Melawan ‘Iblis’ Menulis
1 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
ALIKSAH Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS. Allah memerintahkan para malaikat hormat pada Nabi Adam. Malaikat patuh, kecuali iblis. Alasannya, dia lebih mulia karena ‘berbahan baku’ api sementara Adam dari tanah. Allah menghukum iblis. Syurga bukan tempatnya, neraka adalah istananya di hari kemudian. Iblis dapat hak okstroi: dibebaskan merayu manusia agar punya teman di neraka yang kekal.
Bukan maksud memasuki wilayah Allah, apabila Allah memutuskan iblis tidak boleh lagi di syurga, diusir, mustahil mampu menerobos ke syurga. Allah punya malaikat sebagai penjaga, lagi pula apa pun yan dilakukan makhluk cipataan-Nya tidak luput dari pengamatan-Nya. E … kog bisa-bisanya ‘kisah’ berlanjut: Iblis merayu Adam dan Hawa memakan buah khuldi (di syurga). Lalu, dihukum, dan diusir ke dunia. Cerita tersebut mematen di pikiran (banyak) kita. Ditanamkan sejak kecil.
Iblis mustahil menembus ‘penjagaan’ syurga, wong sudah diusir. Tetapi, kog bisa-bisanya merayu Adam dan Hawa ya, di syurga? Cara paling ‘rasional’ memakai jasa SMS. Namun, jangan-jagan HP belum ada ada. Atau, barangkali pakai telepati. Aya aya wae.
Suatu kali seseorang bertanya, Pak, air di rumah Bapak jalanlah, ledengnya jalanlah. Asyik juga tu kalau air berjalan, seperti kambing misalnya. Atau, ledeng yang terbuat dari besi atau pipa, berbaris rapih berjalan mengelilingi kota. Bisa-bisa geger seisi kota.
Sesorang mendatangi saya dengan semangat bergelora mengutarakan keinginan menulis. Dia mohon petunjuk (emang saya dukun) agar produktif menulis. Karena orangnya serius, tidak tega menggodanya. Pertanyaan pokok diajukan: Sudah berapa tulisan dihasilkan? Jawabnya, belum satu pun. Pernah konsultasi dengan orang lain? Banyak, jawabnya.
Dia menyebutkan nama orang-orang beken, dari dosen yang memang bidangnya berkaitan dengan menulis sampai tokoh hebat. Pokoknya orang-orang terkenallah. Tidak lupa pula dengan bangga mengutarakan telah mengikuti orientasi dan pelatihan menulis ini-itu. Ajaibnya, ketika ditanya, yang memberi ceramah, para penatar, apa produktif menulis? Ada apa tidak bukunya?
Bodoh amat. Belajar kepada orang yang bisanya ceramah melulu, bagaimana mau dapat nurturant efeck. Saya motivasi, kalau ingin produktif menulis, tidak perlu berguru. Lakukan saja. Tulis apa yang hendak menulis. Sejak SD kita sudah belajar menulis dan tetek-bengeknya, kenapa tidak produktif? Dia bengong.
Tiga illustrasi terpapar bukan dimaksudkan menghina siapa pun. Yang disasar adalah, apabila berkehendak menulis, ‘pikiran bebas’ adalah satu pemicu. Kalau berpikir keluar dari frame umum, berpikir kita akan tergenjot kreatif. Apabila berpikirnya kreatif, menulisnya lebih mungkin kreatif.
Andre Hirata, penulis Laskar Pelangi, tidak belajar di fakultas sastra. Dia membaca saja, dan berkreasi, menulis. Melakukan menulis. Ahli (menulis) akademis tentu berbeda dengan penulis benaran. Penulis-penulis hebat adalah mereka yang telah terbebas dari belengu-belenggu menulis. Perihal belengu-belenggu menulis telah saya tulis di buku Menulis Sangat Mudah.
Maksud saya, menulis itu mengekspresikan pikiran, menuangkan apa yang dipikirkan. Pikiran lebih bijak ‘bebas’ dari hambatan-hambatan. Untuk itu, dalam berpikir kreatif agar kreatif menulis, ‘cara’ berpikir sebaiknya dibebaskan dari berpikir rata-rata (masyarakat). Berpikir inovatif.
