Novel: Merah Putih (1.2)

3 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Tiba-tiba, konsentrasi mahasiswa terpecah. Sepuluh truk polisi berisikan pasukan Dalmas, lengkap dengan tameng dan pentungan, berhenti. Dalam hitungan detik, pasukan terlatih tersebut mengambil posisi. Berbaris, membuat lingkaran. Ujung lingkaran merangsek pagar PT KAR.

Mahasiswa tak kalah cerdik. Menutup rapat-rapat gerakan Pasukan Dalmas. Ibaratnya, angin pun susah lewat. Dorong mendorong menjadi seru. Go. Go. Go. Tameng di dorong, dipukul, ditendang. Pasukan Dalmas tak bergeming. Mereka terus mendesak. Dorongan semakin ketat. Tidak ada komunikasi. Pekik Go Go Go menelan bunyi apa pun. Situasi semakin tak terkendali.

Dor … dor … dor … Mahasiswa terkejut. Saling pandang. Teriakan terhenti.

Mobil canon water Pasukan Dalmas muncul. Sigap petugas pengayom masyarakat itu menyibakkan diri. Sangat terlatih. Semburan air menggoyahkan mahasiswa. Beberapa orang terjatuh. Ada yang terinjak-injak. Gaduh. Mahasiswa marah. Jiwa muda mereka menggejolak.

Batu-batu berhamburan. Mengejar polisi yang selama ini ikut mereka suarakan agar kesejahteraan pasukan baju abu-abu kecoklatan tersebut dinaikkan pemerintah. Mahasiswa kecewa. Mulai beringas. Pasukan polisi tangguh. Tak bergeming.

“Tenang. Tenang. Kawan. Sabar. Sabar”.
“Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar”.
“Go. Go. Go. Allahu Akbar”.

Mahasiswa menghentikan aksi. Seketika. Kombes Sungai Pagu, menyihir dengan suara emasnya. Petinggi polisi tamatan AKABRI ini sohor dekat dengan mahasiswa. Apa pun masalah, didiskusikan. Rupanya, kali ini mahasiswa tidak berkomunikasi. Langsung aksi. Mengerahkan ‘kekuatan’.

Sungai Pagu memandang lembut dari mobil dinas terbuka. Menatap satu-persatu sahabat-sahabat mudanya. Diam. Senyap. Tanpa dikomando, Gintir, Lawe, Lolo, Lundang, Sapan, Talang, Rabaa, dan Balun beranjak ke arah Sungai Pagu. Sungai Pagu turun dari mobil dinas dengan tenang. Mereka berangkulan. Pemandangan agak aneh dan mengharukan.

Tidak bicara apa-apa. Sepatah kata pun. Saling tatap mewakili pikiran dan gejolak di hati masing-masing. Gintir mengambil mikropon.
“Saudara-Saudara. Kita kembali ke kampus”.

Ajaib. Tidak seorang pun protes. Mahasiswa tahu persis. Hubungan mereka dengan Polresta Banjarbaru sangat erat, nyaman. Pasukan Dalmas yang tadinya berhadap-hadapan dengan mahasiswa meringsek mengulurkan tangan. Bersalaman. Ada yang berangkulan. Ada manik-manik di kuala mata.

Pintu gerbang terbuka. Matoto, general manager PT TAR bersama karyawannya ke luar. Menuju Kompol Sungai Pagu. Mahasiswa tidak menghiraukan. Ada yang menaiki sepeda motor, menghidupkan mesin, menjalankan sepeda motor, kembali ke kampus. Ada yang mengemasi spanduk, membersihkan Merah Putih yang mereka cium tiap hari.

Melihat ‘prosesi’ ala mahasiswa, ‘Pasukan Polresta’ Banjarbaru yang sekokoh cadas, tidak tahan. Bergantian mendatangi gadis-gadis yang tengah membersihkan Merah Putih. Mengelus lembut, lalu mencium kebanggaan bangsa tersebut.

Mereka ingat, Kakek-Kakek, Bapak-Bapak, Paman-Paman mereka mengorbankan segalanya demi Merah Putih. Tidak ada suara. Tidak ada kata-kata. Seperti kampung negeri bisu. Air mata menetes setetes demi setetes.

Ada ketidaknyamanan. Ada kekecewaan. Aksi selesai begitu saja. Bagaimanapun, ada aturan tak tertulis. Bila pimpinan mengambil keputusan, tidak seorang pun ke luar jalur.

