Inspirasi Ketika Komputer Ngadat
22 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SEBAGAI aplikasi komitmen, saya mulai menulis buku seseorang. Entah kenapa sangat bergairah.Empat tulisan selesai begitu saja. Pada pukul 10.00 Witeng, Abdurrahman Hakim dan Trihayat Wibowo datang mendiskusikan penampilan Lihan di Bandjarbaroe Post. Lalu, keduanya langsung ke rumah Lihan, pengusaha yang lagi naik daun. Tujuannya mewawancarai isteri lihan dan para tetangganya. Beres.
Saya kembali terasyik menulis. Darmawan Jaya, orang dekat Lihan datang ke rumah. Kami mendisukusiakn banyak hal dengan tokoh ESQ Kalsel, orang dekat Yusuf Mansyur, Oppic, Hadad Alwi di Kalimantan Selatan. Bos besar Nebula Production ini punya seabreg agenda. Selesai.
Pukul 15.00 meluncur ke Hotel Banjarmasin Internasional. Diundang Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kalimantan Selatan dalam kerja sama dengan Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Depbudpar. Temanya, Sosialisasi Pedoman Penulisan Sejarah Lokal, 22-25 April 2008. Saya ikut, tapi tidak akan penuh, sebab lebih wajib mengajar di kampus.
Selepas magrib, setelah menyelesaikan segala sesuatu dengan semangat 45 membuka komputer. Ndilalah … bootingnya ngak beres. Celaka, komputer sudah bertukar. Hakim, Senin 21 April 2008 diminta memesan komputer dengan spech tinggi. Hakim tentu senang, sebab dapat warisan. Tapi, ya itu tadi, ngadat. Ama aja boong.
Kalau di rumah, tidak suka menulis di laptop. Sekalipun Coer2Dua, dengan SDRAM 2 GB, 2.4 Ghz, dan HD 200 GB, saya pecandu Deshtop. Yang ada di pikiran, menulis jangan stop gara-gara komputer ngadat
Dalam kehidupan, banyak hal tidak kita suka yang terkadang membuat pikiran agak gimana gitu. Nah, kalau galau pikiran diperturutkan, dipikirkan, bisa tambah kacau. Pemunahnya dengan menulis. Biasanya, setelah menulis, pikiran lebih jernih, dan persoalan dapat dicerna lebih bijak, dan masalah terselesaikan dengan lebih baik.
Pada tataran demikian, justru menulis yang menjadi obat. Ada orang kalau ada gangguan sesuatu, menulisnya yang dihentikan. Saya berani menulis, menulis yang seharusnya menjadi ‘obat’, jangan dijadikan pangkal penyakit. Bertentangan dengan Ersis Writing Theory (EWT).
Sedikit bocoran. Dulu, ketika remaja, kalau ada ganjalan di hati yang membuat pikiran rada-rada kusut, tulis. E … lega. Ketika kuliah, kalau kiriman uang terlambat, menulis. Kirim ke media cetak. Misalnya, ketika di Jogja. Kiriman bulanan Rp.25 ribu, tulisan dihargai Kedaulatan Rakyat, Rp.14 ribu. Suara Pembaharuan malahan mengirim wesel untuk satu tulisan, Rp.40 ribu.
Pelajarannya, dari kerterdesakan ide muncul bak jamur di musim hujan. Bagi saya aneh, kalau pikiran lagi terdesak di bawa tidur. Kalau pikiran lagi tergugah, justru banyak hal muncul begitu saja untuk ditulis. Makanya, kalau yang sharing menulis mengatakan sibuk atau akan menulis, saya tidak libido bertukar pikiran.
Filsafatnya, kalau kita sibuk, mengerjakan apa saja, pasti ada hasilnya. Tapi, kalau sibuk mengeluh, kompetensi mengeluh atau beralasan yang terasah. Baru-baru ini, ketika ‘masuk’ kantor suatu lembaga, merasakan betapa susahnya berurusan. Pantas saja, pegawainya jago-jago mengemukan alasan, bukan meneyelesaikan apa yang dialasankan.
Coba saja, kalau bekerja di bagian sekretariat, misalnya didata, berapa surat yang dikerjakan sebulan? Kalau sehari mampu menyelesaikan dua surat saja, sebulan satu pegawai menyelesaikan 60 surat. Kalau pegawainya 20, wuah ratusan surat terseleaikan. Tapi, kenyataan kan tidak demikian. Mengurus satu surat saja bisa berbulan-bulan. Macam-macam alasannya.
Ibaratnya, kalau orang kantor mengumbar aneka alasan, padahal kerjanya baca koran atau ngerumpi, menulis jangan sampai demikian. Menulislah satu sehari saja, tidak disangka-sangka dalam sebulan menghasilkan satu buku.
Tetapi, kalau yang dipatenkan alasan, alasan, dan alasan. Mengeluh kurang ini, tidak ada itu, atau menunggu mood segala macamlah, menulis satu tulisan seminggu saja, bisa-bisa bak jihad fi sabililah.
Jadi, mari jadikan keterdesakan, kekurangan, apalagi hanya kendala remeh-temeh sebagai pemicu menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 22 April 2008.













5 Responses to “Inspirasi Ketika Komputer Ngadat”
By Rahmadona Fitria on Apr 23, 2008 | Reply
Siip, sepakat banget. Kok, sama seperti saya,ya Pak..biasanya kalo lagi ada problem dibawa nulis rasanya jadi lebih ringan dan terpuaskan kalo menghasilkan tulisan. Suami sampe berkomentar, “Wah, semangat banget nulisnya”. Menulis memang obat mujarab. Kalo lagi nulis, dunia serasa milik sendiri,he..he
By Rahmadona Fitria on Apr 23, 2008 | Reply
Dalam aktivitas menulis dan bergabung dgn komunitas penulis membuat saya merasa hidup saya berarti, sementara di luar lingkungan itu kadang saya merasa dianggap nothing. Biasanya orang kan memang menilai seseorang dgn sesuatu yg sudah dihasilkannya.Mungkin kalo saya sudah bikin buku, baru mereka respect sama saya, but i don’t care..kalo sudah nulis segala kesusahan bisa terlupakan, saya menulis karena saya cinta menulis sejak kecil, malah tanggapan mereka terhadap saya bisa jadi inspirasi menulis saya,lagian menulis juga termasuk amal sholeh, mereka aja yg g bisa melihat di mana sisi ibadahnya, karena sibuk menganggap aktivitas merekalah amal sholeh…eh, malah jadi curhat, tp g apa2 ya,Pak..
By Badiyo on Apr 23, 2008 | Reply
Waah, ini dia nih. Saya biasanya kalau ada persoalan yang mengganjal, biasanya saya berpikir tidak akan bisa menulis. Wong pikiran penuh dengan keluh kesah.Rupanya kuncinya di sini, jangan beralasan (apapun) untuk menghentikan kegiatan menulis. Pengalaman Pak Ersis yang dipaparkan benar-benar memberi pencerahan bagi saya.
Pak EWA memang benar-benar Suhu, Suhu Menulis!
By dani on Apr 23, 2008 | Reply
wah ini udah level cinta menulis pak ya..
menulis itu mudah..berhentinya ngga sulit kan pak..
apa bisa spt ngeblog itu mudah, berhentinya yg sulit?
sedikit tanya pak,
sebaiknya pakai “witeng” atai “WITA” ya, pak?
By ncomputing penganti-pc on Jul 31, 2008 | Reply
kalau komputer tiba-tiba ngadat gimana pak,langsung di off dari pc boleh gak,apa gak cepet rusak pc nya
***Sampeyan lebih paham, pasti.