Melawan ‘Dorongan’ Menulis

2 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis warmansyah Abbas

MALAS adalah bagian kita, ada di diri kita. Menurut KBBI (1998: 351) malas berarti: tidak mau bekerja atau megerjakan sesuatu; segan, tidak suka, tidak berbafsu. Akan halnya saya, beberapa orang telah mengingatkan sejak seminggu lalu, Pak, 2 Mei 2008, Hari Pendidikan Nasional. Sebagai orang yang banyak menulis tentang pendidikan, terutama di koran lokal, wajar berbagai permintaan datang. Tapi, malas. Malas? Ya. Malas saja euy.
 
Entah kenapa, ada kegundahan dari bagaimana bangsa ini memandang dan mengapresiasi pendidikan. Banyak bualan, atau hal-hal bagus ditayangkan. Pelaksanaanya? Semakin bejibun pakar, kualitasnya? Semisal, bagaimana mungkin konsep sertifikasi yang begitu bagus, dimelencengkan menjadi fortofolio. Itu hasil pikiran orang-orang hebat. Saya pun terseret-seret.
 
Belum lagi, di tengah bangsa ini tergopoh-gopoh ‘bersiap’ menghadapi berbagai krisis ke depan, miliaran rupiah dikucurkan untuk UN. Praktik curang berlaku di banyak tempat. Kasus di Medan dan Makasar, misalnya, adalah contoh nyata. Kita ini mendidik generasi bangsa atau menamankan bibit curang?
 
Seorang peserta UN berkomentar getir di blog ini: Sebagai peserta UN, saya kecewa dengan berita tersebut (guru curang di Medan, EWA). Apakah orang-orang yang setiap hari mengatakan pada kami, ‘percaya diri’ justru menjadi orang-orang yang tidak mempercayai kami? Kalau kami tidak mendapat kepercayaan dari guru, bagaimana dari diri kami sendiri.
 
Takutkah guru bercermin atas apa yang mereka usahakan? Mungkin kami mendapat nilai 3 atau 4 pada UN, tapi itu hak kami. Atas dasar apa guru seenaknya merampas hak tersebut, mengganti jawaban kami. Seandainya mendapat 3 dan tidak lulus, kami berhak atas nilai 3 tersebut. Kami telah berusaha keras belajar.
 
Ya, pada kondisi lain, maaf, Pak Suadillah. Sobat saya yang pejabat di LPMP Kalsel, sejak awal pembentukan Tim Pemantau Independen (TPI), membawa agar ikut serta. Belum selesai tawarannya, langsung ditolak. Dia terheran-heran seperti juga teman lainnya. Saya tidak memberikan argumen (padahal honornya, lumayan lho). Pokoknya tidak mau. Titik.
 
Saya memilih merenung. Kalau soal manajemen pendidikan nasional, sudah hands up. Jauh dari apa yang diharapkan. Kita perlu bersabar. Sabar, sabar, dan sabar. Entah bagaimana jadinya, kumaha engke wae.
 
Untunglah, teman-teman mengagendakan pemetaan kompetensi guru dengan langsung melihat bagaimana guru mendisain pembelajaran, melaksanakan, sampai mengevaluasi, pada mulai Mei 2008. Kegiatan untuk suatu kota di Kalsel tersebut cukup mengairahkan. Bagi saya, landasan sertifikasi guru seharusnya demikian, bukan fortofolio yang berbau administrasi. Betul saja, cara-cara mengakali sudah terlihat. Ujung-ujungnya, curang lagi. Bagaimana ini (‘oknum’) guru?
 
Sebelum menulis tulisan ini, menyimak pidato Mendiknas, Bambang Subiyakto. Nyaman di dengar, tapi apakah di lapangan sama dengungnya? Semoga saja. Hanya saja, kalau mempejuangkan apa yang tertera di konstitusi saja, misalnya soal dana pendidikan 20% di APBN/APBD tidak mampu, bagaimana yang lain ya?
 
Ya, saya tidak bernafsu menulis seputar pendidikan dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional, alias malas. Tidak tertarik. Sebab, kalau ditulis nanti ada bau-bau kecewanya. Jadi, tidak ada tulisan saya di media cetak hari ini tentang pendidikan. Masal. Malas menulis. Sekalipun didorong-dorong. Lalu tulisan ini apa?
 
Oh, iya rupanya ini tulisan ya. Sori, saya serasa berdialog dengan Sampeyan yang sedang membacanya. Rupanyan menulis ya. Semoga silturahmi kita semakin kental. Sekali lagi, maaf, saya sedang malas menulis (tentang pendidikan), he he.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 2 Mei 2008.

