Guru Curang, Tangkap
28 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Ada yang teraduk-aduk di ulu rasa ketika media cetak dan elekrornik melaporkan, Pasukan Densos 88 Polda Medan menggerebek dan dan menangkap guru-guru SMA negeri 2 Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Pasukan anti teror tersebut beraksi sangat cepat dan sukses. Harap maklum, yang ditangkap guru.
Kesalahan guru-guru tersebut memang fatal. Membetulkan jawaban peserta UN. Bukan saja culas dan tidak mendidik, bahkan oleh pihak keamanan dikategorikan membocorkan rahasia negara. Gayung bersambut, Mendiknas Bambang Sudibyo, dengan gagah berani meminta agar guru-guru curang —siapa pun mereka— diproses secara pidana.
Tidak sampai disitu. Mendiknas, menyurati Kepala Polri agar memidanakan oknum guru dan Kepala Sekolah. Tidak lupa menembuskannya kepada Presiden, Wakil Presiden dan Mendagri. Sungguh sangat serius.
Ada beberpa hal yang dapat diciduk hikmahnya. Pertama, pada dataran ‘rumor’ pelaksanaan UN berbalut kecurangan. Konon, bukan saja oleh suatu sekolah, malahan oleh sekolah-sekolah se daerah, ada yang membentuk Tim Sukses. Kini, ada bukti.
Tim sukses, berbekal ragam modus operandi, ‘berjuang’ agar peserta UN sukses habis. Konon, gengsi sekolah, Disdik, dan pemerintah Kota atau Kabupaten akan naik. Kalau UN saja dicurangi, bagaimana yang lain? Wajar, korupsi menjadi begitu tangguh di republik tercinta ini. Sejak menjadi siswa diajarkan curang canggih. Bagaimana ketika ‘menjadi orang’? Jangan-jangan asal mendapatkan kesempatan, hal lain tidak perlu dihiraukan. Guru telah memberi contoh konkret.
Sungguh pendidikan curang dan korupsi yang sempurna. Moga-mogaan, para guru dan birokrat yang membaca tulisan ini tidak ada yang terlibat. Kalaupun ada, mari bertobat. Jangan lagi melakukan hal buruk tersebut. Dosanya berantai dan berkepanjangan.
Kedua, sudah saatnya para guru ‘bersuara’. UN itu untuk apa dan siapa? Kita memang berkewajiban mendukung program pemerintah, tetapi juga harus realistik. Artinya, sudah saatnya guru-guru bernegosiasi, OK UN dijalankan. Kalau perlu dengan standar kelulusan pada grade angka sembilan (9). Tetapi, bagaimana dengan sarana dan prasarana, fasilitas peningkatan kompetensi, kesejahteraan guru, dan hal terkaitnya?
Pemerintah kalau bicara soal kewajiban selalu berkilah. Konstitusi meamarkan anggaran pendidikan di APBN dan APBD sebesar 20% ‘disiasati’ dengan beragam alasan. Kalau ‘menolong’ konglomerat, dan kemudian dicurangi pula, di-OK saja. Konon, jumlahnya Rp.600 triliyun. Sampai kini belum tuntas.
Konon, komponen gaji (PNS) dimasukkan ke dalam anggaran pendidikan. Semakin jauh panggang dari api. Apalagi, tekanan-tekakan langsung atau tidak yang dibebankan kepada guru dari berbagai pihak. Guru seolah menjadi tumpuan kesalahan. Lebih hebat, guru-guru ho oh saja. Harap maklum, cukup dininabobokkan, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Ketiga, khususnya kepada jajaran Depdiknas, termasuk LPTK, saatnya mendukung gebrakan aparat tersebut. Sekalipun bisa dikatakan berlebihan, sangat bijak dijadikan masukan berharga. Ada apa sebenarnya dengan pendidikan kita?
Dalam sejarah republik ini, pasa saat ini puncak SDM pendidikan —kalau dilihat dari kualifikasi pendidikan— booming. Ratusan ribu sarjana, puluhan ribu magister dan doktor, bahkan profesor, kog kualitas pendidikan dikeluhkan? Kalaulah belum berani menuntut birokrat pendidikan, dari Mendiknas, Kadisdik, pejabat operasional pendidikan, belum saatnya kah dipercayakan kepada yang berakar ilmu pendidikan?
Ada hadis Nabi Muhammad SAW: Apabila pekerjaan diserahkan kepada bukan ahlinya, tunggulah kehancuran. Apa sudah separah itu? Wallahualam bissawab.
Kepada seorang mantan mahasiswa saya katakan, kalau diikutkan tim pensuksesan UN, jangan mau berbuat curang. Kalau dilakukan itu menghina diri sendiri, memalsukan tiga tahun tugas mendidik, menitipkan benih-benih korupsi dan keculasan, dan bla-bla. Alhamdulillah, dia lebih memilih dibilang ‘sok idealis’ dari pada terbawa arus. Kita jangan terlalu berharap, tetapi mulailah menata dari hal sederhana.
