Novel: Pekonina (3.1)
4 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |SENJA ITU. Lawe, Lolo, Lundang, Sapan, Talang, Rabaa, Balun, dan Gintir kembali dari sholat Magrib. Rupanya, Bangko, Supir Sungai Pagu, sudah menunggu di teras rumah.
“Assalamualaikum. Pada dari langgar, nich?”
“Yoi”, Balun menyalami Bangko diikuti yang lain. Sekalipun bukan Muslim, dia sudah in budaya Islam. Sejak menjadi polisi, Bangko bertugas di Kalsel.
“Apaan tu. Pakai bungkusan segala. Pasti kiriman Pak Kapolres, Nasi Padang”.
“Persis. Babe minta maaf. Ke Banjarmasin. Kira-kira, seputar peristiwa tadi siang. Beliau mengirim Nasi Padang. Main bulu tangkisnya minggu depan saja. Begitu pesan Beliau”
“Ya, ya. Mari masuk”, Lawe menyela.
“Makasih. Saya harus ke Banjaramasin”.
“Salam, ya”.
“Yoi. Assalamualaikum”.
“Yup. Waalaikumsalam”.
Begitu bunyi mobil Bangko hilang, mereka berebutan membuka bungkusan.
“Asyik. Simpang Raya”, Rabaa yang ‘pemakan segala’ langsung main sikat. Yang lain tidak mau kalah. Dari pagi belum makan. Air dan wadai tok isi perut mereka. Kini … nasi Padang, Mack.
“Wow pedas amat”. Rabaa bergegas ke dapur. Cerek plastik air disambarnya. Menuangkan air ke gelas, gllllaaaagaaah. Satu kali teguk masuk perut. Lalu, bak penjual obat, teman-teman disuguhi bergantian.
“Alhamdulillah”. Serentak memuji Allah atas rizki yang dikirimkan melalui Sungai Pagu.
Begitu korek api mau dipantik, ada deru suara mobil, dan berhenti di depan. Tanpa melihat, Lawe bisa menebak, milik Pekonina. Lawe sudah sangat hapal. Pekonina mahasiswa Universitas Pendidikan Banjarbaru. Bunga Kampus UPB. Bersua pertama kali ketika aksi mendemo Pemko Banjarbaru tersebab keterlambatan pembayaran rapel gaji guru-guru. Berawal dari saling lirik, dan … maknyuuus.
“Ya. Kasihan guru-guru. Merekalah yang membuat kita pandai membaca dan menulis. Dari gurulah kita belajar ilmu, mengembangkan wawasan. Bukankah para petinggi itu cerdas karena guru?”.
Kata-kata Pekonina sangat berkesan bagi Lawe. Mereka saling memberi nomor HP. Mula-mula SMS-SMS-an. Berlanjut ngebakso. Lalu … lalu … mulai berani makan malam. Lawe, mahasiswa pemalu yang kutu buku, kini menguak lorong hatinya.
Sampai pada suatu ketika, ketika mendemo PDAM yang airnya selalu keruh, tanpa terkendali, rupanya diselusup ‘provokator’. Kaca-kaca kantor PDAM Banjarbaru hancur dilempar batu. Lawe, Lolo, Lundang, Sapan, Talang, Rabaa, Balun, dan … Pekonina digiring ke Polresta. Mereka dimintai keterangan.
Semalaman ditanyai dan ditahan. Besok hari, media ribut, mahasiswa ditawan karena anarkis. Sampai, Kompol Sungai Pagu datang. Pak Kapolresta yang baru dilantik itu, baru saja dari Jakarta pagi itu. Begitu sampai di kantor, para aktivis diundang ke ruangannya. Setelah berdialog sekadarnya, dipersilahkan pulang. Tanpa interogasi.
Rekan-rekan mereka yang hendak mendemo Polresta pagi itu kecele. Provokator kerusuhan telah ditangkap. Mahasiswa murni menyampaikan aspirasi. Sejak itu Sungai Pagu rajin ke kampus. Berdialog. Banjarbaru sunyi dari demo-demoan .
Pekonina ‘bergabung’ dengan kelompok tujuh. Pikirannya, suka membawakan makanan, dan tentu saja, suaranya yang lembut dan parasnya yang cantik, menjadikan Markas Gerilya semakin bergairah. Mereka bukan saja mendiskusikan pikiran Freud, Huntington, Naisbitt, Kiyosaki, atau Fukuyama.
Lebih asyik menyelami buah pikir Ibnu Khaldun, Averius, Avicena, sampai Jalaluddin dan Al Gazali. Dibimbing Prof. Mualab, pikiran terasah. Ketika mendiskusikan Relativisme Einstein, misalnya, Mualab memberi jalan keluar, justru dari rumus bisa dikembangkan bercabang-cabang analisis. Membuat notasi atau rumus itu lebih susah dari menulis novel. Rumus yang ajaib.
Akan halnya phantom, pada Isra’ Mi’kraj dengan menarik diurai Pekonina. Harap maklum, di UPB Pekonina kuliah di jurusan Fisika. Balun, mahasiswa UIB yang hari-hari mengkaji keislaman, dengan bersemangat mendukung paparan Pekonina. Sekali-kali, lirikannya mengundang harap.
Ketika dicandai, Balun percaya diri memahat argumentasi, janur kuning belum diikat, tenda biru belum dipasang.
“Iya, kan Peko?”
Tentu saja Pekonina tidak menjawab. Mukanya memerah menambah cantiknya. Balun paling doyan mencandai. Asyiiik.













One Response to “Novel: Pekonina (3.1)”
By Suci on May 7, 2008 | Reply
Persis. Babe minta maaf. Ke Banjarmasin. Kira-kira, seputar peristiwa tadi siang. Beliau mengirim Nasi Padang. Main bulu tangkisnya minggu depan saja. Begitu pesan Beliau”
Kalau boleh kasih masukan, kalimat yang langsung seperti di ata bisa jadi menyulitkan pembaca untuk memahami maksudnya.
Berawal dari saling lirik, dan … maknyuuus.
To the point banget.
Ada bumbu2 romantisnya ternyata…