Direspon Yusuf Mansur

26 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Yusuf MansyurOleh Ersis Warmansyah Abbas

BLUE SKY RETAURANT. Jum’at, 23 April 2008, kami mengerjakan www.gurubanjarbaru.com.  Agak terpepet memang, sebab besok pagi di-launching Walikota Banjarbaru, Rudy Resnawan. Lagian, sehabis Jum’at sudah janjian dengan Jaya bertemu Ustadz Yusuf Mansur dan Lihan di Parahyangan Restaurant, Banjarbaru. E … sehabis Jum’at Jaya menelepon, Ustandz agak terlambat karena pesawat dari Batu Licin baru jam 15.30 Witeng.
 
Jam 16.00 saya bergabung dengan Jaya dan Lihan di Bue Sky Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru. Biasalah, ngobrol ngalor ngidul sembari ketawa-ketawa. Dapat dua topik tulisan dari Lihan. Tak terasa, padahal pesanan makanan belum datang, pesawat tumpagan ustadz Mansyur landing, dan tiba-tiba muncul di meja kami.
 
Bersalaman. Duduk. Bercerita perjalanannya dengan ringkas dan ceria. Dasar hebat itu orang. Saya terkagum dengan caranya menebar pesona. Lebih antik, ini persuaan ketiga saya dengan ‘Ustadz Sedekah’ tersebut, dia tetap bersarung. Saya teringat Myamar.
 
Alhamdulillah, Pak Ustdaz tidak lupa. Dia langsung memuji tulisan-tulisan saya, terutama buku Nyaman Memahami ESQ. Tambahannya, Pak Ersis kalau menulis seperti bertutur, seperti berbicara. Itu yang saya suka, katanya membesarkan hati. Saya tidak mau kalah, saya kan pembaca buku Sampeyan? Sudah berapa buku dihasilkan Ustdaz?
 
Empat puluh lima, katanya. Tapi, baru 25 yang diterbitkan. Saya diajaknya berlomba. Membuat buku. Akur. Dan, ini yang menyenangkan, ada rencana berkolaborasi menulis buku. Lebih asyoi: “100% saya mendukung buku Ustadz Lihan”, katanya. Tidak lupa saya berterima kasih. Dua buku Ustadz Yusuf Mansyur, Kun Fayakun dan Membumikan Rahmat Allah, dihadiahkan lewat Jaya. Saya memberikan tiga buku.
 
Otomatis dia bergaya, memegang buku saya, dan minta difoto. Betul-betul canggih emotional quotiont. Tetapi yang lebih menyenangkan, ceritanya tentang kekuatan sedekah. Lain kali saya tulis. Pesanan saya langsung disantap. Belum makan, katanya. Plus, sup Kepiting kesukaannya yang dipesan Jaya dari Banjarmasin. Betul-betul pintar menciptakan suasana perkawanan.
 
Tadinya, kami sudah ketar-ketir. Garuda  seharusnya landing berselisih lima menit dengan ketangan Yusuf Mansyur. Alhamdulillah, delay. Oi … jadi banyak hal dibicarakan. Saya langsung menikmati percakapan tentang film Kun Fayakun. Lengkap dengan segala hal aslinya, fresh from the oven.
 
Tidak syak lagi, ibarat mengaji, tuntas sudah marifat pegangannya. Saya sempat bertanya tentang bagaimana  sampai ke penjara. Sungguh mempesona, sangat bermakna, bagaimana mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Katanya, hutang belum lunas, di penjara telah menulis, kiat menyeselasaikan hutang. Sungguh, kalaulah tidak dari manusia percaya diri, tidak mungkin seoptimis itu.
 
Justru kiat-kiat muatan buku dimanfaatkan maksimal, dan dibagikan kepada banyak orang. Cerita tentang bagaimana bersedekah menjadi Hamba Sejati Allah, dan balikan rizki yang tak terduga-duga, sudah banyak ditulis dan disampaikan dibanyak ceramahnya. Apa yang saya pahami, mudah-mudahan nanti, ditulis.
 
Akhirnya, terima kasih ustadz, terima kasih pencerahannya. Kehidupan memang harus dijalani dalam menjemput ridho Allah demi membumikan rahmat Allah SWT. Semoga kita selalu dalam petunjuk dan dibentangan kemudahan di jalan-Nya. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 26 April 2008.

  1. 15 Responses to “Direspon Yusuf Mansur”

  2. By Zul ... on Apr 26, 2008 | Reply

    Ustaz Yusuf berfoto pegang buku-buku karya sampeyan, asyik juga!
    Bikin jadi poster, Bang!
    Sekalian dakwah tampilkan sosok Yusuf, juga promo buku sampeyan. Ga salah, kok!

    Bagaimana?

    Tabik!

