Menulis Aja Lagi
30 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
BAGAIMANA cara menulis yang baik Pak, tanya seseorang yang sangat berkehendak. Tulis, tulis, dan tulis, jawab saya. Menulisnya itu yang susah Pak. Ah, ngaklah. Kalau sudah dilakukan, sulitnya hilang, yang kita miliki mudahnya, kata saya setengah menggoda. Buktinya, saya biasa-biasa saja tu. Bapak kan sudah pengalaman, kalau saya kan baru mulai. Kalau ada ide langsung ditulis, tetapi satu dau alinea, mandeg. Jadi, susah banget tu.
Perhatikan petikan dialog sederhana dan agak konyol tersebut. Seseorang, sebut saja Bandelwati, berkeinginan menulis, dan sharing. Saya motivasi, tetapi dia bertahan dengan apa yang dia pikirkan. Lebih celaka, bandel ditanamkan pada mindset, menulis itu susah. Gilanya, pikirannya ditutupnya, dan tidak positifnya membandingkan ‘kemampuannya’ dengan saya sembari mendebat, Bapak sudah pengalaman, saya baru memulai. Apa tidak konyol?
Pertama, pikirannya sudah tertutup, dan itu berakibat tidak mau menerima masukan. Logika jadi tumpul, dan tanpa sadar dia memelihara pertentangan dalam dirinya. Berkeinginan menulis, tetapi memagar dirinya, bahwa menulis susah.
Karena cara berpikirnya tidak baik, saya yang disoal, Bapak kan sudah pengalaman? Ya. Coba pikir, pengalaman kan diperoleh dari melakukan. Dia tentu ingin berpengalaman, banyak menulis, banyak tulisannya, tapi memulai saja beralasan. Ketika memulai, siapa sih yang berpengalaman atau piawai menulis?
Kalau berpikirnya sehat, pasti menulis yang dilakukan bukan berdebat bahwa dia susah menulis. Tulis, tulis, dan terus menulis akan berbuah pengalaman. Dari latihan sedemikian akan didapat kiat-kiat menulis mempribadi. Mau belajar atau mendebat? Mau menjadi ahli teori atau menulis?
Kalau ingin menulis, tulis saja. Andre Hirata, mengatakan, saya tidak menyangka Laskar Pelangi menjadi begitu sekses. Saya bukan lulusan pendidikan sastra, bukan sarjana sastra atau ahli teori, menulis apa yang hendak ditulis. Kira-kira begitu paparannya ketika berbincang khusus di Metro TV dengan Dik Doank.
Ya, kalau belajar teori sastra, teori menulis sampai doktor atau sampai mati sekalian, tetapi tidak menulis, tidak akan pernah menjadi penulis. Bagaimana mungkin orang yang tidak menulis menjadi penulis.
Kedua, kalau sharing, kenapa menutup pikiran dari masukan. Sudah pasti, dengan belajar menulis ala sekolah tidak menjadikan kreatif menulis. Belajar teori menulis, berguru kepada banyak orang, atau meminta nasehat, tidak menjadikan produktif. Boro-boro produktif, menulis satu dua aline saja sudah letoy. Kenapa tidak memakai cara baru, berinovasi. Apa itu?
Tulis, tulis, dan tulis apa yang hendak ditulis. Pasti jadi tulisan. Setelah itu baca, analisis, sigi kekuatan dan kelemahan, lalu tulis lagi lebih baik. Apabila proses sedemikian bergulir, muaranya pastilah piawai menulis. Dari proses, dari pengalaman itu membangun kemampuan menulis dengan menulis. Sejarah membuktikan, belajar teori saja tidak cukup. Lebih elok paham teori dan pandai menulis. Bukan pandai berteori dungu menulis. Paling bagus, pintar menulis, jago teori.
Ketiga, hindari membuat ‘pertempuran’ di diri, pada mindset. Apabila berkeinginan menulis, pupuk dan kembangkan keinginan tersebut, sirami dengan menulis, lengkapi dengan amunisi membaca. Jangan digandengkan dengan persepsi, menulis itu susah dan menyuahkan.
Dengan kata lain, kalaupun pada awalnya susah, lewati kesusahan tersebut, lawan diri, pelajari kiat-kiatnya dengan melakukan, menulis. Kemampuan mengatasai kesulitan adalah tiket menulis sesunguhnya.
Jadi, jangan ditumbuhsuburkan pertentangan dalam diri. Atasi dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Sebab, dengan demikianlah kita mengetahui dan dapat mengatasi kesulitan, mengambil hikmah betapa mudah dan nyamannya menulis.
Sekali lagi, menulis adalah pebelajaran dengan menulis itu sendiri. Dengan menulis kita tidak saja belajar menulis itu sendiri, tetapi tentang apa yang akan ditulis, menelusuri berbagai bidang ilmu, pengetahuan, dan atau hal-hal di sekitar, apa yang dipikirkan dan terpikirkan. Menulis adalah pembelajaran diri.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 30 April 2008.













14 Responses to “Menulis Aja Lagi”
By hanggadamai on Apr 30, 2008 | Reply
wah makasih banyak pak atas ilmunya
By Sandy Guswan on Apr 30, 2008 | Reply
Bagaimana kita menyikapi kritikan ahli bahasa tentang tulisan kita?
By noorlatifah on Apr 30, 2008 | Reply
Pak saya ingi nulis tak peduli kalimat dan isinya bagus atau gak yang penting tulis teruuuuuuusss!!! Tapi kasih komennya ya biar tetap semangat.
***Tulisiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
By fafau30 on Apr 30, 2008 | Reply
saya dukung 100% teori Bapak, karena saya sekarang berkat apa yang Bapak ajarkan ibarat anak-anak yang belum bisa berjalan sekarang sudah mulai berjalan meskipun tertatih-tatih, tapi saya yakin saya akan mampu berlari. Hidup optimisme ..
***Alhamdulllah …
By sawali tuhusetya on May 1, 2008 | Reply
yups, terus bakar semangat teman2 yang sudah jatuh cinta sama dunia menulis itu, pak ersis, hehehehe
biar bersama-sama mampu menyalurkan pemikiran2 liar, kreatif, dan kritis! semangath!
***Amin-amin. Semangat.
By Badiyo on May 1, 2008 | Reply
Mari kita belajar menulis dengan menulis!
By Zul ... on May 1, 2008 | Reply
Bang Ersis ini bagai tak kehabisan bahan bakar. Tulisannya selalu membakar!
Ayo, pembaca, apa lagi?
Nulis, nulis …
Tabik!
By Suci on May 1, 2008 | Reply
Sampai hari ini pun saya masih sulit mengalahkan diri sendiri dalam mmenulis…Tapi, sampai hari ini pun saya selalu berusaha melawannya dengan jurus sakti…tulis,tulis,tulis…
By Siska erina n on May 1, 2008 | Reply
KETAHANAN NASIONAL
Ketahanan nasional merupakan kondisi dinamik suatu bangsa meliputi seluruh aspek kehidupan yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang datang baik ekstren dan intern.
dapat disimpulkan bahwa ketahanan nasional suatu bangsa akan selalu berubah dinamis sesuai dengan intensitas dan eksentitas yang dihadapi.
selain itu ketahanan nasional juga berhubungan dengan wawasan nusantaradan pembangunan nasional.
dikembangkan berdasarkan asas Achipelago dan Deklarasi Djuanda 1957,yang memandang Indonesia sebgai satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan hukum. yang mana ketahana nasional tersebut di bangun sebagai bagian yang menyeluruh dari pembangunan nasional dengan berpedoman pada wawasan nusantara dalam ranrka mencapai tujuan nasional.
a. ketahanan di bidang ideologi
b. ketahanan di bidang politik
c. ketahanan di bidang ekonomi
d. ketahanan di bidang sosial budaya
e. ketahanan di bidang hukum
By sluman slumun slamet on May 1, 2008 | Reply
yang penting mulai nulis kan pak…
***Yap, persis. Seperti yang Sampeyan lakukan. Saya suka ide-ide yang ditulis di blog Sampeyan. Menulis, menulis, dan terus menulis.
By Bibidapi on May 2, 2008 | Reply
yes, pengalaman berasal dari kemauan untuk menulis. kita semua sedang belajar menulis. yang udah pengalamanpun tetap masih belajar menulis
***Siiip, lakukan.
By Rahmadona Fitria on May 4, 2008 | Reply
Kalau kata para motivator kita adalah apa yang kita pikirkan. maksudnya kalau kita berpikir sesuatu itu sulit maka untuk melakukan juga jadi sulit, apa yang kita bayangkan jadi lebih sulit dari kenyataan yg sebenarnya. Tapi ketika kita berada pada posisi memulai dan lakukan saja maka kita akan mendapati bahwa kenyataan tidak sesulit yg kita bayangkan, bahkan kita akan mulai menikmatinya. satu lagi, pemenang adalah orang yg memberikan segalanya utk sukses,jasmani dan rohani.bagaimana, setuju ?
By esa on May 5, 2008 | Reply
bener Pak, klo mau nulis, tulis aja. Ketika blog sy sebagian besar diisi dengan tulisan tentang apa yang saya alami dalam keseharian, kini belajar mengaitkannya dengan ilmu atau apapun yang mungkin akan menjadi nilai lebih dari tulisan kita. Cari sumber-sumber yang mendukung tulisan kita jika itu ilmiah atau ya jenis yang memang butuh referensi.
Soal tata bahasa, sy punya pengalaman. Waktu SD, sy juara mengarang di acara Porseni. Sampai ke tingkat Jawa Barat, cm jd juara harapan. Gapapa. Tapi bukan itu yang sa maksud, saat itu saya sendiri bingung kenapa bisa menang. Dan tahu apa yang saya lakukan saat akhirnya dengan terpaksa ikut karena permintaan guru supaya ada perwakilan dari sekolah? Cuma menuliskan apa yang saya ingin tulis, yang penting sesuai instruksi sang juri dimana sa harus menganalisa gambar. Ga kepikiran sama sekali saat itu, gimana menulis yang baik dan bagus, gimana tata bahasanya, EYD aja perasaan waktu itu dengan bekal seadanya seorang murid kelas 5 SD. Tapi berhasil tembus ke tingkat Jawa Barat kan?
Bukan ga penting, tapi yang penting mulai dan jangan membatasi diri. Coba klo saat itu sy bilang ga bisa dan terus mundur, ga akan sa jadi juara mengarang, ya ngga?
By nindityo on May 5, 2008 | Reply
wah mas.. anda telak banget.. jujur dan langsung apa adanya..
tulisan yang bagus.. saya baru memahaminya.. terimakasih banget
***He he … kog akai telak-telakan, mari menulis, menulis, dan menulis.