini … Begitu banyak kata mula itu mengawali tulisan atau puisi saya. Malam, ya malam ini. Malam yang afdol untuk istirahat dan beribadah. Siang bekerja, malam istirahat dan beribadah. Sungguh nyaman.
Rasulullah mencontohkan, beramal di waktu malam, saat manusia lain tidur nyenyak. Memanjatkan doa-doa, meluluhkan jiwa ‘mendekat’ Sang Khalik. Malam, ketika gangguan siang tak mengada. Malam-malam ibadah. Malam-malam indah.
Rasulullah bukan bermaksud melarang bekerja di malam hari. Bekerja substansinya beramal. Tarikan kaum Calvinis, sebagaimana ditulis Weber, Prothestan Ethic … dinotasi dengan calling; panggilan untuk bekerja bukanlah hal aneh dalam Islam. Bekerja adalah amal ibadah. Memulai dengan Bismillah mengakhiri dengan Alhamdulillah.
Prinsip dasarnya, istirahat jangan diabai, ibadah jangan dilalai, bekerja yang beribadah jangan dikurangi. Bisa saja, aktivitas membaca dan menulis, dikategori remeh-temeh; membuang-buang waktu. Bisa pula sebaliknya, sebagai syiar, sebagai dakwah. Tergantung dari dan bagaimana menatapnya.
Malam ini … ketika pikiran dipantik, membaca dan atau menulis —seorang bloger mengatakan ‘mengetik’, benar saja, tapi ini soal taken for granted— mungkin belum pantas sebagai ladang ibadah. Tapi, bagaimana melawan suara diri, setidaknya niat mengarahkan. Menulis sebagai ladang amal.
Ya Allah ya Rabb. Kalaulah hamba-Mu terpongah, kalaulah niat belum sebanding pemahaman dengan lakuan, maaf dipinta ampun diajukan. Malam ini … getaran-getaran tangan di keyboard panggil-panggil seruanMu.
Jadikanlah ladang ibadah, bentangkan tali-tali asih agar menyambung makna dan kebelajaran. Agar, hikmah-hikmah ditulis. Agar, manfaat dipetik.
Malam ini, ya Rabb. Sinar memancar menagih hati, menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 Maret 2008.









11 Responses to “Malam”
By Ahmad Nur Irsan Finazli on May 6, 2008 | Reply
Amin yarobbal ‘alamin.
Malam sah-sah saja digunakan untuk mengetik, membaca dan atau menulis, yang penting tujuannya alias niatnya, ibadah gak mesti mahdhoh tapi ada yang ghoiru mahdhoh. Yang terpenting persedikit tidur kita dimalam hari, hidupkan malam sebagai persiapan menerima amanah yang begitu berat dimasa yad. Juga sebaiknya sempatkan untuk tilawah dengan tartil walau satu lembar.
Semoga berhasil.
By Teguh Junanto on May 6, 2008 | Reply
Menarik Pak Ersis materinya. Terkadang saya berpikir orang-orang besar seperti rasulullah SAW yang sama2 mempunyai waktu “hanya” 24 jam sehari, bisa membuat pengaruh yang terasa hingga berabad-abad setelahnya. Beliau sama adilnya dengan istirahatnya, sedangkan saya yang merasa pengaruhnya sangat tidak signifikan merasa sudah cukup padat bahkan “kekurangan ” jam.
Konsistensi para kekasih Allah yang bisa bangun tidur malam seperti yang diceritakan di atas serasa membangkitkan semangat lg..thanks Pak
***Ya intinya memanfaatkan waktu. Rasulullah tauladan sempurna, contoh bagi kita, rahmat bagi dunia.
By aminhers on May 6, 2008 | Reply
Ass.wr.wb
(Al-Muzammil dan Al-Mudatsir) perlu kita renungkan kembali muatan maknanya, smoga kita bukan termasuk orang lalai.
***Mari lawan lalai … dengan melakukan kewajiban. Amin.
By esa on May 6, 2008 | Reply
Amin. Benar saja, Rasulullah memang tauladan yang terbaik. Beliau memiliki waktu dan tentu kemampuan yang sama sebagai manusia sebagaimana halnya kita.
Semoga kita tak termasuk org yang lalai. Amin.
Benar kata K’Ahmad bahwa ibadah ga harus mahdhoh. Banyak pula para ulama yang malam2nya diisi dzikrullah, qiyamul lail dan menulis buku, sebagian menghafal ilmu, belajar di sepertiga malam terakhir menghasilkan karya-karya besar. Semua yang kita lakukan bahkan tidur sekalipun bisa jadi ibadah asal kita meniatkannya untuk itu. Niat menurut bahasa artinya al-qahsdu (bermaksud). Sedangkan menurut syari’at, niat artinya menghadapkan hati pada suatu aktifitas dengan mengharap ridha ALLAH dan melaksanakan perintahNya. Jadi, inti niat adalah mengarahkan jarum hati pada suatu ibadah. Maka semua langkah kita insya ALLAH bisa jadi ibadah.
***Makasih balik pencerahannya.
By Bibidapi on May 6, 2008 | Reply
SUBHANALLAH, materinya cukup membangkitkan semangat pak. semua yang kita lakukan dengan niat yang baik InsyaAllah bernilai ibadah sebagai tabungan akhirat kita. amin Ya Allah amin
***Amin.
By olangbiaca on May 6, 2008 | Reply
asl.
subhanallah..benar sekali pak….
duh….malangnya diri ini yg tak mau bercinta dgn-NYA ditengah kesunyian malam.
gimana khbar pak ? sehat2 ?
***Mulailah bercumbu dalam nikmatNya. Alhamdulillah, baik.
By Iwan Awaludin on May 6, 2008 | Reply
Saya sudah menulis pak, malam-malam. Sudah berhari-hari saya standby di depan komputer untuk mengetik sampai jam 2 malam. Tapi ngga kelar-kelar tulisannya.
***Bagus, tinggal satu langkah saja, sangat ringan … kelarkan. Rebes eh beres.
By Zul ... on May 7, 2008 | Reply
Perlu dikaji dan dicontoh bagaimana manajemen waktu Rasulullah. Kalau dilihat, bagaimana mungkin beliau mampu beribadah dengan kuantitas dan kualitas yang luar biasa, bermajelis taklim, mempimpin pemerintahan, melayani istri-istri dan sahabat-sahabat beliau, dan bermunajah.
Kita, 24 jam sehari, terasa tak banyak arti.
Tabik!
***Lalu … lakukan saja, sesuai kemanpuan. Jadikan malam waktu paling bermanfaat. Setju?
By sawali tuhusetya on May 7, 2008 | Reply
malam memang atmosfer yang tepat untuk melakukan refleksi dan memanaje kontemplasi diri. sayang sekali, kita masih belum bisa, khususnya saya, meneladani Rasulullah dalam menggunakan waktu yang tepat utk menjalankan aktivitas yang bermanfaat. semoga tulisan ini selalu bisa mengingatkan saya betapa pentingnya memanage waktu.
By unai on May 8, 2008 | Reply
ah malam, adalah inspirasi..tulisan yang ini saya suka pak
By meiy on May 8, 2008 | Reply
ah malam, di sepimu kucari cahayaNya…