Novel: Laboratorium (5.1)
5 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |MALAM ITU. Kedatangan Gintir, ditambah Pekonina, membuat Markas Gerilya menjadi semarak. Begitu biasanya. Kini, suasana berbeda. Tujuh Pendekar nampaknya pada, gimana gitu. Pengaruh peristiwa siang tadi masih membekas dalam. Mereka mencerna di pikiran masing-masing.
Lundang murung. Menerawang. Ingatannya terfokus pada perannya sebagai 007 Tujuh Pendekar. Semester lalu, saat kuliah di semester lima, ‘ditugaskan’ mendaftar ke PT TAR. Diterima sebagai pesuruh. Pagi-pagi, sebelum jam delapan harus masuk kantor. Membersihkan ruangan kantor utama, dan menyiapkan minunam karyawan. Pada tiga bulan pertama berbagai cara dilakukan agar bisa mencapai gudang.
Tidak berhasil. Sampai suatu hari, petugas pembersih gudang —sebenarnya petugas pembersih bagian depan saja, sebab tidak seorangpun karyawan bisa memasuki gudang — tiba-tiba sakit. Perawatan di klinik tidak membawa hasil. Nyawanya tidak tertolong. Tiga hari kemudian meninggal.
Sebenarnya Lundang tidak tahan. Tugas Markas Gerilya sulit dijalankan sementara kuliahnya terhenti. Satu-satunya pengguat, tekadnya agar bangsa ini jangan lagi ditipu. Itu pun baru tingkat asumsi. Lundang hanya bisa berharap, mudah-mudahan pengorbanannya bermanfaat buat bangsa.
Suatu hari, ketika istirahat makan siang, Lundang memasuki gudang. Kebetulan ada tamu dari Australia. Entah kenapa, ketika pintu gudang dibuka, terkuak begitu saja. Biasanya terkunci rapat. Lundang menduga-menduga, karena terburu-buru para bule itu lupa menutup pintu.
Melewati pintu, matanya menangkap penampakkan kantor sebagaimana biasanya. Meja berjejer dengan kursi, yang juga biasa-biasa saja. Kertas-kertas bertumpuk-tumpuk di atasnya. Dibukanya lembaran kertas satu-persatu. Cetakan printer berisi grafik-grafik tanpa keterangan. Seperti monitor layar komputer ketika ada pemeriksaan pasien. Begitu selanjutnya. Perbedaan hanya pada penampakkan grafik. Jangan-jangan … ada tanya di kepalanya.
Tumpukan kertas-kertas di sepuluh meja sama saja. Lundang menuju ruangan dalam. Pintu dibuka. Ada empat jajajaran meja panjang dari keramik putih. Ada tabung-tabung seperti ruang paraktik mahasiswa kedokteran atau laboratorium MIPA. Lundang teringat pembicaraannya dengan Lawe. Jangan, jangan … dia membatin.
Seketika dongkol. Kenapa dia yang harus bertugas ‘mengeranyangi’ gudang. Kenapa tidak Lawe yang mengerti laboratorium. Bukankah Laweh sangat tertarik dengan biologi molukuler? Diamati. Herannya semakin memuncak, pada tiap meja, botol-botol kecil itu bersisi semacam cairan. Pada pangkal botol ada warna yang sama.
Pada meja panjang pertama, terdapat botol-botol dengan dasar warna merah. Satu deret paling luar keramik meja juga berwarna merah. Begitu juga yang berwarna biru, coklat, dan kuning. Tertata rapi. Dimatinya. Tetap tidak mengerti. Lundang betul-betul menyesali. Padahal, sudah membaca buku-buku tentang virus sampai rangkaian DNA. Namun, yang dilihatnya susah dimengerti. Lundang tidak mampu menjawab pertanyaannya sendiri.
Ketika hendak mengambil satu botol untuk setiap warna, pintu berderit. Lundang terkesiap. Secepat kilat diraihnya sapu pembersih di sudut ruangan. Lundang membersihkan ruangan.
Seorang Bule jangkung menatap tajam. Tanpa bicara, dicekalnya lengan Lundang. Satu pukulan tepat mengenai wajahnya. Lundang terjerembab. Matanya berkunang-kunang. Berikut, tendangan kaki bule yang panjang itu bersarang di pangkal dagunya. Dia tidak tahu apa-apa lagi.
Ketika membuka mata, Lundang berada di suatu ruang yang tidak diketahui posisinya. Sakit di pelipis dan dagunya masih terasa. Dipandangnya langin-langit. ruangan itu kosong. Lundang merangkai-rangkai apa yang dialami. Ya, setelah tendangan dahsyat tersebut, tidak tahu apa-apa.
Lima orang berkulit putih masuk. Mata mereka tajam menusuk jantung.
“Tempat ini tidak boleh dimasuki. Kamu orang melanggar peraturan”.
Lundang tidak menjawab. Rasa sakit di pangkal dahu begitu menggigit. Dia juga tidak yakin, kalau menjawab apa suaranya bisa keluar.
Orang itu memandang keempat temannya. Sambil berlalu telapak tangannya digoreskan ke leher. Secepat kilat lengan Lundang dipegang dua orang dengan pandangan marah teramat sangat. Dua orang lainnya membuka pintu tembus ke belakang. Lundang diseret. Kesakitan, dan ketakukan menerjemahkan bahasa isyarat, tangan menyilang leher, peluh dinginnya mengantar kengerian.
Di rungan yang dilaluinya, Lundang melihat seseorang terlentang tak berdaya. Wajah orang itu sungguh memelas. Ada rasa kasihan. Tapi, kini dia perlu dikasihani. Jangan-jangan ….
Mereka memasuki ruang lebih lapang. Kosong.
“Berdiri”, perintah Si Bule.
Bule itu membalikkan badannya. Tangannya merogoh pingang. Jelas, jelas sekali. Sepucuk pistol kini digenggamannya. Bule itu membalikkan badan. Tiga kawannya menyeringai bak singa lapar.
Lundang teringat ibunya. Teringat Bapaknya. Adik-adiknya. Lawe dan teman-teman yang sedang asyik membaca buku Mao Tse Tung atau karya-karya Dan Brown. Terbayang betapa bersemangatnya berdemo memperjuangan nasib guru-guru.
Banjarbaru, 4 Mei 2008.









2 Responses to “Novel: Laboratorium (5.1)”
By tri on May 7, 2008 | Reply
bos, perlu ditambah alasan PT TAR mengapa menerima Lundang. karena alur ceritanya kan PT. TARsangat selektif menerima pegawai.
By infogue on May 14, 2008 | Reply
Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://buku.infogue.com/novel_laboratorium_5_1_