    ***He he … menarik juga idenya. Tapi, buku saya belum perlu promo besar-besaran kan? Baru buku kacangan he he

  3. By mathematicse on Apr 26, 2008 | Reply

    Wah saya juga termasuk pengagum sang ustad ’sedekah’ itu. Saya mulai sudah kagum, ketika orang-orang masih mengidolakan dai kondang <strike>(an)</strike> Aa Gym. :D

    ***Siiiplah. Kita selalu kagum dengan yang bermakna.

  4. By MaertPC on Apr 26, 2008 | Reply

    wah asyik ya kalau bisa ketemu sama idola, apalagi mempunyai profesi yang sama. bener-bener klop deh…seperti burung yang ketemu temennya, saling bersahut-sahutan gak ada habisnya he.he…

  5. By Rista Budi Asih on Apr 26, 2008 | Reply

    Nama : Rista Budi Asih
    NIM : A1A107237

    Wawasan nusantara dari segi budaya

    Kesadaran akan ragam budaya sebenarnya sudah muncul sejak negara republic indonesia terbentuk, pada masa ovde baru. Kesadaran tersebut dipendam atas nama kesatuan dan persatuan. Masyarakat Indonesia sering tersesat pada salah menilai tentang keberagaman budaya atau multikultur. Ada yang salah mengartikan multikultur sebagai batasan identitas antar individu bahkan ada yang mempermasalahkan asli atau tidak aslinya suatu budaya sesuai dengan tempat asalnya.
    Keberagaman di Indonesia sudah lama ada tetapi multikultur adalah soal bagaimana memahami kebudayaan itu sendiri dan macam perbedaan bukan hal yang menyenangkan. Orang-orang tidak perlu menjadi asli untuk bisa mencintai Indonesia tetapi solidaritas dan toleransi serta keterbukaan sebenarnya sudah ditampilkan tanpa gagasan ragam budaya.
    Ragam budaya menurut saya memegang peranan penting bagi bangsa Indonesia karena bagaimana mewjudkan agar budaya Indonesia pada hakekatnya adalah salah satu, sedangkan ragam corak budaya yang ada menggambarkan kekayaan budaya Indonesia yang menjadi model dan pandangan pengembangan budaya Indonesia seluruhnya yang hasilnya dapat dinikmati oleh bangsa-bangsa lain atau bangsa sendiri.
    Perlu ditambahkan keadaan/kondisi kebudayaan di Indonesia sekarang ini sangat memprihatinkan misalnya saja. Banyak kebudayaan kita yang diambil Negara lain contohnya : reog, Angklung, Lagu daerah dll. Hal itu bisa terjadi dikarenakankurangnya sosialisasi pemerintah terhadap kebudayaan sandiri. Serta rakyat Indonesia pun sebagian besar lebih meniru kebudayaan luar misalnya : cara bicara (mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing), dan sebagainya. Tetapi tidak menutup kemungkinan kebudayaan Indonesia pun bisa masuk ke bangsa asing misalnya saja : seni wayang kulit/seni tari telah masuk kenegara Amerika, kuliner Indonesia pun sudah dikenal.

    Kesimpulan saya agar ragam budaya tetap terjaga keasliannya dan buat beragam budaya Indonesia tidak hilang karena perkembangan zaman yang modern saat ini, untuk itu kita tetap harus menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan sendiri. Melestarikannya dan menjaganya. Peran pemerintah pun harus aktif dalam mengsosialisasikan kebudayaan yang sudah ada agar menyaring kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia serta peran masyarakat pun harus tetap menjalankan lebih banyak pertunjukan kebudayaan tiap untuk daerah agar semua kalangan dapat mengetahuinya.

  6. By Rista Budi Asih on Apr 26, 2008 | Reply

    Nama : Fauzi Rahmat
    NIM : A1A107220

    Wawasan Nusantara

    Wawasan nusantara yang merupakan cara pandang bangsa Indonesia dan meliputi beberapa ruang lingkup dan cakupan wawasan nusantara dalam mencapai tujuan pembangunan nasional yaitu kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan social budaya, dan kesatuan pertahanan keamanan.

    Arti dari wawasan nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungan sekitar berdasarkan ide nasionalnya yang belandaskan pancasila dan UUD 1945 (undang-undang dasar 1945) yang merupakan operasi bengsa Indonesia yang merdeka, berdaulat, bermatabat serta menjiwai tata hidup dalam mencapai perjuangan nasional dari beberapa ruang lingkup dan cakupan wawasan nusantara yaitu politik, ekonomi, social budaya, dan ketahanan keamanan kita bisa lihat betapa pentingnya ketempat aspek tersebut untuk pembangunan nasiona. Misalnya dari segi politik banyaknya orang-orang atau masyarakat yang ikut beroganisasi untuk membantu pembangunan nasional, sari segi ekonomi banyaknya hasil kekayaan alam yang hasil kekayaannya digunakan untuk penghasilan atau devisa Negara, dari segi social budaya, banyaknya budaya-budaya yang memiliki oleh bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh Negara lain, dan dari segi ketahanan keamanan banyaknya tentara atau polisi yang telah dilengkapi senjata canggih untuk melindungi Negara ini dengan segenap jiwa raga mereka.
    Kesimpulan saya dari semua itu, wawasan nusantara yang memiliki beberapa ruang lingkup atau cakapan yang sangat untuk pembangunan nasional, jika salah satu dari cakupan itu hilang atau tidak dijalankan maka pembangunan nasional tidak akan berjalan lancar bahkan mungkin pembangunan nasional tidak pernah tercapai.

