Novel: Cempaka (4.1)

5 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

MALAM ITU. Gintir kaget. Begitu sadarnya tersentak, sudah di persimpangan jalan Soekarno-Hatta. Jalan terlebar di Banjarbaru. Jalan itu dibangun atas inisiatif Walikota Banjarbaru. Belum ada perumahan, belum ada perkantoran. Jalan selebar 50 meter itu membelah kota Banjarbaru diproyeksikan untuk pengembangan Banjarbaru tahun 2020.

Sepeda motor putar haluan. Sejak dari rumah kos di Gang Purnama, sebelah apotik Anita, pikirannya digoda kenangan pahit. Setelah berbincang dengan Lawe, sehabis pertemuan di kantor Polresta Banjarbaru, Gintir ke Cempaka. Setelah mencari informasi sana-sini, Gintir nongkrong di Warung Wadai 41, Cempaka.

Wadai 41, menjadi ajang pertemuan pendulang tradisional, berjarak seratusan meter dari area penambangan. Pagi hari, menjelang berangkat, sore hari, setelah mengadu nasib, pendulang bertukar aneka cerita. Lebih ramai kalau ada yang menemukan intan beberapa piyat. Apalagi, kalau beberapa karat.

Transaksi bisa dilakukan di Wadai 41 dan di lokasi. Pembelinya, pambalantikan. Siap dengan uang puluhan juta. Kalau transaksi di bawah sepuluh juta, cukup di lokasi pendulangan atau di Wadai 41.

Intan lebih besar, biasanya dibeli oleh pedagang intan Martapura. Sepuluh kilo meter dari Cempaka. Sejak sebelum zaman penjajahan, intan Cempaka  terkenal sebagai intan Martapura. Kualitasnya sangat baik. Sebanding intan Australia atau Afrika.

Akhir-akhir ini, para pedagang Korea, membeli langsung ke lokasi pendulangan. Konon, orang-orang Korea secara sosial membutuhkan intan. Mereka yang akan kawin menjadikan intan sebagai cincin atau mahar. Kebutuhan masyarakat Korea sangat besar. Pendulang lebih suka menjual kepada pedagang Korea. Tidak cerewet. Tidak tangguh dalam tawar-menawar.

“Itu, Pak Tayeh”.
“Yang berbaju sasirangan?”, tanya Gintir.
“Ya”.
“Makasih”.

Sigap, Gintir menyalami Pak Tayeh. Pak Tayeh agak bingung. Pasti wartawan, dia membatin. Di lokasi pendulangan, orang-orang yang dilehernya digantungi kamera, membawa buku catatan dan pulpen, pastilah wartawan. Soalnya, setelah mereka datang, besoknya ada berita di surat kabar.

“Ulun Gintir, Pak. Dari Banjarbaru Times. Ingin ngomong-ngomong dengan Pian”.
“Ya, ya. Sekarang?”
“Kita ngopi dulu Pak”.
“Akur”.
Gintir mempersilahkan Pak Tayeh duduk di sebelah tempat duduknya.
“Cil. Acil, kopi satu lagi”.

Gintir mengambil sebutir Onde-Onde, tangan Pak Tayeh meraih sepotong Bingka.
“Berapa tahun Pian bekerja di PT TAR”
“Tujuh tahun. Sejak berdiri. Tiga tahun lalu diberhentikan”, katanya getir.

Sebelum Gintir bertanya, Pak tayeh bakisah.
“Saya tidak tahu kenapa dipecat. Rasanya, tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tahu-tahu, dipecat. Karena tidak mempunyai kepandaian apa-apa, aku mendulang. Bergabung dengan teman-teman, dalam satu kelompok”.
“Tentu ada sebabnya. Misalnya, pengurangan karyawan. Atau, Pian melakukan keteledoran?”
“Tidak. Kalau karyawan malah ditambah. Teledor? Apa? Tidak pernah”.
“Coba Pian ingat-ingat. Misalnya, memecahkan piring, atau memergoki Pak Bos melakukan pelecehan seksual. Atau, memaki-maki”.
“Tidak. Tidak pernah”. Pak Tayeh mengumpulan ingatannya. Pengunjung Wadai 41 sekitar seratusan orang asyik dengan pembicaraan masing-masing dalam kelompoknya.
“Paling-paling, suatu kali pernah ke Gudang di belakang. Saya sebenarnya tidak berniat kesana. Dilarang. Waktu itu, Pak Surian mengerang kesakitan. Begitu sampai, melihat Pak Surian muntah-muntah. Dibawa ke klinik. Pak Surian lemas. Semalaman diinfus. Besoknya, dengan ambulan kantor, saya mengantar ke rumahnya”.

Dokter dan orang-orang dari gudang itu merawat dengan baik. Pagi di cek, sore dicek. Sekali seminggu dibawa ke klinik kantor. Diambil darahnya. Sungguh baik sekali orang-orang gudang itu. Tidak seperti kebanyakan dokter kita. Mana makanan dijaga. Enam bulan kemudian sembuh. Tiga bulan kemudian Pak Surian dianjurkan pensiun. Katanya sih, demi menjaga kondisi, dan diberi pesangon banyak. Tidak bekerja pun cukup untuk hari tuanya.
“Kalau Pian?”.

“Saya dipensiunkan. Katanya sih Kepala Security harus berkualifikasi sarjana. Pendidikan saya, SD saja tidak tamat, he he”.
“Diberi pesangon ngak?”
“Lumayan. 50 kali gaji. Sekitar Rp.100 juta.  Uang itu ditabung”.
“Kenapa jadi penambang?”

“Dari kecil sudah terbiasa bagawi. Kalau tidak bagawi badan sakit-sakit. Karena tidak berkepandaian apa pun, menambanglah. Ikut teman-teman”.
“Pian sehat saja kan?”.
“Ya, iyalah. Walau sudah lima puluh tahun masih sanggup kawin lagi, he he”.
“Ha ha. Pian ini. Wani bujuran? Kena ulun cariakan”.
“Jangan. Jangan. Ntar umaknya hamuk”

Gintir tidak mampu manahan tawa. Beberapa orang disamping mereka ikut tertawa. Pak Tayeh tersipu-sipu.
“Saikung haja kada habis”.
“Kawinakan haja”.
“Iya. Pak Tayeh masih kuat, kog”.
Apa boleh buat. Pak Tayeh jadi olok-olokan di Wadai 41. Hanya senyum mesemnya yang ke luar.

Gintir segera mengalihkan suasana. Kasihan Pak Tayeh jadi bulan-bulanan.
“Pak, Pian tahulah rumah Pak  Surian?”.
“Di desa Palam. Sekitar satu kilometer dari sini”.
“Kalau kita kesana bagaimana?’.
“Bagus saja. Tapi, saya tidak bisa lama-lama. Anak saya mau datang dari Banjarbaru. Biasa, jatah bulanannya”.
“Baik. Baik. Sekarang Pak”.

Banjarbaru, 5 Mei 2008

  1. One Response to “Novel: Cempaka (4.1)”

  2. By Zul ... on May 5, 2008 | Reply

    Mengapa harus dijelas secara deskripsi setiap tempat yang disinggahi tokoh Gitir. Soal jalan Soekarno Hatta siapa yang buat dan soal warung 41 Cempaka. Akibatnya dialog tokoh jadi sekadar tempelan.

    Coba direnkonstruksi lagi!

    Tabik!

    ***Yap, biarkan megalir dulu. Maksih.

Post a Comment