Guru Curang, Guru Baik?
29 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TULISAN Guru Curang, Tangkap mendapat respon dari teman-teman. Ada yang berlogika, guru curang karena sayang pada murid-muridnya. Kasihan kalau siswa-siswa tidak lulus. Padahal, sudah capek-capek belajar selama tiga tahun. Gara-gara tidak lulus UN, masa depannya bisa hancur.
Selintas pintas, logika tersebut ‘menyentuh’. Tapi, tidak dalam tinjauan esensial. Kenapa? Pendidikan apa pun di dunia ini berdasarkan kurikulum, baik tertulis atau tidak tertulis. Kurikulum bermuatan tujuan, bahan, metode, dan evaluasi. Keempat komponen tersebut wajib ‘dipunyai’ guru. Kalau tidak, seseorang tidak layak menjadi guru.
Secara teoritis, apabila keempat koponen dipadu sedemikian rupa oleh guru, tujuan pendidikan pada jenjang tertentu akan tercapai menuju tujuan umum. Kalau ditinjau dari sisi peserta didik, mampu menguasai materi atau bahan ajar. Murid berhasil namanya.
Pada praktiknya, di ujung program dilakukan ujian sebagai bagian evaluasi. Lulus atau tidak dari ujian, penanda capaian siswa. Tidak ada kamusnya, semua yang dipelajari diuji. Dalam bahasa penelitian, kira-kira dinamakan sampel. Artinya, soal ujian disaring dari esensi materi.
Soal-soal ujian, bagi pembuat soal, jelaslah sudah, diambil dari muatan kurikulum. Misalnya, kalau materinya ‘Praktik Curang’ lalu pembuat soal berpijak pada ranah “Ikhlas’, pasti tidak cocok. Pembuat soalnya barangkali lagi mabuk. Harus ada keseuaian antara yang diajarkan dengan yang diujikan. Itu prinsip evaluasi.
Kalau guru tidak memberikan materi sebagaimana tuntunan kurikulum, bisa jadi gurunya mabuk. Kalau peserta didik tidak mampu memahami apa yang diajarkan, bukan serta merta bodoh. Murid belajar untuk pintar, guru mengajar agar murid pintar. Kalau tugas dan kewajiban tidak tertunai, ada kemungkinan guru tidak kompeten.
Kalau murid tidak memahami, jangan-jangan ada something wrong. Kalau tiap tahun kondisi berulang, bisa-bisa sistemnya cacat bawaan. Contoh, setiap akan UN, siwa sibuk berlatih di bimbingan belajar mengutak-atik, atau menyiasati menjawab soal. Ada yang diundang ke sekolah. Berati, guru teledor memenuhi ‘kebutuhan’ siswa. Masyak sih yang salah siswanya.
Coba, kalau untuk membayar iuran Komite Sekolah Rp.30 ribu per bulan, banyak lagunya. Kalau membayar bimbingan belajar jutaan rupiah, mudah saja. Tanpa mengeluh atau berdalih ini-itu. Guru harusnya cerdas melihat fenomena tersebut. Ini soal ketidakpercayaan.
Mana pula, keluar dari alur pendidikan. Keberhasilan pendidikan bukan terletak pada kemampuan menyiasati, tetapi bagaimana menjawab soal berdasarkan pemahaman. Kalau menjawab soal tidak mampu, apakah bukan karena tidak memahami materi? Dengan memahami materi, sejatinya mampu menyelesaikan soal, betapa pun sukarnya. Kalau tidak, apakah kesalahan Kepala Dinas Pendidikan atau Mendiknas? Yang pasti, itu wilayah pengajaran di sekolah.
Kalau siswa tidak mampu menjawab soal (UN) bisa jadi indikator kegagalan, minlal dalam menjawab soal. Mana tahu akibat kesalahan pengajaran, lalu beralasan kasihan dan dengan riang gembira membetulkan jawaban peserta ujian. Tidak ada wilayah ‘baik’ pada hal sedemikian. Curang is curang. Lagi pula, janganpjangan yang paling takut sebenarnya guru? Sebab, ketahuan tugasnya mengajar kurang beres. Lalu, curang dihalalkan.
Memang dalam suatu program pendidikan, guru tidak dapat disalahkan begitu saja. Banyak faktor penyebab, semisal fasilitas, sarana dan prasarana, sampai kesejahteraan guru, dan bisa berpanjang-panjang kalau ditulis. Semua kita sudah tahu itu. Hal yang sangat mengklasik di Indonesia.
Celakanya, ‘penyakit’ dibalik kegagalan, dengan berbagai sebab dan alasan, justru ditutup-tutupi dengan curang. Kalau yang lulus 10 orang dari 100 peserta, kan bisa dicari penyebabnya. Dengan mengupgrade kelulusan 100% bagaimana akan tahu letak salahnya. Jadilah, bukan lingkaran setan. Tapi … linkarannya dibuat, dan setannya diundang.
