Novel: Pekonina (3.2)
4 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Pekonina sebenarnya bukan orang lokal. Ibu dan Bapaknya berasal dari Sumatera Barat. Tepatnya, Solok Selatan. Kalau bercerita tanah kelahirannya, Pekonina bersemangat, sebersemangatnya Pendekar Tujuh mendengar.
Kalau ke Padang, melalui Minangkabau Airport, atau pelabuhan Teluk Bayur, kita hanya disuguhi satu hal, keindahan alam. Minangkabau Airport, bandara baru pengganti Tabing, terletak di bibir pantai Sumatera. Sungguh memanjakan mata. Teluk Bayur di lingkungi bukit-bukit berhutan perawan. Pelabuhan alam tiada tandingan di dunia. Sangat eksotik.
Lalu, Pekonina bercerita. Kalau ke Muaralabuh, ‘tempat asal beta’, kita melalui Sitinjau Lawik. Jalan menanjak sangat tajam, adalah suguhan tersendiri. Begitu sampai di tengah, kota Padang terlihat ambak berlatar Samudera Hindia nan terhampar luas. Mata dimanjakan tiada tara.
Setengah jam kemudian, kita sampai di Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah. Menakjubkan. Satu danau berada di areal bawah, satu lagi di atas. Udaranya seperti di Niagara Falls. Sejuk. Damai. Indah.
Setengah jam kemudian, kita sampai di hamparan datar di atas Bukit Barisan. Negeri bak mangkok di ujung Selatan Tengah Sumatera itu dijaga gunung Kerinci yang selalu diselimuti awan. Panas tidak berasa, sejuk dibalut kabut. ‘Di situlah asal beta’.
Di Muaralabuh, di Solok Selatan, disitulah cagar budaya Minangkabau terpelihara utuh. Ada Rumah gadang Rajo Balun, ada kampung dimana seluruh rumahnya bergonjong. Nagari Saribu Rumah Gadang. Asli. Turis-turis mancanegara berdatangan.
Dalam perjalanan, di sepanjang jalan, kita disuguhi dua hal. Pertama, hutan asli. Kedua, kebun teh. Sungguh paduan sempurna. Tingginya bukit, dalamnya jurang bukanlah kengerian. Tetapi, sahabat batin. Kita dapat menangkap makna-makna tanda-tanda kebesaran Allah Allah SWT dari alam.
Kalau kalian melihat Padang Aro, di persimpangan jalan ke Sungai Penuh, Kerinci dan ke Lubuak Gadang, lokasi dimana dibangun perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, di kiri-kanan terhampar perkebunan teh. Hijau, luas, sejuk disiram matahari yang tidak membakar. Mata takkan lelah.
Ada air terjun yang asalnya sejajar jembatan. Lebih indah dari Grand Canon yang tidak berpohon di Amerika Serikat. Air Terjun kami tak pernah kering, mengalir deras ke jurang puluan meter. Dengungan airnya bak simponi Bethoveen.
Lihat. lihatlah. Burung-burung mengepakkan sayap bernyanyi dalam bahasa yang tidak bisa kita mengerti. Iramanya merasuk jantung jiwa menghantar perdamaian di kuala kalbu, berbuah kenyamaan tak berbeban.
Terbang dalam formasi siaga. Takjub yang didatangkan Jordan Air Force yang terkenal itu kalah indah. Burung-burung itu tidak menyisakan asap buangan pencemar udara, penambah parah ngangaan lobang ozon. Tidak di Solok Selatan.
“Peko. Sudah berapa kali kamu mudik”, tiba-tiba Lolo memotong ‘kuliah promosi’ Pekonina. Pekonina terkejut. Lolo terkenal suka membuyarkan konsentrasi. Tidak saja saat seminar, atau ketika dosennya memberi kuliah, bahkan, dalam rapat RT saja, kemahiran dipertunjukkan. Pak RT tidak senang dengan Lolo, ya karena itu. Begitu pembicaraan dipotong, dia lupa apa yang hendak disampaikan.
“Nah, itu dia”.
“Maksud kamu?”. Lolo yang bermaksud mengerjain Pekonina, justru berbuah heran.
“Disitu persoalannya”.
“Bagaiman sih, kog berbelit-belit”.
“Aku ingin sekali ke tanah kelahiranku”.
“Jadi, kamu belum pernah ke sana?’.
“Kan sudah kujawab. Aku ingin sekali. Ingat, ingin sekali. Berarti belum pernah, kan. Ya, aku belum pernah ke Muaralabuh”.
“Bulshit”, Rabaa mendengus. Lainnya, ternganga dapat kejutan tidak terduga. Perempuan memang makhluk misterius, Rabaa membatin.
