Novel: Merah Putih (1.1)
3 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |SIANG ITU. Go. Go. Go. Sorak sorai menggelegar. Campur aduk dengan raungan gas sepuluh truk dan ratusan sepeda motor. Asap mengepul. Menyumbat hidung menyesakkan nafas. Lapangan Murjani di alun-alun Balaikota Banjarbaru bak suasana perang. Para PNS berseragam buggi terbengong-bengong.
Go.Go. Go. Gintir, meluruskan tangan menunjuk arah. Sopir truk mengikuti. Matanya susah melihat. Asap hitam pekat knalpot ratusan sepeda motor menghambat pandangan. Lurus ke depan, ke gerbang Balaikota, lalu memutar ke kanan, menyelusuri jalan Panglima Batur. Merah putih berkibar. Spanduk-spanduk diangkat tinggi-tinggi. Ngeng … Ngeng. Go. Ngeng … Ngeng. Go. Ngeng … Ngeng. Go. … Go. Go. Go.
Pengunjung Jaya Plaza di bilangan Panglima Batur berhamburan ke pinggir jalan. Ada apa? Tanya mereka tak terjawab. Di depan kolam penampungan PDAM, iring-iringan belok kanan lurus menuju Fakultas Tehnologi Nuklir Universitas Banjarbaru. Tanpa menghiraukan siapa pun.
Lagi-lagi orang-orang pada bengong. Banjarbaru bukanlah kota yang ‘panas’ dengan aneka demo seperti Makasar atau Jakarta. Banjarbaru kota Idaman; Indah, Damai, dan Nyaman. Sekalipun beberapa perguruan tinggi berlokasi di kota Gunung Apam tersebut. Hiruk pikuk demo bukanlah cirinya. Ada apa?
Gintir, terus mengumandangkan teriakkan … Go. Go. Go. Iring-iringan belok kiri. Setiba di bundaran Simpang Empat menikung setengah lingkaran menuju kawasan Cempaka. Hiruk-pikuk teriakan Go Go Go Gintir ditingkah sorak-sorai lima ratusan mahasiswa yang berdesak-desakan bak ikan sarden pada sepuluh truk membingungkan pengunjung Citra Banjarbaru Plaza. Apa yang terjadi?
Dewan Mahasiswa Universitas Banjarbaru bersama Dewan Mahasiswa perguruan tinggi se-Banjarbaru merahasiakan aksi. Tidak meminta izin polisi. Tidak memebritahu Rektor. Rapat-rapat dilakukan ala BIN. Tertutup. Hanya diiikuti tujuh pemimpin mahasiswa. Berpindah pindah. Kerahasiaan dijadikan sandaran pengamanan.
Rombongan melintas jembatan Kelayu, jembatan sempit yang tidak pernah direnovasi Dinas Kimpraswil Provinsi Kalsel. Sempit dan membahayakan. Beberapa korban merenggang nyawa dilindas truk batubara yang halal melintasi jalan negara. Kendaraan dari arah Cempaka berhenti memberi jalan kepada ‘pasukan perang’ yang nampaknya tidak peduli dengan pemakai jalan lainnya.
Go.Go. Go. Lagi-lagi Gintir mengumandangkan suara baritonnya. Truk meliuk-liuk dengan kecepatan tinggi. Di depan pintu gerbang Dodik Rindam IV Tanjung Pura, rombongan belok kiri. Debu beterbangan. Dalam lima menit komplek Dodik dilewati, truk menuju kawasan transmigrasi terus ke Sungai Abit. Ada apa? Hanya itu yang ke luar dari mulut warga.
Jalan selebar 30 meter yang baru dibangun ‘menenggelamkan’ rombongan. Debu berterbangan. Jalan Van Der Peijl itu belum diaspal. Lima belas menit kemudian truk berhenti di depan komplek PT Tambang Aneka Rupa (TAR). Sampai disini, bagi yang melihat, baru paham tujuan rombongan. Mahasiwa mendemo PT TAR.
Sejak setahun terakhir, keresahan sudah menjadi hal harian bagi penduduk sekitar PT TAR. Sawah tidak bisa ditanam, ikan-ikan mati. Tercemar. Kolam-kolam besar, bekas penambangan, sambung-menyambung menjadi danau raksasa.
Lawe, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Banjarbaru, sudah tidak sabar. Bersama rekan-rekannya, Lolo, Lundang, Sapan, Talang, Rabaa, dan Balun, gemas. Kesabaran habis. Protes yang dilayangkan kepada pemimpin daerah, tidak membawa hasil. Laweh dan teman-teman maklum, izin pertambangan wewenang pemerintah pusat. Bapak-Bapak di daerah tentu saja miris. Tentu mereka memperhatikan daerahnya. Tapi, selalu begitu alasannya, di luar wewenang mereka.
Bersama teman-teman, Lawe mengadakan rapat ‘rahasia’. Mula-mula di Mandiangin dengan alasan rekreasi. Lalu, berpindah dari asrama ke asrama mahasiwa, dari kos ke kos. Kesimpulan rapat, aksi nyata. Protes ke sumbernya.
“Bagaimana dengan izin”, tanya Lundang. Harap maklum, Lundang ketua DEMA Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Banjarbaru.
“Tidak usah”, sergah Balun.
“Apa? Itu menyalahi aturan”, sergah Lundang.
“Mau sukses apa tidak? Kita kan mau menarik perhatian agar kasus ini menasional”, jawab Balun kalem. Teman-temannya tercengang. Balun yang spesialis pembaca doa itu tiba-tiba begitu radikal. Balun mahasiswa Universitas Islam Negeri Banjarbaru.
“Dalam perjuangan, taktik namanya, bro. Kalau ditangkap, justru jadi sensasi. Kita dapat promosi gratis. Perjuangan memerlukan pengorbanan, kawan”.
