Novel: Markas Gerilya (2.1)

4 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

SENJA ITU. Lawe, Lolo, Lundang, Sapan, Talang, Rabaa, dan Balun naik mobil dinas Kapolres Sungai Pagu. Berdiam diri. Tidak ada yang membuka suara. Mobil melaju kencang. Dalam 20 menit sampai di kawasan Ratu Elok.
 “Kami turun disini saja, Bang”.
 “Kita makan, dulu”.
 “Terima kasih, Bang”
 “Ayolah. Aku belum makan. Tadi ada rapat di Polda Kalsel. Soal illegal logging dan illegal mining. Belum selesai, ditelepon. Ada konsentrasi masa di PT KAR. Langsung tancap gas. E … rupanya kalian. Aku kaget, lho. Tidak tahu, dan tidak diberi tahu. Tapi, sudahlah. Kita makan dulu”.
 “Makasih, Bang”.

 “Ayolah. Aku belum makan. Tadi ada rapat di Polda Kalsel. Soal illegal logging dan illegal mining. Belum selesai, ditelepon. Ada konsentrasi masa di PT KAR. Langsung tancap gas. E … rupanya kalian. Aku kaget, lho. Tidak tahu, dan tidak diberi tahu. Tapi, sudahlah. Kita makan dulu”.
 “Makasih, Bang”.
 
Suasana masih kaku. Tawaran Sungai Pagu tidak mampu menghilangkan kecamuk di batin tokoh-tokoh mahasiswa. Sungai Pagu maklum. Mereka hampir dua tahun akrab.
 “Bangko, belok kanan”.
 “Siap, Dan”.
 
Mobil berbelok. Lurus. Di tikungan patah Kompleks Kelapa Gading Permai, belok kanan. Di ujung jalan, di sebelah lapangan bulu tangkis, berhenti.
 “Makasih, Bang”. Serentak ketujuh tokoh mahasiswa ke luar mobil.
 
Ya, kata-kata sakti. Kata-kata yang sangat sering keluar. Begitu ketika ditolong atau sehabis ditraktir makan oleh Kapolresta. Makasih Bang.
 “Ya, ya. Nanti malam main ya”.
 “Mereka tidak menjawab. Saling tatap. Tidak ada keputusan”.
 “Jalan, Bangko”.
 “Siap, Dan”.
 
Mobil melaju. Dalam hitungan detik hilang di belokan kompleks. Tujuh Sekawan masuk rumah Lawe Tepatnya, rumah Bapak Lawe. Sejak bapaknya pindah ke Bandung, Lawe menjadi penguasa tunggal di rumah cukup besar tersebut. Lalu, seiring waktu, djadikan markas. Markas Gerilya istilah mereka.
 
Lawe, seperti biasa, menuju kulkas. Teh Kotak kesukaannya langsung disedot. Segar. Kerongkongan tersejuk. Dihirupnya udara dalam-dalam. Dadanya terasa longgar. Balun tiba-tiba menyenggol. Teh kotak Lawe jatuh ke lantai.
 
“Sori Bos”, katanya setengah cuek. Tangannya sigap mengambil sebotol coca cola. Lolo, Lundang, Sapan, Talang, dan Rabaa tidak ketinggalan. Mereka beranjak ke ruang Markas Gerilya.
 
Talang merebahkan diri di karpet. Sapan mengambil buku Che Guevara, Catatan Amerika Selatan. Sebungkus rokok yang tergeletak di depan komputer diraih Rabaa. Diambil sebatang lalu dilempar ke Lundang. Balun mengambil buku Al-Qarni, La Tahzan, yang tadi malam belum selesai dibaca. Tangan kanannya menyambar sebungkus rokok yang dilempar Lundang, tangan kirinya memegang La Tahzan. Korek api dilempar Lawe. Tanpa suara.
 
Asap mengepul. Kompak, mereka mengisap asap racun dalam-dalam. Dalam sekali. Asap ‘menelusuri’ paru-paru, sisanya dihembuskan. Bulatan-bulatan terbentuk. Ketujuh pendekar ‘ahli hisap’. Dulu, gara-gara merokok tidak diizinkan Bapak Lawe masuk ke ruangan tersebut. Patuh. E … lama-lama, terutama ketika pikiran masing-masing mengganjal, terbuat kesepakatan tanpa didiskusikan: smoking, please. Dasar anak muda.
 
Bapak Lawe, Suliki, kelahiran Cempaka, Banjarbaru, satu-satunya penduduk lokal yang menjabat setingkat menejer. Menejer Administrasi. Tenaga lokal lainnya, hanyalah tenaga administrasi atau security. Sekalipun agak kecewa, sebab lulusan jurusan Pertambangan ITB, kekewean terpaksa dipendam. Prinsipnya berpartisipasi membangun kampung halaman.
 
Sepuluh tahun Suliki menjadi menejer. Gajinya Rp.20 juta per bulan ditambah berbagai fasilitas. Jauh lebih tinggi dibanding ketika menjadi PNS di Dinas Pertambangan. Sepuluh tahun menjadi PNS, jangankan membeli mobil, rumah masih kontrakkan. Soalnya, Suliki memilih hidup lurus-lurus saja. Jauh ketinggalan dari rekan-rekannya. Ketika pindah ke PT TAR barulah ekonominya ‘normal’.
 
Kehidupan mapan, menghentak ulu sadar, ilmunya percuma. Franklin Bush dan Goerge Alamato, ‘pemilik’ PT TAR memuji Suliki. Setiap minta pindah ke bidang eksplorasi, selalu ditampik: “Kita harus mencari orang baru lagi. Kerja Pak Suliki sangat memuaskan pemegang kami.” Selalu begitu.
 
Ketika teman-teman sealmamater  mendirikan perusahaan pertambangan Intan di Cempaka Banjarbaru, Suliki membulatkan tekad. Pindah. Untuk persiapan, pindah ke kantor pusat guna menyiapkan segala sesuatu.
 
Enam bulan lagi Suliki pindah ke Cempaka, mengepalai PT Banua Bujur Makmur (BBM). Inilah alasan pokok kepindahannya. PT TAR bukan hanya menambang kronik, tetapi intan. Intan? Ya. Bahkan, di kompleks penambangan dibangun laboratorium. Laboratorium pengamatan penyakit daerah tropis. Sepuluh tahun bekerja, cukup alasan baginya.
 
Fantasi Suliki melayang ke penelitian aneka virus yang melanda beberapa daerah. Wabah penyakit air, misalnya. Aneh, dari PDAM. Uniknya, bukan di Kalimantan, tetapi di pulau lain. Sampel diambil, dan —kira-kira— diteliti di laboratorium ‘ilegal’ PT TAR. Eh … enam bulan kemudian obatnya ditemukan.
 
Peristiwa berulang. Suliki hapal. Begitu penyakit mewabah di suatu daerah, para bule bertugas ke sana. Ada saja alasannya. Mulai dari memberikan sumbangan, liburan, sampai untuk sekadar menemui kepala daerah bersangkutan dengan berbagai alasan.
 
Sekembali dari daerah wabah, membenamkan diri di labor. Suliki curiga. Tetapi, tidak bisa berbuat apa-apa. Pernah dibicarakan dengan seorang pejabat daerah. “Ah, Pak Suliki berfantasi”. Orang-orang luar itu sangat taat aturan, mereka taat hukum.

  1. One Response to “Novel: Markas Gerilya (2.1)”

  2. By Suci on May 4, 2008 | Reply

    sepertinya idenya kompleks….banyak fenomena sosial yang diangkat..

Post a Comment