Cuekin, dan Terus Menulis

24 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

BUKTIKAN. Dalam bincang santai dengan seorang teman, kami sampai pada topik respon terhadap tulisan ‘kita’. Teman yang satu ini telah menulis beberapa artikel, dan beberapa buku. Hobinya, menulis buku bersama. Sejak awal mendorongnya menulis bersendiri. Menulis bersama boleh, tapi itu tanda kurang percaya diri. Mengumpulkan tulisan orang boleh, tapi pertanda mau gampangnya. Dia tentu sudah hapal gaya saya. Maklum bercanda.
 
“Coba”, kata saya, “hitung berapa orang teman-teman se-fakultas yang merespon buku Sampeyan?”. Jari tangannya dimainkan:  “Empat orang”.
 
“Coba’, lanjut saya, “hitung yang mencela”.  “Ha ha kalau yang demikian banyak bos ai”. Tentu saja saya tidak berhenti sampai disitu.
 
“Coba”, kata saya lagi, “siapa yang empat orang itu. Pasti mereka telah menulis buku”. “Pas”, katanya.
 
Ya, kawan yang satu ini pengajar mata kuliah writing. Dulu, dia down bila tulisannya ‘diganyang’. Kini, nampaknya semakin teguh. Tiba-tiba dia menyebut nama seorang teman. “Bos, pian pasti tidak menyangka, Si Anu dengan bersemangat mencela karya-karya Sampeyan”. Saya ketawa ngakak, padahal itu disela-sela acara Sosialisasi Tentang Sertifikasi Guru.
 
Tanggung. Dikasih kuliah tambahan sekalian. Sebelum kamu lahir, saya sudah tahu. Begini saja. Yakin apa tidak banyak orang berkeinginan menulis; artikel, buku, atau apa saja. Tentu saja dijawabnya, Ya. Yakin apa tidak banyak yang berkeinginan menulis banyak hal, tapi tidak mampu. Tentu saja dijawabnya, Ya.
 
Ya, kalau begitu ada dua kemungkinan responnya. Pertama, kalau berpikiran ‘baik’ dia akan senang temannya menulis. Pada contoh lain, bila teman membeli mobil baru, dia akan mengucapkan, Alhamdulillah. Syukur satu saat diajak naik mobil baru.
 
Kedua, sebaliknya. Kalau berpikiran ‘jelek’, dia iri. Kalau perlu mencari-cari hal-hal untuk dijadikan pembusukkan. Karena korupsilah, soklah, atau apa saja. Yang penting jelek. Soalnya, dia ingin juga membeli mobil baru. Apa daya, jangankan mobil, menukar sepeda motor butut saja tidak sanggup. Pandangan jeleklah terhadap kawan yang mampu. Dasar.
 
Lalu, ditabalkan. Kalau telah menulis, mana lebih hebat dibanding yang tidak menulis, ahli teori menulis sekalipun? “Hebat saya dong Bos”, jawabnya yakin. Kalau orang yang telah menulis, dicela, dinilai, atau diajarin oleh yang tidak menulis, itu apa namanya? Apalagi kalau sampai mental jatuh oleh orang yang pasti bodoh menulis, tidak ada tulisannya.
 
Belum sempat dijawab saya katakan: Bodoh. Menbodohi diri. Jangan biarkan orang yang tidak menulis, yang hanya mampu mencela tulisan kita, mematahkan semangat. Tidak peduli dia teman akrab, petinggi kampus, atau pejabat pemerintah. Jangan mau jadi orang bodoh dan membodoh diri, apalagi diperbodoh.
 
Mereke orang-orang celaka. Kalau berniat baik, hatinya tidak busuk, pasti memberi masukan, memberi semangat, memotivasi. Jauh bedanya dengan berkeinginan menulis, tetapi tidak mampu, tidak mau belajar pula, lalu kawannya menulis, dilihat buruknya saja. Tinggalkan orang seperti itu, cuekin. Ngapain melayani iblis. Titik.
 
Waduh saya kaget juga dengan gaya memotivasi kali ini. Mudahan menjadi ‘obat’ mujarab. Agar lebih lengkap dikatakan: Buku Menulis Sangat Mudah diapresiasi banyak orang. Beredar secara nasional. Masyak sih mental saya jatuh gara-gara penilaian orang yang kalau bkin buku baru berani menjual kepada mahasiswanya.
 
Tentu akan berbeda, manakala dia sudah lolos uji kelayakan penerbit. Itu pun harus dibukikan, buku yang diterbitkan lolos apa tidak uji khalayak. Kalau baru tingkat menjual pakai kekuasaan, kepada mahasiswa sendiri, jauhlah itu. Karya yang laku, dibeli khalayak pastilah lebih diterima dibanding yang hanya bagus ‘katanya’, he he.
 
Kawan saya tercenung. Saya berharap, menjelang tidur dia mengunyah-ngunyak hal terdalam dari pikiran sangat logis tersebut. Mana tahu.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 24 April 2008.

  1. 7 Responses to “Cuekin, dan Terus Menulis”

  2. By Anang on Apr 25, 2008 | Reply

    saya tau kuncinya bah… tetep menulis dan menulis dan menulis

  3. By henny on Apr 25, 2008 | Reply

    salam kenal mas ersis,

    waduh…motivasinya cukup radikal dan keras, tapi tetap rasional.
    Jujur saya sangat termotivasi utk maju tak gentar terus menulis, menulis & menulis.
    Mohon masukannya pada tulisan2 saya di blog. Terima kasih

  4. By danalingga on Apr 25, 2008 | Reply

    Setuju sangat pak. Menulis terus dan terus saja.

  5. By Suci on Apr 25, 2008 | Reply

    Saya pernah tuh dikritik tanpa basa-basi. Sempat bikibn shock. Kaya ada yang nyes gitu di ulu hati dengar semua kata-kata mutiaranya. Jengkel, marah sampai sempat bikin down..

    Tapi, dipikir-pikir…ngapain juga dipikirin. toh nggak merubah keadaan. Cuekin aja…yang ngritik toh juga bukan orang yang subur menulisnya…jadi, kaya lagunya Maia aja, emang gue pikirin… :)

  6. By Badiyo on Apr 28, 2008 | Reply

    “Biar Anjing menggonggong, Kafilah tetap berlalu”

    ***Pepatah Padang Pasir …

  7. By Inas on Apr 28, 2008 | Reply

    Pinanya sidin lagi bamamai nih :-))

    ***Kira-kira, atau agar jangan bamamai he he

  8. By toeti on Apr 28, 2008 | Reply

    om.. orang yang mencela itu rata2 orang yang berkemampuan rendah yang hanya mengukur segalka sesatu dengan ukuran dirinya sendiri.. bukan begitu?

    ***KIra-kira he he … menulis ukuran jelas, indikatornya terlihat, ya tertulis … bukan angan-angan atau akan. Makanya banyak orang takut dan tak mampu he he

Post a Comment