Direspon Ary Ginanjar dan Legisan Sugimin
27 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MANFAAT. Seselesai mengikuti ESQ Training Angkatan 23 di LCC Jakarta, 23-26 Desember 2005, saya menulis kesan-kesan dalam aplikasi renungan pada harian Radar Banjarmasin dan Bandjarbaroe Post. Ditambah pengalaman dengan teman-teman ‘membumikan’ ESQ Training di Kalimantan Selatan, jadilah buku Nyaman Memahami ESQ. Sukses finansial dan ‘keterkenalan’ di jagat kepenulisan nasional, ditunajng buku tersebut.
Seperti biasa, ada saja yang tidak suka. Ada yang mencemooh, termasuk soal sponsor di kulit belakang buku. Bagi saya, sebagai wujud terima kasih. Mereka tidak meminta agar dimuat. Bagaimana tidak berterima kasih, masing-masing berkonribusi Rp.10 juta.
Setelah buku terbit, sekadar contoh, Ary Ginanjar Agustian ‘suhu’ ESQ, meapresiasi sembari menyalami dan berujar di depan banyak orang: “Nih, Pak Ersis. Penulis kita”. Orang sekaliber Ary merespon demikian menyanjung. Dalam banyak pertemuan Pak Ary tahunya Ersis Si Penulis.
Ada yang lebih ‘keren’. Legisan Sugimin, trainer ESQ yang mula-mula ke Kalimantan Selatan. Trainer yang satu ini pada kadar tertentu sudah dianggap bak “Malaikat” (dalam tanda kutip lho; sekadar pengambaran betapa dia disanjung). Katanya: “Selamat Pak Ersis. Pak Ersis bertawaf, berjihat menulis. Teruskan perjuangan demi umat”. Wah, saya ngeri dengan kalimat teaakhir. Sebab, menulis hanya sekadar menulis.
Sengaja hal tersebut ditulis sebagai bandingan. Kalau kita menulis, ada yang OK punya, ada pula yang mencari-cari jeleknya.Kalau ada yang mengatakan jelek, jadikan masukan untuk lebih baik. Apresiasi sebagai pemotivasi. Begitu cara merespon, respon balikan. Jangan sampai, makian mematikan nafsu menulis, sanjungan membuat ‘lupa daratan’.
Pesan ini khusus disampaikan kepada penulis pemula. Bahwa kita berkehendak apa yang kita perbuat, kita lakukan, apalagi karya tulis direspon positif, ya wajar. Kepala punya semua orang, rambut tak sama putihnya kan? Ada ruang untuk beda persepsi, sudut pandang, dan bla-bla.
Begitulah. Sampai sekarang dengan Legisan Sugimin, masih SMS-SMS. Saya kepincut anak muda yang ‘guru saya’. Betapa tidak. Trainer yang satu ini bicara begitu nyaman, untaian kata-katanya merenggut kalbu. “Pak, Sampeyan melafazkan ayat-ayat Al-Quran seperti juara MTQ saja”, kata saya setengah menggoda. Rupanya, Legisan memang pernah juara MTQ, he he.
Kalau sharing dengan mahasiswa, saya katakan, kita perlu menyimak pujian dan makian, agar diambil manfaatnya. Hal paling susah memenej diri, mengendalikan perasaan. Biarkan hujatan berlalu. Kalau mau kuliah, titipkan di penjaga parkir, jangan pernah diambil. Begitu juga kalau tidak suka dengan dosen, ambil baiknya, lupakan kesan jelek.
Intinya, respon-respon tidak akan terhindarkan. Kalau tidak hendak direspon, ngapain menulis untuk umum. Tulis saja di buku harian. Jangankan direspon, bakalan tidak diketahui orang. Respon bagian risiko menulis. Setiap penulis harus paham.
Yang saya tekankan, respon-respon baik menjadi ‘target’ kita. Orang mau mengatakan narsis, silahkan saja. Siapa pun yang menulis di wilayah publik, pastilah maunya dibaca orang. Respon hal logis penyertanya. Dengan kata lain, jangan takut direspon.
Kalau menginginkan respon yang baik-baik saja, tentu tidak salah. Untuk mendapatkan hal sedemikian diperlukan kiat-kiat khusus. Maaf, saya belum punya resep. Baru pada tingkat menulis saja. Agak egois ditanamkan pada diri, biar saja situ selalu menilai jelek, paling-paling semakin ahli dalam menilai jelek. Allah akan menambah kemampuan makian, sementara tulisan dan buku saya bertambah banyak. Dan, belajar ke arah lebih baik dari proses tersebut.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 27 April 2008.










6 Responses to “Direspon Ary Ginanjar dan Legisan Sugimin”
By Deni Triwardana on Apr 27, 2008 | Reply
Pertamax…
Wah jadi pengen baca buku-bukunya Pak Ersis, mau tahu Bagaimana gaya menulisnya, maunya sih ketularan menulis juga nih.
By mathematicse on Apr 27, 2008 | Reply
Walaupun orang menghujat, tetapi, itukan berarti sang oenghujat membaca juga.
Artinya buku Pak Ersis tetap dibaca, baik oleh si penghujat atau pun yang tidak menghujat. BErhasil dunk, kena deh…. 

Btw, kok direspon orang-orang ‘terkenal’ saja yang dijadikan judul, sedangkan orang-orang biasa engga dijadikan judul Pak? He he he… becanda Pak…
By mathematicse on Apr 27, 2008 | Reply
Walaupun orang menghujat, tetapi, itukan berarti sang penghujat membaca juga.
Artinya buku Pak Ersis tetap dibaca, baik oleh si penghujat atau pun yang tidak menghujat. Berhasil dunk kalau gitu, kena deh….
Btw, kok direspon orang-orang ‘terkenal’ saja yang dijadikan judul, sedangkan orang-orang biasa engga dijadikan judul Pak? He he he… becanda Pak…
***Bagus juga logika dan konklusinya. Ha ha biar terkenal juga he he
By Ani on Apr 30, 2008 | Reply
Waaaah hebat, yang merespon dua pejabat tinggi di ESQ. Sayang nih baru suami dan anak yang sudad ikutan ESQnya pak Ary Ginanjar. Doain agar saya bisa nyusul.
***he he he. Waduh, kalau di Banjarmasin saya mintakan ke korwil biar gratis he he. Ikutlah. Bagus menambah wawasan. Yakin.
By Suci on May 1, 2008 | Reply
Kalau untuk yang pemula memang masih sulit menahan emosi kalau ada yang mencemooh tulisan kita…Walaupun, katanya, kalau mencemooh pasti secara nggak langsung menandakan dia memperhatikan tulisan kita…
Tapi, gawatnya, kalau ada yang belum baca udah mencemooh duluan…nah loh…
By unai on May 2, 2008 | Reply
betul pak, kesampingkan dulu perasaan minder dan rendah diri. Hujatan anggap sebagai pemompa semangat, untuk bisa lebih baik, lagi dan lagi
***Maksih suportnya.