Mata tahu, bukan karena kasihan pada murid, orang tua, atau pemerintah, tetapi pada diri sendiri (guru). Tidak piawai menunaikan tugas. Lalu, seolah-olah kasihan kepada siswa. Itu curang juga lho.
Konon, hanya perilaku oknum. Kalau semua guru berlaku demikian, wajar pendidikan kita rusak. Pendidikan kita tidak rusak bukan? Setidaknya, masih ada wilayah yang memberi harap.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 29 April 2008.









15 Responses to “Guru Curang, Guru Baik?”
By Zul ... on Apr 29, 2008 | Reply
Tambah lagi satu tulisan, Bang!
“Ketika Guru dalam ‘tekanan’ Kepala Sekolah”
Aga berimbang antara kepentingan guru dan kepentingan sekolah (kepala sekolah).
Tabik!
By taufik on Apr 29, 2008 | Reply
kita sebagai guru, memang serba dilematis pak! tapi inilah realitas yang seolah menjadi “penyakit tahunan” dunia pendidikan kita, dari strata paling bawah sampai ke tingkat paling atas. saya kadang marista, masih adakah kejujuran di dunia yang seharusnya mengajarkan “teladan kearifan”…??? namun, saya tetap optimis, selama masih banyak guru2 idealis, dunia pendidikan kita tak kan “tenggelam”. Eureka!
***Setujuuuuuuuuuuu.
By isnuansa on Apr 29, 2008 | Reply
guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
–> jika korupsi tak kunjung mampu dibasmi, siapa “gurunya” selama ini?
***Gurunya koruptor dong. Guru besarnya, kalau mau mencari hitamkambing, Iblis he he. Pasti gurunya diri koruptor itu sendiri.
By najwa on Apr 29, 2008 | Reply
hmmm…ck..ck..ck…!!!! jangan coba-coba jadi guru ya???
***hm … saya dah jadi guru. Asyik kog.
By hanggadamai on Apr 30, 2008 | Reply
wah pasti kacau pendidikan di indonesia kalau semua guru curang
***Kacau, kacau, kacau … tinggal bagaimana mengatasinya. Penyakit bangsa ini kan ngak mau mengakui kelemahan, jadi susah diperbaiki. Maunya instan bukan berprestasi dengan mapan.
By Bambosi on Apr 30, 2008 | Reply
Kalo curang, ditangkep, kalo gak curang siswanya banyak yg gak lulus…
***Pilih mana ya?
By anne on Apr 30, 2008 | Reply
Saya sebagai salah satu peserta UAN, kecewa sekali dengan berita tersebut. Apakah orang-orang yang setiap hari mengatakan pada kami, ‘percaya diri..’ pada akhirnya justru orang-orang yang tidak mampu mempercayai kami? kalo kami saja sudah tidak mendapat kepercayaan dari guru, bagaimana dari diri kami sendiri.
takutkah guru bercermin atas apa yang mereka usahakan sendiri? Mungkin kami mendapat nilai 3 atau 4 pada UAN, tapi bukankah itu hak kami. Atas dasar apa guru bisa seenaknya merampas hak tersebut, dengan seenaknya menghapus jawaban kami dan menggantinya dengan yang baru. seandainya kami dapat 3 dan tidak lulus, kami berhak atas nilai 3 tersebut. kami berusaha keras untuk itu. dan seandainya kami dapat nilai 3, mungkin juga guru memang berhak mendapatkan itu.
By fafau30 on Apr 30, 2008 | Reply
Pa saya kira nasib guru sekarang sebelah kakinya ke surga dan sebelahnya lagi penjara. Gimana Pa..
***Ngak, itu pikiran saja. Guru sekarang adalah guru bebas, hanya dibelenggu pikira sendiri
By noorlatifah on Apr 30, 2008 | Reply
Yang mampu membasmi kecurangan ataupun korupsi itu hanya pribadi masing-masing orang lain tidak bisa. Bila semua orang mau menghindari kecurangan atau korupsi maka lenyaplah kecurang dan korupsi dari muka bumi ini. Lihat aja makin ditegaskan hukum tentang korupsi, ternyata makin merambah yang namanya korup tadi di mana-mana (bukannya takut tapi tambah banyak tuch yang ketangkap kelas kakap lagi). Jadi yang pembasmi yang mujarab adalah ada dalam diri kita sendiri. Jangan lakukan, hindari, itu yang paling tepat.
***Kalau diuraikan lebih panjang, jadi tulisan menarik am.
By budimeeong on May 1, 2008 | Reply
mun kada kaya itu, banyak nang kada lulus pa’ae,,
bisa-bisa disariki kepala dinas wan mentri mun siswanya banyak kada lulus..