Suatu kali, kepada seorang teman yang pejabat saya ktakan begini: ”Bos, pian kada usah ikut-ikut sidak ke ruang ujian”. “Oh ya, memang kenapa”, tanyanya. Menurut saya, idealnya, ring satu kilometer dari area ujian harus steril dari manusia apa pun. Kecuali petugas.
Bayangkan, kalau Sampeyan ujian. Ada pejabat, ada ajudan, ada polisi, ada rombongan, apa tidak menganggu konsentrasi? Saya heran saja melihat orang-orang penting petantang-petenteng di ruang ujian. Jangan-jangan memang karena tidak paham esensi penddidikan, apalagi ujian.
Dalam pada itu, kepada guru-guru, penangkapan rekan-rekan di Sumatera Utara —mungkin akan bergulir ke tempat lain— pahami sebagai bukan kiamat bagi guru-guru. Peringatan logis saja. Ambil hikmahnya. Tatap kewajiban profesional, apakah selama ini sudah dijalankan sebagimana mestinya?
Republik ini memang aneh. Seluruh orang pintar, dari penguasa sampai pengusaha, dari anggota Dewan sampai Ketua Mahkamah Agung, dari berandalan sampai bajingan, apalagi koruptor, menjadi pintar, tentu tidak terlepas dari jasa guru. Aneh ya, kog ketika memperjuangkan nasib, kesejahteraan guru, apalagi fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan, kog begitu alot. Jangan-jangan memang salah guru mendidik.
Entahlah. Saya tidak tahu persis. Dalam pikiran mengamati fenomena kecurangan dan kemauan aparat menegakkan kebenaran, melihat titik renung: Kita pantas tafakur, mencari hikmahnya. Tidak saatnya saling salah-menyalahkan. Saatnya berpikir lebih radiks.
Karena itu, kalau ada yang kurang berkenan, mohon maaf. Saya tak hendak menyinggung siapa pun. Tapi, memang gundah dengan kondisi obyektif. Walaupun, konon dilakukan oleh oknum. Oknum guru.
Bagimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 28 April 2008










14 Responses to “Guru Curang, Tangkap”
By sawali tuhusetya on Apr 28, 2008 | Reply
sungguh, ekjaidan itu benar2 telah mencoreng wajah korps guru di negeri ini. agaknya memang mereka layak untuk dikutuk 7 turunan. apa pun motifnya, memanipulasi jawaban dan nilai ujian justru akan menjerumuskan anak2 masa depan negeri ke dalam situasi yang sangat tdk menguntungkan. semoga ini menjadi kasus yang terakhir dan harus jelas sanksi hukumnya. btw, nama mendiknas sekarang memang sudah bukan Bambang Sudibya, yak pak, tapi dah diganti Bambang Subiyakto? kok tidak dengar ada pergantian menteri. biasanya kalau ada pergantian pejabat penting kan mesti pakai upacara. hikks.
***Ya Pak, kasihan memang. Mudah-mudahan. Tapi, kalau ada guru punya mau ini awal saja gimana, he he. Waduh gimana ya kalau diganti? Biar Pak Bambang Sudibyo ngurus ekonomi negara sesuai keahliannya. Apa mampu kali ya?
By Totok Sugianto on Apr 28, 2008 | Reply
waduh pak.. saya miris mendengar berita ini. dari masa sekolah saja sudah mulai diajarkan nilai2 kecurangan gimana nanti kalau jadi pejabat
Oh ya pak, apa Pak Bambang Sudibyo sudah diganti gara2 kecurangan yg terjadi dijajarannya? Atau mungkin salah ketik saja jadi Bambang Subiyakto
*** Ya ya, lalu apa yang bisa kita lakukan memperbaikinya?
By danalingga on Apr 28, 2008 | Reply
Kalo saya baca artikel ini kok ada lingkaran setan ya pak?
Mungkin masalah ini memang disebabkan oleh banyak sebab. Namun terutama adalah karena moral yang bobrok. Sebab semiskin apapun, atau setakut apapun jika siswanya tidak lulus tidak akan membuat kecurangan jika moralnya bagus.
***Ya, lingkaran yang dibuat, lalu setannya diundang, jadilah lingkaran setan.
By Badiyo on Apr 28, 2008 | Reply
Sangat menyesakkan memang tetapi tidak terlalu mengherankan. Bisa jadi, hal seperti itu sudah terjadi setiap tahun dan telah berlangsung lama. Kalau demikian adanya, pantas saja korupsi di negeri ini tiada habisnya.
Dulu, ketika saya di SD dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada sebuah peribahasa yang berbunyi, “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”.