Mahasiswa Banjarbaru memang beda. Mereka mengikuti Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LPM).  Dalam LPM dibekali, bagaimana menjadi pemimpin. Konsep leadership menjadi patokan, lengkap dengan aneka Teori Kepemimpinan.

Namun, ada yang lebih penting. Bagaimana menjadi yang dipimpin. Separoh materi LPM bermuatan, ya itu tadi, bagaimana menjadi yang dipimpin.

Kalau semua dididik menjadi pemimpin, semua terobsesi menjadi pemimpin, lalu siapa yang akan menjadi makmum? Akibatnya, memperutkan posisi, bukan memperjuangkan tujuan bersama.

Pemimpin adalah panutan. Bukan seperti yang dipraktikkan di banyak tempat. Pemimpin menjadi sumber perbedaan. Menjadi pemimpin berarti menjadi yang dipimpin, sebab suara pimpinan adalah inti kehendak yang dipimpin. Kehebatan pemimpin  menangkap suara batin, aspirasi yang dipimpin.

Amati, beberapa partai politik di negeri ini. Para pemimpinnya (selalu) berbeda pandangan, berbeda pendapat. Ujung-ujungnya, ribut. Pecat-memecat. Membuat partai tandingan. Semua (merasa) benar.

Hal sedemikian, demikian Prof. Mualab, Ph.D, bukanlah perilaku Rasulullah. Rasulullah diutus Allah SWT sebagai rahmatin lil alamin. Bukan bagian masalah, apalagi sumber masalah. Rasulullah menyelesaikan masalah, bukan memasalahkan masalah, apalagi memperbesar masalah. Kalau kalian mengaku umat Rasulullah, jadikan penyelesaian prioritas, bukan menoreh cadas masalah.

Pandanglah Merah Putih dengan mata batin. Jangan mata zahir saja. Mencintai  menyelesaikan. Hidup Indonesiaaaaaaaaaaa. Kata-kata Mualab  menancap di ulu rasa.

Cintaku, damaiku, auramu, Merah Putih.

Banjarbaru, 3 Mei 2008

  1. 7 Responses to “Novel: Merah Putih (1.2)”

  2. By hanna on May 3, 2008 | Reply

    Wah! Selamat ya, Pak, dah mengarap novel, nih. Isi novel ini menceritakan Tanah Air dan sedikit religius, ya, Pak? Saluttt!!

  3. By noorlatifah on May 3, 2008 | Reply

    Sungguh mengharukan, walaupun semangat yang menyala-nyala dan ditambah dengan tersulutnya emosi yang bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi, namun dengan kemampuan yang sangat mengagumkan para mahasiswa dapat meredam kemarahan mereka yang sudah mulai memuncak. Rasa hormat dan patuh terhadap pemimpin rupanya sudah terpatri kuat dalam hati para mahasiswa Kota Banjarbaru.(”Patuh” dalam satu komandu untuk menjalankan kesepakatan).

  4. By aminhers on May 3, 2008 | Reply

    wow, great solutions !cool!humanizes !

  5. By fafau30 on May 4, 2008 | Reply

    Sepertinya pemimpin-pemimpin partai atau beliau-beliau yang ada di dewan belajar banyak kepada mahasiswa-mahasiswa Banjarbaru itu ya Pa..

  6. By Suci on May 4, 2008 | Reply

    titipan pesannya bagus…tapi, boleh jujur sekali lagi nih…masih perlu baca beberapa kali dulu nih..he

  7. By Suci on May 4, 2008 | Reply

    Titipan pesannya bagus…tapi, jujur, maih perlu baca beberapa kali dulu nih…

  8. By Tria on May 6, 2008 | Reply

    sebenarnya saya kurang suka membaca novel. tapi menurut saya novel bapak ini cukup menarik karena mengangkap permasalahan yang sedang dihadapi di kalsel khususnya mengenai penambangan batu bara yang tidak pernah digubris mahasiswa. melalui novel ini bapa ingin menggugah mahasiswa untuk mencermati keadaaan yang dihadapi.
    namun, dalam novel ini menurut saya pembahasannya kurang komplek dari penceritaan tokohnya.

    ***Maksih masukannya, belum masuk ‘batang tubuh’ novel. Ntar akan terpapar he he

Post a Comment