Novel: Laboratorium (5.2)
5 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Wajah Alai, gadis Landasan Ulin yang kuliah di jurusan Tehnologi Nuklir Universitas Banjarbaru hadir di pikiran. Suatu kali, Lundang bersama teman-temannya makan siang di RM Bundo Kandung. Mereka baru saja menghadiri seminar “Penggunaan Briket Batubara untuk Energi Rumah Tangga”.
Lundang ingat benar. Laweh yang sudah SMS-an dengan Pekonina, membawa empat temannya. Satu diantaranya, Alai. Dia ingat buku The Genetic Goods, Jhon C. Avive dan The Divine Message oh The DNA karya Kazuo Murakami. Pandangannya bersirobok dengan pandangan Alai. Bulu-bulunya serasa berdiri.
Belum pernah Lundang mengalami hal seperti itu. Mencengangkan. Pada pandangan pertama, yakin Alai merasakan hal yang sama. Tulis Avice dan Murakami, pada tubuh kita terdapat triliuan DNA. DNA merupakan kode yang ‘mengomandoi’ kita. Apabila DNA di-on maka dia akan menjadikan, apabila di-of akan mematikan.
Ya, kini DNA rasanya on. On pada Alai. Tanpa banyak pertimbangan, tangannya diulurkan.
“Lundang. Kenalkan”, katanya mantap.
“Alai”.
Ajaib. Ketika tangan mereka saling genggam, aliran sesuatu, apa namanya, tidak dipahami Lunang, mengaliri sekujur tubuhnya. Badannya serasa terangkat. Tidak ada rasa lain. Sesuatu yang tidak bisa digambarkan atau diungkapkan. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
“Sudah. Kelamaan perkanalannya”.
Suara Pekonina membuyarkan nyaman rasa yang membalut jiwa, memisahkan dua tepak tangan yang menyatu. Lundang melihat wajah Alai memerah, merasakan wajahnya terbakar. Malu.
Lalu, mereka bicara masalah buku, masalah kuliah, tugas, dan seterusnya. Ulang tahun Alai dirayakan dengan sederhana. Makan-makan di RM Padang Bundo Kanduang. RM Padang terkenal di Banjarbaru.
***
Bule bercambang itu mengarahkan pistolnya ke arah Lundang. Kaki Lundang gemetar, celananya basah. Ketakutan membuatnya tidak bisa berpikir, berteriak, atau sekadar berdoa.
Ngggg. Lampu merah di sudut kiri ruangan menyala. Si Bule cepat-cepat menyelipkan pistol ke pinggang. Dalam hitungan detik keempat bule meninggalkan ruangan. Sunyi.
Tiba-tiba, Motoko, General manager PT KAR, berdiri di depan Lundang. Dengan sapu tangan yang nampaknya dibasahi sesuatu, dia mengusap-ngusapkan ke kening dan dagu Lundang. Dingin. Dan, sakitnya hilang. Serasa tidak terjadi apa-apa.
“Kejadian ini, hanya kita yang tahu. Kalau kau bicara, Bule itu akan menghabisimu”.
Setelah itu, Lundang dibawa ke kamar sebelah. Barulah Lundang paham, rupanya ada empat ruangan besar pada gudang ini. Pertama ruangan ‘kantor’. Setelah itu laboratorium. Kemudian ruangan penyiksaan yang dibagi dua, tempat pasien dan eksekusi. Ruang terakhir, yang kini kemana dia dibawa. Luas dan bersih.
Ada sepuluh bangku seperti di rumah sakit lengkap dengan peralatan kesehatan. Lundang memastikan, peralatannya jauh lebih lengkap dari ruang klinik. Kalau dibandingkan dengan Rumah Sakit Umum Banjarbaru, ruang ini ruang VVIP. Pandang menyaman karena di depan ada taman yang ditata apik.
“Sekali lagi, Mas Lundang. Hanya kita yang tahu kejadian ini. Ingat, sekali lagi, ingat”.