Apakah guru-guru sekarang tidak mengenal lagi peribahasa itu?
**Entahlah. Begitulah kenyataannya …
By Noer Komari on Apr 28, 2008 | Reply
Ada kondisi yang memeriskan kita dan mengkerurkan kening kita melihat dan mendengar kejadian tersebut. Tapi itulah sesungguhnya potret dunia pendidikan kita. Dan itu sudah terjadi berpuluh puluh kali, hanya sekarang saja yang ketahuan dan masuk berita. menurut saya ada beberapa penyebab mengapa hal itu terjadi: 1) Ada tekanan psikologis yang besar mengahadapi UN, bagi para siswa,orang tua, guru maupun sekolah. Tekanan ini terjadi terus menerus sejak 2 atau tiga tahun terakhir, Tekanan inilah yang membuat semua orang berbuat nekad dan “ndak tahu aturan”. Inipun bisa terjadi pada diri kita.
2)Jauhnya masyarakat kita dari keterikatan dengan agama. Acuan dan panutan hidup hanya dilihat dari aspek keberhasilan materi duniawi, bukan pada nilai dan ukhrowi. Nilai nilai inilah yang sudah mulai hilang di tengah masayarakat kita.
3)mental dan perilaku dunia pendidikan kita memang harus diperbaiki dalam segala hal.
Lalu bagaimana caranya:????? (ini PR Kita semua)
By Zul ... on Apr 28, 2008 | Reply
Aku sudah tak punya air mata untuk tragedi ini!
***Ya ya ya … lal mau apa lagi, duh mikirannya aja pusing, apalagi mengeluarkan air mata.
By budimeeong on Apr 28, 2008 | Reply
supan pa’ae nah…
plg ulun guru jua,,
kerana hama seikung, gatal sa’awak’an pa ewa’ae..
***Jadilah guru yang baik … membantu, kasihan, atau demi gengsi, itu alasan saja. Kalau mau berbuat baik, curang bukanlah jalan Islami.
By armand on Apr 28, 2008 | Reply
Waduh….kasiannya guru yang ditangkap.Nang menangkap buan Pasukan Anti Teror ha pulang.Iya..telisik dong faktanya.Guru yang bersangkutan, disuruh atau memang kehendak sendiri atau malah memang bandar sendiri.Azas Praduga tak bersalah pake dong…Guru kan juga manusia.Jangan maen oknum aja.maaf lho yaa…bukan membela guru.objektif aja menelisik masalah/berita.
By meiy on Apr 28, 2008 | Reply
sepertinya hanya ini yg ketahuan, (yg lain mungkin menyusul) kenyataannya dunia pendidikan kita memang bikin miris…:(
***Ya, kata orang, pendidikan juga cerminan masyarakat …
By kangguru on Apr 28, 2008 | Reply
benang basah itu makin kusut, bagaimana kita akan mendirikannya, ach entahlah, yang curang tetap curang yan jujur tetap jujur, jawaban tetap berseliweran sebelum waktunya….
***Yang jujur yang didukung, yang curang didukung untuk meninggalkan he he (gampang ditulis susah dilakukan, ya ngak Pak?)
By Sandy Guswan on Apr 29, 2008 | Reply
Saya sebagai seorang guru merasa malu sekali. Saya sangat setuju apabila oknum yang katanya ‘pendidik’ tersebut ditindak sesuai dengan perbuatannya. Meskipun demikian kita juga harus melihat latar belakang mengapa mereka melakukannya. Pemerintah harus berkaca dari peristiwa ini. Tidak bisa hanya menang sendiri. Dunia pendidikan merupakan tanggung jawab kita semua. Jadi tidak ada yang harus dikalahkan. Istilahnya win-win. Dunia pendidikan maju guru pun tidak perlu curang lagi.
***Ya ya, mari kita usahakan berbuar wajar di lingkungan masing-masing. Amin.
By Deni Triwarana on Apr 30, 2008 | Reply
Itu baru satu modus lho ! Guru sedang membetulkan LJK murid-muridnya masih banyak modus-modus kecurangan yang lain lho !
***Apa tu, tulis dong biar yang lain pada tahu.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Apr 30, 2008 | Reply
Saya salut sama pian pak, dan saya sudah liat tulisan pian dimuat diRADAR BANJARMASIN. Semoga banyak yang tergugah untuk mau memperbaiki.
***He he, jangan salut ah, jadi malu. Sampeyan bisa lebih bagus, buktinya tulisan Sampeyan … kalau seumur saya, malahan bisa jadi big suhu he he
By fafau30 on Apr 30, 2008 | Reply
Pa besok Hari Pendidikan Nasional kita mesti merenung ada apa dengan pendidikan kita, jangan hanya guru yang jadi kambing hitam/jadi korban.
***Siiiiiiiip, tulis …………..