Novel: Markas Gerilya (1.2)

4 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Akhirnya Suliki membicarakan dengan Lawe. Anaknya yang tengah belajar di FPMIPA jurusan molekuler Universitas Banjarbaru. Lawe sangat tertarik ‘cerita’ Bapaknya.
 
Lawe memutar otak. Menjadikan rumahnya tempat kumpul-kumpul. Deposito yang ditinggalkan Bapaknya cukup untuk membiayai hidup ketujuh temannya. Begitu juga untuk membeli buku. Buku Ikwanul Muslimin, Meinkamf, serial Che Guevara, sampai karya Agatha Christy dikoleksi. Begitu juga buku tentang Rasulullah dan penulis Islam terkenal lainnya. Buku menjadi prioritas.
 
Sehabis kuliah, atau hari libur, kegiatan mereka membaca, membaca, dan membaca. Membaca diselingi diskusi. Belakangan, karena mereka memang terkenal sebagai mahasiswa cemerlang, di kampus masing-masing dipilih menjadi pemimpin mahasiswa. Prof. Mualab, Ph.D menjadi tentor mereka.
 
Guru besar filsafat pemikiran tersebut bukan saja ringan pikiran meminjamkan buku, tetapi juga asupan pikiran dengan landasan Islam dan Cinta Tanah Air. Mereka terbuai. Pikiran M. Hatta, Soekarno. M. Natsir, Hamka, H.O.S Cokroaminoto, Tan Malaka, Syahrir, dan tokoh-tokoh lainnya dilalap habis.
 
Dalam pada itu, Lawe menjalankan misi rahasianya. Mengendus PT TAR. Nasib baik. Suatu ketika diwawancarai Gintir, wartawan yang tulisannya sangat tajam. Peristiwa berawal ketika Gintir bermaksud melakukan observasi dan interview, tetapi ditolak petinggi PT TAR. Jangankan memasuki komplek, di pintu gerbang saja sudah diusir.
 
Gintir menulis ‘penghinaan’ tersebut di korannya, Banjarbaru Times. Ajaib, besoknya utusan PT TAR menemuinya. “Pak Bos, minta maaf atas ketidaknyamanan pelayanan Satpam. Mas Gintir diundang secara khusus. Besok”.
 
Dengan semangat 45 Gintir melajukan sepeda motor ke komplek PT TAR. Gintir disambut bak pejabat tinggi. Ramah. Setelah pembicaraan basa-basi, sebelum masuk kantor, dibawa berkeliling.
 
“Kedua bangunan di ujung sana, apa fungsinya?”.
 “Ah, biasa. Gudang”.
 “Bukankah kronik langsung diekspor ke Cina dengan tanah-tanahnya sekalian?”, tanya Gintir heran. Pak Bos tidak menanggapi.
 “Mari, Mas Gintir, kita istirahat di kantor”.
 
Sebagai tamu yang baik, Gintir tidak memaksa. Begitulah. Pak Bos menceritakan awal pendirian PT TAR lengkap dengan segala kepositifan, terutama untuk menunjang kesejahtaraan penduduk lokal.
 
“Kami membantu sekolah-sekolah, mesjid,  memberi beasiswa, dan mensponsori banyak kegiatan. Dana corporated Social Responsbilty (CSR) kami cukup besar. Murni untuk membantu penduduk”.
 
Gintir manggut-manggut. Diselingi minum kopi dan wadai, Gintir menguji ketabahannya mendengar kuliah gratis Pak Bos.
 “Mister”, sulang Gintir ketika bosannya tidak mau diajak kompromi lagi, “bolehkan saya melihat gudang Mister?”.
 Pak Bos terkejut.  “ Ya, ya. Tapi, saya harus segera ke Banjarmasin. Ada tamu dari New Zealand. Maaf ya Mas Gintir”. Pak Bos berlalu sembari berkata:
 “Pak Mitoko, tolong layani Mas Gintir”
 Begitu Pak Bos pergi, Mitoko memanggil stafnya.
 “Mas Gintir, maaf ya. Kami minta tolong. Hal-hal kecil tentang PT TAR janganlah sampai dimuat di koran. Sekali lagi, kami minta tolong”. Lalu, amplop coklat disodorkan dengan senyum penuh arti.
 Gintir memutar otak. Sekelabat diambil kesimpulan, menerima uang ‘tali asih”.
 
“Makasih”. Tanpa menoleh, Gintir ke luar. Ketika melewati pintu, lirikannya menangkap rasa puas pada pandangan Mitoko. Bergegas menuju sepeda motornya. Ngeng … Ngeng. Cwssssssss.
 
Tidak puas dengan apa yang dialami, Gintir melapor kepada bosnya, pemimpin redaksi Banjarbaru Times. Disepakati, melapor ke Polresta Banjarbaru. Menunggu antrian, bertemu Lawe. Setelah berkenalan, Gintir menceritakan kejadian ketika meliput PT TAR. Sebagai tokoh mahasiswa Lawe tanggap. Pembicaraan melebar kemana-mana.
 
Lawe yang mendapat giliran duluan, membawa Gintir sekalian. Gintir OK.
 “Wow … wow .. para pendekar muda. Ada apa nich bareng-bareng? Silahkan. Silahkan. Duduk suka-suka. Kalian tamu terakhir, kan?”.
 “Siap, Bos”.
 
Mereka bicara ngalor ngidul, dan akhirnya sampai pada masalah Gintir. Dibumbui emosinya yang tersulut, Gintir menceritakan kronologis kejadian, dan sikap perusahaannya. Tuntas.
 
“Begini Mas Gintir. Urusanya tidak semudah itu. Banyak hal harus dipertimbangkan. Tapi, saya tidak akan memangkas hak Banjarbaru Times. Silahkan bicarakan lagi dengan pimpinan Mas. Polresta pasti berdiri teguh menegakkan hukum”.
 
Saking seriusnya membicarakan perihal PT ATR, Lawe mengabaikan maksud kedatangannya.
 “Nah, Mas Lawe, bagaimana”
 “Nanti saja, Bang. Mau kuliah nich”.
 “Pamit, Bang”. Lawe minta diri menyalami Sungai Pagu diikuti Gintir.
 
Lawe dan Gintir, dalam kesepakatan kilat, langsung ke rumah Lawe. Teman-teman Lawe tahu saja bahwa Gintir wartawan Banjarbaru Times, tapi hanya kenal sambil lalu saja. Kini, mereka bicara panjang lebar. Cocok.
 
Angin sore berembus sepoi-sepoi. Teriakan   pemain bulu tangkis di sebelah belum menandakan senja, Magrib belum datang. Kedelapan anak muda ini saling bertukar pendapat. Bebas. Tajam. Saling mengumpan. Saling memberi.
 “Allahu Akbar. Allahu Akbar”.
 “Kita stop dulu. Ke langgar yuk.”
 
Gintir mengangguk. Masing-masing mengambil airu wudhu’ mematuhi panggilan Sang Khalik. Mentari menyembunyikan parasnya di telan senja. Pikiran-pikiran tersejuk. Allahu Akbar.
 
Cinta kami, kalbu kami, hikmah-Mu, Ya Allah.
 
Banjarbaru, 4 Mei 2008.

Post a Comment