Kalau kita berpikir wajib, sekali lagi wajib, melestarikan peninggalan budaya nenek moyang, tentu tidak salah. Baguslah. Tapi, apa salahnya pula memikirkan, berpikir … dari pada pikiran, energi, tenaga dan biaya tersedot tentang peninggalan budaya … apa tidak lebih bagus menciptakan yang baru?
Akan lebih bagus manakala, peninggalan budaya dilestarikan, menciptkan budaya baru yang lebih baik. Jangan sampai, budaya lama tidak terpelihara, apalagi dicuekin, eh … membuat yang baru lumpuh. Celaka itu namanya. Kebudayaan akan mengalami involusi.
Tulisan kali ini ‘agak aneh’ memang, tetapi dimaksudkan untuk memantik pikiran. Jangan-jangan, iblis itu ada pada diri, pada pikiran. Atau, pada hati. Kalau begitu, lawan. Mari keratif menulis, dengan menulis, menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 1 Mei 2008.










12 Responses to “Melawan ‘Iblis’ Menulis”
By ichsan on May 1, 2008 | Reply
nulis juga ada iblisnya tho? lagi roh aku…
By taufik on May 1, 2008 | Reply
Baru sadar kalau ternyata “iblis” itu sudah mendekam begitu lama dalam diri kita, dalam jiwa kita, dalam raga kita, sehingga membuat mata ini “buta” melihat fenomena, membuat telinga ini “tuli” mendengar fakta,membuat hati “mandul” dari kreatifitas bermakna. Bravo tuk Bp! Hatur tabik tuk “racun” menulisnya, membuat diri terkapar tuk tidak menulis walau “seadanya”. Wow, Eureka!
By Rini on May 1, 2008 | Reply
Cerita tntang kedatangan iblis kembali ke wilayah surga untuk merayu Adam dan Siti Hawa sedangkan dia (iblis) telah diusir lantaran kesombongannya telah sejak lama menggelitik dalam fikiran saya.Padahal cerita tersebut telah saya dapat sejak saya masih kecil dan dari orang-orang yang nampak tau banyak tentang hal-hal yang demikian. Keinginan menyangkal itu ada, tapi karena merasa tak memiliki cukup argumen sebagaimana yang sampeyan miliki, akhirnya gelitikan fikiran itu terabaikan begitu saja. Sampai akhirnya dalam perkuliahan kewarganegaraan hal tersebut sampeyan tampilkan sebagai salah satu topik. Ternyata saya gak sendiri dalam pamikiran itu. Terimakasih..dan salut
By abeeayang on May 1, 2008 | Reply
iya pak….katah penulis tersohor ituh:
kalok menulis ya cepat2lah ambil pena dan kertas, lalu menulislah dengan bebas….
By Badiyo on May 1, 2008 | Reply
Kalau kata Pak Menkominfo (Bp. Moh. Nuh), kita manusia itu kalah pintar dengan Setan. Namun bukan berarti kita tidak bisa mengalahkannya. Kata Beliau, cara untuk mengalahkan setan adalah dengan keikhlasan.
Tapi nggak ada hubungannya ya dengan menulis?
By Deni Triwardana on May 1, 2008 | Reply
Wah… terus terang Pak Ersis Membuat saya jadi tersinspirasi menulis, menulis dan menulis.
Sampai saat ini masih terus mencari tulisan-tulisan Pak Ersis.
Yah Pak Ersis tuh. Inspiratornya lah, tulisan di atas menyemangati semangat menulis saya lho.
By Zul ... on May 1, 2008 | Reply
Iblis itu kita perlukan.
Dialah penyeimbang harmoni kehidupan.
Hasil kerjasamanya dengan malaikat membuat hidup kita jadi penuh tantangan.
Menempatkan ‘godaan’ menulis dari Bang Ersis sebagai godaan ‘iblis’ yang manis,barangkali patut untuk dipedulikan.
Jarang-jarang ‘iblin’ menggoda ke arah kebaikan. Kecuali jika menulis sesuatu yang sifat menghasut dan destruktif.
Tabik!
