Biarkan Mereka berpikir, Menulis Aja Lagi
25 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansya Abbas
MAAFKAN. Seorang teman, setelah menelopon, tiba-tiba muncul di depan ruang kerja saya. Dia Doktor tamatan luar negeri. Sebenarnya bangga dengan kawan yang satu ini. Sekalipun, menurut saya, tulisannya dengan tema-tema sangat kuat, tetapi pengungkapannya sangat awal. Masih perlu latihan. Ada dua hal maksud kedatangannya. Pertama, curhat. Kedua, mau (belajar) memasihkan menulis. Keduanya tidak bisa ditolak.
Alkisah, kawan yang baru menulis sekitar 20 tulisan di media cetak tersebut baru saja disidang para seniornya di jurusan. Apa pasal? Dia membuat analisis tentang kegagalan suatu proyek penelitian. Ndilalah, para senior berang. Berbekal tulisan-tulisan saya, di media cetak, dia katakan, kalau dianggap salah, ya tulislah sanggahan.
Tidak digubris. Malahan ‘disidang’. Tentu saja, kawan kita resah. Mana pula pada saat persidangan sampai pakai pukul-pukul meja segala macam. Saking emosinya, dia balik menendang kursi … gubraaaaak.
Bagi saya tidak penting yang dicerikannya. Sungguh, ketawa ngakak. Membayangkan, betapa tangan dan kaki para intelektual tersebut pada sakit. Meja dan kursi kog dipukul dan ditendang. Memangnya latihan kekebalan raga. Aya ayak wae.
Nasihat saya, sudahlah jangan diperpanjang. Dia bermaksud mengadu ke polisi. Apa boleh buat, memang kita tidak punya tradisi bagus dalam menulis. Padahal, kalau bersengketa dalam katup tulisan, selesaikan saja dengan tulisan. Berpolemik mencari titik temu dan kebenaran. Kalau sudah sampai kesitu, kedua pihak akan lega, dan mendapatkan hikmah. Bukankah itu lebih bagus?
Tapi, sudah. Itu urusan mereka. Bagi saya ini pembelajaran lagi. Bagaimana di kampus, di rumah kaum intelektual masih ada hal-hal seperti itu. Urusan saya sudah banyak, mengapa pula mencampuri urusan mereka.
Lalu dia bertanya tentang pengalaman saya. Harap maklum, gara-gara menulis, fakultas tempat saya bekerja, membuat panitia ad hock, ya panitia khusus untuk menyidangkan tulisan saya. Judulnya agak seram memang: Membubarkan FKIP Unlam? Padahal, judulnya saja yang menarik libido untuk membacanya. Isinya, menampangkan bahwa FKIP Unlam masih relevan.
Setelah disidang, ya tidak apa-apa jua ai. Di depan para profesor dan petinggi tersebut dipaparkan asbabun nuzul dan core tulisan. Mereka mau menerima atau tidak, bukan urusan saya. Saya tantang juga, kalau tidak setuju, buat tulisan sanggahan. Alaaa … kemudian ada yang berkilah, itu soal klarifikasi. Klarifikasi kog pakai panitia ad hock segala macam.
Sungguh tidak memikirkan, termasuk ketika dipanggil. Santai dan enjoy aja. Maksud saya, justru bagus. Lebih (agak) berhati-hati menulis. Mencoba lebih memahami kondisi obyektif. Tidak usah marah. Maafkan sajalah. Kalau dianggap salah, minta maaf. Buat ringkas saja. Namun, jangan lupa pelajarannya.
Satu hal sangat ditekankan. Jangan sampai patah semangat. Bersyukurlah ada yang ‘memberi pelajaran’. Belajar dari hal tersebut. Ibarat pohon, kalau diterpa angin, akan mengguatkan cengekraman akar, mengokohkan batang, membuat makin menjulang. Saya lebih kreatif menulis. Langka kan yang mengalami?
Pada tulisan kali ini, saya mengingatkan juga buat pemulis pemula, bahwa hal seperti bisa jadi akan dialami. Tidak usah cemas atau takut, sebab pada proses sedemikian kita belajar. Jangan sampai dijadikan alasan untuk tidak menulis. Lagi pula, apa salahnya orang berpendapat berbeda dengan apa yang kita tulis?
Dari penglaman nyatalah sesunguhnya kita belajar dan menulis dalam arti sesunguhnya. Karena itu, mari menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 25 April 2008.









6 Responses to “Biarkan Mereka berpikir, Menulis Aja Lagi”
By syaharuddin on Apr 25, 2008 | Reply
pengalaman saya menulis selama ini juga sama apa yg diungkapkan EWA. Ada rasa takut, cemas kalau-kalau ada yang tersinggung atau merasa dirugikan.Tapi kadang, jika ia tidak ditulis akan jadi pikiran yang tak ada habis-habisnya.Menyakitkan dan sungguh menyengsarakan diri. karena itu, saya pun berkesimpulan daripada saya stress lebih baik saya nulis. Alhamdulillah sudah berpuluh-puluh tulisan dihasilkan gak ada masalah itu….Jadi hilangkan ketakutan dan kecemasan dalam menulis. Selamat menulis. Menulis ttg apa saja. Suka-suka kamu.Yakinlah.
By Zul ... on Apr 25, 2008 | Reply
Menulis adalah bersuara.
Menyampaikan ide dan pendapat dalam tulisan adalah menyuarakan pikiran dan perasaan. Independensi pikiran dan perasaan tidak bisa dipengaruhi oleh faktor eksternal, kecuali jika kita sendiri yang manarik faktor tersebut untuk terlibat dalam pikiran dan perasaan kita.
Jika memang ada ide dan pendapat yang ingin dikemukakan, maka silakan untuk mempertimbangkan, pantas atau tidaknya. Namun, jika independensi pikiran dan perasaan tetap terjaga, kemukakan saja, apa pun.
Persoalan ada orang terjewer dengan ucapan kita, tergantung bagaimana kita menyikapinya: takut dan lantas mengkerut, atau biarkan saja dan tungu reaksinya.
Jika ingin menulis, menulis sajalah.
Jangan dibebani dengan hal-hal di luar persoalan menulis.
Tabik!
By hanggadamai on Apr 25, 2008 | Reply
menulis bagaikan suara hati
By heri mulyo cahyo on Apr 25, 2008 | Reply
mampir lagi di blog panjenengan pak de.. cari inspirasi… jadi pengin bikin buku kalo kesini …
terimakasih atas tipsnya di blog ini buat pemula kayak saya
salam aja dari malang yang sesekali masih ujan
http://hmcahyo.wordpress.com
http://hmc.web.id -> learning english-indonesian thru’ nasheed
By Sandy Guswan on Apr 26, 2008 | Reply
Salut dg tulìsan2 Pak EWA. Bpk layak mendapat gelar Bapak Penulìs KalSel. Btw,sudilah mampir ke Blog saya:guswan76.wordpress.com
By suhadinet on Apr 27, 2008 | Reply
Sayang sekali ya Pak…
Para petinggi-petinggi Fakultas itu.
FKIP UNlam juga almamater saya.
Sikap mereka kurang mencerminkan pangkat mereka sebagai intelektual.
Kena kritik dikit marah.
Apalagi kalau kritiknya pakai banyak cabe.