  7. By Fauzi Rahmat on Apr 26, 2008 | Reply

    Nama : Fauzi Rahmat
    NIM : A1A107220

    Wawasan Nusantara

    Wawasan nusantara yang merupakan cara pandang bangsa Indonesia dan meliputi beberapa ruang lingkup dan cakupan wawasan nusantara dalam mencapai tujuan pembangunan nasional yaitu kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan social budaya, dan kesatuan pertahanan keamanan.

    Arti dari wawasan nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungan sekitar berdasarkan ide nasionalnya yang belandaskan pancasila dan UUD 1945 (undang-undang dasar 1945) yang merupakan operasi bengsa Indonesia yang merdeka, berdaulat, bermatabat serta menjiwai tata hidup dalam mencapai perjuangan nasional dari beberapa ruang lingkup dan cakupan wawasan nusantara yaitu politik, ekonomi, social budaya, dan ketahanan keamanan kita bisa lihat betapa pentingnya ketempat aspek tersebut untuk pembangunan nasiona. Misalnya dari segi politik banyaknya orang-orang atau masyarakat yang ikut beroganisasi untuk membantu pembangunan nasional, sari segi ekonomi banyaknya hasil kekayaan alam yang hasil kekayaannya digunakan untuk penghasilan atau devisa Negara, dari segi social budaya, banyaknya budaya-budaya yang memiliki oleh bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh Negara lain, dan dari segi ketahanan keamanan banyaknya tentara atau polisi yang telah dilengkapi senjata canggih untuk melindungi Negara ini dengan segenap jiwa raga mereka.
    Kesimpulan saya dari semua itu, wawasan nusantara yang memiliki beberapa ruang lingkup atau cakapan yang sangat untuk pembangunan nasional, jika salah satu dari cakupan itu hilang atau tidak dijalankan maka pembangunan nasional tidak akan berjalan lancar bahkan mungkin pembangunan nasional tidak pernah terlaksana.

  8. By max on Apr 26, 2008 | Reply

    mantaps Pak… Buku apak memang mantaps. Salut!
    Kan lai masih sihaik di rantau urang ndak, Pak?

  9. By M Fahmi Aulia on Apr 26, 2008 | Reply

    salut untuk pak Ersis…!! :-)

  10. By Deni Triwardana on Apr 26, 2008 | Reply

    Wah Pak Ersis, surpraise deh.

  11. By sawali tuhusetya on Apr 26, 2008 | Reply

    mantab! ini buku baru, eh, baru buku, ditenteng sama seleb religi! mantab abis, pak ersis!

    ***Baru buku-bukuan he he

  12. By jalian on Apr 27, 2008 | Reply

    wah….asyik nih bintang iklan buku bapak pak ustadz yusuf mansyur he..3x

  13. By Taufik Perokok Berat on Apr 28, 2008 | Reply

    asik dunk bisa ngobrol ama ustadz Yusuf Mansyur, kita salaman aja susah. btw, sambil berlomba nulis buku, gimana kalo anda ama Ustadz juga berlomba bersedekah dan mengaplikasikan ilmu yang anda tulis. kalo gak sembari diamalkan, ntar keduluan pembaca anda… oh ya, pak EWA kan dosen yang bertitel S2. numpang nanya, pernah gak anda berbuat sesuatu hingga membuat mahasiswa anda terkagum-kagum pada diri anda? dan, pernah gak anda berbuat sesuatu hingga membuat diri anda terkagum-kagum pada mahasiswa anda? kalo gak bisa jawab, bawa aja pertanyaan ini pada pak bambang ato ibu sri… http://www.hehehe.comenk

  14. By unai on Apr 29, 2008 | Reply

    hebat pak EWA…hebat

  15. By Badiyo on May 1, 2008 | Reply

    Benar apa yang dikatakan oleh Ustd. Yusuf Mansyur, tulisan Pak Ersis itu seperti bertutur, bercerita, dan lancar. Membuat orang yang membacanya enak, seperti sedang bertemu dan mengobrol saja.

    Ibarat air di pegunungan, jernih mengalir. Nikmat didengar, elok pula dipandang.

  16. By Syamsu on May 1, 2008 | Reply

    Pertemuan dengan Lihan kemarin juga banyak memberi saya inspirasi…Benar sekali, kekuatan sedekah memang dahsyat…Dari dialah saya bisa melihat contoh langsungnya…
    Kapan yah giliran saya bertemu Yusuf Mansur…He…he

Post a Comment