By sawali tuhusetya on May 1, 2008 | Reply
menulis memang bisa menjadi pencerah peradaban, pak ersis. dari dunia itu, seorang penulis bisa membangkitkan semangat orang2 yang sakit dan lumpuh, tetapi juga sekaligus mampu menggerakkan orang2 bisa dan tuli utk melakukan sebuah pemberontakan. betapa dahsyatnya pengaruh tulisan itu terhadap gerak dan dinamika peradaban.
By Suci on May 1, 2008 | Reply
In fact, Iblis menulis sebenarnya adalah diri sendiri…dan itu yang paliiing sulit dikalahkan.
By german on May 1, 2008 | Reply
hehehe… lucu juga uraian pak EWA, iblis memang selalu memantau setiap manusia dimana pun dan kapan pun berada itu sudah pasti, justru menurut uraian yg ingin disampaikan dari tulisan tersebut adalah iblis yg berwujud perasaan –bukan zahirnya seperti iblis yg menyebabkan terusirnya adam dan hawwa dari syurga–, perasaan disini –menurut penuturan pak EWA– adalah iblis yg seringkali dirasakan oleh manusia, yaitu ‘kemalasan’, kemalasan bisa muncul mana kala manusia enggan melakukan aktivitas produktif seperti menulis –salah satunya. perasaan malas (iblis) memang tidak dapat disangka datangnya, malas (iblis) bisa saja datang kapan saja, dimana saja dan bagaimana pun kondisi manusia –bisa sedih, gembira, dsb, intinya kemalasan (iblis) memang sunatullah yg tidak dapat dihindarkan oleh manusia, pun iblis secara zahirnya, memang merupakan pertautan antara kebaikan dan keburukan, iblis sebagai simbol keburukan, malaikat sebagai simbol kebaikan, tinggal manusia yg mengambilnya, mengambil dengan akal dan perasaan, maka, jika seandainya manusia memiliki pisau keyakinan yg mumpuni dalam mengambil keputusan antara keburukan dan kebaikan, niscaya tabiat malas (iblis) tadi dapat ditinggalkannya, sehingga pd akhirnya keburukan akan dikalahkan oleh kebaikan, dan ini merupakan sunatullah yg tidak perlu dipertentangkan, ada putih dan hitam dst…
***Wuaw asyik. Lucu yang serus, kali aja.
By Yari NK on May 4, 2008 | Reply
Salah satu kedengkian Iblis adalah ia iri melihat nabi Adam atau umat manusia diberi kemampuan belajar dan nabi Adam mengetahui benda2 yang ditunjukkan oleh Allah, sementara malaikat dan iblis tidak bisa. Itu karena manusia diberi oleh Allah kemampuan untuk belajar sehingga ilmu manusia sangatlah dinamis, kalau belajar ia akan mendapat ilmu, kalau malas ilmu itu akan lepas daripadanya. Iblis juga diberi intelegensia oleh Allah, tapi intelegensia yang diberikan statis! Mereka tidak dapat belajar tapi ilmu yang sudah diberikan dan dibekali oleh Allah juga tidak akan lupa! Itu karena malaikat (dan juga iblis) sudah ‘diprogram’ oleh Allah.
Nah, usaha iblis untuk menggoda manusia untuk seperti dirinya salah satunya adalah dengan rayuan agar manusia menjadi malas terutama malas belajar agar manusia senantiasa ‘bodoh’ dan menjadi seperti iblis. Mungkin ajakan iblis untuk malas menulis agar manusia menjadi bodoh adalah salah satu jurus pamungkas iblis dalam menyesatkan manusia… huehehehe….
***He he … bisa jadi artikel tersendiri lho. Makasih komennya yang (lebih) mencerahkan
By esa on May 5, 2008 | Reply
hmm..iya bener Pak. Iblis ya? Pikiran sempit dan malas itu juga kan kerjaan nya si iblis ya? Tapi ya memang iblis jangan disalahin mulu, karena dia cm ngegoda, kitanya aja sering kegoda. Btw Pak, Bapak bener, iblis itu ga harus jelas wujudnya kan. Klo kita ga mau mulai nulis, artinya ilmu-ilmu menulis yang kita dapetin ga manfaat dong, lah klo gituh, kita menyia-nyiakan ilmu dong, wah..wah..bahaya tuh.