Menulis: Buku Qomar dan Suci

1 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Buku Qomar dan SuciAlkisah, Syamsuwal Qomar dan Suciati, mahasiswa Bahasa Inggris FKIP Unlam, mau belajar menulis. Saya bilang, ngapain belajar, buang-buang waktu saja. Kalau kalian belajar menulis, yang akan didapat pelajaran. Maksudnya Pak? Kalian mau belajar menulis, atau menulis? “Menulis, Pak”, kompak mereka menjawab. Kalau begitu, kalian datang pada orang yang tepat, he he. 

Sebelum memulai saya katakan dengan penekanan tajam: ada dua pantangan. Pertama, beralasan. Kedua, mengeluh. Mereka hakun tidak akan melakukan kedua hal tersebut. OK, kata saya. Malam ini, email saya ‘wajib’ berisi tulisan kalian. Begitu seterusnya, sampai sebulan. Qomar dan Suci memenuhi janjinya sebagai orang Islam.

Setelah terkumpul 30 tulisan, dituntun mengedit ala kadarnya. Ada yang saya sunting, banyak yang dibiarkan. Lalu, dilatih menggunakan PageMaker, menyeting dan melayout. Tidak boleh berhenti. Padahal, pada waktu bersamaan mereka melakukan penelitian untuk skripsi. Wuis … kaget sendiri, skripsi selesai, buku siap dicetak.

Lalu, mereka bilang: Menerbitkannya bagaimana, Pak? Bukan urusan mBahmu. Itu bagian saya. Mereka tertawa terbahak-bahak. Dasar ‘anak nakal’ mau hidup dari menulis. OK, langsung diperintah mewancarai Kepala Bank BPD Cabang Banjarmasin. Dengan bahasa ‘ala kampus’ yang susah dimengerti, rintangan pertama terlewati. Ya, menjadi trainee di Bandjarbaroe Post.

Kini, sudah menjadi pewarta. Saya libatkan dalammenulis buku Lihan, pembeli Intan Putri Malu. Pengusaha yang kini lagi naik daun di Kalsel, dan memasuki arena nasional. Mereka hampir pingsan, Lihan punya perusahaan penyewaan helikopter. Saya ingatkan, tugas kalian mewawancara. Perasaan dititip di kantor saja.

Oh ya, suatu kali, Suci bercerita berurai air mata. Seorang petinggi kampus mempelonco karyanya. Saya katakan, menulis dua hal berbeda dengan ‘penilaian’. Lupakan. Sejak itu, ketika dihujat orang, tulisan mereka tidak sekelas karya Muhammad Hatta atau Muhammad Haikal, mereka sudah bisa tersenyum. Siiiiiip. Terus menulis.

Pesan ini disampaikan kepada pembaca blog saya. Banyak sarjana, magister, doktor, atau profesor sekalipun, kalau tidak menulis ya, tidak akan menjadi tulisan. Kalau mau menghajar, tulisan orang yang bersemangat belajar menulis, silahkan. Bagi yang tangguh, tidak akan melemahkan semangat. Justru, jadi pemotivasi.

Dengan kata lain, terlepas dari kualitas tulisannya, Qomar dan Suciati telah sah menjadi teman saya dalam menulis. Selanjutnya terserah mereka. Ada orang yang berhasil di langkah pertama, kemudian menghentikan perjalanannya. Itu urusan mereka. Sebab, menulis adalah urusan masing-masing.

Ya, begitu pulang dari ‘kantor’ saat orang libur, di garasi, kiriman buku dari penerbit Gama Media Jogja teronggok minta dibelai. Saya buka, duh … senangnya. Apalagi, mereka berdua tentunya.

Saya mengucapkan selamat kepada dua makhluk tabah ini. Selamat kawan.

Bagaimana menurut, Sampeyan?

Banjarbaru, 1 Mei 2008.

  1. 9 Responses to “Menulis: Buku Qomar dan Suci”

  2. By lia on May 1, 2008 | Reply

    benar pak, sekarang ini banyak yang menjadi seorang ahli di bidangnya masing-masing hingga ada yang berprofesi sebagai komentator bahkan pengamat sekalipun tetapi sangat jarang ditemukan orang yang mempunyai kreativitas tinggi dalam menulis seperti bapak bahkan O besar pak..

  3. By Suci on May 1, 2008 | Reply

    Oh ya, suatu kali, Suci bercerita berurai air mata. Seorang petinggi kampus mempelonco karyanya

    Hahaha…saya jadi membayangkan diri saya ada di salah satu adegan sinetron jadinya….

    sudah sampai yah, finally…Setelah perjalanan sejauh ini, satu hal yang saya sadari…menulis buku ini bukan hanya mengajari saya tentang menulis…tapi lebih dalam juga mengajari saya tentang pelajaran hidup…

    Makasih, pa…moga buku ni bukan yang pertama dan terakhir…

  4. By Syamsu on May 1, 2008 | Reply

    Wah, bukunya sudah datang yah, Pak…
    Pengalaman menulis pertama yang mengajari saya banyak hal…

    Terlepas dari kualitas, saya sudah berani untuk menulis.
    Terima kasih, Pak. Semoga saya tidak gagal di langkah pertama.

  5. By aminhers on May 1, 2008 | Reply

    Ass. Bang Ersis.
    Wah Anda nyindir saya :D
    Tapi benar ada pepatah : ikatlah Ilmu itu dengan menulis, agar orang memahami, dan memanfaatkannya.
    Saluete Bang !

    ***Ngaklah, ngapain pakai sindir-sindri segala macam … he he. Ya, ikatlah ilmu dengan menulis. Sampeyan sudah lakukan kan? Saya dah berkunjung kog. Bagus.

  6. By Zul ... on May 1, 2008 | Reply

    Selamat buat Bung Samsu dan Suci. Dua lagi yang telah menjadi ‘korban’ Ersis. Semoga makin banyak ‘korban-korban lain’ berjatuhan.

    Salut buat Abang!

    Tabik!

  7. By noorlatifah on May 1, 2008 | Reply

    Saya ikut senang ternyata syamsu dan Suci sudah berhasil buat buka. Selamat buat kalian berdua semoga akan muncul syamsu2 dan Suci2 yang lainnya. Siapa dulu gurunya ….???

  8. By haryani on May 3, 2008 | Reply

    salut dan selamat wat ukh suci n akh syamsu,anda telah memberi contoh yang baik. kini giliran saya yang harus mewarisinya…,wat EWA,tolong jangan lupa koreksikan tulisan saya yang berjudul “potret buram Indonesia di era reformasi”.saya selalu menantikan masukan-masukan yang sifatnya membangun dari anda.terimakasih sebelumnya

  9. By fafau30 on May 4, 2008 | Reply

    Selamat ya kepada Qomar dan Suci semoga ini menjadi permulaan yang baik. Sukses selalu untuk kalian berdua. Perjuangan yang berat biasanya akan berbuah manis.

  10. By Yari NK on May 4, 2008 | Reply

    Selamat buat Suci dan Qomar yg sudah menerbitkan buku. Memang gunanya menulis salah satunya agar ilmu yang kita dapat selalu terikat di dalam otak kita dan tidak lepas ke mana2. Itu karena otak kita jauh lebih canggih daripada harddisk tercanggih sekalipun. Otak kita tidak ada limit atau batas penyimpanan dan lebih canggihnya lagi data yang sudah lama dipakai akan otomatis terhapus sendiri. Untuk itu menulis memang salah satu cara agar data selalu terekam di otak kita!

Post a Comment