***Jangan hakun … kog patuhnya pada perintah salah … ya salah dunk. kada lulus, tapi lulus ujian hati, ujian jujur, ujian Allah SWT. Ngapain takut disariki Kadidan atau Menteri … he he
By Suci on May 1, 2008 | Reply
Sampai hari ini pun saya tak masih tak bisa “melihat” pendapat yang bilang UAN untuk menggenjot prestasi belajar. UAN yang hanya beberapa hari menentukan kepintaran seseorang? UAan dimana berminggu-minggu sebelumnya siswa belajar mati-matian lalu untuk dilupakan?
Kemarin sempat mendengar berita tentang siswa di Papua juga merasakan pemberlakuan UAN dengan stndarisasi nasional. Padahal jelas-jelas tingkat standar pendidikan di sana sangat jauh berbeda dengan daerah berkembang lainnya.
Lalu untuk apa UAN? Untuk mendaptkan hasil walaupun tanpa melihat porsesnya. Bukankah kecurangan berkembang biak dari peluang ini.
Jadi, Bukankah terlalu terburu-buru menetapkan standar UAN setinggi langit sedang kualitas guru masih belum maksimal, sarana di bawah standar dan kurikulum yang belum menjamin pengajaran? Biarkan lingkaran setan pendidikan yang menjawabnya. Biarkan benang kusut pendidikan nasional yang menjadi jawabannya.
By Syamsu on May 1, 2008 | Reply
Berbicara tentang pendidikan, khususnya mengenai UAN memang sangat pelik. Tentu akan melibatkan banyak faktor didalamnya. Maulai dari kualitas guru, Sarana dan fasilitas, sdan banyak faktor lainnya.
Nurani guru boleh dibilang menjadi teruji. di sisi lain ingin mempertahankan kejujuran tapi di sisi lain tak bisa melawan “sistem”. Inilah potret menyedihkan pendidikan kita saat ini.
By auliahazza on May 2, 2008 | Reply
Pernah ada beberapa guru cerita kepada saya, bahwa mereka stress sama kurikulum yang diajukan oleh Diknas. Banyak sekali materi yang harus disampaikan dengan keterbatasan waktu, sarana dan prasarana. Kalau keterbatasan waktu bisa diakali dengan penambahan pr dan les tapi itu kan ga cukup. Murid-murid pun sering komplain karena terlalu banyak PR yang diberikan.
Kalau saya malah bagus lho kalau kebanyakan PR agar anak-anak ga menghabiskan waktunya dengan permainan ga mutu.
By esa on May 5, 2008 | Reply
di SMA sy dulu, ada guru yang ngasih tugas banyak banget, sampe2 terkenal hukumannya klo ga ngerjain tugas, tapi justru jadi favorit? Kenapa? Karena kami sebagai murid bisa jadi have fun dengan tugas krn sebelumnya diberi pemahaman dulu, jd itu jadi latihan atau sebagai bekal pembelajaran berikutnya. Jangan salah, beliau ini guru matematika, ada lagi guru Kimia, gituh juga. Tapi kami enjoy aja tuh. Dan syukurlah, guru-guru ketika kami akan UAN justru menyemangati dan ga sama sekali ngasih jawaban, yang ada ketika ujian selesai, soal ujian kan dibawa pulang dan pasti penuh coretan *terutama matematika dan eksak lainnya, sy jurusan IPA*. Kami bahas bareng guru kami dan mencocokkan jawaban. Jadi mencocokkan jawaban boleh kan Pak? Malah dalam pembahasan itu kami saling “berdebat” tentang argumen masing2 kenapa bisa jawabannya beda, sampai kami da[et jawabannya, barulah puas.
Tapi memang dilematis, di satu sisi ingin pendidikan maju, di sisi lain pengen nama baik sekolah terjaga, tapi di sisi lain lagi, ada juga guru yang memang nyantei banget, sampe murid sendiri bisa bilang, “Teu niat sigana ngajar teh *kayanya ga niat ngajar*”
UAN memang kadang ga adil, tapi kadang kita juga ga adil dan kita kadang terjebak sistem. Complicated asli klo ngomongin pendidikan di Indonesia
***Ya intinya, guru. Sistem itu tak ada apa-apa, kalau guru bermental baik dan kuat.
By esa on May 5, 2008 | Reply
yang bikin bingung, malah sekelas waktu itu semua mengernyitkan dahi. Bayangkan, kita yang lagi asyik sama soal, tiba2 ada selebaran beredar, dan tahu, saya mendapat selebaran itu ketika sang penjaga UAN berada di samping saya. Tahu dong sebagai siswa perasaannya gimana. Siswa yang ketahuan mencontek dan memberi contekan dinyatakan mendapat nilai 0 kan? Wah, asli deg-degan, ga mau ga lulus gara-gara ini, ini fitnah namanya.
Tapi apa yang dikatakan sang penjaga? “Sebarin ke temennya”. Nah loh..kok gituh?
Jadi yuk, sekarang mulai didik mental kita.
***Asyik … mengalami sendiri. Nah, kalau begitu, bagaimana kita berharap kejujuran di negeri ini ditanamkan sejak semasa didik?