  1. 5 Responses to “Melawan ‘Dorongan’ Menulis”

  2. By Zul ... on May 2, 2008 | Reply

    Malas aja sudah keliatan ‘cerewet’nya, apalagi rajin!
    Seperti sudah kebanyakan yang menulis dan mengeluh soal ’sakit’nya pendidikan kita. Yang belum,yang benar menjalankan amanatnya!

    Tabik!

  3. By Nayantaka on May 2, 2008 | Reply

    “Sebelum menulis tulisan ini, menyimak pidato Mendiknas, Bambang Subiyakto”
    maksudnya Bambang Sudibyo ya Pak?

  4. By noorlatifah on May 2, 2008 | Reply

    Iya pak, kalau berbicara masalah kekecewaan itu selalu ada namun bila kita terpuruk dalam kekecewaan tersebut tentu kita tidak bisa bangkit, kalau kita tidak bisa bangkit bagaimana dengan pendidikan kita? Lebih baik kekecewaan ini kita jadikan kayu bakar yang mampu membakar semangat para pendidik untuk memperbaiki mutu pendidikan sekarang! Ok, dengan semangat hari pendidikan nasional th. 2008 ini kita melangkah lebih pasti lagi tuk maju…maju dan terus maju ……….!

    ***Yap, kami melakukan dalam katup Banjarbaru. Peduli amat dengan donegng-dongeng dari Jakarta. Kami lakukan dengan ‘gaya’ sendiri. Doain berhasil, ya.

  5. By aminhers on May 2, 2008 | Reply

    Surat ku untuk sobatku Bang Ersis
    (dalam rangka hari pendidikan yang fitri bagi sobat guru)
    Ass. Bang !
    Salam bahagia.
    Bang Ersis,saya tertarik dengan kalimat yang Abang tulis di bawah ini :

    “…..bagaimana mungkin konsep sertifikasi yang begitu bagus, dimelencengkan menjadi fortofolio. Itu hasil pikiran orang-orang hebat…..”

    Banyak sobat guru yang mengeluh Bang, mengenai fortofolio(saya singkat forto). Instrumen forto yg 10 komponen bagi sebagian sobat guru adalah khayalan semata. Misal komponen 1;tentang pendidikan,gimana kita mau ke jenjang lebih tinggi (baca S2,S3),gaji tuk biaya satu bulan aja ga’ cukup; dan beberapa komponen pada forto yang tak mungkin diperoleh oleh sebagian sobat guru yang nasibnya ga’ beruntung.Tapi ada juga oknum yang mencoba cari jalan pintas, agar ke-10 komponen terisi nilai (saya dengar dari berita).Pada saat penilaian pun ada yang lulus dan juga ada yang tidak, tergantung nasib kali Bang !Memang Bang nasib itu ga groupy tapi suka personal.
    Bang Ersis yang baik ,sobatku.
    Kenapa harus fortofolio Bang ? Bagaimana dengan sobat2 ku yang ada di pelosok sana yang berjalan ke sekolah sampai berjam-jam, bahkan harus menginap di sekolah,karena paginya harus mengajar lagi, yang bergaji hanya cukup seminggu saja.Bahkan sobat2 ku yang bertebaran di pinggir2 hutan belantara, di sisi pesisir pantai yang tak bertuan, apa mereka kena sertifikasi ?
    Bang Ersis sobatku, mohon maaf sekiranya surat ini tidak berkenan di hati Abang, bila Abang tak suka dengan surat ini, dell (hapus) saja.Dan sampaikan salam hangat (berjuang)buat sobat2 guru di mana pun berada.
    Sekian terima kasih.
    Wassalaam
    Sobatmu
    aminhers

    ***Makasih, aku jadi terharu. Nanti kutelusuri. Negara ini memang tidak pernah berpihak guru.

  6. By budimeeong on May 2, 2008 | Reply

    enggeh pa’ae

    libur’nya rasa kada rame nah…

    tunjangan fungsional ja kada dapat nah…hahahah(begaya)
    bujur ja pang, kakawanan ulun di es de dak jua jer sertifikasi, tapi dak kuliah kada cukup duitnya. mendaftar didinas yang bantuan pemerintah, kada lulus, malah guru yang anum-anum yang kuliahan…

    dududududdhhhhhhh

    ***Ya mudahan dikembalikan ke asalnya … sertifikasi ala fortofolio itu menang saru, ngak logis.

Post a Comment