Novel: Cempaka (4.2)
5 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Gintir ke parkir sepeda motor. Pak Tayeh mengikuti. Sepeda motor melaju ke arah Pelaihari. sepuluh menit kemudian Gintir membelokkan sepeda motor ke kanan, naik bukit Liaran kantor Camat Cempaka. Dari situ, area penambangan intan dan kota Banjarbaru terlihat sangat jelas.
“Kenapa ke sini. Masih jauh lagi”.
“Saya perlu gambar penambangan intan”, kita berhenti sebentar.
“Tu. Itu … Komplek PT TAR”, Pak Tayeh bersemangat menunjuk kompleks kantor pusat penambangan kronik. Berpaling ke Utara, Pak Tayeh berkata:
“Nah, itu. Itu rumah Pak Surian. Persis di samping mesjid”.
“Yuk, kita ke sana”. Gintir selesai mengambil beberapa foto.
Sepeda motor menuruni komplek Kantor Camat Cempaka di puncak bukit Cempaka. Berbelok ke kanan, melewati jembatan Lukaas melintasai jalan berbelok, lurus ke depan. Sepuluh menit sampai di depan rumah Pak Surian.
“Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam”.
Seorang gadis menjawab. Gintir menangkap mata gadis itu. Oi … kog ada gadis cantik alami di kawasan miskin begini. Kulitnya bersih, matanya bersinar, rambutnya panjang terurai, lehernya jenjang … dan … dadanya padat berisi.
“Mhm … mencari siapa ya?”.
Tanya gadis itu membuyarkan lamunan Gintir.
“Bapak ada?”, Gintir tergagap.
“Ada. Lagi di belakang”.
Gadis itu mengilang. Tidak lama lemudian, muncul diiringi lelaki sekitar 50 tahun.
“Pak, ini dua orang yang mencari, Pian”. Gadis itu meninggalkan bapaknya. Gintir sempat menangkap pandangannya dengan hati bergetar.
Lelaki setengah baya tersebut segera mengenali Pak Tayeh. Mereka bersalaman, dan berangkulan.
“Ini, Gintir. Wartawan Banjarbaru Times. Katanya mau menemui Pak Surian”.
“Oh ya. Surian”.
“Gintir”.
“Mari. Mari. Silahkan duduk”.
Mata Gintir ‘menjilati’ seluruh ruangan. Rumah Pak Surian cukup bagus untuk ukuran kampung tersebut. Perabotannya cukup modern. Oh, matanya terpaku pada gambar seorang gadis … berjaket mahasiswa. Mahasiswa UPB.
“Ya, itu anak saya. Rawang”.
Gintir tersipu. Tidak mau mau kalah tertangkap ‘basah’, memakai jurus ampuh.
“Rasanya pernah bertemu. Tugas saya liputan kampus. Pernah melihat. Siapa namanya Pak? Oh, ya, Rawang. Dia kuliah di UPB kan Pak?”.
“Ya, ya. Semester akhir. Sedang menyusun skripsi. Sebentar lagi selesai. Oh ya Nak Gintir, ada perlu apa ya?”.
Waduh, Gintir membatin. Bapak ini nampaknya tidak suka basa-basi.
“Begini, Pak. Tadinya saya ngomong-ngomong dengan Pak Tayeh tentang PT TAR. Kata Beliau, Bapak pernah bekerja disana, dan pernah sakit yang tidak tahu penyakitnya. Alhamdulillah, Bapak baik-baik saja”.
“Ya, ya. Itu kan tiga tahun lalu”.
“Kenapa, Pak?”.
“Tidak tahu juga. Tahu-tahu saya pusing. Lalu tidak tahu apa-apa. Pingsan”.
“Bapak jatuh?”.
“Ya. Namanya juga jatuh pingsan he he”. Mereka tertawa serentak.
“Maksud saya sebelum Bapak pingsan?”.
“Tidak. Sebelumnya baik-baik saja”.
“Bapak kecapean kali”.
“Tidak juga. Biasa-biasa saja. Tugas saya kan di bagian administrasi. Saya bertugas mengarsipkan surat masuk-keluar sambil menjaga gudang. Gudang ini tidak sembarangan orang masuk. Khusus petugas ‘dalam’, ya orang-orang bule itu”.
“Lalu?”.
“Saya ingat betul. Hari itu hari Kamis. Seorang dari mereka mau ke Jakarta. Karena ada yang tertinggal, bule itu ke dalam. Tas jinjingnya di letakkan di meja. Karena bergesa, ketika mau masuk, tas itu tersenggol. Jatuh. Refleks saya mengambilnya. Maklum, tas orang penting. Saya ingin menolong. Ada bau menyengat. Saya tidak tahu bau apa. Ada cairan. Tahu-tahu kepala saya pusing. Saya merasa tertidur. Saya sadar ketika tergeletak di klinik, dan diinfus”.
“Kalau menurut Pak Surian, Bapak berteriak. Saking kencangnya, terdengar Pak Tayeh”.
“Ya, ngak tau dong. Wong pingsan, he he”.
“Tidak ditolong Si Bule itu”.
“Mana dia tahu. Dia langsung ke dalam gudang. Gudang itu kedap suara”.
Darah Gintir terkesiap. Rawang muncul membawa baki berisi tiga gelas kopi hangat.
“Mari diminum”.
Gintir tidak menjawab. Dia terpana. Rawang berlalu. Kejadian iu tidak pernah dilupakannya.
Sepeda motor dibelokkan ke kanan. Melewati pintu gerbang Kompleks Kelapa Gading Pemai. Lurus. Setelah itu melewati langgar, belok kanan, dan … sampai di Markas Gerilya.
Ah, aku melamun lagi, Gintir berbicara dengan dirinya. Memarkir kendaraan, dan mengucapkan:
“Assalamualaikum?”.
“Waalaikumsalam. Mas, Gintir. Monggo-mongo”, serentak Tujuh Sekawan menyambut.
Peristiwa tadi siang masih membekas. Kini anak-anak muda itu berkumpul di markas mereka, Markas Gerilya.
Pikiranmu adalah dirimu. Masa lalumu seperti masa datangmu adalah pikiranmu.
Banjarbaru, 4 Mei 2008.










One Response to “Novel: Cempaka (4.2)”
By toni februari on May 8, 2008 | Reply
wajahnya rawang mirip siapa pak…heee
***Persis seperti Rawang … he he