Lundang paham, Motoko mengancam. Dia tidak bereaksi. Tidak lama kemudian dari depan pintu muncul Laweh, dan teman-teman. Di belakang mereka Kompol Sungai Pagu.
“Bagaimana, sudah sehat? Kenapa sampai terjatuh segala? Ngak hati-hati sih. Mana tidak memberi tahu lagi. Kami bingung, taulah?”.
Berondongan tanya Laweh tidak dijawab. Lundang hanya tersenyum.
“Sudah. Sudah. Lundang masih perlu istirahat. Jangan ditembak begitu”, Kompol Sungai Pagu mengingatkan Lawe. Disalaminya Lundang, lalu menepuk-nepuk pungungnya.
“Saya sudah dapat penjelasan dari dokter perusahaan. Jatuhnya Mas Lundang agak parah. Dokter merawat sekuat tenaga. Karena itu tidak sempat memberitahu keluarga. Dirawat itu lebih penting”, Sungai Pagu membesarkan hati Lundang sembari memberi tahu pada lainnya secara singkat tentang keajadian ‘sebenarnya’.
“Yuk, kita pulang”.
Sapan dan Lolo memegang bahu kiri dan kanan Lundang. Lundang berdiri, dan berjalan sembari merentangkan tangannya.
“Oh, ternyata tidak apa-apa to”, Gintir dengan suara baritonnya memecahkan suasana. “Lundang kan sudah besar, kog pakai dituntun segala macam”.
“Alhamdulillah”, Balun mengucapkan kalimah syukur. “Sudah. Sudah. Pulang”.
Kompol Sungai Pagu mengucapkan terima kasih kepada Motoko. Diikuti lainnya.
“Semoga cepat sembuh”, tangan Motoko dijulurkan ke Lundang dengan senyum tipisnya yang licik. Matanya menebar ancaman. Hanya Lundang yang bisa merasakan.
“Makasih”.
Dasar manusia bajingan, katanya membatin. Dasar anjing penjaga. Kau gadaikan jiwamu pada begajul-begajul, menjual martabat negerimu. Lundang memaki Motoko dalam hati.
Mereka menaiki mobil dinas Sungai Pagu. Tiga puluh menit kemudian sampai di Markas Gerilya. Lundang masih belum bicara. Mendengarkan saja sembari memastikan, apa sebenarnya yang terjadi.
Tiba-tiba dia merasa haus. Dengan langkah gontai, menuju kulkas. Dibukanya …
“Mana air mineralku?”.
“Tu, Peko yang minum. Hayo, ganti. Masyak air orang sakit saja diembat”, Balun masuk jalur. Kalau mencandai Pekonina, Balun biangnya.
Lundang tersadar, bahwa dia tidak bicara, dalam penyamaran. Mereka pada jaget. Suasana Markas Gerilya kembali normal.
Lundang terduduk, malam itu mengingat peristiwa yang hampir saja merenggut nyawanya. Kini, mereka akan membicarakan bagaimana melakukan pukulan terakhir kepada perusahaan kamulfase yang dikelola orang-orang cerdas, lihai, dan licik.
Apa pun yang terjadi, kebenaran berdasarkan kehandak Ilahi adalah kenyataan nyata.
Banjarbaru, 4 Mei 2008.










3 Responses to “Novel: Laboratorium (5.2)”
By Ahmad Nur Irsan Finazli on May 6, 2008 | Reply
tentang Novel, saya belum begitu mengenal. Y semoga dengan novel pian, saya jadi sedikit tergugah membaca novel. Selamat dan sukses gasan pian yang bernovel ria, amiiin.
By Septha on May 6, 2008 | Reply
Wah sekarang EWA ngerambah dunia pernovelan nich,, bahasan cukup menarik nich,, walaupun bahasanya sedikit sulit di cerna oleh saya, semoga ke depannya novel ini semakin mantap dalam isinya,,
***Ha ha ha maksih komennya.
By tri on May 7, 2008 | Reply
tuk bagian ini sudah ok.