“Lalu, bagaimana kamu bisa ‘mendongeng’ begitu memepsona”, tanya Lolo semakin heran.
“Ibu dan Bapakku kan sering bercerita”, ya ku dengar saja.
“Aku kan suka membaca. Seperti kalian. Jangankan kampung asalku. Aku hapal letak Kaukasia, daerah Balkan, Skotlandia di Inggris, gunung Fujiyama, Sungai Nil, atau Timbuktu di Afrika. Ya, berkelana saja kalau lagi suka”.
“Aku”, tambahnya semakin membuat penasaran, “sering raun-raun ke lokasi film Lord of The Ring di New Zealand sampai pulau Tasmania di Australia. Terkadang, ke pengunungan Andes di Barsil atau menyelusuri sungai Amazone dengan ikan piranha yang ganas itu. Ya, dengan pikiran, dengan lamunan, dengan fantasi”.
“Lagi pula, kini kita dengan mudah rekreasi melalui Earth Google. Gampang kan?”
“Dasar perempuan cantik”, Lolo memaki sembari memuji. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Bagi anak-anak muda, apa saja dianggap ringan. Tidak ada yang terlalu perlu dipersoalkan.
Suara azan menyapa lewat pengeras suara langgar. Lawe menukar celana jinsnya dengan sarung. Mereka mengambil wudu’. Lundang yang perlente menyisir rambut sembari menyemprotkan minyak wangi ke baju kokonya.
“Sunah Rasulullah”, katanya ketika Sapan melirik sembari memonjongkan mulutnya. Mereka meninggalkan Pekonina.
“Assalamualaikum Uni”, goda Balun.
“Waalaikumsalam”.
Bergegas mereka ke langgar. Pekonina melihat bulan. Bulan memancarkan sinarnya amat lembut. Tidak terang, tetapi mata terbebas dari kegelapan. Sementara bintang-bintang berkedip-kedip seolah memangil: Wahai manusia. Tataplah aku yang menyapa kalian. Jauh, jauh sekali. Setia dipandangi, selalu, dan selalu. Tahukah kalian makna kesetiaan? Tahukan kalian bahwa aku ada agar kalian berpikir?
Begitulah Sang Mahapencipta memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Melalui aku menuju jantung sanubari kalian manaka kalian memikirkan. Jauh itu dekat. Pencipta ada di diri kalian, tidak sejauh aku. Aku mendengar seruannya dari sini. Dari jauh. Lafadz kalimah mulut-mulut kalian.
Jarak itu persepsi. Dalam-Nya jarak tak bermakna. Persepsi adalah nisan ketika pancaran sari qalbu bersemai dalam pagut kokoh imanmu. Janganlah melihat hanya dengan mata, matamu atom mata hati. Lihatmu berpenghalang, qalbu ruang tak bertepi seluas kasih-Nya, batas yang bukan membagi, kuadrat yang tidak berangka. Penciptanya adalah kamu saat kau renggut Asmaul Husna.
Akulah pelayanmu sebagaimana kamu melayanimu untukNya. Bagi Pencipta kita.
Allahu Akbar. Allahu Akbar. Tanda-tanda-Mu bersinar ya Yang Maha Kasih.
Banjarbaru, 4 Mei 2008.









2 Responses to “Novel: Pekonina (3.2)”
By aminhers on May 4, 2008 | Reply
Slamat Bang. cuma ada yg kurang pas mengenai nama tokoh(?), ada beberapa tempat di INA ini yg menghindari kata(?)tersebut.
I’m so sorry ,Sir
Best Regards
aminhers
***Apa aja tuh … saya ngak tau, kalau ngak pas kita tukar dong.
By Zul ... on May 4, 2008 | Reply
Bang,
Sekadar memindah isi SMSku buat sampeyan (sesuai permintaan sampeyan).
Batang tubuh cerita sudah ada. Cuma Bab I sudah buka front. Terlalu dini.
Kebanyakan Bab awal novel selama ini masih berupa naratif. Tidak langsung dijejali dialog. Ga jelek kok, tapi ga biasa. Barangkali bisa jadi ciri khas.
Tambahan :
Novel adalah cerita panjang. Tidak harus dijejal-jejal dalam satu dua halaman persoalan-persoalan yang akan dijadikan konflik. Coba baca Da Vinci Code. Bagaimana masalah dan konflik yang ribet mampu diurai dengan ritme yang wajar untuk sebuah novel.
Ini hanya catatan. Bukan dari ahlinya, tapi pemerhati saja.
Tabik!
***Maksih. Sya perlu masukan. Itu yang kumau. Namun, proses penulisan novel tetap melaju …