“Saya setuju Balun”, timpal Lolo mantap.
“Ah, kamu sok jago. Mentang-mentang anak keolahragaan, jago gulat”, sergah Sapan setengah bercanda. Lolo sebenarnya pendiam, kalem. Dia pemegang medali emas PORDA VI Kalsel Banjarbaru. Mahasiswa Universitas Pendidikan Banjarbaru.
“Rektor?”, tanya Talang. Mahasiswa Politeknik Banjarbaru ini terkenal minimalisnya.
“Yup, tidak usah diberi tahu. Bikin ngalih haja”, kata Rabaa. Anak Kandangan yang jago Kuntau ini terkenal temperamental. Orangnya baik, tidak macam-macam, tapi kalau urusan rakyat, wani hangit.
Rapat ditutup. Jaringan sel ala Ikwanul Muslimin dioperasikan. Kader-kader mahasiswa diberi tahu pagi hari, ya pagi hari ini, menjelang aksi. Mereka sukses melakukan hal serupa ketika mendemo BBM, yang langka melulu. Aksi baru tercium setelah mahasiswa melayangkan surat pemberitahuan kepada polisi.
Begitu sampai di depan kantor pusat PT KAR mereka berhamburan dari truk. Rombongan tertahan. Kantor pusat PT KAR, seluas 5 hektar persegi, dikelilingi tembok beton setinggi 3 meter. Pada bagian paling atas ditanam pecahan kaca, dan kawat berduri. Ini daerah terlarang. Pengamanan sangat ketat. Lebih ketat dari Kedutaan-Kedutaan Besar di Jakarta. Pengamanan prioritas utama. Harap maklum ini areal penambangan kronik.
Go. Go. Go. Gelegar pekik sorak sorai mahasiswa membuat Satpam tersentak. Pintu digedor-gedor. Melalui lobang intip, nyali mereka yang telah terlatih menghadapi masa, ciut. Ada seribuan anak muda dengan wajah kurang bersahabat. Irama cuatan protes … Go … Go … Go … mengirim ketakukan, sekaligus keheranan. Ada apa?
Go … Go … Go … Telapak tangan bersih anak-anak mudah tersebut tak mampu membuat pintu gerbang bergoyang. Apalagi roboh seperti pintu gerbang gedung DPR RI di Senayan. Kokoh.
Banjarbaru, 3 Mei 2008









7 Responses to “Novel: Merah Putih (1.1)”
By Zul ... on May 3, 2008 | Reply
Bang, sebuah novel memiliki kompleksitas konflik dan karakter para tokoh. Sangat diperlukan kecermatan dan kemampuan dalam mengembangkan cerita. Aku yakin, Abang mampu. Aku ga tahu Abang pernah bikin novel atau belum. Jika sudah, maka tentu bukan hal sulti lagi.
Mumpung, masih proses, perlu editor, ga?
Aku bersedia jika diperlukan.
Tabik!
By hanna on May 3, 2008 | Reply
Wuih, penasaran cerita lanjutannya. Gerakkan para aktifis Mahasiswa. Seruuuu!
Kalau boleh sedikit komen, Pak. Ceritanya masih agak lempeng ya, terlalu datar. Duh, mohon maaf bila sudah sok tahu.
By unai on May 3, 2008 | Reply
Asap hitam pekat knalpot ratusan sepeda motor menghambat pandangan.
-> mungkin akan lebih enak kalau kalimatnya : Hitam pekat asap yang berasal dari ratusan knalpot sepeda motor, sangat menghambat pandangan
atau,
->asap hitam dari ratusan knalpot, pekat mengurung pandangan.
“Tidak usah”, sergah Balun.
“Apa? Itu menyalahi aturan”, serga Lundang.
“Ah, kamu sok jago. Mentang-mentang anak keolahragaan, jago gulat”, sergah Sapan setengah bercanda.
->Sepertinya harus dicari padanan kata sergah pak.
Telapak tangan bersih anak-anak mudah
-> mungkin maksudnya muda, ya pak?
Duh saya sok ngomentarin pulak, after all novel ini pasti bagus.prolognya membuat penasaran.
By tri on May 3, 2008 | Reply
masih perlu penguatan tokoh utama dan ditambahi bumbu kehidupan khas ala mahasiswa. seperti biasa, pengetikan kata perlu diperhatikan agar tidak salah penafsiran. sukses novelnya.
By Willy Ediyanto on May 3, 2008 | Reply
Awalan yang bagus. Penggambaran setting yang mengena dan sangat kontekstual. Penggambaran memang masih umum, selayaknya bagian awal sebuah cerita. Penggambaran tokoh belum tampak. Itu wajar, sebagai sebuah awalan cerita, kegempran sebuah demonstrasi dengan latar belakang kehidupan mahasiswa cukup mengena.
Kedangkalan tanggapan demonstran ini cukup mengejutkan, karena penangkapan justru yang mereka harapkan. Kehidupan populis kaum selebritas.
Tambahkan komentar “Zul” di sini. Saya setuju itu.
By Suci on May 4, 2008 | Reply
Soal salah ketik, saya mungkin akan dapat jawaban yang tertebak…that’s why editor for..he..
Tapi terus terang, buat saya, mesti dibaca beberapa kali nih. Mungkin karena perpindahan ide ke ide lainnya terbilang cepat. Penguatan karakternya juga bisa lebih ditambah. Jadi, pembaca bisa membayangkan sosok karakter dari fisiknya, bukan hanya dari segi wataknya.
By LieZMaya on May 4, 2008 | Reply
wah dah nyampe 3 ya, terus nyimak
***Makasih, komennya dong.